Tiba-Tiba Menikah!

Tiba-Tiba Menikah!
Di Balik Skors Andy


__ADS_3

"Jangan khawatir ... adikmu sudah dewasa, dia pasti hanya berjalan-jalan sebentar untuk menenangkan diri. Dia pasti akan pulang."


"Kuharap juga begitu," lirih Anna dengan wajah murung. 


Berhubung hari masih siang di mana jam sekolah belum berakhir, Anna dan Edgar bergegas menuju sekolah Andy dengan mobil. Mereka tak ingin membuang-buang waktu dan ingin segera mengetahui permasalahan yang menimpa Andy. 


Tidak sampai lima belas menit, mereka tiba di sekolah dan Edgar langsung memarkirkan mobilnya di tempat parkir. 


"Langsung saja ke ruangan kepala sekolah, kita akan menanyakan langsung padanya," ucap Edgar setelah dia dan Anna keluar dari mobil.


Sepertinya kenalan yang dimaksud Edgar adalah Kepala Sekolah! pikir Anna. 


Tidak seperti guru lain dan wali kelas, seorang kepala sekolah biasanya selalu ada di ruangan, sangat jarang di antara mereka yang berada di kelas karena tidak memiliki tugas mengajar.


Tepat sekali! Tiba di ruang kepala sekolah, mereka melihat seorang pria paruh baya menggunakan kacamata tengah duduk di sofa seraya membaca buku yang entah apa isinya. 


"Sepertinya Anda sibuk," ucap Edgar setibanya di ruang kepala sekolah. 


"Ed! Bagaimana kabarmu, Nak?" Kepala Sekolah menghentikan kegiatan membaca bukunya dan mempersilahkan Edgar dan Anna untuk duduk. "Istrimu sangat cantik."


Edgar membalas pertanyaan Kepala Sekolah dengan mengatakan bahwa dia baik-baik saja, sementara itu, Anna hanya tersenyum ketika mendapat pujian. 


"Aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu, Kepala sekolah." Edgar mengatakan maksud kedatangannya. 


"Jangan berbicara formal, kita adalah keluarga dan tidak ada orang lain di sini."


Anna mengerutkan dahinya. "Maaf? Keluarga?"


"Apa aku belum memberitahumu, Sayang? Kepala Sekolah adalah pamanku. Dia adalah adik dari ibuku," jelas Edgar. 


Entah mengapa Anna merasa malu karena tidak mengenali Kepala Sekolah yang merupakan paman dari suaminya. Lagi pula, Edgar juga salah karena tidak memberitahu Anna kalau kenalan yang dia maksud adalah pamannya sendiri. 


Anna sontak meminta maaf karena tidak mengenali sosok Kepala Sekolah. Dia menundukkan kepalanya dan tersenyum kaku. 


"Apa yang ingin kau tanyakan, Ed?" ucap Sean - Kepala Sekolah. 


"Kudengar ada siswa yang memukul temannya dan dia mendapat skors baru-baru ini. Apa yang terjadi?" 


Edgar berharap jika dia dan Anna akan mendapat jawaban yang jelas dari pertanyaan tersebut. Sebab, masalah itu berkaitan dengan Andy, adik laki-laki Anna. 


"Benar. Bagaimana kau tahu?"

__ADS_1


Sean cukup heran mendengar keponakannya menanyakan masalah yang tidak ada hubungannya dengan dirinya sendiri. Padahal, Sean sangat tahu bahwa Edgar adalah orang yang tak mementingkan kehidupan orang lain. 


"Andy, dia adalah adik iparku. Istriku sangat khawatir karena adiknya tiba-tiba di-skors."


"Andy Florence? Ah! Istrimu dari keluarga Florence? Pantas saja marganya tidak asing, ternyata aku melihatnya di surat undangan virtual pernikahanmu."


Padahal surat undangan itu hanya dibagikan kepada kerabat dekat, namun Anna sedikit kecewa karena ternyata namanya bahkan tidak diingat oleh mereka. 


"Andy memukul anak dari salah satu donatur sekolah. Orang tua dari anak tersebut marah dan menuntut permintaan maaf Andy, namun Andy tidak ingin meminta maaf." Sean menghela napas. "Mereka kesal karena sikap Andy yang tidak mau menurut dan memintaku untuk memberi hukuman berat."


"Hukuman berat itu adalah skors?" tanya Anna penasaran. 


"Tidak. Mereka memintaku untuk mengeluarkan Andy dari sekolah. Jika tidak, mereka tidak akan pernah memberi donasi lagi pada sekolah ini. Namun, aku tidak peduli dan hanya memberi Andy skors."


Sean berdiri menghadap jendela seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Andy adalah anak cerdas, aku percaya jika dia memukul temannya karena ada alasan tertentu. Dan sebagai kepala sekolah, aku ingin bersikap adil kepada para murid dengan mengikuti peraturan."


"Pasal 5 ayat 21, 'Murid yang melakukan kekerasan di sekolah baik disengaja maupun tidak disengaja akan diberikan sanksi berupa skors'" ucap Edgar membacakan salah satu undang-undang di sekolah. 


"Benar. Kau pasti tahu karena alumni sekolah ini, Ed."


"Apakah Andy mengatakan alasan mengapa dia memukul temannya?"


"Andy tidak mengatakan apa-apa tentang itu. Dia tidak ingin membicarakannya."


"Bolehkah saya tahu siapa anak yang dipukul Andy dan di mana kelasnya?" Anna berniat untuk menanyakan langsung pada yang bersangkutan. Sebab, jawaban dari Kepala Sekolah tidak membuatnya puas. 


"Farrell, kelas 3-1."


"Terima kasih. Kalau begitu ... kami permisi, Pak." Anna menarik tangan Edgar agar berdiri dan memaksanya untuk pergi meninggalkan ruangan tersebut. 


Berjalan melewati setiap koridor, Anna melihat setiap papan kelas, mencari letak kelas 3-1.


"Bukan ke arah sana, tapi ke arah sebaliknya!" Edgar menghentikan langkahnya karena dia lelah dibawa Anna berkeliling sekolah. 


Anna bergeming sejenak, lalu memutar balik arahnya seraya menarik kembali tangan Edgar. "Ayo!" ajak Anna, "seharusnya kau memberitahuku dari tadi, Sayang .... "


Sejenak Anna lupa kalau Edgar adalah alumni sekolah itu. Jadi, pria itu pasti tahu letak setiap kelas yang ada di sekolah tersebut. 


"Akhirnya kelasnya ketemu!" girang Anna ketika kelas yang dia cari-cari berada tepat di hadapannya. 


"Kak Anna!"

__ADS_1


Mendengar namanya di panggil, Anna sontak mengalihkan pandangannya pada seseorang yang memanggilnya. 


"Mey? Kenapa ada di luar kelas?"


Mey - teman kecil Andy yang dulu pernah tinggal di rumah samping rumah Anna yang sekarang menjadi rumah Kevin. 


"Kelasku sedang tidak ada guru, jadi kami bebas berkeliaran," jelas Mey, "Ada urusan apa Kak Anna berdiri di depan kelasku? Dan apa Kakak Tampan ini adalah suami Kakak?"


"Kau sekelas dengan Andy?" Anna terkejut. "Ah, iya. Ini suami Kakak, tampan 'kan?"


Mey tersenyum seraya menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Aku ingin menemui Farrell, kudengar dia ada di kelas ini," ungkap Anna. 


"I-itu ... ada yang mau Mey bicarakan dengan Kak Anna, boleh?" Mey menatap Anna dengan intens. "Tentu saja dengan suami Kakak juga. Tapi, jangan di sini!"


Mey mengarahkan pandangannya mengelilingi setiap sudut sekolah, mencari tempat sepi yang bisa digunakan untuk berbicara tanpa ada yang menguping. 


Pohon. Mey melihat sebuah pohon besar yang terdapat kursi panjang di bawahnya. Tidak ada siapa pun di sana karena memang sedang jam belajar. 


"Kita bicara di pohon itu saja, Kak!" Mey menunjuk pohon dengan jari telunjuknya, lalu berjalan beriringan dengan Anna dan Edgar. 


Anna mengangkat satu alisnya ke atas. "Jadi ... apa yang akan kau bicarakan, Mey?" 


"Andy tidak bersalah." Mey menggigit bibirnya, ragu. "Sebenarnya ... Farrel terus memprovokasi Andy dengan menjelek-jelekkan Kak Anna."


"Apa maksudmu dengan menjelek-jelekkan istriku?!" 


Padahal Edgar belum mendengar kronologi kejadiannya hingga selesai, namun dia sudah tampak marah ketika mendengar nama istrinya disebut. 


"I-itu ...."


Menepuk bahu Mey, Anna mengangguk ringan mencoba meyakinkan Mey agar bisa menceritakan semuanya tanpa khawatir. 


"Seperti yang aku bilang, Farrell menjelek-jelekkan Kak Anna di depan Andy. Dia bilang kalau Kak Anna adalah pelacur yang menggoda putra tertua Dominic. Dia juga bilang kalau Kak Anna menggunakan cara kotor agar bisa menikah dengan Kak Edgar."


Seketika tubuh Anna terdiam, hatinya berkecamuk, dia tak percaya jika ada orang yang menjelek-jelekkannya seperti itu, bahkan di depan adiknya. Pantas saja jika Andy marah dan melakukan kekerasan fisik pada anak bernama Farrell itu!


"Jadi kata-kata itulah yang memicu Andy memukul Farrell, benar?" Anna mencoba tetap tenang meskipun hatinya sedikit bergetar. 


Bugh! 

__ADS_1


__ADS_2