
Suara detak jarum jam terdengar jelas di keheningan malam. Terlihat Anna dan Edgar tengah tertidur pulas di kamar mereka dengan selimut yang menutupi tubuh mereka hingga leher.
"Ugh!"
Lenguhan terdengar dari mulut Edgar yang masih terlelap dalam tidurnya. Edgar menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, napasnya terengah-engah dan keringat dingin mulai bercucuran.
Membuka mata, Edgar meneguk ludahnya dengan susah payah. Edgar bermimpi buruk, mimpi tentang masa lalunya di mana dia dicabuli oleh Venna. Sepertinya pertemuan Edgar dengan Venna benar-benar sebuah bencana! Mimpi buruk yang sudah lama menghilang, tiba-tiba kembali datang menghampiri tidur Edgar.
Edgar bangkit dari ranjangnya dengan sangat hati-hati agar tidak membangunkan Anna yang masih tidur. Dengan langkah pelan, Edgar keluar dari kamar dan pergi ke dapur.
Gara-gara mimpi buruk itu, Edgar sudah kehilangan rasa kantuknya. Dia juga perlu menenangkan diri dan melupakan mimpi buruk itu dengan bantuan alkohol.
"Ck! Sial!" umpat Edgar seraya meneguk alkohol dari botolnya langsung.
Pikirannya masih kacau karena pertemuannya dengan Venna dan mimpi buruk yang baru saja dia alami. Edgar harus memikirkan cara untuk mengatasi ketakutannya terhadap Venna. Jangan sampai dirinya terpengaruh oleh sesosok wanita gila seperti Venna.
Glup! Glup! Glup!
Edgar menghabiskan sebotol alkohol dalam sekali teguk. Itu adalah botol kedua yang dia minum sendiri. Kadar alkoholnya sangat tinggi sehingga bisa membuat orang mabuk bahkan hingga tak sadarkan diri.
"Venna ... argh! Aku akan menghukummu!" ucap Edgar meracau. Matanya terlihat sayu karena pengaruh alkohol.
Berjalan sempoyongan, Edgar memasuki kamarnya sambil mengutuk Venna berulang kali. Dia merangkak ke atas ranjang dan menarik tubuh Anna dari selimut.
"Ed?" lenguh Anna.
Plak! Plak!
Tamparan keras mendarat di kedua pipi Anna. Edgar menyeringai puas ketika berhasil melayangkan tamparan. Sebab, dalam halusinasi Edgar, di hadapannya sekarang bukanlah Anna, melainkan Venna.
"Berani-beraninya kau menatapku? Kau kira aku tidak bisa membalas perbuatanmu di masa lalu?!" geram Edgar.
"Akh!"
Anna berteriak kencang ketika rambutnya dijambak oleh Edgar. Kedua pipinya masih terasa perih dan sekarang Edgar justru menjambak rambutnya sekuat tenaga. Ada apa dengan Edgar?
"Dasar ******! Dulu kau menyiksa dan melecehkanku dengan brutal. Sekarang, kau harus merasakan akibatnya!"
__ADS_1
Lagi-lagi Edgar berbicara dengan nada tinggi. Namun, semua perkataan Edgar sungguh membuat Anna bingung.
"Ed, sepertinya kau mabuk." Anna bisa mencium bau alkohol di napas Edgar, bau yang sangat menyengat.
Tak memedulikan Anna, Edgar sontak merobek piyama tidur Anna dan membuangnya ke sembarang tempat. Gigitan demi gigitan, Edgar berikan di sekujur tubuh polos Anna hingga meninggalkan bekas merah dan berdarah.
"Akh! Ed ... kau menyakitiku."
Plak!
Pipi Anna kembali mendapatkan tamparan keras dari Edgar, menandakan bahwa tidak ada yang boleh melawannya barang sepatah kata pun.
Anna menangis, tak kuasa menahan rasa sakit yang diberikan Edgar pada tubuhnya. Edgar benar-benar sudah kehilangan kendali. Pria itu bahkan seperti tidak mengenali Anna sama sekali.
"Berbaliklah! Posisikan dirimu seperti anjing!"
"Ed ... hiks ... sadarlah ...." Tangisan Anna semakin pecah dan menggema di sekitar kamar. Namun, tetap saja Edgar belum sadar dan masih di bawah pengaruh alkohol.
"Mau melawanku? Aku bukan Edgar kecil yang dulu pernah kau lecehkan. Sekarang aku yang akan memimpin permainan ini, Venna!"
Halusinasinya mengenai Venna belum berakhir. Di matanya sekarang, Edgar melihat tubuh Venna yang penuh dengan luka-luka yang dia buat. Namun, semua itu belum membuat Edgar merasa puas untuk berhenti bermain. Edgar justru semakin bersemangat untuk lebih menyiksa wanita di hadapannya.
"Akh!"
Anna mengerang keras akibat hujaman yang Edgar berikan dengan kasar. Tubuh belakang Anna dipukul dan ditampar tanpa ampun hingga terasa berdenyut nyeri.
Oh Tuhan ... aku sudah tidak kuat, batin Anna.
Berhubungan intim memang bukan masalah untuk Anna, namun kali ini Edgar sangat kasar dan memperlakukannya seperti b*dak ****. Bagian bawah Anna sangat perih akibat hujaman dan gesekan yang terus-menerus dia dapatkan.
Tak kuasa menahan posisi menungging, Anna ambruk di atas ranjang sembari mempertahankan kesadaran.
"Ho! Hanya segini kemampuanmu? Aku bahkan belum keluar!"
Hati Anna berkecamuk ketika mendapati Edgar yang masih mabuk dan membayangkan Anna sebagai orang lain. Jika dalam keadaan sadar, apakah Edgar akan menemui Venna dan membalaskan traumanya dengan cara seperti ini? Meskipun Edgar menyebut itu hukuman, namun Anna tidak setuju jika Edgar menghukum Venna dengan menggunakan tubuhnya!
Bruk!
__ADS_1
Tubuh Edgar ambruk di samping tubuh Anna setelah melepas ribuan benihnya, bahkan pusaka miliknya masih berada di sana.
Anna menggeserkan tubuhnya sedikit agar terlepas dari pusaka Edgar. Seluruh tubuhnya sangat sakit, terutama bagian intim. Namun, Anna tidak bisa menyalahkan perbuatan Edgar yang berada di bawah pengaruh alkohol.
***
"Ugh!" Edgar melenguh pelan sembari membuka matanya. Kepalanya pusing dan dia merasa sedikit mual.
Merubah posisinya menjadi duduk, Edgar terkejut ketika selimut yang menutupi tubuhnya terbuka dan memperlihatkan semuanya.
'Kenapa aku tidak memakai baju?' pikir Edgar.
Hal pertama yang Edgar ingat adalah saat dia terbangun dari mimpi buruk, lalu minum beberapa botol alkohol sendirian di dapur.
Sembari memejamkan mata, Edgar berusaha keras mengingat kejadian yang dia lupakan selama mabuk. Edgar bangun dalam keadaan tidak memakai pakaian, tidak mungkin jika tidak terjadi sesuatu malam tadi.
"Anna!" teriak Edgar.
Dengan terburu-buru, Edgar sontak bangkit dari ranjang dan mencari keberadaan Anna. Edgar mengutuk dirinya sendiri karena kejadian semalam. Bagaimana bisa dia menyiksa Anna seolah-olah Anna adalah Venna? Alkohol memang buruk!
Setelah menemukan Anna yang tengah memasak di dapur, Edgar melihat keadaan Anna dari atas hingga bawah. Wajah Anna tampak sedikit bengkak! Edgar kemudian menarik kaus Anna ke atas untuk melihat tubuh Anna.
"Aku ... melakukan semua ini?" ucap Edgar merasa bersalah.
Tubuh Anna penuh dengan luka lebam. Edgar berpikir, seberapa jauh dia bersikap kasar kepada Anna hingga tubuh istrinya penuh dengan luka pukul dan gigitan?
"Akh!" Anna mengerang ketika Edgar menyentuh salah satu luka di tubuhnya.
Sejujurnya, seluruh tubuh Anna hampir tidak bisa digerakkan. Namun, Anna berusaha untuk terlihat baik-baik saja agar tidak membuat Edgar khawatir. Anna bahkan sengaja memakai riasan tebal di wajahnya, meskipun tetap saja wajah bengkak itu masih terlihat jelas.
"A-aku akan menghubungi Dokter Bryan," gagap Edgar. Dia sangat panik karena Anna terluka akibat dirinya.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Edgar bergegas menghubungi Dokter Bryan melalui ponselnya. Edgar langsung mengutarakan maksudnya kepada sang dokter dan menceritakan kejadian semalam. Namun, sayang sekali karena Dokter Bryan tidak bisa datang mengobati Anna. Dokter Bryan tengah berada di Hawaii untuk berlibur selama dua minggu.
Edgar menghela napas panjang setelah memutus teleponnya. "Anna, sebaiknya kita pergi ke rumah sakit."
Mendengar kata rumah sakit, Anna sontak membelalakkan mata. Anna tahu jika Edgar mengkhawatirkan dirinya, namun rumah sakit bukanlah pilihan yang bagus.
__ADS_1
"Tidak! Bagaimana jika ada orang yang menyebar gosip buruk tentangmu karena kondisiku? Kita tidak tahu berapa banyak musuh yang bersembunyi di sekitar kita, Ed!"