Tiba-Tiba Menikah!

Tiba-Tiba Menikah!
Selera yang Sama


__ADS_3

Anna sadar jika perkataannya barusan sangat kejam, namun hanya itu satu-satunya cara agar Wendy malu dan tahu diri! Anna paham bagaimana rasanya ketika dia tidak punya uang saat perusahaan ayahnya bangkrut, bahkan sampai terlilit hutang. Namun, dia tidak seperti Wendy yang suka berfoya-foya di atas kerja keras ayahnya. 


"Kau!" geram Wendy, "sebaiknya hentikan ucapanmu sebelum aku berbuat lebih jauh!"


Tampaknya Wendy goyah dengan ucapan Anna. Wanita itu takut jika kebohongannya selama ini terbongkar bahkan di depan banyak orang. Susah payah dia membangunnya, dia tidak akan membiarkan Anna yang hendak merusak citranya dalam sekejap! 


"Bukankah ucapanku benar?" Anna tersenyum mengejek. "Teman-teman sekalian!" teriak Anna dengan lantang, dengan sengaja memancing emosi Wendy. 


Begitu teriakkan Anna terdengar oleh orang-orang kampus, mereka sontak menoleh hingga membuat Wendy panik karena rahasianya akan dibongkar di hadapan publik. 


Sebelum Anna berbicara lebih lanjut, dengan cepat Wendy membungkam mulut Anna dengan tangannya dan membawa Anna ke tempat sepi. 


Jangan sampai dia membongkar rahasiaku! batin Wendy. 


Sepertinya Wendy sudah masuk ke dalam perangkapku! batin Anna. 


Sekarang Wendy dan Anna tengah berada di toilet wanita. Sebelumnya Wendy sudah mengusir orang-orang yang berada di toilet, lalu menguncinya dari dalam sehingga tidak ada yang bisa masuk ke sana. 


"Kau sedang mengancamku, ya?" tuduh Wendy. 


"Apa menurutmu aku sedang mengancammu?"


Anna tidak merasa bahwa itu adalah ancaman. Lagi pula, semua yang dia ketahui adalah kenyataan dan dia hendak memberitahukan pada semua orang tentang kebenaran itu. Kebenaran bahwa Wendy berasal dari keluarga pas-pasan yang suka menghabiskan uang ayahnya meskipun ayahnya tidak memiliki banyak uang dan hanya mengandalkan gaji perusahaan. 


"Apa yang kau inginkan dariku? Permintaan maaf?"


Tampaknya Wendy sudah sangat putus asa, terlebih lagi setelah Anna hendak membongkar rahasianya. 


"Tadinya aku hanya menuntut permintaan maaf darimu, tapi sepertinya itu tidak cukup jika mengingat perkataanmu yang menfitnah ku di depan banyak orang."


Tangan Wendy mengepal erat. Jika bukan karena Anna memiliki kelemahannya, mungkin dia akan memukul Anna dan menyakiti wanita itu hingga merasa puas. Semua rencananya jadi hancur akibat Anna.


"Lalu ... apa yang kau inginkan?" 

__ADS_1


"Hmmmm." Anna menengadahkan kepalanya menatap langit-langit seolah sedang memikirkan sesuatu. "Aku ingin kau bekerja untukku selama sebulan. Kau harus memenuhi panggilanku dan mengikuti semua perintahku. Bagaimana?"


Wendy membelalakkan mata. "Kau gila?! Mana mungkin aku mau menjadi pelayanmu!"


Anna benar-benar mempermainkan Wendy dengan caranya sendiri. Pelayan? Siapa yang mau menjadi pelayan dari orang yang dia benci. Namun, Wendy tidak memiliki pilihan lain karena Anna memegang kelemahannya. 


"Kau tidak mau?" tanya Anna seraya menyeringai. 


"Oke! Aku bersedia menuruti semua perintahmu selama sebulan penuh. Tapi, kau harus berjanji tidak akan membocorkan rahasiaku kepada orang lain!"


Sebenarnya Anna tidak peduli lagi dengan rahasia Wendy jika wanita itu sudah bersedia menjadi suruhannya. Lagi pula, Anna percaya jika rahasia Wendy akan terbongkar dengan sendirinya. 


Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga. 


"Deal, ya! Senang bekerja sama denganmu, Wendy. Sampai jumpa lagi!" ucap Anna seraya berlalu. Dia meninggalkan Wendy sendiri di dalam toilet dan pergi ke kelas. 


Ternyata sangat menyenangkan mengerjai seseorang. Baru kali ini Anna melakukan hal keren seperti itu. Sebab, dulu dia tidak suka berurusan dengan orang lain, kecuali dengan Grace. Ya, Grace adalah satu-satunya teman baik Anna. 


"Wah! Ternyata aku bisa mengintimidasi seseorang! Good job, Anna!"


Sebelum menjawab pertanyaan Grace, Anna melihat jam tangan yang melingkar di tangannya. "Aku akan menceritakannya nanti. Ayo kita ke kelas!"


Anna tidak menyangka jika dia terlalu lama bermain-main dengan Wendy hingga lupa kalau dia memiliki jadwal masuk pagi. Untungnya Grace datang untuk mencarinya! 


"Jadi ... apa yang kau lakukan pagi ini hingga aku tidak bisa menemukan keberadaanmu, Anna?"


Memang pada dasarnya Grace adalah orang yang cerewet, baru saja sampai dan duduk di kelas, namun dia sudah bertanya lagi. Tadinya Anna tidak ingin menceritakan masalahnya dengan orang lain. Namun, karena Grace adalah teman baiknya jadi mungkin tidak masalah. 


"Jadi, begini ceritanya ...." Anna menceritakan semua kejadian, termasuk kejadian yang menimpa Andy. Dia menjelaskan secara rinci bagaimana dan mengapa itu bisa terjadi. 


Sementara itu, Grace hanya menanggapi cerita Anna dengan ekspresi wajahnya yang selalu berubah. Terkadang dia terlihat marah, sedih, bahkan terkejut. Banyak sekali kejadian yang menimpa Anna dan keluarganya. Dan yang paling menyedihkan adalah dia sama sekali tidak bisa membantu Anna. 


"Maaf, Anna. Aku tidak bisa membantumu," lirih Grace. 

__ADS_1


"Apa maksudmu? Kau sudah menamparnya waktu itu! Itu adalah bantuan terbaikmu untukku, Grace. Kau sangat keren. Sungguh!"


"Terima kasih, Anna."


Anna menggelengkan kepala. "Tidak! Seharusnya aku yang berterima kasih padamu, Grace. Terima kasih karena kau selalu ada setiap aku dalam masalah."


***


Edgar tengah menikmati kopi hangat di ruangannya. Tidak sendiri, dia sedang kedatangan tamu yang tak lain adalah sepupunya, Kevin. 


"Bagaimana dengan pekerjaanmu di sini?" tanya Edgar.


"Ya, aku senang menjadi dosen di sini. Banyak sekali orang yang perhatian dan memberiku hadiah. Mereka semua sangat ramah."


Ternyata benar. Edgar mendengar bahwa Kevin sangat populer di kalangan para mahasiswi dan dosen wanita. Ya, meskipun dirinya juga tidak kalah populer dengan Kevin atau bahkan lebih populer darinya. 


"Ah, sepertinya kau mendapatkan banyak cinta. Jadi, apa ada orang yang kau suka?"


Edgar berpikir bahwa Kevin harus segera memiliki pasangan untuk menikah. Lagi pula, usia Kevin lebih tua dua tahun dari Edgar, seharusnya sepupunya itu berhenti bermain-main dan mulai serius menjalin hubungan.


"Orang yang kusuka?" Kevin sedikit tersentak dengan pertanyaan Edgar. Meskipun itu hanya pertanyaan biasa, namun sedikit sulit untuk dijawab. 


"Hn. Aku tahu seperti apa seleramu. Kau selalu menyukai wanita yang sama denganku sejak kita remaja karena selera kita sama. Tapi, sekarang aku sudah menikah dengan Anna dan kuharap kau bisa segera menikah juga."


Selera yang sama. Memang benar perkataan Edgar. Sejak mereka masih remaja, mereka selalu memperebutkan wanita yang sama. Padahal banyak wanita cantik di luar sana, namun entah mengapa mereka selalu menyukai orang yang sama hingga mereka berlomba-lomba memenangkan hati wanita yang menjadi incarannya. 


Kevin berharap jika kejadian itu hanya terjadi saat dia masih remaja saja. Sangat tidak menyenangkan jika dia masih menyukai wanita yang sama dengan Edgar. Namun ...


"Sebenarnya ada wanita yang menarik perhatianku. Tapi, aku tidak bisa memilikinya karena dia sudah menikah." 


Dan wanita itu adalah Anna. Kevin melanjutkan perkataannya dalam hati. 


"Selera berubah, ya? Kau jadi menyukai wanita yang sudah menikah. Ck ck ck! Itu bukan hal bagus!"

__ADS_1


Sejujurnya Kevin menjadi dosen di kampus ini setelah menyelidiki Anna. Dia jatuh cinta pada Anna saat mereka bertemu di depan pintu, tepatnya saat Kevin pindah rumah dan memberikan kue kepada rumah di sebelahnya. 


Namun, hatinya sangat terluka begitu dia mengetahui fakta bahwa Anna adalah calon istri Edgar. Mengapa lagi-lagi dia menyukai wanita yang sama dengan Edgar? Jika Anna hanya sekadar kekasih dan bukan istri Edgar, mungkin Kevin akan merebutnya. Sayang sekali karena dia harus melepaskan orang yang dia sukai. 


__ADS_2