
Keesokan harinya ...
Edgar berdiri di samping Anna dengan wajah datar, kedua tangannya dia masukkan ke dalam saku celana.
"Ini yang kau maksud dengan kencan yang berbeda?" Ucap Edgar dengan nada kesal. Di hadapannya sekarang berdiri sepasang manusia yang menyebalkan. Grace dan Kevin.
Sepertinya Anna berhasil mengelabuinya dan membuat Edgar sama sekali tidak curiga. Berbeda? Edgar mengira jika Anna akan memberinya kejutan spesial hingga menyebutnya berbeda, namun ternyata ini adalah kencan ganda!
Kencan ganda pun sudah membuat Edgar kesal, namun dia lebih kesal lagi ketika mengetahui bahwa Kevin ikut terlibat dalam rencana ini. Kevin menjadi pasangan kencan Grace, padahal dia berkata bahwa dia sudah memiliki orang yang disukai! Bukankah wanita yang disukai Kevin adalah wanita kemarin?
"Maaf, Profesor. Sebenarnya saya yang memaksa Anna untuk pergi kencan ganda," celetuk Grace.
Memang benar jika Grace yang mengajak Anna untuk kencan ganda, namun Grace sama sekali tidak memaksa! Anna pergi karena kemauannya sendiri dan berpikir bahwa ajakan Grace tidak buruk untuk dicoba.
"Kau tidak memaksaku, Grace. Aku juga setuju dengan usulanmu itu." Anna memeluk tangan Edgar dengan erat. "Kau tidak marah 'kan, Ed? Hm?"
Biasanya Edgar akan luluh dengan sikap manja Anna. Oleh karena itu, Anna berharap jika Edgar akan mengikuti kencan ganda tanpa protes lagi.
"Jika kau ingin pulang, pulang saja! Tapi, Anna akan ikut bersama kami!" Perkataan tak terduga keluar dari mulut Kevin yang sedari tadi diam. Dia jengkel karena melihat sepasang suami-istri bertengkar di hadapannya dan memperkeruh suasana.
Sebenarnya Kevin juga cemburu kepada Edgar, jadi dia menyuruh Edgar pergi dan membiarkan Anna tinggal bersamanya dan Grace. Setidaknya jika Edgar pergi, hatinya tidak akan terlalu panas karena melihat kemesraan sepupunya.
Mendengar celetukan Kevin, Edgar merasa tambah kesal dan emosi. Tidak mungkin jika dirinya membiarkan Anna tinggal bersama mereka berdua! Membayangkan Anna sendirian sambil melihat temannya berkencan membuat Edgar tak rela untuk pergi.
"Ayo, Sayang. Kita mau pergi ke mana dulu?" Edgar mengaitkan tangan Anna dengan tangannya agar mereka tetap bersama dan tak terpisahkan.
"Bianglala!" ucap Anna dengan antusias.
Bianglala? Tentu saja! Edgar hampir melupakan itu. Saat kencan pertama mereka, Anna juga mengajaknya menaiki bianglala di taman bermain. Ya, waktu itu mereka sangat canggung karena itu pertemuan pertama mereka sebagai pasangan kencan.
Satu hal yang paling berkesan di hari itu adalah ciuman. Meskipun Edgar sering melakukannya dengan orang lain, namun dia merasa berdebar seolah itu adalah ciuman pertamanya.
__ADS_1
"Apa kau mengingatnya?" Edgar menunjuk bangku panjang di taman bermain. "Waktu itu kau sangat menggemaskan, Anna."
"Diam, Ed! Jangan menggodaku seperti itu!"
Saat ini Anna sangat malu karena Edgar mengingatkannya pada kejadian ciuman pertamanya. Mungkin wajah Anna sudah sangat memerah sekarang.
Kenapa Grace dan Profesor Kevin diam saja? pikir Anna.
Anna melihat dua orang di belakangnya, Grace dan Kevin. Mereka berjalan beriringan, namun sangat hening seperti patung berjalan. Bagaimana bisa ada orang yang berkencan seperti mereka? Tidak seru sama sekali!
"Grace, apa kau sakit?" celetuk Anna. Dia heran karena melihat Grace yang diam saja, padahal Grace biasanya cerewet dan bersemangat. Namun, mengapa Grace terus membisu?
"Anna, bolehkah kita naik bianglala bersama? Aku dan kau."
Jantungku masih kacau karena gugup. Aku tidak bisa ditinggal berdua saja dengan Profesor Kevin! lanjut Grace di dalam hati
Namun, perkataan Grace tidak disambut baik oleh Edgar. Edgar ingin berkencan berdua saja dengan Anna, tanpa ada siapa pun yang mengganggu!
"Ed!" Anna mencubit tangan Edgar pelan. Suaminya itu terlalu posesif dan over protektif. "Maaf, Grace. Aku akan naik bersama Edgar."
Lagi pula, yang namanya kencan itu harus berpasangan dengan lawan jenis. Mana mungkin Anna berangkat dari rumah dengan Edgar, namun menghabiskan waktu kencannya dengan Grace? Itu sangat aneh.
"Profesor Kevin, tolong jaga Grace baik-baik, ya! Selamat menikmati kencan kalian!"
Setelah mengatakan itu, Anna sontak pergi dengan Edgar sambil berpegangan tangan. Dia sudah tidak sabar untuk menaiki bianglala yang merupakan wahana favoritnya sejak kecil.
Hiruk pikuk orang berdesak-desakan untuk mengambil antrean. Ya, tidak sedikit orang yang ingin menaiki wahana bianglala. Mungkin karena bianglala adalah wahana yang menarik. Wahana bundar itu bisa memperlihatkan pemandangan alam yang indah saat sampai di titik puncaknya. Namun, bagi seseorang yang phobia ketinggian maka wahana bianglala bisa menjadi mimpi buruk!
"Untuk dua orang," ucap Edgar seraya menyerahkan tiket yang sebelumnya sudah dibeli.
"Maaf, Tuan. Sekarang wahana ini harus dinaiki oleh empat orang agar antrean panjang ini berakhir."
__ADS_1
Anna dan Edgar saling bertukar pandangan. Sejak kapan ada peraturan seperti itu? Padahal sebelumya tidak masalah jika yang naik hanya dua orang, bahkan satu orang pun ada!
"Sejak kapan peraturan ini dimulai? Kami baru mendengarnya," tanya Anna.
"Sejak dua minggu yang lalu. Ada seseorang yang protes karena tidak kebagian naik wahana ini padahal sudah membeli tiket dan mengantre lama. Dia memaksa naik meskipun sudah waktunya kami tutup."
Peraturan tetap peraturan. Jika mereka diharuskan menaiki bianglala berempat, mereka tidak mempunyai pilihan lain selain harus mengajak dua orang lainnya untuk bergabung.
Anna melihat dua orang di belakangnya, seorang pria paruh baya dan anak kecil.
Sepertinya akan canggung jika satu sangkar bianglala dengan mereka! pikir Anna.
Di saat Anna dengan sibuk berpikir, dia mendengar teriakan Grace dari barisan paling belakang. Grace melambaikan tangannya tinggi-tinggi dan menunjuk dua tiket yang dia pegang.
"Kalau begitu, kami akan naik bersama mereka." Anna menunjuk Grace dan Kevin, lalu melambai-lambaikkan tangannya di udara untuk memanggil mereka.
Mungkin Edgar tidak akan setuju jika harus menaiki bianglala bersama mereka, namun Anna tidak memiliki pilihan lain. Grace dan Kevin adalah pilihan terbaik daripada harus satu sangkar dengan orang asing. Setidaknya Anna dan Edgar tidak akan malu jika mengumbar kemesraan di hadapan mereka.
"Syukurlah karena kita bisa naik bersama." Grace tersenyum sumringah. Dia beruntung karena tidak harus berduaan dengan Kevin.
Berbeda dengan Grace, Edgar justru memicingkan matanya tajam. Dia merasa sangat sial dan tidak beruntung. Baru saja Edgar akan bersenang-senang dengan Anna, namun karena peraturan baru bianglala tersebut, dia terpaksa harus berbagi tempat dengan dua orang lainnya.
"Apa kalian benar-benar berkencan?" ucap Edgar.
Edgar tak percaya dengan sikap Kevin yang dengan mudahnya berganti pasangan. Padahal kemarin Kevin mengatakan bahwa dia menyukai wanita yang sudah menikah, bahkan dia sudah bertemu dengan wanita itu. Namun, mengapa sekarang Kevin berkencan dengan Grace?
"K-kami baru saja mulai berkencan. Benar 'kan, Profesor?" gugup Grace. Tidak mungkin Grace mengatakan hal sebenarnya bahwa dia mengajak Kevin berkencan secara paksa dan membuat kesepakatan.
Kevin meraih tangan Grace, lalu menggenggamnya erat. "Benar. Kami berkencan!"
Kevin berpikir untuk mengikuti sandiwara Grace dengan baik, meskipun sebenarnya mereka tidak benar-benar berkencan dan hanya kencan percobaan. Ya, setelah berkencan tiga kali dengan Grace, Kevin akan segera mengakhiri hubungannya dan menolak perasaan Grace secara baik-baik.
__ADS_1