
Kini, Anna tengah sibuk mengacak-acak semua pakaian yang ada di dalam lemari. Kaus, kemeja, dan piyama tidur. Tiga jenis pakaian itulah yang memenuhi lemarinya, sedangkan gaunnya hanya ada beberapa buah.
Setelah menghabiskan waktu lebih dari dua jam untuk memilih, akhirnya Anna memilih gaun hitam selutut dengan renda di bawahnya, lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tak butuh waktu lama untuk mandi, Anna segera memakai gaun hitam yang dia pilih untuk pergi ke acara makan malam keluarga Dominic.
Gaun hitam, sepatu hak tinggi, dan tas kecil hitam telah siap menemani Anna pergi. Dia berdiri di depan gerbang kediaman Florence, menunggu Edgar datang.
Tin tin
Suara klakson terdengar tak jauh dari tempat Anna berdiri. Mobil sport merah berhenti tepat di hadapan Anna yang sudah berpenampilan cantik.
"Masuklah."
Begitu Anna masuk dan duduk di kursi depan sebelah Edgar, sontak membuat Edgar memandangi penampilan Anna dari atas hingga bawah.
Sementara Anna yang merasa diperhatikan, menutup pahanya dengan tas kecil yang dia bawa.
"Jangan melihatku seperti itu!" Anna menyipitkan matanya ke arah Edgar.
"Bukankah pakaianmu terlalu pendek? Bagaimana kalau ada pria lain yang menatapmu dengan tatapan nakal?"
Memang benar jika saat ini Anna memakai gaun di atas lutut sehingga pahanya terekspos dengan mulus. Namun, dia tidak menyangka kalau Edgar akan menilainya.
"Aku hanya ingin tampil cantik di depan keluargamu. Kau tidak suka dengan penampilanku?"
Tidak langsung menjawab, Anna malah mendapati pahanya ditutup oleh jas Edgar yang sebelumnya dia buka.
"Pakai itu selama berada di dalam mobil. Aku tidak ingin kehilangan konsentrasi saat menyetir karena melihat gaunmu yang terbuka."
Penuturan Edgar sontak membuat Anna semakin malu. Pria itu secara tidak langsung berkata bahwa dia tergoda dengan penampilan Anna.
Tidak ingin membuang lebih banyak waktu, Edgar segera mengemudikan mobilnya menuju kediaman Dominic dan memarkirkannya di garasi begitu mereka sampai di sana.
"Pegang tanganku."
Diperlakukan bak seorang putri, Anna meraih tangan Edgar begitu dia turun dari mobil, lalu tangannya dikaitkan dengan tangan pria itu.
Mereka berjalan beriringan menuju ruang makan keluarga Dominic. Di sana terdapat tiga orang yang menunggu kedatangan Anna juga Edgar. William Dominic, Lucia Dominic, dan Kevin Rowman.
Anna tidak mempermasalahkan doa orang di sana karena mereka ayah dan ibu Edgar. Namun, mengapa ada Kevin juga? Meskipun Edgar berkata bahwa Kevin adalah sepupunya. Namun, Anna tidak mengerti bagaimana Kevin bisa menjadi sepupu Edgar padahal pria itu tidak memiliki marga Dominic!
"Maaf, sepertinya kami sedikit terlambat."
Sambil tersenyum ramah, Anna dengan tulus meminta maaf kepada mereka bertiga yang telah berkumpul di meja makan.
__ADS_1
"Duduklah!"
Suara tegas William mendominasi meja makan, sedangkan yang lain hanya diam dan tersenyum pada Anna.
Tampaknya kekhawatiran Anna terlalu berlebihan. Tadinya Anna berpikir bahwa kehadirannya tidak akan diterima dengan baik karena dia berasal dari kalangan menengah ke bawah yang tidak pantas bersanding dengan keluarga Dominic yang merupakan keluarga konglomerat.
"Benar katamu, Sayang. Calon menantu kita sangat cantik."
Kali ini Lucia Dominic - Ibu Edgar yang angkat bicara. Wanita paruh baya yang cantik dengan rambut hitam legam dan mata biru safir yang cerah.
Setelah melihat kedua orang tua Edgar, Anna jadi tahu dari siapa wajah dan sifat Edgar diturunkan. Edgar memiliki wajah persis seperti Lucia, sedangkan sifatnya persis seperti William. Kombinasi yang luar biasa!
"Ayah ingin membahas tentang pernikahan kalian. Ayah rasa kalian sudah lumayan dekat secara pribadi, bagaimana kalau pernikahan kalian diadakan satu minggu lagi?"
Seketika pernyataan William membuat Anna tersedak hingga terbatuk-batuk. Setiap kata yang terucap dari mulut William selalu saja membuat Anna syok hingga tak mampu berkata-kata.
"Maaf?"
Hanya satu kata itu yang terucap dari mulut Anna.
"Aku setuju! Bagaimanapun juga, aku sudah tidak sabar ingin menggendong cucu."
Cucu? Anna hampir lupa kalau nanti menikah dengan Edgar dan ingin memiliki anak maka dia harus melewati malam intim dengan pria itu.
"Tunggu sampai Anna lulus kuliah. Setelah itu kami akan menikah sesuai keinginan Ayah dan Ibu."
Sejujurnya Anna tidak tahu alasan Edgar ingin menunda pernikahan. Padahal Anna tidak keberatan meskipun akan menikah hari ini, besok, atau kapan pun itu. Lagi pula, Anna dan Edgar akan tetap menikah bagaimanapun caranya!
Pertama, Anna menyukai Edgar. Kedua, pernikahan mereka adalah bagian dari kesepakatan di mana Anna harus menikah dengan Edgar agar utang Andrew dihapuskan. Jadi, Anna tidak keberatan jika pernikahannya dengan Edgar dipercepat.
"Baguslah! Kalau begitu, kau harus mulai memanggil kami Ayah dan Ibu, Anna." William mengarahkan pandangannya pada Kevin. "Ada yang ingin kau katakan, Kevin?"
Anna hampir lupa kalau Kevin bergabung dalam acara makan malam ini. Sebab, pria itu sama sekali belum membuka mulut sejak kedatangan Anna dan Edgar.
"Tidak ada, Paman."
Makan malam berakhir tanpa ada masalah sedikit pun. Setelah pembahasan mengenai acara pernikahan selesai, hati Anna terasa lebih tenang dari biasanya.
Mencari udara segar, Anna pergi ke halaman belakang kediaman Dominic dan duduk di bangku panjang tepat di bawah pohon besar. Matanya terpejam menikmati semilir angin malam yang menusuk pori-pori kulitnya.
"Malam-malam berada di luar rumah dengan pakaian seperti itu, kau ingin terkena flu?"
Membuka jas, Edgar memakaikan jas miliknya pada bahu Anna yang sedikit menggigil.
"Tidak akan! Lagi pula, ada kau di sampingku. Jadi, aku tidak akan terkena flu karena kau akan melindungiku seperti ini."
__ADS_1
Anna mempraktikkan maksudnya dengan memeluk tubuh kekar Edgar yang terasa hangat. Selama berpelukan, Anna bisa mencium aroma parfum yang dipakai Edgar. Aroma yang menenangkan.
Pluk
Tangan besar Edgar berada di atas kepala Anna. Ketika Anna mengangkat kepala, detik selanjutnya Edgar malah mengacak-acak rambut yang susah payah Anna rapikan selama berjam-jam di depan cermin.
"Oh tidak! Rambutku!"
"Tidak apa-apa. Kau masih cantik meskipun dengan rambut acak-acakan."
Mengembungkan pipinya, Anna menatap tajam ke arah Edgar. Meskipun itu adalah ekspresi marah yang Anna tunjukkan, namun bagi Edgar ekspresi Anna terlihat menggemaskan seperti anak kecil yang direbut permennya.
Tanpa sadar, Edgar mencubit pipi Anna hingga memerah dan membuat Anna meringis nyeri.
"Maaf. Apa masih sakit?"
"Umh."
Sebenarnya sudah tidak sakit, namun Anna berbohong agar Edgar mengelus pipinya yang sempat dicubit.
Seperti yang Anna harapkan, Edgar mengelus bagian pipinya yang sakit dan mengecupnya beberapa kali. Tidak hanya itu, Edgar malah mengambil kesempatan yang Anna berikan untuk berbuat lebih.
Mengecup, *******, dan menggigit. Edgar mendominasi bibir Anna tanpa merasa puas sedikit pun. Meskipun Anna sudah sesak napas, bahkan bibirnya sedikit berdarah karena Edgar gigit, Edgar sama sekali tidak peduli! Gairahnya semakin meningkat ketika dia mendengar Anna meringis.
"Mmmpphh."
Sementara itu, dengan sekuat tenaga Anna mendorong dada Edgar menjauh hingga pagutan bibir mereka terlepas. Dihirupnya udara sebanyak-banyaknya oleh Anna yang sudah kehabisan napas.
Masih dengan napas terengah-engah, Anna memukul dada bidang Edgar berulang kali dengan tenaga yang sudah terkuras habis.
"Apa kau ingin membunuhku?!"
Meskipun itu hanya sebuah ciuman, namun jika Edgar yang melakukannya maka akan berubah menjadi ciuman maut. Pria itu tidak pernah bisa mengontrol gairahnya jika sudah berhubungan dengan Anna.
"Aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak menyerangmu. Maaf. "
Menyeka saliva yang masih tersisa di sudut bibir, Anna menarik tubuh Edgar ke dalam pelukannya, lalu menepuk punggung pria itu.
Terkadang sikap Edgar memang sedikit di luar batas, namun Anna tidak pernah benar-benar marah pada Edgar. Edgar adalah kekasih pertama yang Anna miliki dan sebentar lagi mereka akan menikah. Demi bisa bersama Edgar, Anna akan menerima segala kelebihan maupun kekurangan pria itu.
"Aku juga minta maaf karena tadi meninggikan suaraku."
Benar. Tidak baik jika bertengkar karena kesalahan kecil. Lagi pula, Edgar adalah seorang pria dan merupakan kekasih Anna. Wajar saja jika pria itu sedikit lebih agresif padanya.
Jika hanya ciuman di antara sepasang kekasih, Anna akan membiarkan Edgar melakukannya. Namun, jika lebih dari itu maka Edgar harus menunggu sampai mereka sah menjadi pasangan suami-istri.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Anna. Sungguh! Jadi, jangan pernah tinggalkan aku."