Tiba-Tiba Menikah!

Tiba-Tiba Menikah!
Anna Menghilang


__ADS_3

"Loh? Tumben kamu ke sini, Nak," ucap Olivia saat melihat Anna sudah ada di depan rumah. Kepalanya menoleh ke belakang Anna seperti mencari sesuatu. 


Olivia sendiri sedang merawat kebun kecilnya yang ada di halaman depan, dia tak menyangka jika putrinya akan datang secara tiba-tiba. 


"Kamu datang sendiri? Ke mana suamimu?" sambung Olivia. Dia tidak melihat Edgar, melainkan seekor anjing yang dibawa Anna. 


Helaan napas pun keluar dari mulut Anna. Dia sedang tidak ingin membicarakan Edgar, emosinya masih belum reda. 


"Jangan membicarakan dia, Bu. Aku sedang emosional hari ini," ungkap Anna. 


Untuk seorang wanita yang pernah mengandung bayi, tentu saja Olivia paham dengan situasi Anna. Ibu hamil memang selalu emosional dan perasaannya sensitif. Ya, mungkin saja Anna sedang mengalami hal itu. 


Ah, Olivia merasa kasihan kepada Edgar karena menjadi korban emosional Anna. 


"Anna, ayo masuk ke dalam. Kebetulan Ibu masak banyak hari ini, mungkin karena Ibu punya firasat kalau kau akan datang ke sini," lirih Olivia pelan. 


"Iya, Bu. Aku juga tiba-tiba lapar."


Anna celingukan ketika dia sudah masuk ke dalam rumah. "Bu, Ayah ke mana?" ucap Anna lagi. 


Setiap datang ke kediaman Florence, Anna selalu tidak menemukan keberadaan ayahnya. Padahal, dia sangat merindukan pria paruh baya itu. 


Andy? Kalau anak itu tidak perlu ditanyakan. Tentu saja dia pasti sedang sekolah. Namun, tetap saja Anna penasaran dengan kabarnya setelah kejadian waktu itu. Dia juga belum sempat minta maaf pada adiknya. 


"Ah, ayahmu ada di halaman belakang. Dia membantu Ibu mengurus kebun."


"Begitu 'kah?" ucap Anna terkejut. Syukurlah karena ayahnya sedang ada di rumah, Anna ingin sekali bertemu dengannya. "Bu, kalau begitu Anna akan ke halaman belakang, bertemu Ayah!"


Sebenarnya ada sesuatu yang ingin Anna katakan pada ayahnya. Ya, ini bisa menjadi kesempatannya untuk bertanya sekaligus melepas rindu. 


"Ayah!" teriak Anna. Dia melihat sosok ayahnya sedang duduk di kursi yang ada di bawah pohon. Sepertinya ayahnya sedang beristirahat. 


"Putri Ayah ternyata datang ke sini! Bagaimana kabarmu, Nak?"


"Aku baik, Ayah."


"Syukurlah. Kau harus sehat agar bayi dalam kandunganmu pun sehat," lirih Andrew. 


Sampai kapan pun, Andrew tidak pernah melihat Anna sebagai orang dewasa. Di matanya Anna masih seorang gadis kecil yang butuh perlindungan. Ah, tidak disangka jika gadis kecil itu kini sudah memiliki suami dan tengah mengandung. 


"Ayah ... apa Ayah pernah bertengkar dengan Ibu?"

__ADS_1


"Apa kau bertengkar dengan Edgar?"


"Bagaimana Ayah tahu?" ucap Anna cepat.


Bergeming. Andrew pun mengerutkan dahinya. 


"Sebenarnya aku sedang kesal pada Edgar. Dia terus mengeluhkan sindrom couvade yang dialaminya, lalu tiba-tiba aku marah padanya tanpa alasan jelas," papar Anna. 


"Ayah mengerti. Kau mirip seperti ibumu saat hamil. Ya, dulu Ayah pun mengalami sindrom itu dan tentu saja Ayah merasa tersiksa."


Anna membelalakkan mata. "Benarkah?"


"Benar. Saat Ayah mengeluh, ibumu tiba-tiba marah dan menuduh Ayah kalau Ayah tidak sayang padanya. Ibumu berkata 'kalau kau tidak mau mengalami morning sickness menggantikanku, berikan saja padaku! Aku yang akan menanggungnya dan tersiksa!'"


What the hell?! Anna tercengang mendengar hal itu. Apakah semua ibu hamil selalu emosional? Maksudnya, mengapa dia dan ibunya mengatakan hal yang mirip?


"Ayah, sepertinya aku harus kembali ke apartemenku."


***


Edgar tampak gelisah saat sedang menyetir. Bukannya dia tidak ingin mencegah Anna pergi tadi, namun karena dia pun harus mendinginkan kepalanya dulu agar tidak meledak-ledak. 


Biasanya jika Anna marah, dia akan pergi ke rumah orang tuanya atau rumah Grace. Berhubung Grace masih belum pulang kuliah, jadi Anna pasti asa di rumah orang tuanya. 


"Anna ... apa dia ada di sini?" ucap Edgar sedikit gusar. 


Tidak sopan memang jika dia tiba-tiba menanyakan keberadaan istrinya hingga tidak menyapa kedua mertuanya terlebih dahulu. Ya, lagi pula, dia sedang panik sekarang. 


"Anna sudah pergi sejak 30 menit yang lalu. Apa Nak Edgar tidak berpapasan dengannya di jalan?" lirih Olivia. 


****! Tampaknya Edgar terlambat. Kalau sudah seperti ini, tentu saja dia harus pulang ke apartemennya lagi. Dia takut jika Anna mencari keberadaannya. 


Tanpa pamit, Edgar pun segera melesat dengan mobilnya menuju arah pulang. Dia melaju dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai. 


"Anna!" teriak Edgar begitu dia sampai di apartemen. 


Nihil. Tidak ada jawaban apa pun dan tidak ada siapa pun di apartemen. Ke mana perginya Anna? Apa dia masih marah pada Edgar? 


"Ck! Sebenarnya pergi ke mana dia?!" 


Frustasi. Edgar tak bisa hanya tinggal diam. Dia akan terus mencari Anna hingga ketemu. 

__ADS_1


Lagi-lagi Edgar mengemudikan mobilnya, kali ini dengan kecepatan yang paling rendah. Kedua matanya digunakan untuk melihat ke segala arah, melihat tempat-tempat yang mungkin didatangi oleh istrinya dan ... 


Bingo! 


Ternyata Anna ada di toko es krim. Ya, meskipun Edgar melihatnya dari belakang, tapi dia bisa mengenalinya. Tentu saja karena ada Popy di sampingnya juga. 


Memarkirkan mobil di sembarang tempat, Edgar pun bergegas turun dan refleks menarik Anna ke dalam pelukannya. 


"Aku mencarimu ke mana-mana ...," lirih Edgar. 


"Um ... Ed? Bisakah kau melepaskan pelukanmu? Aku kesulitan bernapas!"


"Ow, maaf!"


Dari cara bicaranya, Edgar berpikir kalau Anna sudah tidak marah lagi padanya. Anna pun terlihat lebih ceria daripada sebelumnya. 


"Maafkan aku karena perkataanku menyakitimu. Aku tidak bermaksud menyalahkanmu atas semua yang terjadi padaku," tutur Edgar. 


"No! Seharusnya aku yang minta maaf padamu. Maaf karena membuatmu khawatir."


"Ayo kita pulang!" ajak Edgar sembari menarik tangan Anna. Namun ... 


"Tidak bisa!" tolak Anna. "Aku ingin makan es krim dulu."


Saat perjalanan pulang, Anna tiba-tiba ingin makan es krim. Gara-gara itu, dia terpaksa turun dari taksi ketika melihat toko es krim yang kebetulan ada di pinggir jalan. 


Edgar menghela napas. "Baiklah. Kita akan membeli es krim, tapi kau harus memakannya di rumah."


"Aku tidak peduli, yang penting aku ingin es krim dengan berbagai rasa."


"Okay!"


Setelah mencapai kesepakatan, akhirnya Edgar membeli es krim dengan berbagai macam cara untuk dibawa pulang. Tentu saja karena es krim mudah mencair, dia membeli freezer untuk menaruh es krim dengan menawarkan harga fantastis dan dengan sedikit paksaan kepada pemilik toko. 


"Stop!" ucap Anna secara tiba-tiba. 


Mobil pun diberhentikan oleh Edgar seraya berucap, "Kali ini ada apa?"


"Aku melihat Grace. Sepertinya dia sudah pulang kuliah atau ... kencan?"


Namun, entah mengapa wajah Grace terlihat murung dan sedih. Anna jadi mengkhawatirkannya. 

__ADS_1


"Kau mau menemuinya? Wajahnya terlihat sedih," seru Edgar dan mendapat gelengan kepala dari Anna. "Baiklah. Kalau begitu kita akan langsung pulang."


__ADS_2