Tiba-Tiba Menikah!

Tiba-Tiba Menikah!
Kau Makan Siangku


__ADS_3

Sampai di kafe sebrang kampus, Anna dan Grace sontak memesan makanan yang biasa mereka pesan. Kafe itu memang sudah menjadi langganan mereka sehingga pelayan pun tahu apa yang akan mereka pesan tanpa memberikan buku menu.


"Kau bilang kau lapar! Tapi ketika makanan sudah ada di hadapanmu, kau malah sibuk memainkan ponsel!"


"Kau makan saja lebih dulu, Grace. Aku sedang bertukar pesan dengan Edgar."


Grace tampak kesal karena sikap Anna yang terlalu menunjukkan bahwa dia mencintai sang suami. Temannya itu memang sudah menjadi budak cinta!


"Anna, sejujurnya ada yang ingin aku beritahukan padamu."


Tidak biasanya Grace serius begitu, Anna sampai teralihkan dari ponselnya.


"Kenapa serius sekali? Memangnya apa yang ingin kau bicarakan?"


Grace menggigit bibir bawahnya. "Tante Lucia menyuruhku untuk mengawasimu dan Profesor Edgar," terangnya.


Sebelum melanjutkan ceritanya, Grace menatap mata Anna, takut jika temannya itu marah. Namun, ketika dia mendapati Anna tetap tenang, dia kembali melanjutkan ceritanya.


"Sebenarnya aku tidak ingin melakukannya, Anna. Namun, sepertinya Tante Lucia khawatir pada pernikahan kalian, sama seperti aku yang terus melihatmu murung setiap hari. Jadi, aku menyetujuinya!"


"Itu saja?"


"Tunggu! Kau tidak marah padaku?"


Anna tersenyum pada Grace. Dia tahu sifat Grace seperti apa. Temannya tidak akan melakukan sesuatu yang akan merugikan seseorang.


Anna percaya jika Grace memang khawatir padanya. Sebab, setelah menikah dengan Edgar, Anna selalu murung di depan Grace. Namun, dia tidak pernah menceritakan apa pun pada teman baiknya itu.


"Aku tidak akan marah padamu, Grace. Seperti yang kau katakan, sepertinya ibu mertuaku memang khawatir hingga datang ke apartemen kami. Jika aku boleh menebak, kau pasti bilang padanya kalau aku selalu murung dan tidak bersemangat seolah ada masalah dalam pernikahan kami, benar?"


"Kau memang tahu segalanya tentangku, Anna. Tapi, aku tidak tahu segalanya tentangmu!"


Ucapan Grace secara tidak langsung mengatakan bahwa Anna memiliki banyak rahasia yang masih belum diceritakan padanya. Namun, memang kenyataannya seperti itu dan Anna tidak bisa menyangkalnya!


Drrtt drrtt


Ponsel Anna dan Grace bergetar secara bersamaan. Mereka sontak membaca pesan yang ada di grup yang merupakan kabar baik itu.


"Kau sudah membacanya? Mata kuliah selanjutnya dibatalkan dan kita bisa pulang!"


"Ada apa dengan hari ini? Banyak dosen yang tidak masuk dan membatalkan pelajaran. Sepertinya mereka sudah bosan mengajar," timpal Grace seraya tertawa kecil.


Jam kuliah kosong memang menyenangkan, namun mereka jadi tertinggal banyak materi. Padahal sebentar lagi akan ada ujian.


"By the way, Anna. Jika kau bertengkar dengan suamimu, berceritalah padaku. Mungkin aku tidak bisa membantumu, namun setidaknya kau akan merasa lebih baik setelah berbagi cerita daripada memendamnya sendiri."

__ADS_1


Menyeringai kecil, Anna berniat menggoda Grace yang tampak serius.


"Kau tidak akan mengadukannya pada ibu mertuaku, bukan?"


"Anna!" pekik Grace.


"Bercanda, Grace!" Anna tertawa kecil. "Oh iya, aku akan menemui Edgar di ruangannya. Aku pergi, ya!"


"Tunggu, Anna! Kau belum membayar makanannya!" teriak Grace pada Anna yang telah berjalan cukup jauh.


Berhenti sebentar, Anna kemudian menolehkan kepalanya ke arah Grace dan berteriak membalas perkataan temannya.


"Kau yang akan membayarnya, Grace!"


Itu adalah balasan dari Anna untuk Grace karena Grace telah mengawasinya selama dua bulan ini.


Grace memang selalu membuatku terkejut dengan tingkah dan ucapannya! Aku masih ingat saat dia mencoba menjodohkanku dengan seorang pria asing tanpa meminta persetujuanku!


Sebenarnya Anna menemui Edgar karena ingin bertanya perihal wanita tua yang sempat dia temui dengan Grace. Mungkinkah Edgar mengenal wanita tua itu?


Sampai di depan pintu ruangan Edgar, Anna tidak langsung masuk ke dalam, melainkan mengintip sedikit dari celah pintu gang sedikit dibukanya. Dilihatnya Edgar tengah sibuk berkutik dengan lembaran-lembaran kertas putih dan laptopnya. Pria itu mengenakan kacamata bulat yang biasa dipakai saat sedang bekerja.


Setelah melihat situasi ruangan tersebut, Anna masuk dengan langkah pelan dan tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.


Karena Edgar terlalu sibuk, pria itu bahkan tidak menyadari kehadiran Anna yang sudah ada di belakang kursinya.


"Hn?!"


Tampaknya Edgar benar-benar terkejut karena pelukan Anna yang tiba-tiba. Pria itu sedikit tersentak dan hampir membenturkan kepalanya dengan Anna.


"Maaf, apa kau terkejut?"


Edgar membuka kacamata dan menarik tangan Anna hingga terduduk di pangkuannya. "Kau sudah selesai makan siang dengan Grace?"


"Bagaimana kau tahu kalau aku makan siang dengan Grace?!"


"Aku tahu!"


Siapa yang tidak tahu itu? Anna dan Grace sudah seperti lem dan perangko yang tidak bisa dipisahkan, mereka selalu bersama setiap waktu.


"Sepertinya kau benar-benar tidak bisa makan siang karena kertas-kertas ini! Aku juga lupa tidak membelikanmu makan siang. Maaf ...."


"Makan siangku ada di depan mataku."


Anna menengok kiri kanan dan mencari makan siang yang Edgar maksud. Namun, dia tidak bisa menemukannya.

__ADS_1


"Di mana? Aku tidak melihat apa pun di sini?"


Sementara Anna masih kebingungan, tiba-tiba Edgar meraih wajah Anna dan mengecup bibirnya.


"Kau makan siangku," ucap Edgar seraya menyeringai kecil.


"Cih! Pintar sekali kau bicara!"


Lain di mulut, lain di hati. Anna sama sekali tidak menolak kecupan Edgar, namun dia menerimanya dengan senang hati. Justru, Anna berinisiatif sendiri untuk membalas kecupan Edgar.


Cup!


"Tapi, aku menyukainya!" lanjut Anna seraya tersenyum.


Detik selanjutnya, bibir mereka bersatu, saling memagut satu sama lain dan berbagi kehangatan.


Edgar mengangkat tubuh Anna dalam pangkuannya dan memindahkannya ke atas sofa. Pria itu membaringkan tubuh Anna, lalu mengurungnya dengan kedua tangan.


"Kau semakin cantik, Sayang."


Setelah mengatakan itu, Edgar kembali menyatukan bibirnya dengan bibir Anna, menciumnya dengan lembut. Ciuman-ciuman itu kemudian berubah menjadi ******* yang penuh gairah.


Merasa sesak karena kehabisan napas, Anna refleks mendorong dada Edgar agar menjauh dan memberinya ruang untuk menghirup udara di sekitarnya.


"Kenapa berhenti?" tanya Edgar yang merasa belum puas memenuhi hasratnya.


Anna bangkit dari posisi berbaringnya menjadi posisi duduk. Dia kemudian merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan.


"Kau akan membuatku mati jika tidak memberiku istirahat untuk bernapas!"


"Setelah lama tidak bercumbu denganku sepertinya kemampuanmu menjadi menurun, ya! Itu artinya, kita harus sering melakukannya. Mungkin sehari tiga kali!"


Ucapan konyol! Baru kali ini Anna mendengar seseorang menginginkan berciuman sehari tiga kali. Memangnya ciuman adalah kebutuhan pokok, sama seperti makanan? Sungguh tidak masuk akal!


Malas mempermasalahkan ucapan Edgar, Anna hanya memutar bola matanya karena mendengar ucapan konyol pria itu.


"Oh iya! Ed, apa kau memiliki kenalan seorang wanita tua?"


Untung saja Anna masih mengingat maksud kedatangannya. Dia nyaris melupakannya karena sibuk bermesraan dengan Edgar.


"Wanita tua? Siapa yang kau maksud, Sayang?"


"Tadi ada seorang wanita tua yang menanyakan dirimu. Dia bertanya 'apakah ada seorang pria bernama Edgar Dominic yang bekerja di kampus ini?'"


Edgar mengangkat sebelah alisnya bingung. "Aku tidak punya kenalan seorang wanita tua, Sayang. Memangnya untuk apa aku berteman dengan orang yang umurnya mungkin saja sama dengan umur ibuku?!"

__ADS_1


"Bagaimana kau tahu umurnya mungkin saja sama dengan ibumu?"


"Hanya menebaknya karena kau menyebutnya wanita tua."


__ADS_2