Tiba-Tiba Menikah!

Tiba-Tiba Menikah!
Persiapan Pernikahan


__ADS_3

Hari-hari selanjutnya, Anna mulai disibukkan dengan persiapan pernikahannya dengan Edgar yang akan digelar dalam hitungan hari.


Urusan gedung dan dekorasi sudah disiapkan oleh keluarga Dominic, undangan pun sudah disebarluaskan kepada para kerabat dan teman terdekat kedua belah pihak, baik Anna maupun Edgar.


Kali ini, Anna dan Edgar hendak mengunjungi butik untuk melakukan fitting baju pengantin. Seharusnya mereka sudah mempersiapkannya lebih awal, namun keduanya sibuk dengan urusan kampus. Anna sibuk dengan tugas kuliahnya, sedangkan Edgar sibuk mempersiapkan materi untuk bahan pembelajaran selama tiga hari ke depan agar para mahasiswa bisa tetap belajar meskipun dia tidak hadir dan cuti dalam tiga hari tersebut.


"Maaf menunggu lama."


Berhubung para mahasiswa satu fakultas dan dosen sudah menerima undangan, Anna dan Edgar tidak perlu lagi menyembunyikan hubungan mereka yang selama ini dirahasiakan.


Tatapan senang, iri, dan kesal tertuju pada Anna yang sedang berduaan dengan Edgar di tempat parkir kampus. Namun, Anna berniat untuk tidak memedulikan tatapan mereka yang sebenarnya membuat Anna risih.


"Masuklah. Kita akan pergi ke butik milik kenalanku."


Tanpa membuang-buang waktu, Anna segera masuk mobil dan duduk di kursi depan samping Edgar. Begitu sabuk pengaman telah terpasang sempurna, Edgar pun sontak mengemudikan mobilnya menuju butik dengan kecepatan sedang.


"Selamat siang, Tuan Edgar dan Nona Anna. Saya sudah menunggu kedatangan Anda berdua. Silahkan masuk."


Sungguh karyawan yang ramah! Anna bahkan terpesona dengan wajah karyawan wanita tersebut, parasnya sangat cantik.


"Saya sudah menyiapkan empat gaun pengantin. Nona bisa memilih gaun mana yang ingin Nona gunakan saat pernikahan nanti."


Karyawan wanita itu membuka tirai ruangan dan memperlihatkan empat buah gaun pengantin dengan motif dan gaya yang berbeda.


Anna terpesona dengan keempat gaun pengantin tersebut, semuanya sangat cantik dan elegan.


"Gaun mana yang kau suka?"


Karena tidak bisa memilih sendiri, akhirnya Anna memutuskan untuk menanyakan pendapat Edgar tentang gaun pernikahannya.


"Semuanya tampak bagus, tapi aku paling suka dengan gaun itu."


Jari telunjuk Edgar di arahkan pada gaun pengantin bernuansa putih dan elegan dengan model off-shoulder ball-gown.


"Aku akan mencoba yang itu."


Setelah memilih gaun yang Edgar tunjuk, tiga gaun yang tersisa dipindahkan ke tempat lain oleh karyawan wanita.


Anna memasuki fitting room dengan membawa gaun pengantin ke dalamnya, lalu mengganti pakaiannya dengan gaun pengantin tersebut.


Sebelum keluar dari fitting room dan memperlihatkan penampilannya pada Edgar, Anna menghadap cermin yang mengelilingi ruangan tersebut dan membuang napas.


Setelah rasa gugupnya teratasi, Anna membuka tirai fitting room dan berdiri di hadapan Edgar.


"Ehem! Bagaimana penampilanku?"


Satu, dua, tiga, empat, lima. Selama lima detik Edgar hanya menatap Anna dengan tatapan yang sulit diartikan hingga membuat Anna menyerah untuk mendapat pujian.


"Cantik."

__ADS_1


Satu kata itu keluar dari mulut Edgar yang sempat diam. Meskipun singkat, namun Anna senang karena Edgar memuji penampilannya.


Karena sudah mencoba gaun pengantin dan memperlihatkannya pada Edgar, Anna kembali masuk ke dalam fitting room untuk mengganti pakaiannya. Namun ...


"Ed, apa karyawan tadi belum kembali?"


Anna membuka sedikit tirai fitting room dan hanya memperlihatkan kepalanya.


"Belum. Kulihat tadi dia sedang menerima telepon."


"Kalau begitu kau saja. Bantu aku menurunkan resleting gaun yang macet."


Sejujurnya Anna sangat malu meminta bantuan Edgar, namun dia tidak ada pilihan lain.


"Tutup matamu! Pokoknya kau harus menutup mata saat menurunkan resleting gaunku dan setelah itu membalikkan badanmu ke arah berlawanan!"


"Bagaimana aku bisa membukanya jika menutup mata?"


Pertanyaan yang masuk akal, namun Anna tetap kukuh dengan perkataannya.


"Pokoknya kau harus menutup mata!"


"Baiklah. Aku mengerti."


Perlahan Edgar menggapai resleting gaun Anna dan menurunkannya hingga mencapai pangkal pinggang. Dia dapat merasakan tubuh tegang Anna ketika jarinya semakin turun membuka resleting gaun hingga mencapai batas.


"Tetap tutup matamu dan balik badan!"


Terdengar suara gaun jatuh di atas lantai. Meskipun Anna menyuruh Edgar membalikkan badan agar tidak melihatnya saat berganti pakaian, namun cermin yang mengelilingi fitting room memperlihatkan semuanya. Edgar dapat melihat pakaian dalam dan lekuk tubuh Anna yang sempurna sehingga membuat pusakanya berdenyut.


Astaga! Apa aku baru saja berpikiran kotor?


Melalui pantulan cermin, Edgar dapat melihat Anna telah selesai mengenakan pakaian sontak menutup matanya rapat-rapat sebelum Anna mengetahui bahwa dia mengintip.


"Aku sudah selesai. Kau boleh berbalik dan membuka matamu."


"Ah, baiklah."


Anna sudah rapi dengan kaus dan jeans miliknya. Dia mengambil gaun pengantin yang tergeletak di lantai, lalu meminta tolong pada Edgar untuk membawanya karena gaunnya cukup berat jika dibawa sendiri.


Keluar dari fitting room, Anna menyerahkan gaun pengantin pada karyawan wanita yang ternyata sudah kembali dan berdiri di dekat tirai. Karyawan itu sedikit terkejut ketika melihat Anna keluar bersama Edgar, lalu mengubah ekspresinya menjadi tersenyum.


"Aku akan memakai gaun ini untuk pernikahan nanti. Kebetulan ukurannya pun pas dengan tubuhku."


"Saya mengerti."


Anna dan Edgar pergi meninggalkan butik dengan mobil sport merah yang terparkir di depan butik tersebut.


Semua persiapan pernikahan telah selesai dan masih tersisa dua hari sebelum acara pernikahan dilaksanakan. Oleh sebab itu, Anna berniat memanfaatkan dua hari itu untuk bersenang-senang dengan keluarganya karena setelah menikah dengan Edgar, dia akan tinggal di kediaman Dominic.

__ADS_1


Setelah berpisah dengan Edgar di depan kediaman Florence, Anna sontak masuk kamar dan melemparkan dirinya di atas ranjang. Matanya hampir terpejam sebelum suara ketukan pintu menggagalkan niatnya untuk tidur sebentar.


"Masuklah."


Begitu pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok adik laki-lakinya, Anna memutar bola matanya seraya berdecak kesal.


"Ternyata kau! Pergilah, kau sangat mengganggu!"


"Kakak bodoh! Aku tidak akan masuk ke kandang jelekmu jika bukan karena Ibu yang menyuruhku!"


Tiada hari tanpa berdebat. Itulah yang selalu Anna lakukan dengan Andy ketika mereka sedang berada di rumah.


"Katakan ada apa?"


"Mana kutahu! Turun saja ke ruang keluarga!"


Meskipun Anna malas turun, namun kakinya refleks mengikuti Andy yang telah berjalan lebih dahulu. Dia ingin tahu alasan mengapa sang ibu memanggilnya.


Sampai di ruang keluarga, Anna dapat melihat dua koper besar di samping kedua orang tuanya. Bahkan mereka berpakaian sangat rapi seperti akan pergi ke luar.


"Ada apa dengan koper-koper itu? Apa Ibu akan pergi? Dan ke mana Ayah?"


"Duduklah dulu." Olivia menepuk-nepuk sofa di sampingnya.


Duduk di samping Olivia, Anna memberi kode kepada Andy apakah dia tahu sesuatu, namun Andy hanya mengangkat bahunya.


"Ibu akan pergi ke rumah nenek kalian di London, dia jatuh sakit. Ayah sudah ada di sana tadi pagi, jadi Ibu akan menyusul."


"Berapa lama Ibu dan Ayah akan di London? Lalu bagaimana dengan pernikahanku?"


Berita buruk. Padahal Anna ingin menghabiskan waktu dengan keluarganya sebelum hari pernikahannya tiba.


"Tidak perlu khawatir. Kami akan pulang sebelum acara pernikahanmu dilaksanakan." Olivia mengalihkan pandangannya kepada Andy. "Karena kau seorang pria, Ibu harap kau bisa menjaga kakakmu dengan baik, Andy."


"Serahkan padaku, Ibu. Aku akan mengurus kakakku yang bodoh ini."


Hampir saja Anna mengamuk setelah mendengar perkataan Andy yang membuatnya kesal, namun segera ditahan oleh Olivia.


Ya. Meskipun Anna dan Andy selalu bertengkar hampir setiap hari, namun sebenarnya mereka saling menyayangi satu sama lain dan peduli. Hanya saja cara mereka sedikit berbeda dengan saudara lainnya.


"Jangan ribut! Ibu akan berangkat ke bandara sekarang juga. Jaga diri kalian berdua dan jangan terus bertengkar!"


"Baik!" ucap Anna dan Andy serempak.


Anna dan Andy membawakan koper Olivia hingga bagasi mobil. Mereka tidak diperbolehkan mengantar Olivia hingga bandara dan berpisah di depan kediaman Florence.


Ayah dan Ibu tidak ada di rumah, lalu aku ditinggal bersama dengan bocah menyebalkan ini. Ck! batin Anna menggerutu.


Hari sudah gelap, setelah melepaskan kepergian Olivia yang akan pergi ke London, Anna masuk kembali ke kamarnya untuk istirahat. Tubuh juga pikirannya sudah sangat lelah karena terlalu sibuk dengan persiapan pernikahan. Dia sudah tidak peduli lagi dengan kedua orang tuanya yang pergi ke London, yang terpenting adalah mereka harus segera pulang dan datang menyaksikan acara pernikahannya hingga selesai.

__ADS_1


"Terserahlah! Lebih baik aku tidur saja hingga pagi!"


__ADS_2