
Bagi Edgar yang notabene lahir dari keluarga Dominic, uang bukanlah masalah, yang terpenting sekarang adalah dia mendapat informasi mengenai keluarga Farrell dan memberi pelajaran pada mereka karena telah berani mengusik istrinya tercinta.
Tidak ada kata ampun dalam kamus Edgar. Jika dia sudah bertekad untuk membalas perbuatan mereka maka tidak akan ada yang bisa menghentikannya!
"Sebaiknya aku mandi," gumam Edgar seraya melangkahkan kakinya memasuki kamar mandi. Tubuhnya terasa sangat lengket karena seharian beraktifitas di luar.
Berdiri di depan cermin, Edgar melihat wajahnya sendiri dalam diam. Entah apa yang di pikirkannya, namun dia tampak serius.
Menyalakan shower, Edgar sontak memejamkan mata ketika air yang jatuh dari shower membasahi rambut dan tubuhnya.
Bayang-bayang Anna muncul di saat dirinya tengah memejamkan mata. Dalam bayangannya, Anna sedang tersenyum cantik tanpa sehelai benang pun. Imajinasi liar kemudian mulai menghampiri kepala Edgar, membuat sesuatu miliknya berdiri tegak.
"Anna ... ssshhh!" desah Edgar seraya memainkan miliknya dengan membayangkan Anna.
Padahal mereka berhubungan intim setiap hari dan baru hari ini libur, namun tampaknya Edgar menyesal karena membiarkan istrinya tidur. Hasrat lelakinya sangatlah besar, sulit untuk mengatasinya sendiri.
***
"Ugh!" lenguhnya. Anna tiba-tiba ingin buang air kecil sehingga dengan terpaksa dia harus bangun dari alam mimpi.
Ceklek!
Membuka pintu, Anna melebarkan bola matanya, terkejut dengan pemandangan yang dia lihat tepat di hadapannya.
Edgar sedang mandi, namun bukan itu yang membuatnya terkejut, melainkan karena Edgar mendesahkan namanya sambil memegang benda berharga milik pria itu yang tengah berdiri.
"Jangan pedulikan aku, kau bisa melanjutkannya. Aku ke sini untuk buang air kecil," jelas Anna.
Dengan santai, Anna berjalan menghampiri WC duduk dan mengeluarkan cairan bening yang membuat kantung kemihnya penuh.
Sejujurnya Anna sangat malu. Baru kali ini dia buang air kecil di hadapan Edgar! Padahal mereka sudah saling melihat tubuh satu sama lain yang tanpa busana, namun tetap saja Anna malu.
Aku sangat malu! pikir Anna dengan wajah tersipu.
Tanpa melihat Edgar, Anna berjalan menghampiri pintu dan hendak keluar dari kamar mandi dengan tenang. Namun ...
"Mau mandi bersama?!" Dengan berani Edgar mengucapkan itu sebelum Anna pergi dari kamar mandi.
Anna bergeming, dia takut jika Edgar bukan hanya mengajaknya mandi bersama. Hari ini dia sangat lelah dan butuh tidur, dia bukannya tidak suka berhubungan intim dengan Edgar, namun karena saat ini dia ingin istirahat.
"Aku tidak akan berbuat lebih. Aku janji!" ucap Edgar lagi, meyakinkan Anna.
Lagi pula, Edgar tahu jika Anna lelah. Dia sungguh hanya akan mandi bersama dengan istrinya tanpa berbuat lebih.
__ADS_1
"Baiklah," setuju Anna. Anna menatap benda milik Edgar. "Bisakah kau mengatasi itu?"
Edgar menyeringai. "Kenapa? Kau mau membantuku?"
"Jangan menggodaku, Ed!"
"Ppfft. Maaf, Sayang." Edgar membawa dua bangku jongkok untuknya dan Anna duduk. "Duduklah. Aku akan mencuci rambutmu."
Menganggukkan kepala, Anna kemudian menanggalkan semua pakaiannya dan duduk di bangku jongkok, membelakangi Edgar.
"Pejamkan matamu," titah Edgar. Tangan kanannya membasahi rambut Anna dengan shower yang sudah di lepas di dinding, sedangkan tangan kirinya memegang rambut belakang Anna.
"Rambutku sudah sangat panjang. Menurutmu, apakah aku harus potong rambut?"
Edgar menuangkan shampo pada rambut Anna, lalu memijat kepala istrinya. "Tidak perlu. Aku suka rambut panjangmu."
"Benarkah?" Anna memejamkan mata. "Ouh! Pijatanmu sangat nyaman."
"Kau ingin aku memijat bagian lainnya?"
"Ed, kau sudah berjanji untuk tidak berbuat lebih!"
Anna sangat paham dengan apa yang di maksud Edgar. Pria itu pasti sedang berpikir kotor!
"Tawaranmu sangat bagus, tapi aku menolaknya!"
Melepaskan tangan Edgar, Anna berdiri lalu membersihkan tubuhnya dengan shower yang sudah dia pasang kembali di dinding. Tangannya dengan lihai menelusuri setiap bagian tubuh dengan sabun mandi.
"Dilihat dari mana pun, tubuhmu sangat bagus." Edgar tersenyum jahil.
Anna mendengus. "Aku tahu itu!"
Mandi selesai, Anna membungkus tubuhnya dengan handuk dan berjalan menghampiri pintu. Namun, sebelum dia ke luar, Anna berbalik pada Edgar.
"Kau tidak ke luar?" tanya Anna seraya mengangkat satu alisnya ke atas.
Malam tiba, ponsel Edgar berdering beberapa kali ketika dia tengah tidur. Dengan terpaksa dia bangkit dari ranjang dan mengambil ponsel yang ditaruh di meja nakas samping ranjang.
"Hn?" Edgar mengangkat telepon tanpa melihat nama kontak yang tertera di layar ponsel.
"Aku sudah ada di depan apartemenmu untuk menyerahkan informasi yang kau minta," ucap seseorang di seberang telepon.
Ketika mendengar penyataan itu, Edgar langsung tahu siapa yang tenaga menghubunginya malam-malam. Detektif swasta.
__ADS_1
"Tunggu di sana, aku akan segera ke luar!"
Setelah mengatakan itu, Edgar mengakhiri panggilan telepon dan langsung melangkahkan kaki menuju pintu apartemennya.
Sebelum benar-benar membuka pintu, Edgar terlebih dahulu melihat layar monitor yang menunjukkan keadaan di luar pintu. Setelah yakin bahwa yang berdiri di depan pintu apartemennya adalah detektif swasta yang dia kenal, Edgar sontak membuka pintu tersebut.
"Berikan padaku!" Edgar membuka amplop coklat yang detektif swasta berikan, lalu mengeceknya sebentar. "Kerja bagus! Aku akan mengirimkan uangnya ke rekeningmu. Pergilah!"
Memang benar jika uang bisa melakukan segalanya, termasuk mengendalikan manusia. Namun, uang juga bisa menjadi boomerang untuk orang yang terlalu serakah.
Biasanya detektif swasta itu bekerja lebih lama dari biasanya, namun setelah Edgar menawarkan uang dua kali lipat, dia bekerja sangat cepat.
Duduk di sofa, Edgar sontak membuka amplop coklat yang baru saja dia terima dan mengeluarkan dokumen dari sana. Dia membaca satu per satu infomasi yang tertulis rapi di kertas tersebut dan berhenti saat matanya menemukan nama yang tidak saing.
"Wendy?" Edgar mengerutkan dahi, lalu tertawa mengejek. "Kakak beradik itu memang kurang ajar!"
Wendy, wanita yang sebelumnya menjelek-jelekkan Anna saat di kampus. Tampaknya wanita itu yang telah berbicara sembarangan kepada adiknya sehingga adiknya menjadi ikut beromong kosong.
Tiba-tiba Edgar mengingat perkataan Farrell siang tadi.
"Anna merebutku dari Wendy? Pfft-" Edgar menahan tawanya. "Pantas saja terdengar konyol, ternyata kalimat konyol itu berasal dari Wendy?!"
Entah sudah berapa kali Wendy mengajaknya berkencan dan Edgar menolaknya. Wanita itu selalu mengganggunya dengan kemunculannya yang tiba-tiba. Pakaian seksi dan riasan tebal sudah biasa dia lihat dari wanita itu. Sungguh cara yang kuno!
"Hooo ... ayahnya bekerja di WilD Corporation?"
Satu hal lagi yang membuat Edgar tertarik, ternyata ayah Wendy dan Farrell bekerja di perusahaan milik keluarganya, WilD Corporation. Bagaimana tidak? Itu artinya Edgar bisa dengan mudah memberi pelajaran pada keluarga Wendy. Misalnya, memecat ayah wanita itu?
Mungkin semua orang berpikir bahwa Edgar sama sekali tidak memiliki hak untuk ikut campur dalam masalah perusahaan, namun yang mereka pikirkan salah! Sebab, sebenarnya Edgar adalah seorang direktur dari WilD Corporation. Direktur yang bekerja secara sembunyi-sembunyi dan tidak pernah hadir di perusahaan. Mereka menyebutnya Direktur Bayangan.
"Ed?" panggil Anna dengan suara parau.
Mendegar namanya dipanggil, Edgar refleks menolehkan kepalanya pada Anna. Istrinya tampak berantakan dengan rambut yang sedikit kusut dan wajah yang masih mengantuk.
"Kenapa bangun?" tanya Edgar dengan suara lembut.
"Aku haus," terangnya. Anna mengerjapkan matanya beberapa kali. "Apa yang kau lakukan di sofa? Kau tidak bisa tidur?"
"Tadi ponselku berdering karena ada yang menelpon, lalu aku mengangkatnya. Dan sekarang, aku jadi tidak terlalu mengantuk."
"Oh ...." Anna pergi ke dapur sebentar untuk meredakan rasa hausnya, lalu menghampiri Edgar di sofa. "Itu apa?" tunjuk Anna pada kertas yang tergeletak di atas meja.
Namun, Edgar tak menjawab pertanyaan Anna. Dia hanya mengangkat bahu lebarnya dan membiarkan Anna untuk melihatnya sendiri.
__ADS_1
"Kau menyelidiki keluarga Farrell?" Anna menyipitkan mata. "Kuharap kau tidak terlalu kejam menghukum mereka, Ed!"