Tiba-Tiba Menikah!

Tiba-Tiba Menikah!
Selamat Tinggal Wanita Gila


__ADS_3

Kejadian kemarin memang sedikit mencurigakan, pasalnya Kevin dan Edgar tiba-tiba meminta untuk pulang sekembalinya dari toilet. Namun, Grace tidak tahu apa masalahnya! 


"Bukan apa-apa. Sebaiknya kau segera masuk kelas, Grace."


Grace menyipitkan matanya ke arah Kevin. Mengapa Kevin mengalihkan pembicaraan? Apakah kejadian kemarin sangat rahasia sehingga tidak bisa sembarangan dibicarakan? 


"Jika Anda tidak ingin memberitahu saya maka saya tidak akan bertanya lagi. Tapi, sebagai gantinya Anda harus kencan kedua dengan saya. Hari ini!"


Lebih cepat lebih baik, bukan? Lagi pula, Grace hanya meminta tiga kali kencan dengan Kevin. Kencan pertama, mereka sudah melakukannya kemarin dan sekarang Grace berniat untuk menagih kencan keduanya. 


"Baiklah, aku setuju."


***


Duduk santai di balkon, Anna mengecek ponselnya yang baru saja dihidupkan. 


"Ya Tuhan! Ponselku dipenuhi dengan nama Grace!"


Ada lebih dari sepuluh panggilan tak terjawab dan lima pesan masuk dari Grace. Tampaknya Grace sangat mengkhawatirkan Anna yang tidak masuk kuliah secara tiba-tiba.


"Sepertinya aku harus mulai menggunakan jasa Wendy untuk membantuku," gumam Anna. 


Untuk mahasiswa semester terakhir, absen kuliah satu hari pun sangat merugikan. Sebab, mereka akan tertinggal mata kuliah yang sangat berharga yang mungkin saja dipakai untuk tugas-tugas penting. Namun, untuk menghindari hal seperti itu, Anna mempunyai cara tersendiri.


Ya, Anna menghubungi ponsel Wendy dan menyuruhnya untuk mengikuti mata kuliah Anna. Awalnya Wendy menolak karena dia tidak mungkin meninggalkan jadwal kuliahnya untuk menggantikan Anna belajar. Lagi pula, Wendy pun seorang mahasiswa semester akhir, dia harus rajin masuk dan mengikuti pelajaran jika ingin lulus. 


"Heh? Jadi, kau menolak perintahku?" ucap Anna melalui ponselnya, "Kalau begitu, apakah tidak masalah jika aku membeberkan rahasia yang sangat kamu jaga itu?"


Menikah dengan Edgar menjadikan Anna seseorang yang tak mau kalah dan suka mempermainkan orang lain. Jadi, jangan pernah mencari masalah dengan Anna yang sekarang. 


"Oke, oke! Aku akan mengikuti kelasmu, Anna Florence!" balas Wendy di seberang telpon sana. 


"Ya, itu memang sudah seharusnya kau lakukan. Selamat belajar! Aku menunggu buku catatanmu, Wendy!"

__ADS_1


Tut. Anna mengakhiri panggilannya secara sepihak. Mempermainkan orang lain memang menyenangkan hingga Anna lupa rasa sakit dari lukanya.


Bagaimana dengan Andy, ya? Apakah dia sudah mendapat permintaan maaf dari Farrell? Setelah menghubungi Wendy, tiba-tiba Anna memikirkan sang adik. 


Sudah lama sekali Anna tidak mendapat kabar dari Andy. Terakhir kali bertemu, Anna marah kepada Andy hingga adiknya pergi dari rumah. Anna bahkan belum sempat meminta maaf karena memarahi dan menuduh Andy waktu itu.


"Kira-kira Andy membenciku tidak, ya? Waktu itu aku berbicara kasar padanya." Anna menghela napas setelah bergumam kecil. Sebelum menikah, Anna dan Andy kerap beradu mulut setiap hari. Entah mengapa momen itu membuat Anna rindu. Betapa kehilangannya Anna karena jauh dari adik dan keluarganya. 


Merasakan semilir angin yang menerpa kulitnya, Anna kemudian memejamkan mata sembari mengeratkan blazer yang melekat di tubuh mungilnya. Telinganya mendengar suara keceriaan anak-anak yang bermain di luar gedung apartemen. 'Betapa bahagianya masa anak-anak,' pikirnya. Menjadi dewasa memang sulit, tidak seperti anak-anak yang bebas bermain sepuasnya tanpa harus memikirkan masalah. 


Di saat dirinya tengah menikmati hari yang indah, tiba-tiba terdengar suara bel apartemen berbunyi. Dengan terpaksa Anna bangkit dari duduknya untuk melihat siapa orang yang memencet bel. 


Anna membuka pintu apartemen tanpa melihat monitor. Begitu pintu terbuka, terlihat dua orang pria berseragam rapi berdiri di sana. 


"Apa ini kediaman Edgar Dominic? Kami dari Departemen Kepolisian New York."


Polisi? Mengapa orang yang bertugas melayani negara bisa berada di depan apartemennya? Apalagi mereka menyebutkan nama Edgar. Anna tertegun sejenak karena kedatangan mereka. 


"Edgar Dominic adalah suami saya. Memangnya ada apa?"


"Tolong panggilkan suami Anda, kami ingin bertemu."


"T-tunggu sebentar!" 


Dengan perasaan kalut, Anna meninggalkan kedua polisi itu sebentar untuk memanggil Edgar. Dia memasuki ruangan kerja di mana suaminya berada. 


"Ed ...," lirih Anna, "ada polisi yang mencarimu. Bisakah kau ke luar sebentar?"


"Polisi?" Edgar menaikkan satu alisnya ke atas. Anna tahu jika Edgar bingung karena Anna pun merasakan hal yang sama. 


"Iya, mereka ada di depan apartemen kita."


Mengatakan itu, Anna dan Edgar berjalan beriringan menemui polisi yang mencari Edgar. Entah apa yang sebenarnya terjadi, namun Anna berharap jika Edgar baik-baik saja dan tidak terlibat apa pun. 

__ADS_1


"Saya Edgar Dominic. Ada masalah apa sehingga polisi mencari saya?" ucap Edgar. Padahal dia tidak pernah melakukan pelanggaran hingga harus berurusan dengan polisi, tapi mengapa polisi mencarinya.


"Edgar Dominic, Anda harus ikut kami ke kantor polisi untuk memberikan keterangan."


Keterangan apa yang harus diberikan Edgar? Mengapa polisi New York sangat bertele-tele dan tidak menjelaskan semuanya sekaligus. Mereka hanya membuang-buang waktu yang Edgar miliki untuk bekerja. 


"Kenapa saya harus ikut bersama Anda berdua? Saya harus mengerjakan tugas, tapi kalian telah menganggu pekerjaan saya."


"Venna Baldwin ditemukan meninggal di rumahnya dengan luka tusukan di perut. Kami menemukan banyak foto Anda di ruangannya. Kami hanya meminta beberapa keterangan dari Anda karena sepertinya Anda mengenalnya."


Venna meninggal? Baru kemarin wanita itu menunjukkan dirinya di hadapan Edgar, tapi kini dia meninggal? Jika perutnya ditusuk, apakah itu artinya dia dibunuh? 


Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang Edgar pikirkan di kepalanya, tapi untuk saat ini dia harus ikut ke kantor polisi untuk memberi keterangan. Meskipun Venna adalah orang jahat bagi Edgar, tetap saja Edgar harus bersikap baik pada orang yang telah meninggal. 


Tiba di kantor polisi, Edgar dan Anna duduk di sebuah ruangan interogasi. Padahal Edgar menyuruh Anna untuk diam di apartemen, tapi istrinya itu bersikeras untuk ikut bersamanya. 


"Kami akan mulai dengan beberapa pertanyaan. Kapan terakhir kali Anda bertemu dengan Venna Baldwin?"


"Kemarin di taman bermain," jawab Edgar. Dia hanya akan menjawab pertanyaan polisi secara singkat. 


"Dari informasi yang kami temukan, Anda adalah korban penculikan dan pelecehan seksual Venna Baldwin, benar?"


Karena polisi sudah mengetahuinya dari catatan kepolisian Venna, jadi Edgar berpikir untuk tidak menutup-nutupi kenyataan itu. Lagi pula, itu hanya masa lalu. Meskipun Edgar masih memiliki trauma terhadap kejadian itu, tapi dia akan bekerja sama demi menyelesaikan penyelidikan. 


Edgar menganggukkan kepala. "Benar," jawabnya. Dia menatap serius ke arah polisi. "Apa ini kasus pembunuhan?"


"Seperti dugaan Anda, ini adalah kasus pembunuhan dan ... Anda adalah salah satu tersangka kami."


"Tersangka? Kenapa Anda berkata seperti itu kepada suami saya, Pak? Anda bilang kalau suami saya sekadar memberi keterangan saja, tapi kenapa dia dijadikan tersangka?!"


Tadinya Anna akan bersikap tenang karena Edgar menyuruhnya diam saat sedang di ruang interogasi. Namun, jika polisi menuduh Edgar sebagai pembunuh, Anna tidak bisa diam saja! 


"Edgar Dominic adalah salah satu korban kejahatan Venna, bukankah sudah pasti ada dendam di dalam hatinya? Apalagi kemarin mereka bertemu di taman bermain. Dari CCTV yang kami lihat di kafe taman bermain, Venna terlihat memprovokasi Edgar dan melecehkannya."

__ADS_1


"Melecehkan?" Anna terkejut dengan perkataan polisi. Apa karena itu Edgar terlihat pucat dan kacau setelah kembali dari toilet? pikirnya. 


__ADS_2