Tiba-Tiba Menikah!

Tiba-Tiba Menikah!
Ada Apa Dengan Temanku?


__ADS_3

Di kamarnya, Anna tengah duduk di atas ranjang sembari menatap ponsel yang ada di depannya. Lebih dari 30 menit dia diam seperti itu. Dia ingin menelpon Grace, namun ragu hingga membuatnya berpikir lama. 


Grace bukan tipikal orang yang memikirkan pelajaran. Jika dia murung maka permasalahannya ada pada kencan yang dia lakukan dengan Kevin. Namun, apa permasalahannya? 


"Apa kau akan terus seperti itu?" seru Edgar tiba-tiba. Dia risih melihat istrinya yang diam seperti patung selama bermenit-menit. 


"Apa menurutmu aku harus menelponnya?"


Betapa rumitnya seorang wanita. Para pria tidak pernah memikirkan permasalahan orang lain, jadi Edgar bingung harus menjawab apa. 


"Lakukanlah seperti yang ingin kau lakukan. Tapi menurutku, lebih baik jika kau membiarkan Grace sendiri. Lagi pula, dia pasti akan meneleponmu jika ingin bercerita."


"Kau benar. Lebih baik aku tidak menelponnya," lirih Anna. Namun, tampaknya pikirannya berubah dalam seketika. "Tapi, aku harus menelponnya!"


Anna meraih ponselnya dan menghubungi nomor Grace. Hatinya tidak tenang jika belum mendengar permasalahan temannya itu.


"Apa? Kenapa tidak dijawab?" ucap Anna bingung. Dia kemudian menghubungi nomor Grace sekali lagi, namun hasilnya tetap sama. 


"Biarkan dia sendiri, Anna. Mungkin dia tidak ingin diganggu," kata Edgar. 


"Profesor Kevin!" teriak Anna. Jika dia tidak bisa menghubungi Grace maka dia akan menghubungi Kevin dan menanyakan apa yang terjadi pada mereka hingga Grace terlihat sedih. "Ed, berikan ponselmu padaku!"


"Tidak! Berhentilah mencampuri urusan orang lain, Anna. Sekarang kau harus istirahat, ini sudah malam."


"Cih!" Anna menyipitkan matanya ke arah Edgar. Suaminya itu memang sulit untuk diajak bekerja sama. 


Melihat itu, Edgar kemudian menghela napas panjang. Tampaknya Anna merajuk dan Edgar harus mengalah. Jangan sampai Anna marah dan kabur lagi seperti tadi. 


"Ini, jangan terlalu lama," ucap Edgar pasrah sembari menyodorkan ponselnya kepada Anna. 


"Terima kasih!"


Menit selanjutnya, Anna langsung menghubungi nomor Kevin menggunakan ponsel Edgar dan menyalakan loudspeaker. Lagi pula, dia enggan menyimpan nomor pria itu di ponselnya. Tidak penting! 


"Hn, ada apa?"


Anna tertegun, Kevin langsung menjawab panggilannya dalam beberapa detik. 


Apa keturunan Dominic selalu berbicara to the point? pikir Anna. 


"Ini Anna. Maaf karena menghubungi Anda, Profesor."


"Ah, begitu. Apa ada hal penting yang ingin ditanyakan?"

__ADS_1


Apa orang ini bisa membaca pikiran? pikir Anna lagi. 


"Ya, ini sangat penting," balas Anna. 'Untukku!' lanjutnya dalam hati. 


"Apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Kevin kemudian. 


Anna sontak terdiam dan menatap Edgar. Tadinya dia sangat bersemangat untuk menanyakan perihal kencan Kevin dan Grace. Apakah terjadi masalah atau tidak. Namun, mengapa sekarang Anna kembali ragu? 


"Itu ... apa Anda baik-baik saja?" ucap Anna pada akhirnya. 


Perkataan Anna sontak membuat Edgar menaikkan alisnya ke atas. Kevin? Tentu saja dia pun bingung dengan pertanyaan Anna. Apa itu yang disebut pertanyaan penting? 


Dalam sepersekian detik, Edgar akhirnya merebut ponselnya dari tangan Anna dan menggantikan Anna untuk bertanya. 


"Kudengar, kau tadi kencan dengan Grace. Bagaimana hasilnya?" tanya Edgar langsung pada intinya. 


"Mengapa kau tahu tentang itu?" Kevin bertanya balik. 


"Bukan aku, tapi Anna yang ingin mengetahuinya!" tegas Edgar, meluruskan. Mana mungkin dia peduli dengan kisah asmara sepupunya? Dia sama sekali tidak peduli! 


"Aku tidak ingin memberitahukannya padamu."


"Bukan aku, tapi Anna!"


"Terserah!"


***


Keesokan harinya, Anna menunggu kedatangan Grace di gerbang kampus. Sudah hampir 15 menit dia menunggu, namun Grace belum menampakkan dirinya sama sekali. 


Ketika Anna sudah bosan menunggu dan hendak pergi, Grace tiba-tiba turun dari taksi langganannya dengan wajah yang tidak bersemangat. Meskipun begitu, Anna tetap menyapanya dengan riang dan berharap jika temannya itu kembali bersemangat. 


"Grace!" panggil Anna sembari melambaikan tangannya tinggi-tinggi. 


Grace sempat melihat Anna dalam sepersekian detik, namun segera memalingkan wajah. 


Apa dia tidak melihatku, ya? Mungkin aku harus memanggilnya lagi! pikir Anna kemudian. 


"Grace! Aku di sini!" panggil Anna lagi dengan suara tak kalah kencang. 


Nihil. Grace sama sekali tidak menjawab panggilan Anna seperti biasanya.


Saat Grace berjalan melewati Anna, dia tiba-tiba berhenti sejenak dan berbisik, "Jangan ganggu aku. Biarkan aku sendirian hari ini."

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Grace pun melanjutkan jalannya tanpa menoleh sedikit pun kepada Anna. Dia tidak langsung masuk kelas, melainkan masuk ke dalam toilet untuk memperbaiki riasannya yang belum selesai. 


Di toilet, dia bertemu dengan Wendy yang sedang mencuci tangan di wastafel. Wendy terlihat kesal dan beberapa kali mengumpati Anna dengan kata-kata kasar. 


"Memangnya aku pembantunya? Seenaknya saja dia menyuruhku menggantikannya masuk kelas, sedangkan aku ketinggalan kelasku sendiri!" umpat Wendy sembari mencuci tangannya. "Jika saja dia tidak mengetahui rahasiaku! Ugh!"


Grace hanya diam ketika mendengar Wendy mengumpat. Sesekali dia mengintip Wendy melalui cermin di depannya. 


Wendy yang sadar akan tatapan Grace, kemudian menoleh pada Grace dan membelalakkan mata. 


"Kau!" tunjuk Wendy. "Bukankah kau yang menamparku waktu itu?"


Tak ada jawaban apa pun dari Grace. Dia tidak memiliki tenaga untuk beradu mulut dengan Wendy. 


"Hahah, apa kali ini kau akan mengadukanku pada temanmu itu? Ya, pasti begitu," ucap Wendy lagi. 


"Apa kau sedang membicarakan Anna?" Kali ini Grace berbicara. Padahal tadinya dia akan diam saja, tetapi ternyata tidak bisa. 


"Tentu saja. Kenapa? Adukan saja padanya kalau aku mengumpatinya dengan kata-kata kasar!"


"Apa kau membencinya?"


Entah apa yang Grace pikirkan, namun Wendy bingung dengan Grace yang tiba-tiba bertanya seperti itu. Bukankah sudah jelas kalau Wendy membenci Anna? Haruskah dia menjawab yang sudah pasti? Terlebih kepada teman baik orang yang dibencinya. 


Namun, Wendy berpikir untuk menjawab pertanyaan Grace dan melihat situasi selanjutnya. 


"Ya, aku membencinya. Sangat membencinya!" jawab Wendy. 


"Ah, begitu." Grace mengatakan itu sambil berlalu. 


Pupilnya membesar, Wendy kesal dengan jawaban Grace yang kurang ajar dan meninggalkannya begitu saja. Anna dan teman-temannya memang menyebalkan semua! pikirnya. 


***


"Grace! Apa kau marah padaku?" celetuk Anna ketika melihat Grace keluar dari toilet.


Merasa terkejut, Grace hampir terkena serangan jantung ketika Anna meneriaki namanya padahal jarak mereka sangat dekat. 


Grace tersenyum. "Tidak. Apa aku terlihat marah padamu?"


Seberapa saat setelah Grace berbicara, Wendy kemudian keluar dari toilet dan menabrak bahu Grace dengan sengaja, lalu memalingkan wajahnya dengan angkuh. 


Grace hampir mengumpat, namun dia tahan dan berusaha tetap tenang. 

__ADS_1


Anna terkekeh. "Sepertinya kau sudah kembali pada dirimu yang sebenarnya. Dan, tolong jangan terlalu marah pada Wendy. Dia memang seperti itu dan mungkin sedang kesal padaku."


"Ya, mungkin dia juga kesal padaku karena pernah menamparnya waktu itu." Grace memegang tangan Anna dan menatapnya. "Anna, maafkan aku," lirihnya, lalu melepaskan tangan Anna. 


__ADS_2