
Anna mengira jika Edgar hanya bertemu Venna saja dan tanpa terjadi hal seperti pelecehan. Pertemuannya dengan Venna sudah sangat membuat Edgar syok, tapi ternyata wanita itu juga melakukan hal tidak senonoh kepada suaminya.
"Tapi Pak, Edgar bukan orang yang membunuh Venna!" kukuh Anna.
"Tenanglah, Nona. Suami Anda memang salah satu tersangka, tapi dia bisa bebas dari tuduhan jika memiliki alibi yang kuat." Polisi itu mengetuk-ngetuk meja berulang kali seperti sebuah kebiasaan. "Edgar Dominic, ada di mana kau saat pukul dua pagi?"
Tampaknya Venna dibunuh pukul dua pagi, waktu yang nyaman untuk tidur dan mengurung diri di dalam selimut. Namun, pada waktu itu Edgar dan Anna tengah bergumul di ranjang.
"Saya ada di apartemen bersama istri saya." Edgar mengatakannya tanpa ragu. Sekarang tinggal Anna yang menyetujui alibinya agar polisi bisa segera melepas tuduhan Edgar.
Wajah Anna memanas ketika pikirannya tiba-tiba mengingat kejadian semalam. Meskipun Edgar di bawah pengaruh alkohol dan menganggap dirinya orang lain, namun tetap saja mereka melakukannya hingga mencapai *******.
Polisi menatap Anna untuk mendapat konfirmasi dari perkataan Edgar.
"Benar. Kami sedang bersama saat itu dan ...." Anna memalingkan wajahnya ke arah lain. "melakukan hubungan suami-istri," lirihnya.
Mengapa juga Anna harus menjelaskan situasinya kepada orang lain? Anna ingin segera pulang dan berteriak kencang karena malu. 'Kenapa Edgar santai sekali?' pikirnya.
Polisi berdeham kecil setelah mendapat konfirmasi dari Anna. Karena Edgar Dominic telah memberikan alibi kuat, jadi dia berpikir untuk segera mengakhiri interogasi tersebut dan membiarkan mereka pulang.
Keluar dari ruangan, Edgar dan Anna terkejut karena mereka bertemu dengan Kevin. Polisi berkata kalau Edgar adalah salah satu tersangka. Melihat Kevin dipanggil ke kantor polisi, itu artinya Kevin adalah tersangka lainnya.
"Profesor Kevin?" panggil Anna.
"Ah! Kalian juga dipanggil, ya?" Kevin tersenyum seraya menggaruk tengkuknya. "Omong-omong, kenapa kalian tidak pergi ke kampus? Edgar terlihat baik dan Anna ... wajahmu memang sedikit pucat."
"Bukan urusanmu!" balas Edgar. Edgar menepuk bahu Kevin seraya berbisik, "Apa kau yang membunuhnya?"
Edgar dan Kevin adalah dua orang pertama yang menjadi korban Venna dan setelah kejadian itu, Venna langsung diadili dengan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Ya, meskipun pada akhirnya Venna dibebaskan setelah sepuluh tahun mendekam di balik jeruji besi.
Selama Venna di penjara, tentu saja sudah tidak ada lagi penculikan dan pelecehan terhadap anak di bawah umur. Namun, Venna ditemukan meninggal setelah bertemu dengan Edgar dan Kevin. Edgar bukan pelakunya, lalu apakah Kevin yang membunuh wanita itu?
__ADS_1
"Aku berharap kalau aku yang membunuhnya, tapi sayang sekali karena pelakunya bukan aku, Ed." Kevin berbisik membalas perkataan Edgar.
Lantas jika Kevin bukan pelakunya, lalu siapa? Apakah ada korban lain yang Venna lecehkan? Karena Edgar dan Kevin adalah yang pertama, jelas sekali jika Venna melakukan perbuatan gilanya belum lama ini. Jadi, siapa pria yang Venna paksa untuk melayaninya hingga pria itu membunuh Venna dengan pisau?
Venna Baldwin, dia memang pantas mendapatkannya. Penjara telah membebaskan kriminal yang seharusnya dikurung seumur hidup, kini kriminal itu dibunuh dengan kejam. Sepertinya Tuhan murka karena wanita seperti Venna berkeliaran bebas.
"Ed, ayo kita pergi," ajak Anna.
Edgar terlalu banyak memikirkan teka-teki yang berhubungan dengan Venna. Padahal seharusnya dia tidak peduli dengan wanita jahat itu.
***
Anna menerima buku catatan dari Wendy, dia tersenyum puas ketika melihat isi buku itu penuh dengan materi kuliah yang Anna lewatkan kemarin.
"Terima kasih. Ternyata kau sangat pandai merangkum materi-materi penting, ya?"
Ternyata Wendy bukan hanya sombong dan pandai berbohong, namun wanita itu juga memiliki otak yang lumayan pintar. Selain memberikan buku catatan, Wendy bahkan menyelesaikan tugas yang seharusnya dikerjakan Anna dengan baik.
"Lihatlah gayanya," gumam Anna ketika punggung Wendy semakin menjauh.
Keputusan Anna untuk memanfaatkan Wendy ternyata adalah keputusan bagus. Anna berpikir, jika dia tidak masuk kuliah, dia bisa menyuruh Wendy menggantikannya untuk masuk dan mengikuti materi yang diajarkan. Namun, pikiran itu segera ditepis oleh Anna.
"Ey! Kau tidak boleh begitu, Anna. Wendy juga harus mengikuti materi kuliahnya sendiri."
Cukup sekali ini saja Anna menyuruh Wendy menggantikannya masuk kelas, selanjutnya dia tidak boleh melakukannya lagi. Sebaliknya, mungkin Anna akan menyuruh Wendy melakukan hal lain seperti membelikannya minuman atau camilan. Mungkin.
"Sedang apa?"
"Kyaa!" Anna terkejut karena Grace tiba-tiba menepuk bahunya dari belakang. "Grace, kau mengagetkanku!"
Padahal Anna tidak memberitahu Grace kalau dia masuk hari ini, namun Grace bisa mengetahui siluet Anna meskipun dari belakang. Di mana pun Anna berada, Grace pasti bisa menemukannya.
__ADS_1
"Kau belum menjawab pertanyaanku, Anna."
"Dasar cerewet! Aku baru saja menerima buku catatan dari Wendy." Anna menunjukkan buku itu di depan wajah Grace.
"Jadi yang kemarin benar-benar Wendy? Aku kita aku salah lihat karena dia masuk ke kelasku!"
Siapa pun pasti kaget jika mengetahui Wendy yang beda jurusan tiba-tiba masuk ke kelas yang bukan jurusannya. Ya, itu semua karena perintah konyol Anna yang memaksa dan mengancam Wendy untuk masuk menggantikannya.
Anna terkekeh. "Itu memang dia. Aku mengancam akan membongkar rahasianya jika dia tidak mengikuti perintahku."
"Kau memang kejam, tapi dia pantas mendapatkannya." Grace tertawa setelah menyelesaikan perkataannya. Dia kemudian menghentikan tawanya ketika mengingat sesuatu yang ingin dia bicarakan dengan Anna. "Ah! Kemarin aku mengajak Profesor Kevin berkencan lagi, tapi tidak jadi karena tiba-tiba dia dipanggil polisi. Apa kau mengetahui sesuatu?"
Tentu saja Anna mengetahuinya, bahkan dia bertemu dengan Kevin di kantor polisi saat menemani Edgar. Namun, Anna tidak akan memberitahu Grace tentang masalah kemarin.
"Aku tidak tahu. Mungkin dia dipanggil polisi karena wajahnya tampan. Pfftt!"
"Konyol!"
"Lalu, kapan kau akan mengajak Profesor Kevin berkencan lagi? Apa kalian sudah resmi pacaran?"
Sebenarnya Anna tidak terlalu tertarik dengan percintaan Grace, namun dia harus mencari topik lain untuk mengalihkan pembicaraan mengenai masalah kemarin.
"Kami belum pacaran, Anna. Aku bahkan belum menembaknya. Dan rencananya hari ini aku akan mengajak Profesor Kevin untuk berkencan lagi."
"Kenapa tidak langsung mengajaknya berpacaran saja? Kau 'kan cantik, Profesor Kevin juga pasti menyukaimu."
Anna hanya berbicara sembarangan, dia bahkan tidak tahu tipe wanita seperti apa yang Kevin sukai. Lagi pula, itu bukan urusannya.
Grace menghela napas panjang. "Jangan mengejekku, Anna. Saat kencan ganda di taman bermain, Profesor Kevin bahkan sama sekali tidak tertarik padaku. Meskipun begitu, aku masih mengharapkan perasaannya."
Untuk kencan kedua dan ketiga, Grace akan berusaha membuat Kevin melihatnya walau sedikit. Kevin memang menyetujui ajakan kencan Grace, namun pria itu pasti melakukannya karena terpaksa.
__ADS_1