
Anna ingin pergi menemui Edgar, namun situasinya sangat membingungkan. Mengapa Kevin harus ada di samping Edgar dan muncul ketika ada Grace di sampingnya?
"Grace, bolehkah aku menemui Edgar? Aku mengkhawatirkannya karena wajahnya tampak tidak baik-baik saja," ucap Anna lagi.
"Pergi lah. Aku akan menunggumu di taman." Grace tidak ingin menunjukkan kesedihannya di hadapan pria yang dia sukai, lebih baik dia menjaga jarak terlebih dahulu sampai perasaannya membaik.
Anna menghampiri Edgar yang sedang memegang dahinya. Wajahnya sedikit pucat, bahkan sepertinya dia tidak bisa berdiri sendiri hingga Kevin harus memegangi bahu Edgar agar tidak jatuh.
"Ed, apa kau mual lagi?" tanya Anna dengan wajah khawatir.
"Tidak, aku hanya sedikit pusing."
Melihat Edgar yang tidak berdaya sontak membuat Anna sedih. Seharusnya dia memaksa Edgar untuk tetap beristirahat di apartemen. Lihat? Akibat Edgar bersikeras untuk pergi ke kampus, dia diserang sindrom couvade itu lagi.
"Sebaliknya kau membawanya pulang. Edgar sangat tidak memungkinkan untuk mengajar," ucap Kevin. Dia mengatakan itu karena benar-benar khawatir dengan sepupunya itu.
"Begitukah?" Anna memegang dahi Edgar dengan telapak tangannya. "Kau demam, Ed. Sebaiknya kau pulang seperti yang Profesor Kevin katakan."
"Aku baik-baik saja, Anna."
"No! Kau itu sakit, Sayang," timpal Anna. "Profesor, bisakah Anda membuat surat izin untukku dan Edgar?"
Sebenarnya Anna tidak ingin jika harus membolos kuliah lagi, namun dia terpaksa karena harus mengurus Edgar yang sakit. Lagi pula, dia bisa menyuruh Wendy untuk masuk kelasnya dan mencatat materi kuliah.
Terpaksa, sepertinya aku harus menyuruh Wendy menggantikanku di kelas lagi. Maaf, Wendy! pikir Anna. Dia merasa bersalah karena harus membuat Wendy menggantikannya lagi untuk kedua kalinya.
Anna mengambil alih Edgar dari rangkulan Kevin, dia memegangi tangan Edgar dengan erat sambil berjalan lurus menuju parkiran.
"Biar aku yang menyetir, kau istirahat saja di kursi sebelah," ucap Anna.
"Aku tidak tahu kalau kau bisa menyetir."
Anna terkekeh kecil. Sebenarnya dia sama sekali tidak bisa menyetir mobil, namun karena kelihatan mudah, jadi Anna akan mencobanya sendiri. "Serahkan saja padaku," ucapnya dengan percaya diri.
Nnnnnngggg
Bruk
__ADS_1
Baru saja menyalakan mobil, Anna sudah menabrak tembok di depannya hingga membuat Edgar terbelalak kaget.
"Apa kau benar-benar bisa menyetir mobil? Aku-"
"Tenang saja. Aku hanya sedikit gugup," potong Anna dengan cepat. Dia tidak mau membuat Edgar khawatir, jadi dia harus bisa melakukannya dengan baik.
Sebelum menjalankan mobil kembali, Anna terlebih dahulu mengambil napas dalam-dalam dan membuangnya. Ketenangan adalah hal yang penting.
"Lihat? Aku bisa melakukannya 'kan?" Anna berucap dengan wajah senang. Dia bisa mengeluarkan mobil dari parkiran dan meninggalkan kampus tanpa kendala.
"Baiklah. Kalau begitu aku akan tidur sebentar, kepala sangat pusing."
"Ya, tidur lah. Aku akan membangunkanmu setelah sampai di apartemen."
Kalau seperti ini aku pasti akan dengan mudah mendapat SIM. Kau memang hebat, Anna! batin Anna dengan antusiasme yang tinggi.
Sebenarnya Anna ingin sekali bisa menyetir mobil dan mendapat SIM, namun dia tidak diperbolehkan oleh ayahnya dengan alasan karena Anna seorang perempuan.
Ayahnya berkata, kalau seorang perempuan itu harus anggun dan cantik. Tidak boleh mengendarai kendaraan sendiri atau melakukan pekerjaan yang berat. Perempuan harus diam di dalam rumah dan harus selalu berpenampilan cantik. Namun, Anna adalah kebalikan dari semua itu.
"Anjing!"
"Ada apa? Aku baru saja mendengarmu mengumpat," tanya Edgar yang kebingungan.
Anna menghela napas panjang. "Itu, ada anjing yang berhenti di tengah jalan saat aku menyetir. Untung saja tidak tertabrak."
Meskipun Anna yakin kalau dia tidak menabrak seekor anjing, namun dia tetap harus memastikannya dengan mata kepalanya sendiri.
Anna keluar dari mobil dan berjalan ke arah depan. Dia melihat seekor anak anjing berbulu putih tengah duduk di depan mobilnya.
"Sepertinya anjing ini lepas dari pemiliknya," ucap Anna setelah menggendong anak anjing tersebut dan melihat kalung yang terpasang di lehernya.
"Apa kau mau membawanya pulang?" tanya Edgar yang baru turun dari mobil.
"Hn, aku akan membawa pulang."
Lagi pula, Anna merasa kasihan jika anak anjing itu ditinggal begitu saja di jalanan. Untuk sementara waktu, Anna akan mengurusnya secara pribadi sampai pemilik sebenarnya muncul.
__ADS_1
***
"Popy duduk!" ucap Anna pada anak anjing yang dia temukan di jalan tadi.
Popy - anak anjing itu menjulurkan lidahnya dan duduk seperti yang diperintahkan oleh Anna.
"Ck ck ck! Baru satu jam yang lalu kau memungutnya, tapi anjing itu sudah akrab denganmu." Edgar duduk di samping Anna. " Aku cemburu pada Popy."
Anna mengecup pipi Edgar sekilas. "Tenang saja, hanya kau seorang yang ada di hatiku. Ah, hanya karena sekarang ada malaikat kecil yang sedang aku kandung maka ada dua orang yang ada di hatiku."
"Bagaimana dengan pusingmu? Apa masih terasa?" sambung Anna.
Setelah memungut anak anjing di jalan, Anna membeli obat sakit kepala di apotik langganannya untuk Edgar. Dia langsung menyuruh Edgar meminum obatnya ketika sampai di apartemen.
"Sudah lebih baik." Edgar menyandarkan kepalanya di bahu Anna. "Akhir-akhir ini aku jadi cepat lelah, padahal yang hamil itu kau, bukan aku."
"Aku juga bingung. Mungkin karena sindrom Couvade itu, jadi kau lebih cepat lelah tidak seperti biasanya."
"Semoga sindrom ini cepat berakhir, aku sangat tersiksa dengannya."
Anna sontak menolehkan kepalanya ke arah Edgar yang masih bersandar pada bahunya. "Tidak bisa. Apa kau tidak merasa kasihan jika aku mengalami semua hal itu?"
"Bukankah itu wajar dialami oleh ibu hamil?"
"Ah, jadi kau ingin aku tersiksa, begitu? Kau picik!" tuduh Anna. Entah mengapa dirinya menjadi sangat emosional kepada Edgar.
Edgar tersentak dengan perkataan Anna. Bagaimana bisa Anna menuduhnya seperti itu?
"Anna, bukan begitu. Aku tidak bermaksud membuatku merasakan hal yang sedang aku rasakan-"
"Tidak apa-apa. Aku turut prihatin dengan sindrom couvade yang kau alami ini." Anna beranjak dari sofa yang didudukinya. "Popy, ayo kita pergi!"
Anna ke luar apartemen sambil mengajak Popy bersamanya. Dia sedang kesal dengan Edgar dan pengap melihat wajahnya. Oleh sebab itu, Anna memutuskan untuk pergi ke rumah orang tuanya - kediaman Florence.
"Aku tidak akan pulang hari ini! Biarkan saja dia sendirian. Aku tidak peduli meskipun nanti dia mual-mual atau pusing sekali pun!"
Anna berdiri di depan gedung untuk menunggu taksi, sesekali dia pun menolehkan kepalanya ke belakang.
__ADS_1
"Cih! Dia bahkan tidak menyusulku dan menahanku agar tidak pergi!"