
Edgar terkekeh kecil. "Kau tidak melarangku?"
"Untuk apa aku melarangmu? Lagi pula, mereka memang harus diberi pelajaran yang pantas karena telah menjelek-jelekanku dengan rumor yang tidak benar! Andy juga mendapat skors gara-gara itu!"
Biasanya Anna akan memaafkan orang yang mencari masalah dengannya, namun kali ini tidak! Sebab, Andy yang telah membelanya jadi mendapat masalah di sekolah dan tidak bisa pergi belajar. Padahal, Andy sudah kelas tiga SMA dan tidak boleh sampai ketinggalan pelajaran.
"Aku akan memecat ayahnya dari perusahaanku?" jelas Edgar.
"Itu saja? Tapi, aku ingin Farrell meminta maaf secara resmi pada Andy."
Merasa heran, Edgar mengangkat satu alisnya ke atas. "Kenapa Farrell harus meminta maaf pada Andy, bukan padamu?"
"Karena Farrell sudah membuat Andy marah. Itu urusan mereka berdua, sedangkan aku akan mengurus Wendy."
Seseorang yang sudah berkata jahat tidak boleh dibiarkan begitu saja. Sebab, mereka pasti akan melakukan hal sama di lain waktu. Oleh sebab itu, Anna akan membuat Wendy jera karena telah mengusiknya.
***
"Pak, kenapa saya dipecat, Pak! Saya bekerja dengan baik dan tidak pernah membuat kesalahan. Tapi ... kenapa saya dipecat?!"
Pria paruh baya melayangkan protes kepada HRD setelah menerima surat pemutusan hubungan kerja. Dia merasa bahwa itu terlalu mendadak. Bahkan, dia tidak tahu alasan mengapa dirinya tiba-tiba dipecat oleh WilD Corporation yang sudah menjadi tempatnya bekerja selama lebih dari sepuluh tahun.
"Ini perintah dari Direktur! Bukankah kau tahu bahwa Direktur tidak pernah memecat karyawannya sebelum ini? Itu artinya, kau membuat suatu kesalahan yang membuat Direktur memecatmu!" tegas HRD.
Berpikir beberapa kali pun, pria paruh baya itu tidak bisa menemukan jawaban atas dipecatnya dia dari perusahaan. Kesalahan? Dia tidak pernah membuat kesalahan yang bisa membuatnya dipecat!
Tak ingin membuang-buang lebih banyak tenaga untuk aksi protes yang sia-sia, akhirnya pria paruh baya itu meninggalkan perusahaan dengan membawa barang-barang pribadinya dengan wajah murung. Dia sangat sedih karena dirinya adalah tulang punggung keluarga. Jika dia tidak bekerja maka dia tidak akan bisa membiayai sekolah kedua anak-anaknya.
"Ayah pulang ...." ucapnya lemah.
Wendy, dia sontak mengalihkan pandangannya dari layar televisi kepada sang ayah yang baru saja pulang ke rumah.
"Kenapa Ayah tidak bekerja dan malah pulang?"
"Ayah dipecat."
__ADS_1
Terkejut, Wendy refleks bangkit dari sofa dan membelalakkan mata. Masih pagi, namun dia sudah mendapatkan kabar buruk dari mulut sang ayah.
"Bagaimana bisa? Kalau Ayah tidak bekerja, Ayah tidak akan punya uang dan aku tidak bisa membeli baju-baju bagus, make up baru, dan mentraktir teman-temanku!" protes Wendy.
Di kampus, Wendy dikenal sebagai orang tajir dan suka mentraktir teman-temannya. Pakaiannya selalu baru dan bermerk, make up nya pun sangat mahal! Jika ayahnya tiba-tiba dipecat, dia tidak akan bisa berbelanja dan pamer pada teman-temannya!
"Maaf, Nak ... Ayah tidak tahu kenapa Ayah tiba-tiba dipecat. Itu adalah perintah dari Direktur perusahaan. Direktur Bayangan."
Direktur Bayangan? Baru kali ini Wendy mendengar nama konyol tersebut. Dia sampai memutar bola mata karena ayahnya mengatakan hal aneh.
"Memangnya siapa Direktur Bayangan itu? Ayah sudah berbicara dengannya?"
"Ayah tidak tahu siapa Direktur Bayangan itu karena dia belum pernah datang ke perusahaan."
"Ah, terserahlah!" Wendy tak ingin mendengar penjelasan ayahnya lagi. "Aku akan berangkat kuliah, mana uang jajannya?!"
"Bukankah Ayah sudah memberimu uang jajan selama seminggu? Kenapa kau meminta lagi, Nak?"
"Sudah habis, Ayah! Cepatlah, berikan uangnya padaku!"
Setelah menerima uang, Wendy berangkat ke kampus dengan menggunakan taksi. Dia tidak memiliki mobil karena ayahnya tidak mau memberikannya, padahal jika dia memiliki mobil pribadi, dia akan memamerkannya dengan sombong.
"Hai! Aku sudah menunggumu sejak tadi!" celetuk Anna yang tengah bersandar di samping gerbang kampus.
Seperti yang baru saja Anna katakan, dia berangkat ke kampus lebih awal dan sengaja menunggu Wendy di dekat gerbang. Alasannya sangat sederhana. Dia ingin mengerjai Wendy karena wanita itu telah beromong kosong di depan para mahasiswa dan membuatnya malu.
Aku lupa berterima kasih pada Grace karena dia telah menampar Wendy! pikir Anna.
"Apa yang kau inginkan, huh? Dan bisakah kau minggir dari hadapanku?" protes Wendy dengan wajah yang tampak kesal.
Hari ini ayahnya dipecat, lalu dia dicegat oleh wanita yang tidak disukainya, Anna Florence. Bagaimana bisa dia mendapatkan kesialan bertubi-tubi?
"Ya, aku di sini untuk menerima permintaan maaf darimu. Aku tidak akan pergi sebelum kau berlutut dan meminta maaf!"
Bohong. Sejujurnya Anna bahkan tidak berniat memaafkan Wendy sebelum dia puas membalas sikap kurang ajar wanita itu terhadapnya. Lagi pula, Anna juga tahu kalau Wendy pasti tidak akan meminta maaf semudah itu!
__ADS_1
"Kenapa aku harus meminta maaf padamu? Semua yang kukatakan waktu itu adalah benar! Lagi pula, aku tidak percaya jika Profesor Edgar tiba-tiba menikah denganmu karena jatuh cinta. Bagaimana cara kau menggodanya? Atau kau mengancamnya karena mengetahui rahasia yang dia sembunyikan?"
Lihat? Seperti yang Anna duga, Wendy bahkan tidak ingin meminta maaf dan justru kembali beromong kosong. Menggoda? Mengancam? Tidak mungkin dia berani melakukannya! Edgar adalah putra tertua keluarga Dominic, jika dia menggoda apalagi mengancam pria yang sekarang sudah menjadi suaminya, sudah pasti keluarganya tidak akan selamat!
Menghela napas, Anna kemudian menyingkir dari hadapan Wendy, namun dia tidak benar-benar melepasnya begitu saja.
"Silakan ...."
Bukan Anna namanya jika menyerah begitu saja. Dia berniat untuk mengikuti Wendy ke mana pun dan di mana pun wanita itu berada, seperti seorang penguntit yang terobsesi dengan korbannya.
Melihat Wendy yang sudah jalan terlebih dahulu melewatinya, Anna sontak membuntuti wanita itu dari belakang. Senyum lebar mengembang di wajah Anna, ketika membayangkan betapa kesalnya Wendy saat tahu bahwa Anna mengikutinya dari belakangan.
Pasti dia akan sangat kesal. Tapi, bagus lah ... karena aku ingin menunjukkan sifat asli dari wanita itu! pikir Anna dengan antusias.
Setelah sebelumnya menyelidiki Wendy, tentu saja dengan bantuan Edgar, Anna mengetahui satu hal! Wendy terkenal suka memakai barang-barang mahal, bahkan selalu mentraktir teman satu pergaulannya. Namun, di balik semua itu Wendy bukan lah orang kaya seperti yang selalu dia ucapkan kepada teman-temannya, ayahnya hanya bekerja di WilD Corporation dan bahkan sekarang sudah dipecat, sedangkan ibunya sudah lama meninggal dunia.
Aku tidak suka dengan anak sombong seperti Wendy! gerutu Anna dalam hati.
Wendy adalah salah satu dari sekian banyak orang yang berlagak kaya, namun sebenernya dia orang yang tidak punya. Dia sangat egois dan tidak memiliki rasa kasihan terhadap ayahnya yang rela bekerja demi keluarga. Bukannya membantu sang ayah, Wendy justru mencekik ayahnya dengan terus meminta uang dengan jumlah yang besar untuk berfoya-foya! Anak durhaka!
Dalam hati yang sangat dalam, Anna merasa kasihan kepada ibu Wendy yang sudah meninggal. Beliau pasti kecewa jika melihat Wendy dan Farrell yang seperti sekarang, merundung temannya tanpa rasa bersalah!
"Oh lihatlah dia, baru datang sudah pamer tas baru!" dengus Anna yang melihat antusiasnya Wendy memamerkan tas baru kepada teman satu pergaulannya.
Anna menaikkan sudut bibirnya ke atas, dia berpikir untuk bergabung dengan grup Wendy.
"Hai!" sapa Anna dengan melambaikan tangan.
Baik Wendy maupun teman-temannya hanya diam ketika melihat Anna menghampiri mereka. Namun, dilihat dari sisi mana pun, Wendy adalah orang yang paling tidak suka ketika melihat Anna datang.
Wendy mendecih dan memutar bola matanya ke arah lain. "Ada apa lagi, Pelacur?" hardiknya.
Pelacur? Anna tidak mengira jika Wendy akan mengatakan kata itu setelah menerima tamparan dari Grace dan omelan Edgar. Tampaknya Wendy bukan orang yang mudah takut.
"Aku menyapa dengan baik-baik, tapi kau justru berkata kasar." Anna menggelengkan kepala. "Apa yang kalian bicarakan? Sepertinya seru!"
__ADS_1
"Mengapa kau ingin tahu? Ini adalah pembicaraan khusus orang-orang berkelas yang tahu fashion!" sungut Wendy dengan sengaja mengejek Anna di hadapan teman-temannya.