
"Kau sudah siap?" Edgar berdiri di depan pintu kamar yang terbuka lebar.
"Tunggu sebentar! Kau tidak mengemas barangmu?"
Anna heran karena Edgar sangat santai, tidak seperti dirinya yang sejak tadi sangat antusias dan tergesa-gesa memilih barang untuk dibawa pergi berlayar.
"Aku sudah menyiapkannya pagi-pagi sekali." Edgar mengarahkan pandangannya ke arah koper hitam yang tersimpan di samping meja kecil.
"Bagaimana bisa kopermu ada di sana tapi aku tidak melihatnya?" Anna menaikkan sebelas alisnya ke atas. "Aku sudah selesai. Mari kita berangkat!"
Karena jarak villa dan pelabuhan tidak terlalu jauh, Anna dan Edgar sampai di pelabuhan hanya dalam waktu kurang lebih sepuluh menit dengan menggunakan mobil.
"Waaaahhh! Dari mana kau menyewa kapal pesiar ini?" Anna terperangah dengan sebuah benda logam yang terapung di permukaan air laut.
"Kapal itu milikku. Lebih tepatnya adalah ayahku menghadiahkan kapal pesiar itu saat ulang tahunku yang ke dua puluh."
"Aku tidak tahu harus berkata apa," ucap Anna setelah mendengar penjelasan Edgar yang membuatnya takjub.
Seperti anak kecil yang mendapat hadiah, Anna tak henti-hentinya tersenyum seraya berlarian ke sana kemari melihat seisi kapal pesiar mewah yang entah berapa mahal harganya.
Duk!
Suara keras muncul ketika Anna menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang berukuran besar yang ada di kapal pesiar pribadi itu. Tampaknya dia kelelahan karena berkeliling dan mengobrak-abrik seisi kapal.
"Kau sesenang itu dengan kapal pesiar ini?" Edgar muncul entah dari mana dan telah berganti pakaian dengan menggunakan jubah mandi.
"Begitulah." Anna tersenyum sumringah lalu melihat penampilan Edgar dari atas hingga bawah. "Apa kau akan mandi?"
"Lebih tepatnya berenang."
"Benarkah? Kalau begitu aku akan ikut denganmu."
Berenang di kapal pesiar bukanlah hal yang mustahil. Sebab, kapal pesiar milik Edgar memang difasilitasi kolam renang dengan ukuran cukup besar.
Byur!
Edgar segera menceburkan dirinya dan berenang dengan gaya bebas. Sementara itu Anna hanya duduk di pinggir kolam setelah sebelumnya mengganti pakaian dengan bikini bermotif bunga.
Sejujurnya Anna ingin turun dan berenang bersama Edgar, namun dia tidak bisa berenang. Dia hanya mampu merendam kedua kakinya sambil bermain air di pinggir kolam.
"Kau tidak turun?"
__ADS_1
"Aku tidak bisa berenang, Ed."
"Turunlah, aku akan mengajarimu berenang hingga kau bisa." Edgar mengulurkan tangannya dan meraih tangan Anna dengan hati-hati.
Layaknya seorang pelatih renang handal, Edgar mengajari Anna dengan telaten hingga Anna bisa menguasai empat gaya renang dengan waktu singkat. Dia kemudian membiarkan sang istri mempraktikkan apa yang sudah diajarkannya barusan.
"Aku akan menunggu dan melihatmu di pool chair. Kau bisa berlatih renang sepuasnya."
"Baiklah, Suami."
Ya, aku pasti bisa berenang sendiri karena sudah berlatih dengan Edgar. Semangat, Anna! batin Anna dengan antusias.
Seperti yang sudah diajarkan Edgar, Anna melatih kemampuan renangnya dengan mencoba satu persatu gaya renang.
Ada apa dengan kakiku?
Panik. Anna merasa kakinya tidak bisa bergerak dengan bebas. Kakinya mati rasa dan terasa berat sekali.
Mmmmmhhh!
Anna mencoba berteriak namun dia malah tersedak air hingga kepalanya pusing. Tangannya sengaja dia angkat ke atas dan berharap kalau Edgar dapat melihat dirinya yang hampir tenggelam.
Memejamkan mata, Anna sudah tak kuasa menahan rasa pusing dan sakit di kepalanya. Dia bahkan sudah tidak bisa menahan napasnya di dalam air.
Saking paniknya karena tenggelam, Anna bahkan mulai berpikiran negatif.
Sementara itu di lain sisi, Edgar tampak heran karena Anna belum muncul ke permukaan air. Dia melihat sekilas sebuah tangan yang memercikkan air dan mulai gelisah.
Dengan sigap, Edgar sontak menceburkan dirinya ke dalam kolam renang dan mencari sosok wanita yang merupakan istrinya tenggelam. Kedua bola matanya membesar, kala melihat tubuh Anna yang terkulai lemas di dalam air dan hampir menyentuh dasar kolam.
Edgar bergegas meraih tubuh Anna dan membawanya ke permukaan. Dia membaringkan tubuh Anna di sisi kolam dan mulai melakukan CPR sebagai pertolongan pertamanya.
" ... Na ... Anna!"
Uhuk! Uhuk!
Tampaknya Edgar berhasil menyelamatkan Anna. Anna terbatuk-batuk dan mengeluarkan air di dalam mulutnya.
"Syukurlah kau selamat. Maafkan aku karena aku lengah, Anna."
Dalam sekejap, Edgar memeluk erat tubuh Anna. Dia dapat merasakan tubuh wanita itu yang menggigil kedinginan dan berusaha berbagi kehangatan.
__ADS_1
"Hiks ... hiks ... aku tidak mau berenang lagi ...."
Perkataan Anna membuat Edgar merasa bersalah dan mengutuk dirinya sendiri. Jika saja dia lebih memperhatikan Anna dari dekat, mungkin kejadian itu tidak akan terjadi.
"Maaf, Anna. Aku sungguh minta maaf."
"Kau harus bertanggung jawab, Ed!"
Cup!
Tanpa basa-basi lagi, Anna meraih bibir Edgar dengan bibirnya dan mencium pria itu. Tangannya dibiarkan menggantung di leher Edgar dan sesekali menjambak rambut belakang pria yang merupakan suaminya itu ketika dia merasakan bibirnya digigit pelan.
"Kau bahkan masih punya tenaga untuk menciumku setelah apa yang baru saja terjadi?" Edgar menyeringai ringan.
Bukannya menjawab. Anna memilih untuk kembali mencium Edgar dengan tergesa-gesa. Ciumannya merambat ke arah leher pria itu hingga membuatnya mengeluarkan suara yang baru pertama kali Anna dengar.
"Ssssshhhh! Cukup, Anna!"
Persetan dengan kata-kata Edgar! Anna kembali melakukan aksinya, namun kali ini dia mengikutsertakan tangannya untuk meraba-raba tubuh kekar Edgar yang terbentuk sempurna.
"Ed, apa kau tidak menginginkan aku?"
Meraih tangan kanan Edgar, Anna sengaja menaruh tangan besar pria itu di antara dadanya yang masih dibalut bikini.
"Kau pasti lelah, Anna. Lebih baik kita masuk kamar dan berganti pakaian."
"Kau menolakku?"
"Tidak mungkin. Aku menikah denganmu karena aku mencintaimu. Tapi kali ini kau harus beristirahat setelah kejadian barusan. Jadi kita bisa melanjutkannya nanti, hm?"
Beruntungnya Edgar memiliki sebuah alasan untuk menolak Anna. Bukannya Edgar tidak ingin berhubungan intim dengan Anna. Namun, dia hanya merasa takut jika rahasianya terbongkar.
"Terserah kau saja!"
Dengan perasaan kesal, Anna berdiri dan meninggalkan Edgar yang masih berada di pinggir kolam renang. Lagi pula, dia sudah kedinginan sejak tadi. Jika terlalu lama diam di luar ruangan dengan bikini yang basah, mungkin dirinya akan jatuh sakit.
"Menyebalkan sekali! Memangnya aku tidak tahu kalau dia menghindariku? Dia 'kan pria agresif yang selalu mencumbuku lebih dulu, lalu kenapa sekarang dia berubah?!"
Dalam hatinya Anna ingin kembali pada masa dia dan Edgar pacaran. Sebab, setelah menikah sifat Edgar seperti orang lain. Sifat agresif dan suka memaksanya jadi hilang entah ke mana. Padahal Anna sangat menyukai Edgar yang selalu mendominasi.
"Tidak mungkin seseorang berubah dalam satu malam. Pasti ada sesuatu yang aku tidak ketahui mengenai Edgar! Akan tetapi, apa?!"
__ADS_1
Anna melihat pantulan dirinya di depan cermin dan pandangan matanya seketika berhenti pada dua buah gumpalan daging yang masih terbungkus bikini.
Apa yang harus aku lakukan?!'