Tiba-Tiba Menikah!

Tiba-Tiba Menikah!
Mengobati Luka


__ADS_3

Banyak orang jahat di luar sana. Anna bahkan tidak tahu apakah dokter dan perawat di rumah sakit bisa dipercaya! Bagaimana jika mereka tidak bisa menjaga rahasia tentang kondisi Anna yang penuh dengan luka-luka di tubuhnya? Bagaimana jika mereka tahu kalau luka-luka tersebut disebabkan oleh Edgar dan mulai menyebarkan gosip jahat tanpa tahu kebenarannya? 


"Anna!" Edgar menaikkan suaranya. "Tubuhmu lebih penting daripada apa pun! Siapa yang peduli dengan perkataan orang lain? Meskipun mereka tahu kalau aku seorang sadisme, aku tidak peduli!"


"Tapi aku peduli, Ed!" tegas Anna yang tak mau kalah dengan Edgar. "Aku takut jika mereka memanfaatkan kelemahanmu untuk berbuat jahat! Dunia itu keras, Ed. Jika dosen cerdas sekaligus penerus perusahaan Dominic diketahui memiliki kelemahan, mereka tidak akan segan untuk menyerangmu!"


Kecuali jika Edgar hanya orang biasa yang tidak memiliki kedudukan tinggi, mungkin Edgar tidak akan apa-apa dan pernikahannya dengan Anna akan aman. Memangnya siapa yang peduli dengan orang biasa yang memiliki kelainan sadisme? Orang-orang tidak akan peduli. Namun, sayang sekali karena Edgar adalah anak konglomerat yang memiliki perusahaan nomor satu di Amerika. Baru kali ini Anna menyesal karena menikahi pria yang lahir dengan sendok emas di mulutnya. 


Edgar memijat pangkal hidungnya karena pusing setelah berdebat dengan Anna. Dia bahkan tidak sadar kalau tubuhnya masih dalam keadaan telanjang bulat. 


"Lebih baik kau istirahat saja di apartemen hingga luka-lukanya membaik. Jangan mencoba-coba untuk pergi kuliah atau keluar dari sini!" 


Memang sedikit egois, namun Edgar mengatakan itu karena khawatir dengan kondisi Anna. Lagi pula, mana mungkin Edgar membiarkan Anna pergi kuliah dengan wajah bengkak dan tubuh penuh luka. Orang lain mungkin tidak bisa melihatnya dengan jelas karena tertutup riasan, namun yang Edgar khawatirkan adalah rasa sakitnya. Bagaimana jika Anna tidak sengaja menabrak seseorang dan membuat lukanya semakin parah? Oh, jangan sampai itu terjadi! 


Anna memutar bola matanya ke arah lain sembari menghela napas. "Sebaiknya kau segera memakai pakaian, Ed. Mataku hampir ke luar karena melihatmu seperti itu."


Mengatakan itu, Anna sontak kembali fokus pada pekerjaannya yang tertunda. Dia tengah bersiap memasak sup untuk meredakan mabuk Edgar dan membuat bubur untuk dirinya. Namun, sebelum Anna sempat merealisasikan niatnya, Edgar sudah bertindak seenaknya dengan menggendong Anna di depan dada. 


"Eh? Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku, Ed!" Anna ingin memberontak lebih jauh, namun seluruh tubuhnya sakit sehingga dia tidak bisa memukul dada Edgar agar menurunkannya. 


"Jangan banyak bergerak, Anna. Bukan kah tubuhmu sakit? Aku akan mengobatinya untukmu."


Telanjang bulat di hadapan Anna bahkan tidak membuat Edgar malu. Lagi pula, mereka sudah saling melihat tubuh satu sama lain. 


Edgar menurunkan Anna di atas ranjang. Sebelum mulai mengobati Anna, Edgar memakai pakaian terlebih dahulu karena Anna terus menyuruhnya sambil menatap tajam.


Sejujurnya, Edgar ingin membuat Anna pingsan dan membawanya ke rumah sakit. Namun, Edgar tidak bisa melakukannya karena takut dibenci oleh Anna. Dibenci oleh Anna akan lebih menyakitkan daripada rahasianya terbongkar di depan banyak orang. 


Edgar membawa kotak P3K yang penuh dengan berbagai macam obat-obatan, plester perban, dll. Sebenarnya, Edgar tidak tahu harus memakai obat mana untuk mengobati luka seperti Anna. Oleh sebab itu, dia membaca satu per satu obat dan salep sebelum memakaikannya kepada Anna. 

__ADS_1


"Buka pakaianmu, Anna."


"Bu-buka?" gagap Anna, "Ed, kurasa ... aku bisa melakukannya sendiri. Bukankah kau harus pergi mengajar di kampus hari ini?"


Sangat memalukan jika Anna harus melepas pakaian agar lukanya diobati oleh Edgar. Meskipun niat Edgar baik, namun tetap saja Anna merasa malu. 


"Aku berubah pikiran. Lebih baik aku libur mengajar hingga kau sembuh. Mana mungkin aku membiarkan istriku yang sedang terluka sendirian di apartemen."


Pekerjaan memang penting, namun kesehatan Anna lebih penting dari pekerjaan. Apalagi Anna terluka akibat dirinya saat sedang mabuk. Sebagai seorang pria dan suami, Edgar harus bertanggung jawab atas perbuatannya kepada Anna. 


Tidak ingin berdebat, akhirnya Anna pasrah membuka pakaiannya di hadapan Edgar. Hanya pakaian atas yang Anna lepas, kecuali bra yang masih melekat di tubuhnya. 


"Kau mempermainkan aku?" Edgar mengerutkan dahi ketika melihat Anna yang tampak malu-malu menutupi tubuh atasnya yang hanya memakai bra. "Lepaskan semuanya! Termasuk celana dan pakaian dalammu!"


Seberapa gigihnya pun Anna menyembunyikan tubuhnya yang penuh luka, namun Edgar tahu dan mengingat kejadian semalam di mana letak dia memberikan Anna luka pukulan dan gigitan. Edgar bukanlah orang bodoh!


Anna berbalik memunggungi Edgar. "Kau bisa mengobati punggungku, sedangkan bagian lainnya, biarkan aku yang mengurusnya sendiri."


"Katakan jika sakit, aku akan mulai mengobatimu dengan salep ini."


Anna menganggukkan kepala. "Hn. Kau yakin tidak akan pergi mengajar?"


Lagi-lagi pertanyaan itu, mengapa Anna sepertinya ingin sekali Edgar pergi? Padahal Edgar hanya berusaha membantunya dan bertanggung jawab.


Edgar menekan luka Anna hingga membuatnya mengerang sakit. 


"Akh!" erang Anna. 


"Lihat? Sepertinya lukamu sangat serius hingga menjerit cukup keras."

__ADS_1


"Itu karena kau sengaja menekan lukaku!"


"Ya-ya-ya." Selesai mengoleskan salep di punggung Anna, Edgar menciumi punggung Anna beberapa kali. "Punggungmu panas."


Bukan hanya punggung Anna yang panas, namun seluruh tubuhnya terutama bagian wajah. Anna sudah terlalu malu dengan sikap Edgar yang berlebihan. Jika ingin mengoleskan salep maka oleskan saja, tidak perlu menambahkan beberapa kecupan di punggungnya.


"Ed, jika kau tidak segera menghentikannya maka aku akan meledak!"


"Meledak? Apa kau sedang membuat lelucon?" 


Meledak yang Anna maksud adalah marah. Meskipun Edgar paham maksudnya, namun dia sengaja berpura-pura tidak tahu untuk menggoda Anna. 


"Ed!" Anna menggeser tubuhnya agar menjauh dari Edgar. "Aku akan mengobati luka lainnya, jadi aku harap suamiku tercinta ini bisa keluar dari kamar!"


"Baiklah, Sayang."


***


"Kenapa Anna belum datang, ya?" Grace sudah mengitari kampus untuk mencari keberadaan Anna, namun dia tidak bisa menemukannya. "Ponselnya juga tidak aktif! Ke mana sebenarnya dia?"


Anna bukanlah orang yang akan bolos kuliah tanpa pemberitahuan. Jika Anna tidak ada di kampus dan ponselnya tidak aktif, tentu saja Grace akan khawatir.


"Profesor Kevin!" panggil Grace. Grace berlari menghampiri Kevin yang berdiri di koridor. 


"Grace," lirih Kevin, "Apa kau melihat Profesor Edgar? Ruangannya kosong."


Baru saja Grace berniat menanyakan perihal Anna dan Edgar pada Kevin, namun sepertinya pria itu juga tidak mengetahui keberadaan mereka. Sebenernya apa terjadi kepada mereka?


"Saya rasa Anna dan Profesor Edgar tidak masuk. Apa Anda tahu sesuatu, Profesor?"

__ADS_1


Kevin terdiam sejenak, lalu bergumam, "Apa karena kejadian kemarin, ya?"


"Apa maksud Anda?"


__ADS_2