Tiba-Tiba Menikah!

Tiba-Tiba Menikah!
Sepupu Edgar


__ADS_3

Tadi pagi, Edgar pamit untuk pulang sekaligus berterima kasih pada keluarga Florence karena mengizinkannya menginap tadi malam.


Berkat itu, Edgar mengetahui alasan Anna yang terus menghindarinya, dan tentu saja sekarang dia tidak perlu khawatir dengan sikap Anna ke depannya, sebab dia sudah menyelesaikan masalahnya semalam.


Anna mendengar kebisingan di luar rumah. Karena penasaran, dia melihat apa yang terjadi melalui jendela kamarnya. Ternyata ada penghuni baru yang pindah ke rumah di sebelahnya.


Ketika Anna sibuk mengintip melalui jendela, seorang pria muda keluar dari rumah itu dan memergoki Anna, sontak membuat Anna menutup gordennya rapat-rapat.


Ponselnya berdering. Anna mengambil ponselnya yang dia taruh di atas meja.


Dia melihat nama yang tertera di layar ponselnya yang berdering. Grace. Dengan sentuhan ibu jarinya, Anna menggeser ikon telepon warna hijau untuk menjawab.


“Halo, Anna? Apa kau masih marah?” tanya Grace melalui telepon.


Anna hanya bergeming mendengar suara Grace, sedangkan Grace menghela napas dan meminta maaf pada Anna secara tulus.


“Maaf, Anna. Kejadian di kafe memang salahku. Aku yang mengundang pria-pria itu. Aku berniat menjodohkan mu dengan salah satu dari merek-“


“Aku mengerti, Grace. Kau hanya tidak ingin melihatku jomblo seumur hidup makanya kau melakukan itu," potong Anna cepat.


“Aku marah padamu bukan karena kau membawa pria-pria itu, tapi karena kau tidak berbicara jujur padaku tentang niatmu, Grace.”


Anna dan Grace sudah berteman sejak SMP. Grace adalah teman sebangkunya saat Anna datang sebagai murid pindahan di sekolahnya. Di saat itulah mereka dekat.


Meskipun Anna baru pindah, Anna sangat populer di sekolah karena wajah cantiknya. Namun, Anna tidak menyadarinya.


Banyak pria yang ingin menyatakan cinta pada Anna, akan tetapi mereka mengurungkan niatnya karena takut akan penolakan. Itulah mengapa Anna belum pernah berpacaran dan masih sendiri.


“Baiklah, lain kali aku akan mengatur kencan buta untukmu. Mmm ... tentu saja dengan ijinmu,” ujar Grace mulai bersemangat.


“Terima kasih, Grace. Tapi kurasa itu tidak perlu.”


Anna menghargai niat baik Grace, akan tetapi dia harus menolaknya mengingat dia sudah memiliki Edgar.


“Kenapa? Apa kau sudah punya kekasih?”


Kekasih? Anna sontak membayangkan wajah Edgar dan membuatnya merona malu.


“A-apa? Tidak! Maaf Grace, sepertinya Ibu memanggilku, bye.”


Anna menutup teleponnya sepihak dan dengan sengaja melemparkan tubuhnya ke atas ranjang yang empuk.


Kelopak mata mulai menutupi mata indahnya. Namun, baru beberapa detik Anna memejamkan mata, bel rumahnya berbunyi.


Anna dengan sengaja tidak memedulikannya, lagi pula ada orang tuanya yang pasti akan membukakan pintu.


Namun, seketika dia teringat bahwa orang tuanya sedang pergi ke luar, Anna sontak membuka matanya.


Anna kemudian berpikir lagi, adiknya pasti akan membukakan pintu. Oleh karena itu, Anna tak perlu repot-repot turun dan lebih baik kembali bermalas-malasan.


Saat Anna hendak memejamkan mata kembali, suara bel rumah terus berbunyi tanpa henti hingga membuat Anna kesal dan terpaksa bangun dari ranjang.


Membuka pintu rumah, Anna melihat seorang pria yang membawa sekotak kue di tangannya.


“Maaf jika mengganggu,” ujar pria itu.


Memang mengganggu. Namun, karena wajah tampannya, aku akan memaafkannya kali ini! pikir Anna.


“Kebetulan hari ini aku pindah ke rumah sebelah, aku berniat membagikan sedikit makanan untuk para tetangga. Jadi, terimalah.”


Anna menerima sekotak kue itu dan tersenyum. Ya, setidaknya dia harus ramah terhadap tetangga baru.


“Terima kasih,” balas Anna dan dengan segera menutup pintu rumahnya kembali.


Menaruh sekotak kue itu di atas meja, Anna melangkahkan kakinya menuju kamar sang adik.

__ADS_1


Pantas saja adiknya tidak mendengar bel rumah yang berbunyi berulang kali, ternyata adiknya sedang memakai headphone sambil menggoyang-goyangkan kepala.


Anna berjalan menghampiri sang adik dan melepas paksa headphone yang adiknya kenakan.


“Hey! Apa yang kau lakukan?!” pekik Andy - adik laki-laki Anna.


“Berhentilah bermalas-malasan! Kau seharusnya belajar dengan giat. Bukankah itu yang seharusnya dilakukan anak kelas tiga SMA?!” Anna marah-marah ketika melihat adiknya sibuk bermain ponsel sambil mendengarkan musik.


Ting tong!


Bel rumahnya berbunyi lagi.


Andy merebut kembali headphone miliknya dan menyuruh Anna pergi. “Berhenti menggangguku dan pergilah bukakan pintu!"


Anna berdecak kesal. Siapa lagi yang membunyikan bel rumahnya?! Anna kembali membuka pintu dan melihat orang yang sama saat memberikan kue sedang tersenyum ke arahnya.


“Boleh aku meminjam penyedot debu? Kau tahu, aku baru pindah hari ini dan karena pindahan kami sangat mendadak jadi-“


“Tunggu sebentar!” Anna memotong ucapan pria itu.


Anna pergi ke tempat penyimpanan peralatan, dan kembali dengan sebuah penyedot debu di tangannya. Anna memberikannya pada pria itu dan segera menutup pintu.


Ting tong!


Baru dua langkah Anna berjalan menjauhi pintu, bel itu berbunyi kembali.


Anna memutar bola matanya dan kembali membuka pintu. Pria itu masih tersenyum. Entah mengapa senyumnya itu membuat Anna ingin menendangnya.


Sabar, Anna, kau harus tetap tersenyum demi ramah tamah pada tetangga baru, ucap Anna dalam hati sambil tersenyum paksa.


“Ada perlu apa lagi?” tanya Anna dengan sedikit menekankan kata-kata yang dia ucapkan.


“Aku lupa mengatakan, kalau aku juga ingin meminjam pemotong rumput.”


“Tidak ada!”


Sudah cukup ramah tamahnya! Anna tidak bisa menahan emosinya yang sudah memuncak.


“Aku lupa mengucapkan terima kasih.”


“Tidak perlu!”


BRAK!


Kali ini, Anna benar-benar sudah hilang kesabaran dan meluapkan emosinya dengan membanting pintu yang bahkan tidak bersalah.


Anna berjalan sambil menghentakkan kaki. Tangannya mengepal seolah-olah ingin meninju seseorang. Berulang kali Anna mengutuk pria yang merupakan tetangga barunya itu. Bisa-bisanya pria itu mengganggu hari libur Anna yang seharusnya dia jalani dengan tenang dan damai.


“Benar-benar tetangga yang merepotkan! Jangan sampai aku berurusan dengannya!”


***


Ada orang yang mengatakan bahwa ucapan adalah do'a. Namun, yang terjadi pada Anna malah sebaliknya. 


Pagi ini ada seorang dosen baru yang datang menggantikan dosen yang sebelumnya di depak keluar dari kampus karena melecehkan seorang mahasiswa. 


Namun, dosen baru itu tak lain adalah pria yang merupakan tetangga baru Anna. Pria bel pintu. Itulah julukan yang Anna berikan pada pria itu. 


"Ada apa? Kau sejak tadi terus menatap dosen baru itu."


Ucapan Grace memang benar, Anna terus menatap dosen baru itu dengan tatapan tajam. Kevin Rowman, nama dosen baru itu. 


"Aku hanya tidak menyukainya."


Tidak ada kebohongan dalam ucapan Anna. Karena kemarin hari liburnya terganggu, Anna masih merasa kesal terhadap Kevin, orang yang merusak hari liburnya. 

__ADS_1


"Ey, jangan begitu. Bagaimana kalau nanti kau menyukainya?"


Konyol. Mana mungkin Anna menyukai Kevin. Lagi pula, Anna sudah memiliki calon suami. Itulah yang dipikirkan Anna, namun dia belum bisa memberitahu Grace. 


Bukannya Anna berniat membohongi Grace, namun Anna ingin memberitahu Grace di waktu yang tepat. Untuk saat ini, Anna akan menyimpan rahasia hubungannya dengan Edgar seorang diri. 


"Untukmu saja. Dosen baru itu bukan tipeku. Lagi pula, bukankah kau menyukai pria berwajah tampan? Kurasa dia lumayan."


Meskipun wajah Kevin tampan, namun bagi Anna wajah Edgar sepuluh kali lipat lebih tampan dari Kevin. 


Drrtt Drrtt


Ponselnya bergetar, Anna membaca pesan yang dia terima dari nomor tidak dikenal. Dia tersenyum ketika membaca pesan tersebut. Sebab, nomor itu ternyata milik Edgar. 


Edgar meminta Anna datang ke ruangannya sebelum Anna pulang dan pergi meninggalkan kampus. 


"Maaf, Grace. Aku ada urusan sebentar, jadi kau bisa pulang lebih dulu. Bye."


Melambaikan tangan, Anna berlari kecil meninggalkan Grace yang tengah berteriak memanggil namanya.


Senyuman terlukis di wajah cantik Anna, sedikit tak sabar untuk bertemu dengan Edgar. Padahal mereka hanya terpisah satu hari kemarin. 


"Permisi, Profesor."


Anna membuka pintu ruangan Edgar dengan hati-hati setelah sebelumnya dia mengetuk pintu terlebih dahulu. 


Seperti Deja Vu, Anna melihat Edgar yang tengah sibuk dengan laptopnya. Namun, kali ini pria itu tidak seorang diri. Seorang pria yang baru saja menjadi dosen berada di atas sofa di ruangan Edgar. Ya, Kevin berada di sana. 


"Jangan hanya berdiri di sana. Duduklah."


Meskipun Edgar berkata seperti itu, namun Anna tampak ragu-ragu jika dia harus duduk di samping Kevin. 


"Maaf, Profesor, sepertinya Anda sedang ada tamu. Jadi, saya akan datang lain kali."


Sebelum Anna memutar balik, Kevin angkat bicara. 


"Masuklah, gadis tetangga. Tidak perlu malu-malu seperti itu."


"Kalian sudah saling mengenal?" Edgar mengangkat sebelah alisnya. 


Padahal Anna berusaha untuk tidak terlibat dengan Kevin. Namun, dewi fortuna tampaknya berkata lain. Karena tidak ada gunanya berbohong, Anna menganggukkan kepalanya, sedangkan Kevin tersenyum. 


Sementara Anna dan Kevin belum membuka suara, Edgar berinisiatif untuk memulai percakapan. 


"Karena kalian berdua ada di sini, aku akan memperkenalkan masing-masing dari kalian. Anna, ini adalah Kevin, sepupuku. Dia adalah dosen baru di kampus ini."


Edgar bergantian memandang Anna juga Kevin, lalu melanjutkan ucapannya. 


"Kevin, gadis ini adalah Anna, calon istriku."


Baik Anna maupun Kevin, mereka masih mendengar perkataan Edgar dengan saksama. Namun, beberapa detik kemudian, mereka membelalakkan mata secara serempak. 


"Sepupu?"


"Calon istri?"


"Dia?!"


Saling menunjuk, Anna dan Kevin sama-sama terkejut dengan perkataan Edgar yang tidak masuk akal menurut mereka 


Pertama kali melihat Kevin, Anna memang sempat berpikir bahwa wajahnya terasa tidak asing. Kevin sedikit mirip dengan Edgar, meskipun Edgar jauh lebih tampan darinya. Namun, Anna tidak menyangka kalau Kevin adalah sepupu Edgar. 


Memperbaiki ekspresi wajahnya, Anna tersenyum kaku ke arah Kevin. Senyum yang sangat dipaksakan. 


Dia tidak akan mengadu pada Edgar tentang sikap kasarku padanya tempo hari, bukan? pikir Anna dengan sedikit gusar. 

__ADS_1


"Ah, jadi Anda sepupu dari Profesor Edgar?"


__ADS_2