Tiba-Tiba Menikah!

Tiba-Tiba Menikah!
Waktunya Memberi Pelajaran


__ADS_3

Pukulan keras dilancarkan Edgar pada batang pohon besar hingga membuat daun berjatuhan. Dia marah! Dia tak bisa menyembunyikan rasa kesal dan marahnya seperti Anna!


"Panggil anak itu sekarang, aku ingin berbicara dengannya!"


Edgar sebisa mungkin menahan emosinya agar tidak lepas kendali. Sudah cukup baginya melampiaskan rasa kesalnya dengan memukul pohon. Ya, itu lebih baik daripada dia menghajar habis anak bernama Farrell tersebut dan menimbulkan masalah lain. 


"Tenangkan dirimu dulu dan jangan sampai kehilangan akal. Kita harus menyelesaikan masalah ini baik-baik, Ed!" Anna menangkupkan kedua tangannya di wajah Edgar. "Ikuti aku. Tarik napas dalam-dalam, lalu buang."


Mengikuti perkataan Anna, Edgar merasa lebih baik setelah mengatur napasnya. Amarah dan rasa kesalnya memang belum sepenuhnya hilang, namun setidaknya sedikit mereda daripada sebelumnya. 


"I-itu Kak Anna ... apa aku harus memanggil Farrell sekarang?" ucap Mey, menyela percakapan Anna dan Edgar. 


"Iya, tolong panggilkan dia untuk kami. Kami akan menunggu di sini sambil duduk." Anna tersenyum lembut pada Mey, dia bersyukur karena bisa mendapat informasi penting dari gadis itu. 


Melihat Mey pergi ke kelas, Anna mengajak Edgar untuk duduk di bangku panjang yang ada di bawah pohon.


Semilir angin menerpa kulit mereka, memberikan sensasi dingin yang menyegarkan. Cuacanya sedang panas, namun karena mereka berteduh di bawah pohon berukuran besar, mereka sama sekali tidak kepanasan ataupun merasa silau. 


"Aku paling suka berteduh di bawah pohon. Dari aku pertama kali sekolah hingga sekarang kuliah, berteduh dan tidur di bawah pohon bisa membuatku tenang."


"Apa kau sedang berusaha tetap tenang meskipun keadaannya seperti ini?" Edgar menatap Anna cukup lama. "Jika kau merasa marah maka marahlah! Jika kau sedih maka menangislah! Jangan berusaha kuat di depanku, Anna. Aku lebih suka jika kau jujur mengenai perasaanmu."


Menahan emosi adalah hal buruk, hal tersebut bisa menyebabkan stress dan tidak baik untuk mental. Edgar tidak suka jika ada seseorang yang berpura-pura baik-baik saja padahal hatinya sedang terluka, marah, dll. 


"Aku ingin menangis, tapi tidak di sini. Aku tidak ingin terlihat lemah di depan orang yang telah berbicara buruk tentangku."


Lagi pula, Anna sudah lelah karena kurang tidur. Jika dia marah dan menangis di saat itu juga, mungkin tubuhnya yang sudah tidak berenergi akan tumbang. Jika itu terjadi maka dia akan membuat Edgar khawatir dan merepotkan pria itu. 


"Mey bilang kalau kalian mencariku?" celetuk Farrell yang tiba-tiba datang bersama Mey. 


Bangkit dari duduknya, Anna meminta Mey untuk meninggalkan mereka bertiga. Dia dan Edgar ingin berbicara enam mata dengan Farrell. 


Sebelum Mey benar-benar pergi, Anna berbisik, "Terima kasih, calon adik ipar."


Sebenarnya Anna mengetahui kalau Mey memilikimu perasaan terhadap adiknya, jadi dia berniat menggodanya sedikit. 

__ADS_1


"Kau Farrell?" tanya Edgar yang mencoba memastikan bahwa anak laki-laki di hadapannya adalah anak yang sedang dia dan Anna cari. 


"Benar. Ada apa mencariku?"


Farrell berdiri seraya melipat kedua tangannya di depan dada. Anak laki-laki itu sangat tidak sopan dan juga angkuh. 


"Sepertinya kau dihajar oleh seseorang?" Edgar menunjuk wajah Farrell yang lebam dengan mengangkat sedikit dagunya ke atas. 


"Ya, ada orang gila yang tiba-tiba memukul wajahku hingga babak belur, padahal aku hanya memprovokasinya sedikit."


Sudut mata kanan Anna berkedut. "Aku merasa iba padamu, kuharap orang yang memukulmu akan diberi hukuman setimpal. Tapi ... bagaimana caramu memprovokasinya?"


"Kenapa kalian tertarik dengan masalahku? Kalian sebenarnya siapa?" protes Farrell yang merasa heran dengan dua orang dewasa yang baru dilihatnya. 


"Reporter. Kami ke sini untuk mewawancaraimu. Kami dengar ada anak yang melakukan kekerasan di sekolah ini dan kami tertarik untuk meliputnya."


Beruntungnya karena Edgar adalah orang cerdas. Dia langsung bisa menjawab keraguan Farrell dengan cepat. 


Reporter? Sepertinya aku bisa memanfaatkan ini untuk menghancurkan Andy! pikir Farrell. 


"Wah! Ternyata anak bernama Andy itu sangat ringan tangan," ucap Anna. 


Sebenarnya Anna ingin merobek mulut Farrell, namun dia tahan sekuat tenaga agar tetap tenang dan melanjutkan sandiwaranya. 


"Dia memang anak seperti itu, bahkan Andy juga merebut pacarku entah dengan cara apa. Sikapnya tidak beda jauh dengan kakak perempuannya."


Grep! 


Edgar mengepalkan kedua tangannya dan berniat menarik kerah seragam Farrell, namun Anna mencubit tangan Edgar agar menghentikan niatnya sebelum terjadi masalah yang lebih besar. 


Menghela napas, Edgar mengambil kartu namanya di dalam dompet dan menyerahkan kartu itu pada Farrell. 


Edgar Dominic? jadi pria ini Edgar Dominic?! pikir Farrell seraya berkeringat dingin. 


"Kami sudah mendengar semuanya dari mulutmu dan istriku juga sepertinya kelelahan, jadi kami akan pergi."

__ADS_1


Istri? Jadi wanita di sebelahnya adalah Anna Florence? Kakak perempuan Andy? pikir Farrel lagi. Hatinya bergetar setelah menyadari bahwa dia baru saja melakukan kesalahan fatal! Dia menjelek-jelekkan orang lain di depan orangnya langsung! 


***


"Kau lihat ekspresi wajah anak itu begitu menerima kartu namaku? Wajahnya sangat pucat pasi seperti seorang mayat." Edgar terkekeh kecil membayangkan kembali kejadian yang baru saja terjadi. 


"Hn, tapi aku penasaran dengan kakak anak itu! Bukankah dia bilang kalau dia mendengar gosip itu dari kakaknya?"


Setelah dipikirkan kembali, memang benar jika Farrell membawa-bawa kakaknya. Jika sudah seperti itu, Edgar harus menyelidiki keluarga anak laki-laki itu dan memberi pelajaran pada mereka karena telah mengusik istri dan adik iparnya. 


Sampai di apartemen, Anna langsung membaringkan tubuhnya di ranjang. Tubuhnya terasa lengket, namun karena dia lelah dan mengantuk, dia memutuskan untuk tidur beberapa jam dan mandi setelah bangun. 


Sementara itu, Edgar yang melihat Anna telah pergi ke alam mimpi hanya menggelengkan kepalanya ringan. Istrinya terlihat sangat lelah dan wajahnya sedikit pucat, sepertinya dia harus membiarkan istrinya beristirahat tanpa gangguan. 


"Maaf karena selalu memintamu untuk memenuhi hasratku. Kali ini aku akan membiarkanmu tidur sepuasnya. Cup!" bisik Edgar diakhiri dengan kecupan kecil di bibir Anna. 


Sebenarnya Edgar pun lelah, namun dia harus menyelidiki keluarga Farrell. Dia belum tenang jika masalah yang melibatkan istrinya belum selesai sepenuhnya.


Mengambil ponsel, Edgar sontak menelpon Sean, Paman sekaligus Kepala Sekolah di sekolah Andy. 


"Halo, Paman. Bolehkah aku meminta data pribadi Farrell?"


Tanpa basa-basi, Edgar langsung mengatakan maksudnya setelah ponselnya terhubung dengan Sean. 


"Jika kau bertujuan buruk, aku tidak akan memberitahumu, Ed. Lagi pula, data pribadi siswa tidak boleh disebarluaskan kepada pihak lain. Maaf, tapi aku tidak bisa membantumu."


Sepertinya Sean sudah mengetahui alasannya meminta data pribadi Farrell. Edgar hampir lupa kalau pamannya itu sangat baik dan bijaksana. Jadi, sudah pasti pamannya tidak akan memberikan informasi yang dia minta. 


"Baiklah kalau begitu, Paman. Maaf jika aku mengganggu waktu berhargamu."


Tuts! 


Telepon berakhir. Jika Edgar tidak mendapatkan informasi dari sekolah maka dia harus menggunakan cara lain. Sepertinya dia harus meminta detektif swasta untuk menyelidiki keluarga Farrell. 


Menaruh ponselnya di samping telinga, lagi-lagi Edgar menelpon untuk kedua kalinya. Bukan menelpon pamannya, melainkan seorang detektif swasta yang pernah dia pakai untuk menyelidiki seseorang. 

__ADS_1


"Carikan aku informasi mengenai keluarga Farrell kelas 3-1 dari Gwinnett School. Hanya itu yang aku tahu. Aku akan membayar dua kali lipat dari tarif yang kau pasang jika kau berhasil menggali informasi mereka sebelum hari esok tiba!"


__ADS_2