Tiba-Tiba Menikah!

Tiba-Tiba Menikah!
Akhir


__ADS_3

Dua minggu telah berlalu ... 


Wendy yang menyebabkan Anna keguguran dihukum skors selama tiga bulan. Meskipun Edgar belum puas dengan hukuman itu, namun dia tidak bisa menambah hukumannya lagi karena tidak memiliki wewenang di kampus. 


Anna sudah keluar dari rumah sakit. Namun, dia belum berbicara sedikit pun bak orang yang bisu. Anna pun kehilangan cara berjalannya. Dokter mengatakan jika Anna mengalami hal itu karena terlalu syok dan stress berat. 


Setiap malam setelah Anna tidur, Edgar minum alkohol hingga mabuk di dapurnya sendirian. Dia menangis tatkala melihat Anna yang seperti boneka hidup. Tak mengatakan apa pun dan tidak bisa berjalan tanpa bantuan suatu alat. 


Sekarang, Edgar sedang bersama Anna di taman. Dia membawa Anna jalan-jalan menggunakan kursi roda untuk menghirup udara segar. 


"Anna, bukankah bunganya sangat cantik? Jika aku memetiknya, apa kau mau menerimanya?" ucap Edgar. 


Anna bergeming. Dia diam saja karena memang tidak ingin mengatakan apa pun. Namun, dalam hatinya dia selalu menjawab perkataan Edgar. 


Edgar tersenyum miris. Dia kemudian memetik satu bunga mawar untuk Anna dan menaruhnya di pangkuan wanita itu. 


Sambil berjongkok, Edgar pun berkata, "Mawar merah menandakan cinta dan aku akan memberikannya padamu. Ini bukti bahwa aku selalu mencintaimu apa adanya. Tak peduli meskipun kau tidak bicara atau bahkan lupa cara berjalan seperti sekarang."


Edgar memegang tangan Anna. "Anna ... aku ingin melihatmu tersenyum lagi. Aku ingin melihatmu yang berkeliaran di hadapanku dan menceritakan apa pun padaku. Sungguh, aku ingin melihatmu seperti dulu," lanjutnya. 


Sejurus setelah Edgar mengatakan itu, Anna menggerakkan tangannya menuju kepala Edgar dan mengelus lembut rambut suaminya itu. 


"Maafkan aku," lirih Anna. 


Edgar tersentak sembari membulatkan matanya. "Anna! Kau ... berbicara?!"


Merasa tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya, Edgar sontak meminta Anna berbicara lagi. "Lagi! Katakan sesuatu lagi, Anna!" ucapnya. 


Anna tersenyum lemah. "Aku mencintaimu, Edgar."


Edgar menutup wajahnya dengan telapak tangan. Dia merasa akan menangis karena terlalu bahagia. 


"Apa kau bisa berdiri?" tanya Edgar. Dia hanya ingin memastikannya karena Anna sudah mau berbicara. 


Anna kemudian berusaha berdiri seraya memegang kursi roda sebagai penopang tubuhnya. Namun, seketika terjatuh kembali. Tampaknya dia masih belum bisa berjalan dan bahkan berdiri dengan kakinya sendiri. 


"Tidak apa-apa. Kau bisa melakukannya perlahan. Aku akan menghubungi Dokter Bryan dan memberitahukan hal ini."

__ADS_1


"Anna!"


Sebuah panggilan dari seseorang yang dikenal membuat kepalanya menoleh. Grace berdiri di belakang Edgar dengan wajah gang sedikit kusut. 


"Profesor, bisakah Anda meninggalkan kami berdua? Aku ingin berbicara dengan Anna," ucap Grace lagi. 


Tadinya Edgar tidak ingin pergi, namun dia mendapat kode dari Anna untuk meninggalkan mereka berdua. 


Anna tidak tahu, apa sebenernya tujuan Grace datang menemuinya. Grace bahkan tidak ada saat Anna dirawat di rumah sakit dan tidak pernah membesuknya barang sekali pun. Anna kecewa.


"Anna ... maafkan aku." Grace menunduk lemah. "Akulah yang membuat postingan di forum kampus tentang Wendy. Gara-gara itu, kau harus mengalami kejadian seperti ini."


Anna sudah tahu meskipun Grace tidak memberitahunya. Namun, Anna tidak ingin mempercayai bahwa itu memang Grace karena dia masih mempercayai temannya itu. 


"Aku ... aku menyesal. Aku melampiaskan kemarahanku pada kau, Anna. Karena kau adalah orang yang menjadi alasanku ditolak oleh Profesor Kevin. Aku marah saat Profesor Kevin mengatakan bahwa dia menyukai seseorang. Aku menyukainya, tapi dia tidak membalas perasaanku."


Ah, jadi itu alasannya. Kevin menyukai Anna, namun Anna sama sekali tidak tahu. Grace yang merasa sakit hati pun melampiaskan kemarahannya kepada Anna melalui Wendy. 


Anna menyeringai tipis. Wendy, Grace, dan Kevin memiliki kesalahan kepada Anna. Mereka bertiga tanpa sadar membuat Anna menderita hingga harus kehilangan janin. 


"Pergi!" usir Anna kepada Grace. Dia tidak mau mendengar alasannya lagi. "Aku tidak ingin diganggu!"


Setelah Grace mengaku pada Anna pada hari itu, Anna memutuskan kontak dengan Grace dan tidak ingin menemuinya lagi. Grace memang teman baiknya, namun Grace sudah mengkhianati Anna dan sudah menyebabkan Anna keguguran secara tidak langsung. 


Sekarang Anna tengah berlatih berjalan dengan bantuan Edgar. Sudah hampir dua minggu dia melakukannya dan dia sudah bisa berdiri sendiri serta berjalan tiga hingga lima langkah. 


"Sudah cukup untuk hari ini. Kau melakukannya dengan baik," ucap Edgar seraya mengelus kepala Anna. 


Satu hari setelah keguguran, Edgar memutuskan untuk mengundurkan diri dari kampus. Dia sudah bukan seorang dosen lagi. Sekarang dia memilih fokus dari jabatannya sebagai direktur dan merawat Anna sendiri di rumah. Ya, lagi pula, pekerjaannya sebagai direktur bisa dikerjakan di rumah dan tanpa harus pergi ke perusahaan. 


Edgar menggendong Anna dan mendudukkannya kembali di kursi roda. 


"Aku ingin ke kamar," ucap Anna. 


"Baiklah, Istriku."


Sejurus kemudian Edgar mendorong kursi roda Anna menuju kamar mereka. Dengan kaki yang lemah, Anna sontak mencoba berdiri sendiri dan pindah dari kursi roda ke ranjang. 

__ADS_1


Edgar hanya diam mengamati karena Anna tidak ingin dibantu olehnya. 


"Ed, duduklah di sampingku," titah Anna sembari menepuk-nepuk ranjang. Dia kemudian menyandarkan kepalanya di bahu lebar Edgar setelah pria itu duduk di sampingnya. "Boleh aku bertanya sesuatu?" tanyanya. 


"Menanyakan apa?" balas Edgar. 


"Apa kau tidak marah atau kecewa padaku, mungkin?"


"Aku tidak mengerti maksudmu. Mengapa aku harus marah dan kecewa padamu, Anna?"


Anna memegang perutnya dengan kedua tangan. "Aku kehilangan calon bayi kita. Aku tidak bisa menjaga benih yang tumbuh di rahimku dengan baik."


Edgar tertegun. Padahal kejadian itu sudah lebih dari dua bulan yang lalu, namun Anna masih memikirkan dan bahkan menyalahkan dirinya sendiri. 


Edgar mungkin marah dan kecewa, namun bukan pada Anna, melainkan pada dirinya sendiri. Sebab, sebagai suami Anna, dia tidak bisa menjaga wanita itu dengan baik. 


"Aku tidak marah atau kecewa padamu, Anna. Lagi pula, ini sudah terlanjur terjadi. Kita tidak bisa merubahnya."


"Lalu, apa kau menyesal menikah denganku?"


Lagi-lagi Edgar tertegun. Dia menikahi Anna karena memang menyukai wanita itu. Ya, meskipun itu semua bermula karena hutang ayah Anna.


"Aku tidak ingin menjawabnya, kau seharusnya sudah tahu tentang perasaanku, bukan?"


"Baiklah. Aku akan mengajukan pertanyaan terakhir," seru Anna. Anna mengangkat kepalanya dari bahu Edgar dan beralih menatap mata pria itu. "Apa kau ingin punya anak lagi?"


Edgar meneguk saliva. "Ah, itu ... aku memang menginginkannya. Tapi, aku tidak bisa memaksamu untuk mengandung anakku lagi setelah keguguran."


"Ayo kita buat lagi."


Membuat bayi sama dengan berhubungan intim. Apa Anna sadar akan perkataannya? Sudah berbulan-bulan Edgar tidak menyentuh Anna di tempat tidur karena memikirkan kondisi Anna. Meskipun hasratnya naik, dia tidak bisa memaksa Anna untuk meredakan hasratnya. Namun, Anna justru memancingnya secara langsung? 


"Anna, kondisimu masih bel-"


Tanpa bisa menyelesaikan perkataannya, Edgar dibuat terkejut dengan Anna yang tiba-tiba membungkam mulutnya dengan bibir. 


Jika Anna yang memulai, Edgar tidak bisa menolak. Dia akan membiarkan Anna melakukan keinginannya. Karena Anna adalah istrinya dan pernikahannya dengan wanita itu didasari oleh cinta. 

__ADS_1


Meskipun dalam pernikahan mereka selalu ada masalah yang muncul, namun semua itu bisa dilewati bersama. Pernikahan yang tiba-tiba ini membuat mereka mengalami suka maupun duka di saat bersamaan. Meskipun lebih banyak duka yang diterima, namun mereka tidak menyesal dengan pernikahan tersebut. 


Tamat. 


__ADS_2