
Warning! 21+
Dua bulan berlalu sejak pernikahan Anna dan Edgar dilaksanakan, namun mereka masih belum melakukan kewajiban mereka sebagai sepasang suami-istri. Meskipun begitu, Anna tidak menyerah dan tetap melakukan segala cara agar Edgar mau melakukannya. Ya, walaupun Edgar tidak peka dan terus mengabaikannya.
"Ada apa dengan wajahmu? Kau terlihat seperti seseorang yang depresi."
Bukan tanpa sebab Grace mengatakan itu, Anna memang terlihat putus asa dengan wajahnya yang tampak layu seperti bunga yang tidak pernah disiram.
"Apa kau sedang ada masalah dengan Profesor Edgar? Kalian bertengkar?"
Lagi-lagi Grace bertanya meskipun Anna tidak menjawab pertanyaan yang sebelumnya. Grace sangat penasaran mengenai sahabatnya yang belum lama menikah itu. Sebab, Anna tidak pernah menceritakan apa pun tentang kehidupannya setelah menikah.
"Haaaaa~~aah ...." Anna menghela napas panjang. "Tidak ada yang bisa aku ceritakan padamu, Grace."
Karena ini menyangkut harga diriku, lanjut Anna dalam hati.
"Sungguh? Baiklah jika kau tidak ingin berbagi cerita, tapi aku akan selalu ada untukmu jika kau membutuhkan bantuanku, oke?!"
"Oke, aku mengerti. Terima kasih, Grace."
Entah mengapa perasaan Anna merasa lebih baik setelah mendengar ucapan Grace. Padahal Grace tidak mengatakan hal yang spesial, namun Anna sedikit terhibur dengan ucapan teman baiknya itu.
Jam kuliah telah berakhir, Anna bergegas pulang ke apartemen barunya dengan Edgar. Apartemen mewah yang merupakan hadiah pernikahan mereka dari keluarga Dominic.
Anna pulang sendirian karena sebelumnya dia mendapat pesan dari Edgar bahwa pria itu akan pulang larut malam karena ada sedikit urusan. Anna sangat tahu bahwa itu hanya sebuah alasan yang digunakan Edgar untuk menghindarinya. Sebab, hampir setiap hari Edgar melakukannya.
"Aku lapar."
Anna langsung menggeledah kulkas dua pintu untuk mencari makanan yang bisa segera dimakan tanpa dimasak terlebih dahulu.
"Lagi-lagi Edgar pulang terlambat. Sepertinya dia tidak rindu sama sekali padaku yang merupakan istrinya."
Terserahlah! Anna sudah tidak peduli lagi. Dia hanya berharap Edgar baik-baik saja dan pulang dengan selamat.
Malam menyapa, Anna terbangun ketika dia mendengar seseorang menekan bel pintu. Sebenarnya dia sedikit kesal karena tidurnya terganggu.
"Siapa yang menekan bel pintu pada malam-malam begini!"
Berjalan dengan malas, Anna menghampiri interkom untuk melihat siapa orang yang menekan bel pintu apartemennya.
"Ed?"
Setelah mengetahui bahwa itu adalah suaminya, Anna dengan cepat membuka pintu lebar-lebar dan membantu Edgar masuk. Dilihatnya wajah Edgar sangat merah dan tercium bau alkohol di pakaiannya.
__ADS_1
"Kau mabuk? Berapa banyak alkohol yang kau minum hingga mabuk seperti ini?"
Bukannya menjawab pertanyaan Anna, Edgar hanya bergumam tak jelas dan tersenyum lebar setelah melihat wajah Anna.
"Aku tidak percaya bisa melihatmu mabuk seperti ini. Kau tidak pernah mabuk sebelumnya."
"Anna ... Anna ...," gumam Edgar terus-menerus.
"Aku di sini, Ed, tepat di sampingmu."
Edgar menepis tangan Anna yang tengah membantunya berjalan lalu menaruh kedua tangannya di pipi kiri dan kanan Anna.
"Ah, kau di sini rupanya. Anna ... istriku yang cantik ...."
"Kau mabuk, Ed. Kemarilah! Aku akan membantumu mengganti pakaian."
Saat Anna hendak membopong Edgar kembali, tiba-tiba Edgar menarik tangan Anna lalu mendorongnya hingga mentok di dinding. Edgar mengurung tubuh mungil Anna dengan kedua tangannya dan membisikkan sesuatu.
"Aku sudah tidak bisa menahannya, Anna. Kau begitu menggoda. Kau terlalu cantik untuk diabaikan. Kau ...."
Cup!
Sebelum Edgar menyelesaikan perkataannya, Anna terlebih dahulu membungkam mulut Edgar dengan menciumnya dan membuat Edgar terdiam.
"Lakukanlah sesukamu, Ed. Jangan menahannya lagi."
"Aku tidak akan melepaskanmu, Anna," ucap Edgar dengan suara parau.
Bosan bermain bibir, Anna mempersilahkan Edgar untuk menyentuh area lain. Kali ini Anna mengerang beberapa kali setelah Edgar menjamah leher jenjangnya dan membuat tanda kemerahan di sana.
Semakin lama, Edgar semakin memanjakan Anna dengan semua keahliannya. Namun, pria itu masih dalam keadaan mabuk saat melakukannya.
"Lepaskan bajumu, Sayang~" lirih Edgar di telinga Anna.
Menuruti perkataan Edgar, Anna melepaskan piyama yang dia pakai dan menunjukkan tubuhnya tanpa sehelai benang pun. Begitu pula dengan Edgar, pria itu melakukan hal yang sama dengan Anna sehingga membuatnya memperlihatkan pusakanya yang berharga.
Edgar mengambil dasi miliknya lalu mengikat kedua tangan Anna dengan dasi tersebut.
"Apa yang kau lakukan dengan tanganku, Ed? Akh!"
Darah segar keluar begitu selaput daranya robek dan menodai sprei putih dengan warna merah. Edgar sudah berhasil mengambil kesucian Anna untuk pertama kalinya sebagai seorang wanita.
Sementara itu, Anna meneteskan air mata ketika bagian bawahnya diobrak-abrik oleh Edgar. Dia tidak menyangka bahwa rasanya akan sakit sekali saat memberikan kesuciannya pada Edgar.
__ADS_1
"Sakit!" pekik Anna entah ke berapa kalinya.
Satu jam berlalu, Anna dan Edgar masih bergulat di atas ranjang mereka.
Sejujurnya Anna sudah sangat kelelahan, namun dia tidak bisa menghentikan Edgar. Lagi pula, Anna sendiri yang memulai semuanya dengan mencium Edgar hingga berakhir di atas ranjang.
Edgar melepaskan ikatan dasinya pada tangan Anna. "Berbaliklah."
Berbalik? Apa dia sekarang ingin melakukannya lewat belakang seperti hewan? batin Anna heran, namun tetap menuruti perkataan Edgar.
Setelah Anna berbalik memunggungi Edgar, Edgar mengambil ikat pinggangnya yang tergeletak di atas lantai.
Anna berteriak lebih kencang dibanding sebelumnya. Sebab, Edgar menggoyangkan pinggulnya lewat belakang seraya mencambuk Anna dengan ikat pinggang.
"Ed, sakit ... akh!"
Rasanya Anna ingin menangis sekarang, dia sudah tak kuasa menahan tubuhnya yang lemas karena berhubungan intim terlalu lama, ditambah Edgar yang mencambuknya dari belakang.
"Anna ...."
Rasa hangat mengalir di dalam rahim Anna. Edgar telah menebarkan benih-benih miliknya dan mengakhiri permainan ranjangnya.
Bruk!
Karena terlalu lelah, Anna dan Edgar ambruk secara bersamaan. Mereka berdua sudah tidak peduli lagi dengan tubuh mereka yang lengket dan lebih memilih tidur.
***
Cuit cuit cuit
Kicauan burung terdengar di siang hari yang cerah, membangunkan seorang pemuda tampan yang telanjang bulat setelah melakukan aktivitas malam bersama wanita terkasihnya.
"Ugh!"
Edgar melenguh pelan, dia merasa kepalanya sedikit pusing dan perutnya mual akibat alkohol yang dia minum malam tadi.
"Anna!"
Terkejut, Edgar melihat Anna tidur tanpa sehelai benang pun lalu dia melihat tubuhnya sendiri yang dalam keadaan sama.
Apa yang terjadi semalam? Mungkinkah ....
Edgar dapat melihat tubuh telanjang Anna dipenuhi luka lebam. Dia panik sekaligus takut dengan keadaan istrinya yang belum bangun.
__ADS_1
Berinisiatif, Edgar mengecek suhu tubuh Anna dengan punggung tangannya. Panas! Tampaknya Anna demam tinggi.
"Maafkan aku, Anna. Aku tidak bermaksud menyakitimu."