
"Ehem ... aku akan menjelaskan cara yang bisa digunakan untuk menyembuhkan kelainan Edgar," ucap Dokter Bryan setelah berdeham kecil.
Anna menggenggam tangan Edgar lebih erat dan kembali fokus pada pembicaraan mereka bertiga.
"Ada dua cara yang bisa digunakan, yaitu dengan pemberian obat atau hipnotis. Obat yang diberikan berupa obat yang menekan hormon testosteron dan ada efek samping jika digunakan dalam jangka panjang."
Setiap obat memang selalu memiliki efek samping, namun untuk obat yang dimaksud Dokter Bryan, Anna penasaran dengan efek sampingnya terhadap Edgar.
"Efek samping seperti apa yang Anda maksud?" ucap Anna memastikan.
"Impoten."
"Impoten?!" kaget Anna dan Edgar secara serempak.
Tujuan mereka datang berkonsultasi adalah untuk menyembuhkan kelainan Edgar agar mereka bisa berhubungan intim tanpa khawatir saling menyakiti. Namun, jika Edgar sembuh dengan pemberian obat yang membuatnya impoten, maka itu akan menjadi masalah besar. Kelainan seksualnya sembuh, namun muncul kelainan lainnya. Sama saja bohong!
"Bagaimana dengan cara kedua, Dokter? Apakah hipnotis juga ada efek sampingnya?"
Anna berharap jika cara hipnotis tidak akan menimbulkan efek samping apa pun yang bisa merugikan Edgar.
"Tidak ada yang tidak memiliki efek samping, namun cara hipnotis mungkin lebih baik daripada pemberian obat. Dengan hipnotis, aku akan mengirim pikiran Edgar ke masa lalu dan memanipulasi kejadian di mana dia mendapatkan trauma hingga menjadi seperti sekarang."
"Jika cara itu memang bisa menyembuhkan kelainanku, lakukanlah!" tegas Edgar dengan penuh keyakinan dalam ucapannya.
Tampaknya Edgar sudah membuat keputusan yang tidak bisa diganggu gugat. Pria itu berharap jika kedatangannya ke kediaman Dokter Bryan akan membuahkan hasil yang tidak sia-sia.
Dokter Bryan menyuruh Edgar untuk berbaring di ranjang pasien yang ada di ruangan itu, sedangkan Anna duduk di samping Edgar dan memerhatikan proses hipnotis tersebut.
"Pejamkan matamu dan bayangkan kejadian saat kau bertemu dengan wanita gila itu."
Edgar mengikuti semua arahan Dokter Bryan hingga ingatannya kembali pada masa di mana asal kejadian mengerikan itu bermula.
Dalam pikiran Edgar sekarang, dia yang berusia sepuluh tahun sedang bermain basket dengan Kevin, lalu tiba-tiba seorang wanita muncul dan memberikan minuman kepadanya dan Kevin yang kelelahan.
"Jangan minum! Jangan minum!" teriak Edgar dalam pengaruh hipnotis.
Melihat wajah Edgar yang mengerut dan keluar banyak keringat, Dokter Bryan kemudian mengendalikan pikiran Edgar dengan mengatakan bahwa Edgar bisa melawan wanita gila itu sebelum terjadi sesuatu yang buruk.
Terapi hipnotis bergantung pada kemampuan Edgar dalam merubah ingatannya sendiri. Memanipulasi ingatan masa lalu memang bukan hal mudah, namun dia tetap harus mencobanya dan berharap bahwa terapi itu akan membuahkan hasil.
__ADS_1
Edgar membuka mata, napasnya sedikit terengah-engah dan wajahnya dipenuhi peluh.
"Ed, kau baik-baik saja?" tanya Anna dengan tak sabar.
"Aku tidak yakin ...."
"Dokter, bagaimana dengan Edgar? Apa dia berhasil memanipulasi ingatannya? Apa kelainannya sudah hilang?"
Pertanyaan bertubi-tubi Anna lontarkan kepada Dokter Bryan. Dia sungguh sangat penasaran dengan hasil dari terapi hipnotis tersebut.
"Kita hanya bisa mengetahuinya setelah kalian berhubungan intim. Sebab, kelainan sadisme hanya muncul saat seseorang bergairah terhadap pasangannya. Jika saat itu Edgar tidak melakukan kekerasan atau menyakitimu, itu artinya terapi hipnotis ini berhasil," jelas Dokter Bryan.
Anna mengusap keringat di wajah Edgar, lalu memeluknya. "Semoga saja kau sembuh, Ed."
"Lalu, bagaimana jika aku masih menyakiti Anna saat berhubungan? Bukankah itu artinya terapi hipnotis ini sia-sia?"
Meskipun Edgar berhasil memanipulasi ingatannya sendiri, namun dia belum tahu hasilnya jika belum berhubungan intim dengan Anna. Dia berharap jika terapi hipnotis itu berhasil dan dirinya tidak lagi akan menyakiti wanita yang dicintainya saat berhubungan.
Dokter Bryan tersenyum seraya menepuk bahu lebar Edgar. "Tidak ada usaha yang sia-sia, Ed."
Glup!
Anna meneguk ludahnya dengan susah payah, saat ini dia tengah bersama Edgar di kamar apartemen mereka. Ya, mereka berencana melakukan praktik untuk mengetahui hasil dari terapi hipnotis Edgar siang tadi.
Seperti yang orang-orang katakan bahwa sesuatu yang direncanakan selalu tidak berhasil. Oleh sebab itu, kita harus membiarkannya secara alami seperti air yang mengalir dan menyerahkan semuanya pada keadaan.
"Kau tidak gugup 'kan?" tanya Edgar di sela-sela keheningan.
"A-apa? Tentu saja tidak!" Anna mengipasi wajahnya dengan tangan kanan. "Sepertinya udaranya sedikit panas."
"Bagaimana kalau kita minum dulu? Sudah lama kita tidak minum wine berdua."
Sejujurnya Edgar gugup karena dia takut jika ternyata kelainannya masih ada dan dirinya jadi menyakiti Anna. Sebagai pria normal, tentu saja dia tidak ingin melepaskan wanita terkasihnya begitu saja. Namun, saat ini keadaannya berbeda!
Demi mencairkan suasana, Anna dan Edgar duduk berdua di sofa dengan segelas wine berkualitas tinggi di genggaman mereka. Mereka berharap jika alkohol bisa membantunya agar lebih santai menghadapi situasi yang canggung itu.
"Wine-nya habis. Aku akan mengambilnya lagi," ucap Anna dengan wajah yang sedikit merona.
Ya, satu botol wine sudah habis oleh mereka berdua. Tampaknya mereka sudah terpengaruh alkohol, terlihat dari wajah mereka yang memerah dan mata yang layu.
__ADS_1
Edgar memegang tangan Anna, menahannya agar tidak pergi ke dapur.
"Mari kita lakukan ... Anna ...," lirih Edgar.
Sepertinya alkohol memang pilihan bagus untuk mencairkan suasana. Karena alkohol, Edgar merasa bebas dan tidak canggung seperti sebelumnya. Sifatnya yang suka mendominasi pun sudah terlihat lagi.
Edgar menarik pinggang Anna hingga jatuh ke pangkuannya.
Anna memekik kecil ketika leher jenjangnya menjadi sasaran empuk Edgar untuk digigit hingga meninggalkan tanda kemerahan.
"Ugh! Pelan-pelan, Ed ...."
Tak peduli lagi dengan penampilannya sekarang, Anna menjambak rambut belakang Edgar tatkala dirinya dibuat melayang dengan perlakuan pria itu. Semua titik sensitifnya berhasil dijelajahi oleh Edgar hingga membuatnya terkulai lemas dan pasrah menerima semuanya.
"Anna ... beritahu aku jika kau merasa sakit."
Cup!
Seiring dengan menyatunya tubuh mereka, Edgar memagut bibir Anna untuk meredam suara ******* wanita itu. Dia berusaha agar tidak menyakiti Anna dengan memperlakukannya lembut dan perlahan-lahan.
Meskipun itu bukan pertama kalinya, namun Anna belum terbiasa dengan milik Edgar. Rasanya masih nyeri ketika benda panjang itu masuk memenuhi tubuh bawahnya.
Dua jam terlewati, namun Edgar masih setia memanjakan Anna dengan kemampuannya. Ketika wanitanya sudah ******* beberapa kali, dirinya masih belum mengeluarkan benihnya sekali pun, padahal dia sudah berganti posisi beberapa kali dengan Anna.
Edgar berbaring di samping Anna dengan napas terengah-engah. Kali ini dia mengingat setiap momen panasnya dengan Anna meskipun dibawah pengaruh alkohol, tidak seperti pertama kalinya yang mabuk total hingga tak sadar jika dia melakukan sesuatu pada sang istri.
"Sepertinya kau sembuh, Ed. Kau sembuh!"
Ya, Edgar sama sekali tidak memukul atau menampar Anna saat berhubungan. Tampaknya terapi hipnotis tersebut berhasil! Anna bersyukur karena Edgar berhasil mengontrol diri dan tidak menyakitinya baik secara fisik maupun verbal.
Anna merapatkan tubuhnya dengan Edgar, memeluk suami tampannya itu hingga tak sadar jika sentuhan bagian bawah pinggangnya menyentuh milik pria itu.
"Aku senang karena kau berhasil mengontrol diri, Ed. Lihat! Aku baik-baik saja dan tidak ada luka sedikit pun!"
"Ukh!" erang Edgar. Wajahnya memerah dan tubuhnya menjadi panas.
Mengapa tubuh Edgar panas? Apa dia sakit? batin Anna bertanya-tanya. Dia khawatir jika pria itu tiba-tiba sakit.
"Benar, Anna, aku juga senang karena aku tidak menyakitimu seperti sebelumnya. Tapi-" Edgar kembali memposisikan dirinya di atas Anna. "bisakah kita mengatasi benda ini?"
__ADS_1
"Lagi?!"
Pada akhirnya, malam panjang pun berlanjut dengan suara ******* dan decitan ranjang yang tiada hentinya dari sepasang suami-istri yang belum lama menikah itu.