Tiba-Tiba Menikah!

Tiba-Tiba Menikah!
Tidak Terjadi Apa-apa


__ADS_3

Zraaasshhh


Suara guyuran air shower di dalam kamar mandi terdengar oleh telinga Anna yang tengah menunggu dengan gelisah di kamar pengantin barunya dengan Edgar.


Dengan piyama hitam sedikit terbuka, Anna duduk di sisi ranjang seraya menggigit bibir bawahnya pelan. Dia takut. Takut dengan apa yang akan terjadi setelah Edgar keluar dari kamar mandi dan sesuatu akan terjadi.


"Rileks, Anna, rileks ...."


Seperti sebuah mantera, Anna terus menenangkan hati dan meyakinkan dirinya bahwa dia akan baik-baik saja. Namun, tetap saja hatinya tidak bisa tenang dan malah bertambah gelisah ketika dia mendapati pria yang telah menjadi suaminya selesai membersihkan diri.


Aroma harum menguar di sekitar kamar. Aroma harum itu berasal dari sampo yang Edgar gunakan. Bisa Anna lihat, rambut basah Edgar dibiarkan menetes di lantai. Dada bidang yang terbentuk sempurna pun terlihat sangat jelas karena Edgar hanya memakai handuk yang menutupi bawah pinggangnya setelah keluar dari kamar mandi.


Masih terpaku dengan pemandangan indah tubuh Edgar, Anna hingga tak sadar akan seringai jahil tipis yang sempat terukir di wajah tampan sang suami.


"Terpesona denganku, hm?" Edgar berjalan menghampiri Anna yang masih terdiam.


"A-apa? Tidak! Kau terlalu percaya diri!"


"Benarkah? Kau yakin tidak terpesona dengan wajah dan tubuhku?"


Merasa tidak mungkin menjawab pertanyaan Edgar yang akan membuatnya malu, Anna hanya meneguk saliva-nya dengan susah payah tatkala Edgar semakin mendekatkan tubuh setengah telanjangnya ke hadapan Anna hingga jatuh telentang di atas ranjang.


Tatapan mereka bertemu satu sama lain dan membuat keduanya terdiam memandangi keindahan mata masing-masing dari mereka.


Deru napas Edgar terasa hangat menerpa wajah Anna yang sedikit tersipu. Dalam sekejap, Anna sontak menutup mata saat bibirnya bertemu dengan bibir Edgar dan saling ******* bibir satu sama lain dengan lembut.


Namun, tidak seperti Edgar biasanya, Edgar menghentikan aksinya yang mencumbu Anna tidak sampai satu menit pun. Tak ada gigitan. Tak ada kissmark. Hanya sebuah ******* lembut di bibir Anna dan itu pun hanya sebentar saja.


"Tidurlah ... kau pasti lelah karena acara pernikahan tadi." Edgar bangkit dari posisi menindih Anna dan berjalan ke arah lemari.


Kini Anna bingung. Dia takut karena harus melewati malam pertamanya dengan Edgar. Namun, dia juga kecewa saat Edgar seperti tidak menginginkannya untuk berhubungan intim.


Dengan perasaan sedikit kesal, Anna menarik selimut hingga menutupi lehernya dan berbaring membelakangi Edgar yang tengah memakai pakaian. Anna sudah tidak peduli lagi dengan malam pertamanya yang sempat membuatnya khawatir, dia hanya akan tidur seperti yang Edgar katakan.

__ADS_1


Tidur katanya? Apa Edgar baru saja menolakku? Entah kenapa aku jadi merasa kesal dan kecewa di saat yang bersamaan!


Memejamkan mata, Anna kemudian merasakan sebuah tangan besar yang melingkar di pinggangnya. Bisa dipastikan bahwa itu adalah tangan Edgar yang sudah selesai memakai pakaian dan berbaring di samping Anna.


Dalam situasi tersebut, Anna tak mampu menahan senyum. Namun, dia berusaha untuk tetap tenang dan berpura-pura tidur di saat Edgar masih memeluknya dari belakang.


Sementara itu, Edgar berusaha keras menahan hasratnya untuk tidak menyerang Anna meskipun wanita itu telah menjadi istrinya. Hanya sebuah pelukan erat yang bisa dia berikan pada malam pertamanya dengan sang istri. Namun, pelukan itu segera dilepaskan ketika pusaka kebanggaannya menjadi keras dan menyentuh bagian belakang tubuh sang istri.


Ck, sial! Aku tidak boleh menyerangnya apa pun yang terjadi!


Pagi menyapa, Anna sontak membuka matanya yang masih terasa berat ketika seseorang membuka tirai jendela sehingga silau matahari menerpa wajahnya yang cantik.


Meregangkan tangannya ke atas, Anna kemudian mengeluarkan suara lenguhan sama seperti orang yang baru bangun tidur lainnya.


"Selamat pagi," sapa Edgar seraya mencium sekilas bibir Anna yang setengah sadar.


"Hmm, selamat pagi ... hoaammm ...."


Tampan, kaya, cerdas, dan bahkan pintar memasak. Anna sungguh beruntung karena memiliki Edgar sebagai suaminya. Pria sempurna yang diidamkan semua orang.


Karena air shower terlalu dingin jika digunakan di pagi hari, Anna berendam di bathtub dengan air hangat dan menyelesaikan ritual mandinya sedikit lebih cepat karena tak ingin membuat Edgar menunggu lebih lama.


"Apa aku mandi terlalu lama?" Anna keluar dari kamar dan menghampiri Edgar yang tengah duduk menunggu di meja makan.


Sementara itu Edgar yang menyadari bahwa istrinya baru saja menampakkan diri, tersenyum tipis seraya menggelengkan kepalanya pelan.


"Tidak. Duduklah."


"Ada apa dengan matamu?"


Baru kali ini Anna melihat wajah Edgar yang tampak kusut. Tidak ada yang salah dengan penampilannya. Namun, matanya terlihat sangat lelah dan kurang tidur. Ada lingkaran hitam di sekeliling matanya seperti hewan yang berasal dari China, Panda.


"Tidak apa-apa. Sepertinya aku dehidrasi."

__ADS_1


Bohong! Bukan itu yang sebenarnya terjadi pada Edgar. Sebenarnya pada malam tadi yang merupakan malam pertama, Edgar tidak bisa tidur lantaran menahan hasratnya untuk tidak menyentuh Anna.


"Hn, baiklah. Apa yang akan kita lakukan setelah sarapan? Kau punya rencana?"


"Berlayar. Aku sudah menyiapkan kapal pesiar untuk kita berdua."


"Berlayar? Di kapal pesiar?"


Saking terkejutnya, Anna hampir tersedak makanan yang masih dia kunyah di dalam mulut.


Berlayar saat bulan madu adalah hal yang romantis, Anna terkejut karena Edgar sudah menyiapkan semuanya sendiri tanpa memberitahunya. Luar biasa!


"Kau tidak suka? Kalau begitu kita tidak perlu pergi."


"Tidak tidak tidak! Aku sangat menyukai itu. Sungguh!"


Tentu saja Anna sangat menyukai apa yang telah dipersiapkan oleh Edgar. Berlayar di kapal pesiar hanya bisa dilakukan oleh orang-orang kaya dan Anna sama sekali tidak pernah berpikir bahwa dia bisa melakukannya sama seperti orang lain.


"Bisakah kita berangkat sekarang?" ucap Anna yang tak sabaran dengan semangat menggebu-gebu.


"Kita akan berangkat setelah kau menghabiskan sarapanmu!"


Mendengar perkataan Edgar yang sambil melirik piring di hadapannya, Anna sontak bergegas menghabiskan sarapannya dalam hitungan detik dan meneguk habis segelas susu putih tanpa tersisa setetes pun.


"Aku sudah selesai." Anna bangkit dari duduknya lalu berlari ke arah kamar. "Aku akan mengemas barang-barang dulu, jadi tunggulah sebentar!"


Meskipun Anna tidak tahu berapa lama dia dan Edgar berlayar di kapal pesiar, namun dia tidak peduli dan sangat antusias setelah mengetahui kabar baik itu. Sungguh pagi yang bahagia.


"Apa yang harus aku bawa? Kebanyakan barangku masih ada di rumah, hanya ada sedikit barang yang ada di villa ini!"


Ya. Sebelumnya Anna dan Edgar telah menyuruh seseorang untuk mengirim barang mereka ke villa yang akan menjadi tempat tinggal mereka selama bulan madu. Sebab, mereka tidak punya banyak waktu untuk mengemas barang dan akan kerepotan jika membawanya sendiri. Lagi pula, mereka langsung pergi ke villa setelah acara pernikahan mereka selesai tanpa mampir ke rumah masing-masing.


Mungkin aku harus membawa pakaian yang terbuka untuk menarik perhatian Edgar. Ide bagus, Anna! batin Anna seraya tersenyum memikirkan ide yang muncul seketika.

__ADS_1


__ADS_2