
"Ed, ada apa?" tanya Anna ketika melihat Edgar terburu-buru pergi ke kamar mandi.
Sudah tiga minggu sejak Anna dikabarkan hamil, kini usia kandungannya adalah enam minggu. Anna tampak baik-baik saja selama kehamilan pertamanya, hanya Edgar yang bermasalah.
Edgar mencuci mulutnya dengan air di wastafel, lalu keluar dari kamar mandi. "Dua hari ini perutku tidak enak," ucap Edgar seraya duduk di samping Anna.
"Kau muntah lagi?"
Ya. Kemarin pagi Edgar mual-mual dan sekarang pun begitu. Entah apa yang terjadi padanya, namun ini pertama kalinya dia merasakan perutnya sangat aneh.
"Ini masih pagi, tapi tenagaku seperti terkuras habis," lirih Edgar. Wajahnya sedikit pucat setelah kembalinya dari kamar mandi.
"Bagaimana kalau kita memanggil Dokter Bryan? Sepertinya kau harus diperiksa, Ed."
"Tidak sekarang, Anna. Aku hampir terlambat pergi ke kampus. Hari ini ada rapat rutin para dosen, aku harus segera berangkat ke sana." Edgar tidak bisa menunda pekerjaannya hanya karena mual-mual. Dia seorang pria, akan sangat melakukan jika dia kalah dengan sakitnya yang terbilang bukan apa-apa.
"Harus sekarang! Jika kau tidak menuruti keinginanku, maka aku tidak akan mengizinkanmu tidur di kamar ini!" ancam Anna. Edgar adalah seorang pria yang over protektif, dia tidak akan mau jika tidur terpisah dengan Anna.
Edgar sontak bergeming sejenak, dia tak habis pikir mengapa Anna bisa mengancamnya dengan kata-kata itu. "Aku akan menelpon Dokter Bryan sekarang," ucapnya cepat.
Senyuman Anna mengembang seketika. Kesehatan merupakan hal yang paling utama dan tidak boleh disepelekan. Karena sehat itu mahal.
Anna mengecup pipi Edgar sekilas. "Begitu lebih baik, hehe."
Edgar mengambil ponselnya di atas meja dan langsung menghubungi Dokter Bryan. Dia terpaksa harus absen dari rapat karena harus diperiksa kesehatannya.
Selang beberapa waktu kemudian, Dokter Bryan datang dengan seperangkat alat-alat medisnya. Pria paruh baya itu memeriksa Edgar dengan stetoskop dan menekan perut Edgar di beberapa titik.
"Tubuhmu baik-baik saja, tidak ada hal aneh saat kuperiksa," ucap Dokter Bryan.
"Itu aneh. Apakah kau tidak salah mendiagnosis? Dua hari ini perutku sangat tidak nyaman dan selalu merasa mual di pagi hari," jelas Edgar. Dia ragu jikalau Dokter Bryan salah memeriksanya.
"Kau hanya mual di pagi hari? Bagaimana dengan waktu lainnya?"
__ADS_1
Dokter Bryan seperti mengetahui sesuatu, namun sebelum mulai memberitahu Edgar dan Anna, dia harus menanyakan satu hal itu agar lebih pasti.
"Ya, aku hanya mual di pagi hari. Pinggangku juga kadang sakit."
Untuk seseorang yang selalu berolahraga hingga otot-otot perutnya terbentuk, Edgar merasa heran karena mengalami sakit pinggang. Dia sering berolahraga juga umurnya masih muda, dia tidak mungkin mengalami sakit pinggang secara tiba-tiba kalau bukan ada masalah dengan kesehatannya.
"Kurasa kau mengalami morning sickness."
"Morning sickness? Bukankah itu terjadi pada wanita hamil?" Edgar terbelalak kaget. Dia seorang pria, mana mungkin dia mengalami gejala morning sickness.
"Morning sickness ini adalah salah satu gejala dari sindrom couvade. Kondisi ini dianggap sebagai kehamilan simpatik di mana seorang suami memiliki kekhawatiran karena akan menjadi seorang ayah."
"Istriku yang hamil, tapi aku yang mengalami morning sickness?" gumam Edgar seraya menggelengkan kepala.
Mungkin ini adalah jawaban mengapa Anna tidak pernah mual di pagi hari. Tampaknya Edgar menggantikan Anna untuk mengalami morning sickness yang sangat menyiksa bagi wanita hamil. Morning sickness terjadi pada 80% wanita hamil dan sepertinya Anna adalah bagian dari 20% yang tidak mengalami gejala itu.
"Jadi sampai kapan gejala ini akan muncul?" tanya Edgar dengan pasrah.
Edgar menghela napas panjang. Sepertinya dia harus mulai membiasakan rasa mual yang menyerangnya di pagi hari.
***
Anna terkekeh ketika mengingat penjelasan Dokter Bryan mengenai sindrom couvade yang dialami Edgar. Dia berpikir, apakah Edgar sangat mengkhawatirkan kehamilannya sehingga mengalami sindrom tersebut? Sungguh sangat tidak bisa dipercaya.
"Kau kenapa?" tanya Grace seraya mengangkat satu alisnya ke atas, dia heran karena mendapati temannya yang terkekeh-kekeh sendiri.
"Aku sedang menertawakan Edgar. Suamiku itu mengalami morning sickness menggantikanku."
"Begitu rupanya. Aku memang pernah mendengar bahwa seorang suami pun bisa mengalami morning sickness saat istrinya sedang hamil, tapi aku tidak pernah berpikir kalau Profesor Edgar akan mengalaminya."
Siapa sangka jika seorang dosen yang terkenal dingin itu bisa mengalami morning sickness? Grace bahkan tidak bisa membayangkannya.
"Ya. Morning sickness adalah bagian dari sindrom couvade. Katanya Edgar mengalami itu karena terlalu khawatir dengan kehamilanku dan karena dia akan menjadi ayah."
__ADS_1
"Sindrom kofad atau apalah itu, tapi aku merasa kasihan kepada Profesor Edgar karena harus mengalaminya. Dia pasti sangat tersiksa." Karena sepengetahuan Grace morning sickness itu sangat menyiksa, para ibu hamil selalu mengeluh soal itu. Apalagi jika itu terjadi pada pria?
"Hn, kau benar! Seharusnya aku tidak menertawakan itu." Anna menundukkan kepalanya sejenak, dia menyesal karena tidak berpikir tentang perasaan Edgar yang mengalami morning sickness itu. "Oh iya, bagaimana dengan perkembangan cintamu dengan Profesor Kevin?"
Sudah lama sekali sejak Grace mengatakan bahwa dia akan kencan kedua dengan Kevin, namun Anna belum mendengar cerita apa pun dari temannya itu.
Grace menghela napas panjang. "Tidak ada yang spesial. Aku akan berkencan dengannya satu kali lagi dan memastikan perasaannya padaku. Profesor Kevin memang baik, dia selalu mengikuti keinginanku saat kencan. Tapi ... aku tidak tahu perasaannya terhadapku seperti apa, Anna."
Anna ingin mengerti perasaan Grace, namun tidak bisa. Dia belum pernah merasakan perasaan rumit dan ambigu seperti halnya Grace karena dia dan Edgar merupakan orang yang agresif.
Agresif? pikir Anna.
"Kenapa kau tidak bertindak agresif, Grace?" celetuk Anna menyerukan pikirannya.
"Apa maksudmu? Aku sudah mengajak Profesor Kevin kencan duluan bahkan mendominasi kencan kami. Bukankah aku sudah termasuk agresif?"
Memangnya apalagi yang harus Grace lakukan? Mana mungkin dia tiba-tiba mencium Kevin atau mengajaknya tidur bersama? Oh, tampaknya itu terlalu berlebihan dan sangat tidak mungkin untuk dia lakukan.
"Ya, kau bisa menciumnya duluan. Jika Profesor Kevin membalas ciumanmu, itu artinya dia menyukaimu." Anna mengatakan itu karena dia pernah mengalaminya saat Edgar menciumnya secara tiba-tiba di taman bermain. Meskipun itu sangat mendadak, akan tetapi Anna menikmatinya dan membalas ciuman Edgar.
"Sudah kuduga kalau kau akan mengatakan itu, Anna. Tapi, aku tidak bisa melakukannya!"
"Why? Kau pasti bisa melakukannya!"
Grace mungkin bisa melakukannya, namun dia takut jika Kevin justru berbalik membenci dan menjauhinya. Tindakan yang disarankan oleh Anna terlalu berisiko, dia tidak ingin melakukan itu.
"Aku tidak memaksa, hanya menyarankan saja. Tapi, kapan kau akan kencan ketiga?"
"Mungkin sabtu besok. Aku belum membicarakan ini dengan Profesor Kevin."
Jika saja Anna adalah dewi cinta yang bisa mengatur perasaan seseorang, mungkin dia akan membantu Grace dan Kevin untuk bersatu.
"Semoga perasaanmu terbalas, Grace." Anna menepuk bahu Grace dengan pelan. Pandangannya kemudian dialihkan pada seseorang yang istimewa di hatinya - Edgar, pria itu baru saja keluar dari ruang rapat. "Ah, itu Edgar dan Profesor Kevin ...."
__ADS_1