
Oke, Anna mengakui bahwa dirinya memang tidak paham dengan fashion. Meskipun dulu keluarganya kaya, Anna tidak pernah menghamburkan uang seenaknya seperti berbelanja dan jalan-jalan ke berbagai tempat bagus. Dia lebih suka berdiam diri di rumah atau bermain dengan Grace di kafe, kecuali setelah mengenal Edgar.
"Sepertinya kau selalu memakai barang baru setiap hari. Apa keluargamu sangat kaya?" ucap Anna, mengalihkan pembicaraan.
Anna penasaran dengan respon Wendy, bagaimana wanita itu akan menjelaskan pertanyaan Anna? Ya, meskipun Anna sudah mengetahui keadaan keluarga Wendy yang sebenarnya.
Entah Anna salah lihat atau tidak, namun Wendy tampak tertegun sejenak sebelum menjawab pertanyaan Anna.
'Kenapa dia menanyakan itu? Tidak mungkin 'kan dia tahu keadaan keluargaku?' pikir Wendy. Namun, mengingat Anna adalah menantu dari keluarga Dominic, Wendy khawatir jika kebohongannya selama ini terbongkar.
"T-tentu saja keluargaku sangat kaya! Kalau tidak, aku tidak mungkin bisa mentraktir teman-temanku dan belanja barang-barang mahal!" kilahnya dengan gugup. Wendy berharap jika kekhawatirannya tidak terjadi dan Anna hanya bertanya karena benar-benar tidak tahu.
Melihat Wendy yang gugup ketika menjawab, Anna justru semakin ingin mempermainkan Wendy. Dia membayangkan bagaimana jika topeng Wendy terbongkar? Sepertinya akan sangat menyenangkan jika itu benar terjadi! Teman-temannya mungkin akan menjauhinya karena telah berbohong. Namun, tidakkah itu terlalu jahat? Anna jadi sedikit ragu untuk melakukannya!
Tidak! Aku harus membongkar kebohongan Wendy dan membuat dia sadar! tekad Anna dalam hati.
Benar. Ayah Wendy sudah tidak bekerja, jika Wendy terus meminta uang kepada ayahnya maka Wendy sangat keterlaluan! Anna harus menyadarkan Wendy dan membongkar kebohongannya selama ini, dia juga harus membuat Wendy meminta maaf karena ucapannya yang selalu kasar terhadap Anna.
"Kalau begitu, rumahmu pasti sangat besar," ucap Anna kepada Wendy. Anna tersenyum kepada teman satu pergaulan Wendy. "Apa kalian sudah pernah main ke rumah Wendy? Bagaimana rumahnya?"
Pertanyaan Anna membuat teman-teman Wendy saling bertatapan, jelas sekali bahwa mereka belum pernah berkunjung ke rumah Wendy yang mengaku kaya raya itu.
"Kau tidak berhak untuk bertanya! Ayo teman-teman, kita pergi!"
Sebelum keadaan semakin runyam, Wendy mengalihkan pembicaraan dengan mengajak teman-temannya pergi ke kantin. Dia berpikir bahwa pertanyaan Anna sangat menjebak. Jadi, sebelum teman-temannya terpancing ke dalam pembicaraan yang lebih dalam mengenai dirinya, Wendy harus pergi menjauhi Anna.
Huh? Dia menghindariku? pikir Anna yang melihat kepergian Wendy. Namun, jangan harap jika Anna akan menyerah begitu saja.
Lagi-lagi Anna mengikuti Wendy dari belakang. Anna tak peduli meskipun Wendy menghindarinya berapa kali pun karena dia akan tetap mengikuti Wendy dan memprovokasi wanita itu.
Di kantin, Wendy duduk di meja dengan empat kursi. Di sana sangat teduh karena terhalang oleh pohon besar yang rindang, tempat yang bagus untuk berkumpul dengan teman-teman sebaya sambil menikmati makanan.
Karena Wendy hanya bergaul dengan kedua temannya, satu kursi yang kosong menjadi tempat Anna untuk duduk. Anna duduk tanpa permisi dan tersenyum lebar ke arah Wendy.
"Kau mengikuti ku?" tuduh Wendy seraya menyipitkan mata.
"Apa maksudmu? Aku hanya ingin duduk di sini karena tempatnya sangat bagus untuk bersantai sebelum masuk kelas," jawab Anna tak mau kalah.
__ADS_1
Wendy menggertakkan gigi. "Kau tidak lihat kalau teman-temanku tidak nyaman dengan kehadiranmu?!"
Anna sontak menatap kedua teman Wendy untuk memastikan pernyataan sepihak wanita itu.
"Aku tidak masalah." / "Aku juga."
Tampaknya kedua teman Wendy tidak mempermasalahkan kehadiran Anna seperti yang Wendy katakan. Dan tampaknya mereka juga tidak membenci Anna.
Anna tersenyum puas, dia melihat rahang Wendy yang mengeras karena menahan marah. Mungkin karena kedua teman dekatnya justru tidak setuju dengan perkataannya dan memperbolehkan Anna bergabung.
"Ya sudah jika kalian tidak masalah dengan wanita ****** ini. Aku akan pergi!" Wendy geram. Dia lebih memilih pergi daripada bergabung dengan orang yang dia benci.
Wendy bangkit dari duduknya dan meninggalkan mereka bertiga, termasuk Anna. Namun, tentu saja Anna tidak akan diam saja dan tetap mengikuti Wendy ke mana pun dia pergi.
"Tunggu!" teriak Anna sambil berlari kecil menyusul Wendy.
Melihat Wendy yang semakin menjauh, Anna refleks mempercepat larinya hingga dia berhasil menggapai pergelangan tangan Wendy dan membuatnya berhenti.
Dengan napas terengah-engah, Anna berkata, "Kubilang ... tunggu ...."
Ya, Anna sudah mendengar itu saat bertemu di gerbang. Wendy tidak ingin meminta maaf atas sikap kasar dan omong kosongnya terhadap Anna.
"Baik, baik, aku mengerti." Anna memejamkan mata sejenak, lalu menatap mata Wendy. "Kenapa kau memfitnah aku? Padahal kita bahkan tidak saling mengenal? Apa aku pernah berbuat salah padamu?"
Rentetan pertanyaan Anna lontarkan kepada Wendy. Anna sungguh penasaran. Mengapa wanita yang tidak dia kenal menyebarkan gosip dan omong kosong mengenai dirinya?
"Ha! Jadi kau mengikutiku bukan hanya menuntut permintaan maaf, tapi juga karena penasaran dengan itu?" ucap Wendy dengan nada sarkastik.
Memang apa salahnya jika Anna penasaran dengan itu? Sebab, selama ini tidak ada orang yang mengusik atau menyebarkan gosip buruk tentangnya karena Anna tidak pernah mencari masalah apa pun.
Mendengus kesal, Wendy melipat kedua tangannya di depan dada seraya mendekati Anna yang tengah berdiri tak jauh darinya. Dia kemudian menunjuk Anna dengan jari telunjuknya dan menatapnya tajam.
"Asal kau tahu! Kau sudah menghancurkan rencanaku dan merebut Profesor Edgar dariku! Itulah yang membuatku sangat membencimu, Anna!"
Merebut? Wendy bahkan bukan siapa-siapa Edgar, mengapa dia mengklaim Edgar seolah-olah pria itu adalah miliknya?
"Apa maksudmu? 'Suamiku' bahkan tidak mengenalmu secara pribadi. Baginya, kau hanya salah satu murid yang tidak ada artinya di kampus ini!" Anna sengaja menegaskan kata 'Suamiku' di depan Wendy agar wanita itu sadar akan posisinya.
__ADS_1
Namun, Wendy justru tertawa mendengar penuturan Anna. Padahal tidak ada yang lucu dari penuturannya itu. Mengapa Wendy tertawa? Apakah ada yang salah dengan perkataan Anna?
"Apa Profesor Edgar yang mengatakan itu padamu? Bahwa dia tidak mengenalku secara pribadi?" ucap Wendy yang masih tertawa kecil.
Mengapa Wendy seolah-olah mengatakan bahwa ucapan Edgar padanya adalah bohong? Namun, tidak mungkin jika Edgar membohonginya! Jika Edgar mengatakan bahwa dia tidak mengenal Wendy secara pribadi maka itu pasti benar.
Anna masih memilih diam dan fokus mendengarkan Wendy yang belum selesai berbicara. Dia ingin mendengar pernyataan dari wanita itu.
"Dengar, Anna. Jauh sebelum kau menikah dengan Profesor Edgar, aku sudah dekat dengannya atau lebih tepatnya aku 'lah yang mendekati Profesor Edgar dengan segala cara." Wendy menyisipkan rambut Anna ke belakang telinganya. "Kau tahu mengapa?"
Anna bergeming.
"Karena aku tahu kalau Profesor Edgar adalah putra tertua keluarga Dominic meskipun dia tidak pernah mengakuinya secara langsung dan bahkan menutupi identitasnya di kampus."
Tepat. Tidak ada yang tahu bahwa Edgar adalah bagian dari Dominic sang pemilik perusahaan besar meskipun dia tidak menghilangkan marganya. Sebab, marga Dominic bukan hanya ada satu keluarga, melainkan banyak.
"Aku berusaha mendekatinya karena dia kaya! Namun, dia sama sekali tidak tertarik padaku meskipun aku berdandan cantik dan seksi! Lalu ... kau tiba-tiba menikah dengannya di saat aku masih berusaha mencuri hati pria itu, Anna!"
Matanya melebar, Anna tak habis pikir dengan kenyataan yang dia dengar. Wendy tidak memiliki perasaan terhadap Edgar, namun dia menginginkan Edgar karena hartanya!
"Kau terkejut? Kau pasti berpikir jika aku menyukai Profesor Edgar." Wendy menyeringai kecil.
Lama terdiam, akhirnya Anna membuka suara untuk membalas perkataan Wendy. Dia tidak ingin mendengar cerita wanita itu lagi.
"Kalau begitu, menyerah 'lah! Profesor Edgar sudah menjadi suamiku. Kau sudah gagal mendekatinya!" tegas Anna.
"Tidak! Aku tidak akan membiarkannya begitu saja. Jika aku tidak bisa mendapatkan Profesor Edgar maka kau yang harus pergi dari sisinya!"
Bruk!
Wendy mendorong tubuh Anna dengan keras hingga terjungkal ke tanah. Senyuman puas terukir ketika mendengar Anna yang mengerang sakit karena jatuh.
"Akh!" erang Anna. Kedua tangan yang menopang tubuhnya terluka terkena batu-batu kecil. Anna berdiri seraya membersihkan pakaiannya yang kotor. "Tadinya aku tidak ingin melakukan ini, tapi haruskah aku membongkar semuanya tentangmu?"
"Kau!" geram Wendy. Namun, di balik semua itu sebenarnya dia sangat takut dengan perkataan Anna. "Jangan menggertak, Anna!"
"Kau pikir aku hanya menggertak saja?!" Anna tersenyum sinis. "Kau hanya seorang anak yang suka berfoya-foya di atas penderitaan orang tua-mu! Ups, atau hanya ayahmu karena ibumu sudah tiada!"
__ADS_1