Tiba-Tiba Menikah!

Tiba-Tiba Menikah!
Kejutan Gagal


__ADS_3

Edgar merapikan meja kerjanya. Seharian ini dia sibuk mengajar beberapa materi yang sempat terlewat kemarin. Pekerjaannya di perusahaan juga sedang banyak, dia kewalahan karena harus mengerjakan dua profesi sekaligus. 


"Sepertinya aku harus memikirkan tawaran Ayah," gumam Edgar. 


Sejujurnya Edgar ditawarkan sesuatu yang menarik oleh ayahnya. Pria paruh baya itu menyuruh Edgar untuk menggantikan posisinya sebagai CEO perusahaan. Ya, posisi Edgar di perusahaan adalah sebagai direktur yang bekerja secara diam-diam dan tanpa diketahui identitasnya. Direktur bayangan. Namun, jika Edgar menerima jabatan CEO yang selama ini diisi oleh ayahnya maka dia harus berhenti menjadi seorang dosen di kampusnya mengajar sekarang dan identitasnya akan terungkap ke publik.


Edgar meninggalkan ruangan kerjanya, dia berjalan menuju tempat parkir dan menunggu kedatangan istri tercintanya pulang dari kuliah. Namun, tiga puluh menit berlalu pun Anna belum terlihat sama sekali. 


"Maaf, Profesor, apakah Anda menunggu Anna?" tanya seorang mahasiswa. 


Edgar menatap mahasiswa itu. "Hn. Bukankah kau di kelas yang sama dengan Anna? Apa kau melihatnya?"


"Anna dan Grace sudah pulang dari tadi. Mungkin mereka ingin segera beristirahat karena tadi pagi dihukum membersihkan toilet karena terlambat masuk kelas."


Edgar terkejut mendengar penuturan mahasiswa itu. Tidak biasanya Anna pulang lebih dulu tanpa memberitahunya. Lalu apa tadi? Dihukum? Padahal dirinya dan Anna berangkat lebih awal dari biasanya, bagaimana mungkin dia terlambat masuk kelas bersama Grace? Semua itu benar-benar membingungkan. 


Berhubung Anna sudah pulang lebih dulu, Edgar tidak perlu lagi menunggu di tempat parkir dan menjemur dirinya di bawah terik matahari. Dia langsung pulang menggunakan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi agar cepat sampai di apartemen. 


"Anna?" panggil Edgar begitu sampai di apartemen. Seharian ini dia tidak bertemu Anna sama sekali selama di kampus, dia juga ingin memastikan keadaan Anna yang katanya dihukum membersihkan toilet. 


Perlahan Edgar melangkahkan kakinya menuju kamar utama, mencari keberadaan Anna yang sudah dipanggil pun tidak ada jawaban atau sosoknya yang ke luar. Nihil. Anna tidak ada di kamar. Tadinya Edgar akan keluar dari kamar, namun niatnya tidak direalisasikan ketika mendengar suara air mengalir di kamar mandi. 


Ah, sepertinya Anna ada di kamar mandi. Pantas saja dia tidak mendengar panggilanku! pikir Edgar. Dia duduk di sisi ranjang, menunggu Anna keluar dari kamar mandi. 


***


Anna mencuci tangannya di wastafel, dia baru saja menampung urine di wadah kecil dan mencelupkan test pack ke dalamnya. Sebenarnya Anna ingin memberi kejutan kepada Edgar tentang kehamilannya, namun karena usia kehamilannya masih muda, dia tidak bisa memberikan foto USG bayi untuk Edgar. Oleh sebab itu, Anna akan memberi Edgar hasil test pack yang baru saja dia lakukan. 


Setelah menunggu lebih dari sepuluh detik, Anna mengangkat test pack dan melihat dua garis merah muncul di atasnya. "Wah, benar-benar muncul!" ucap Anna. Dia merasa takjub ketika melihat sebuah alat kecil tapi bisa mendeteksi kehamilan. 

__ADS_1


Dengan perasaan senang, Anna berjalan keluar dari kamar mandi. Dia membuka pintu secara perlahan sambil menatap test pack yang dipegangnya. "Sekarang aku tinggal membungkusnya lalu memberikannya kepada Edgar sebagai kejutan," gumam Anna. 


"Kejutan apa?"


Suara bariton itu mengejutkan Anna yang tengah bergumam sendiri. Anna sontak menyembunyikan test pack itu ke belakang tubuhnya dan menggigit bibir bawahnya. 


"Kau sudah pulang?" ucap Anna, mengalihkan pembicaraan. 


"Kau belum menjawab pertanyaanku. Kejutan apa?" tanya Edgar lagi. Edgar kemudian mengalihkan pandangannya pada sesuatu yang Anna sembunyikan di belakang tubuh wanita itu. "Apa yang kau sembunyikan?"


Anna terkekeh. "A-apa maksudmu? Aku tidak menyembunyikan apa pun."


Bodohnya Anna, dia mengatakan itu sembari masih menyembunyikan tangannya ke belakang. Edgar yang tak bisa dibodohi pun sontak meraih paksa tangan Anna hingga benda yang ada di genggaman Anna berpindah ke tangannya. 


"Test pack?" Edgar menatap test pack, lalu beralih menatap Anna. "Kau hamil?"


"Iya, aku hamil."


"Terima kasih, Anna. Aku sangat bahagia."


"Hn. Tadinya aku akan memberimu kejutan yang luar biasa, tapi kau sudah mengetahuinya duluan." Anna menghela napas panjang. Kejutannya gagal total bahkan sebelum kejutan itu dibuat sedemikian rupa. 


"Ah, maaf. Apa seharusnya aku tidak mengetahuinya sekarang?" ucap Edgar. 


Edgar bukan orang yang memiliki tingkat kesabaran yang tinggi, ketika dia mengetahui Anna menyembunyikan sesuatu darinya, dia harus tahu apa itu. Dia tidak suka dengan orang yang selalu menyembunyikan sesuatu tanpa sepengetahuannya. 


Anna berjinjit sedikit dan mencium bibir Edgar sekilas. "Selamat karena akan menjadi seorang ayah. Semoga kita bisa menjadi orang tua yang baik untuk calon anak kita, Ed."


Edgar tersenyum seraya mengelus kepala Anna. Banyak sekali kata-kata yang ingin dia ungkapkan, namun sulit untuk mengatakannya secara langsung. Dia kemudian berjongkok menyamakan tingginya agar sepantar dengan perut Anna dan menyandarkan kepalanya di perut Anna yang masih rata. 

__ADS_1


"Kenapa ini tidak bergerak?" tanya Edgar kebingungan. Dia ingin mendengar detak jantung calon bayinya dengan telinganya sendiri. 


"Dasar bodoh! Tentu saja tidak akan terdengar jika tidak menggunakan alat khusus!" ucap Anna. 


"Kalau begitu aku akan meminta Dokter Bryan untuk memeriksa kandunganmu dan membuatku bisa mendengar detak jantung calon bayiku."


Edgar sangat antusias dengan keinginannya saat ini hingga permintaannya sangat tidak masuk akal dan sangat dipaksakan. 


"Kalau tidak salah ... detak jantung bayi akan terdeteksi kalau usia kandungan sudah enam minggu dan ...."


Anna menggantung ucapannya sambil menatap Edgar. Sementara itu Edgar hanya diam sembari mengangkat satu alisnya ke atas, menunggu Anna melanjutkan ucapannya. 


"... aku tidak tahu berapa usia kandunganku. Jadi aku tidak yakin apakah keinginanmu bisa terwujud hari ini atau mungkin harus menunggu sedikit lebih lama lagi," lanjut Anna. Entah mengapa dirinya merasa sudah membuat Edgar kecewa. 


"Ah ... kalau begitu kita bisa memeriksa usia kandunganmu terlebih dahulu bersama Dokter Bryan."


Memang pada dasarnya Edgar adalah orang keras kepala yang keinginannya harus selalu diwujudkan, dia tidak bisa jika harus menunda keinginannya itu. 


Edgar memanggil Dokter Bryan ke apartemennya untuk memeriksa kandungan Anna. Dikatakan bahwa usia kandungan Anna baru memasuki empat minggu, masih ada dua minggu jika Edgar ingin mendengar detak jantung bayi dengan bantuan alat medis dan harus menunggu empat belas minggu lagi jika ingin mengetahui jenis kelamin bayinya. Waktu yang cukup lama untuk menunggu.


"Apakah kami masih bisa melakukan hubungan badan meskipun istriku sedang hamil?" celetuk Edgar di saat Dokter Bryan baru selesai menjelaskan kondisi kandungan Anna. 


Dokter Bryan menyeringai mendengar pertanyaan Edgar, sedangkan Anna tersipu malu. 


"Apa hanya itu yang kau pikirkan?" ucap Dokter Bryan sembari menggelengkan kepala. 


"Jawab saja!" 


Dokter Bryan terkekeh. "Boleh. Kalian boleh melakukan hubungan badan kapan pun kalian menginginkannya."

__ADS_1


***


__ADS_2