
Anna menghela napas panjang, dia duduk di bangku taman belakang kampus seraya melihat hiruk pikuk para mahasiswa. Wajahnya yang kecil terlihat sangat pucat di mana lingkaran hitam mengelilingi mata.
"Akhir-akhir ini ... kau terlihat sangat lelah. Ada apa?" tanya Grace yang duduk di samping Anna.
"Aku hanya kurang tidur dan kedua pahaku terasa sakit."
Meskipun Anna tidak memberitahukan masalahnya secara rinci, namun Grace paham dengan pernyataan yang baru saja dilontarkan temannya.
"Memangnya kalian melakukannya berapa kali dalam seminggu?"
"Setiap hari," lirih Anna. Dia tidak ingin jika seseorang mendengar pembicaraan pribadinya. Namun ...
"Apa?! Se-setiap hari?!" teriak Grace hingga refleks berdiri. Tampaknya dia sangat terkejut dengan pengakuan Anna.
"Ssssttt!" Anna menutup mulut Grace dengan tangannya. "Edgar meminta jatahnya setiap hari dan aku tidak bisa menolaknya. Ini sudah genap dua minggu kami melakukannya tanpa henti."
Ya. Sejak mengetahui dirinya sudah sembuh dari kelainan seksual, Edgar terus meminta jatahnya kepada Anna dengan alasan karena selama ini mereka tidak melakukannya selama dua bulan setelah menikah.
Sejujurnya alasan Edgar sedikit tidak masuk akal. Sebab, bukan Anna yang tidak memberikan jatah kepada Edgar, melainkan pria itu sendiri yang menghindarinya karena menyembunyikan kelainan seksualnya.
"Aku tidak tahu jika Profesor Edgar sangat bertenaga dalam urusan ranjang, padahal dia terlihat dingin dan acuh kepada orang lain."
"Aku harap kau tidak membayangkan hal yang macam-macam di dalam kepalamu itu, Grace!"
"Tenang saja, aku tidak akan berani berpikir kotor tentang suamimu itu. Pfftt!"
Anna memutar bola matanya jengkel. Menceritakan masalahnya pada Grace memang sedikit meringankan stresnya, namun dia tidak suka jika harus mendapat ejekan dari temannya itu.
"Bukankah itu Profesor Kevin? Wah! Dia dikerumuni banyak wanita!" ucap Anna.
"Dia memang populer karena wajah tampannya. Bukankah Profesor Edgar pun dulu begitu? Dia selalu dikerumuni banyak wanita dan mendapat banyak hadiah."
Mendelik kesal, Anna tidak suka jika suaminya disamakan dengan pria lain, apalagi dengan Kevin! Meskipun mereka dari keluarga yang sama, namun tentu saja Edgar lebih unggul dibandingkan dengan Kevin.
__ADS_1
"Edgar memang populer, tapi dia mengabaikan semua wanita yang mendekatinya, bukan? Berbeda dengan Profesor Kevin yang tertawa dan mengobrol bersama mereka. Sudah jelas jika Profesor Kevin itu seorang playboy!"
Sejak pertama kali bertemu dengan Kevin, Anna merasa bahwa pria itu mudah mengakrabkan diri dan ramah, namun sifatnya itu sangat menyebalkan di mata Anna.
Jika Edgar akrab dengan semua orang apalagi seorang wanita, mungkin Anna tidak akan tahan melihatnya. Anna bersyukur karena sifat Edgar yang acuh terhadap orang lain. Sebab, jika Edgar yang populer di kalangan wanita bersikap ramah dan akrab maka akan lebih banyak wanita yang menggodanya lagi dan lagi.
"Aku penasaran ... apakah Profesor Kevin sudah memiliki kekasih?" ucap Grace tiba-tiba.
"Kenapa kau bertanya? Jangan bilang kalau kau sudah jatuh cinta padanya?"
Anna tidak bisa menyangkal jika wajah Kevin memang tampan, sifatnya pun ramah dan pintar. Ya, mungkin karena pria itu bagian dari Dominic yang notabene-nya adalah keluarga sempurna baik dari wajah, kecerdasan, harta, dll.
"Aku tidak tahu, tapi aku sedikit tertarik dengannya." Grace menyipitkan matanya ke arah Anna. "Mungkinkah dia juga ganas saat di atas ranjang?"
Menyeringai, Anna kemudian menyipitkan matanya mengikuti Grace.
"Aku tidak tahu. Kenapa kau tidak mencoba menggodanya dan mengajaknya tidur bersama? Kau akan tahu setelah melakukannya."
"Idemu terdengar gila, tapi aku akan mencobanya!"
"Grace, kau tidak akan benar-benar melakukannya, bukan?"
"Kenapa tidak?"
Grace bangkit dari kursi taman dan berlari kecil menuju Kevin, dia tak memedulikan Anna yang terus memanggilnya.
"Professor Kevin!" Grace mengatur napasnya yang sedikit terengah-engah agar menjadi normal. "Ada yang mau saya tanyakan tentang pelajaran kemarin."
Bohong! Sebenarnya Grace mengatakan itu agar para mahasiswi yang berkumpul di sekitar Kevin pergi menjauh. Hanya itu satu-satunya alasan yang bisa dia gunakan saat ini.
"Maaf semuanya, mungkin kita bisa melanjutkan obrolannya lain kali."
Kevin menyuruh para mahasiswi yang mengerumuninya agar membubarkan diri. Setelah semuanya pergi dan hanya ada dirinya dengan Grace, Kevin sontak bertanya tanpa melakukan basa-basi.
__ADS_1
"Apa yang akan kau tanyakan, Grace?"
"Tidak ada!" ucap Grace cepat seraya menggelengkan kepala.
Ketika Kevin mengangkat satu alisnya ke atas karena bingung dengan tingkah aneh salah satu muridnya, Grace kembali berucap, "Apakah Profesor sedang mengencani seseorang?"
"Untuk saat ini, tidak ada!" Kevin mendekatkan wajahnya dengan Grace. "Kenapa? Apa kau tertarik padaku dan ingin mengajakku berkencan?"
Perkataan Kevin sontak membuat Grace terkejut. Baru kali ini dia melihat pria yang merupakan sepupu Edgar berkata dengan wajah serius karena biasanya Kevin selalu tersenyum tipis di saat dirinya tengah berbicara dengan orang lain.
Sedetik yang lalu, Grace masih tidak memiliki perasaan khusus pada Kevin. Dia hanya mencoba menggoda pria itu tanpa melibatkan perasaannya. Namun, tampaknya sekarang dia terpesona dengan ketampanan Kevin yang wajahnya sangat dekat dengannya.
"Apa? Bagaimana Anda bisa tahu?" ucap Grace dengan mata terbelalak.
"Karena semua mahasiswi yang mendekatiku selalu berkata seperti itu," ungkap Kevin.
Sejujurnya Kevin sudah banyak menerima pernyataan cinta baik dari mahasiswi maupun dosen wanita yang berada di kampus. Namun, tidak ada wanita yang bisa menarik perhatiannya, kecuali satu orang, Anna Florence.
Bagi Kevin, Anna adalah wanita menarik.
Anna adalah orang pertama yang secara terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya pada Kevin. Ya, walaupun terkadang Anna bersikap ramah ketika Kevin sedang berkumpul dengan keluarga Dominic.
Namun, sayangnya wanita yang menarik perhatian Kevin justru adalah wanita yang Edgar sukai serta sudah menjadi istri dari sepupunya itu. Oleh sebab itu, dia hanya bisa mendukung pernikahan mereka dan berharap jika mereka bisa berbahagia.
Meskipun begitu, seandainya pernikahan antara Anna dan Edgar tidak berjalan mulus hingga membuat mereka harus berpisah, mungkin di situlah kesempatan untuk Kevin merebut Anna dari sepupunya. Ya, seandainya!
"Anu ... apakah Profesor ingin mencoba berkencan dengan saya?"
Grace merasa jika jantungnya berdebar kencang saat mengatakan itu, dia takut jika Kevin akan menolaknya mentah-mentah. Jadi, sebelum Kevin menjawab, Grace terlebih dahulu berbicara cepat dan membuatnya tidak memiliki pilihan untuk menolak.
"Berkencanlah dengan saya tiga kali, setelah itu Profesor bisa memutuskan untuk menjadikan saya kekasih Anda atau membuang saya meskipun saya berharap jika Anda dan saya akan menjadi sepasang kekasih dan-"
"Baiklah!" Kevin memotong ucapan Grace yang tidak tahu kapan selesainya. "Kurasa tidak masalah jika kita berkencan. Lagi pula, bukankah di kampus ini tidak ada larangan untuk berkencan antara dosen dan muridnya?"
__ADS_1
Sebenarnya dulu ada larangan seperti itu, tapi setelah pernikahan Anna dan Profesor Edgar, sepertinya aturan itu tidak berlaku! pikir Grace.
"Tentu saja tidak ada! Kalau begitu, saya akan menantikan sabtu ini, ya, Profesor!"