
Perasaan hangat menjalar hingga ke seluruh tubuh Anna, kala mendengar pernyataan Edgar yang terdengar sangat tulus.
Jika Edgar meminta Anna untuk selalu berada di sampingnya maka dengan senang hati Anna akan melakukannya. Berada di samping pria yang dicintainya merupakan suatu kebahagiaan besar dalam hidup Anna.
"Sssshh ...!"
Dinginnya angin malam semakin menusuk kulit, Anna mengutuk dirinya yang memakai gaun pendek di atas lutut. Kaki jenjangnya gemetaran, bahkan mulutnya mengeluarkan asap tatkala dia sedang menghembuskan napas di malam yang dingin itu.
"Berdirilah. Kita harus masuk ke dalam rumah karena cuaca di luar semakin dingin."
Anna menerima uluran tangan Edgar yang membantunya berdiri. Karena udaranya terlalu dingin, Anna merasakan kakinya sedikit kram sehingga sakit ketika dipaksakan berdiri.
"Akh!"
Belum sempat berdiri tegak, Anna kembali pada posisi duduknya karena tak kuasa menahan kakinya yang kram dan kebas.
"Aku tidak akan mengizinkanmu keluar dengan gaun pendek lagi! Lihat? Kau bahkan tidak bisa berdiri dengan benar karena kedinginan!"
Meskipun Edgar mengomentari Anna dengan pedas, namun sikapnya berbanding terbalik dengan ucapannya. Dalam hitungan detik, putra sulung keluarga Dominic itu menggendong Anna ala bridal style dan membuat orang yang berada dalam gendongannya terkejut.
Bukan main! Edgar mampu menggendong Anna tanpa mengeluh sedikit pun! Tubuh Anna memang terlihat mungil, namun berat badannya lebih dari 50 Kg, cukup berat untuk bisa digendong oleh orang lain.
Memasuki rumah, Edgar menurunkan Anna di atas sofa ruang tengah di mana sudah terpasang penghangat ruangan.
"Tunggu di sini, aku akan membuatkanmu coklat panas."
"Juga selimut. Aku membutuhkannya untuk menghangatkan kakiku."
Tadinya Anna berpikir kalau Edgar akan membuatnya kopi seperti waktu itu, tapi untungnya tidak. Jika mengingat kembali kejadian di mana Anna menghadap Edgar di ruangannya, Anna sontak tak mampu menahan tawa.
Waktu itu Anna sempat berpikiran buruk tentang pria yang akan menjadi pasangan menikahnya dan mengutarakan pikirannya langsung di depan Edgar. Namun, pria yang sempat dibicarakan Anna ternyata adalah Edgar sendiri. Sungguh memalukan!
Sementara itu, selama Anna masih menunggu kedatangan Edgar yang sedang membuat coklat panas, Kevin muncul entah dari mana dan duduk di sofa yang sama dengan Anna.
"Kurasa dunia memang sempit, tetangga rumahku sebentar lagi akan menjadi adik iparku."
"Maaf, Profesor. Bolehkah saya bertanya?"
Meskipun Anna tidak terlalu menyukai Kevin, namun Anna harus bersikap sopan pada pria itu karena dia adalah sepupu Edgar.
Tanpa menunggu jawaban dari Kevin, Anna mengutarakan pikirannya secara terang-terangan mengenai hubungan Kevin dengan keluarga Dominic padahal marga mereka tidak sama.
"Jika Profesor adalah sepupu Edgar, mengapa marga Anda berbeda?"
Pada akhirnya pertanyaan yang membuat Anna penasaran terucap dari mulutnya.
"Itu karena yang bermarga Dominic adalah ibuku. Beliau merupakan kakak perempuan Paman William. Marga Rowman yang aku pakai merupakan marga ayahku. Tapi, mereka berdua sudah meninggal saat aku duduk di bangku SMA."
__ADS_1
Itulah mengapa Kevin tinggal sendiri di rumah kosong samping kediaman Florence. Seketika Anna jadi merasa bersalah karena sebelumnya bersikap kasar pada pria itu.
"Apa Edgar bersikap kasar saat kalian sedang berdua? Misalnya, menggigit bibirmu saat sedang berciuman?"
Blush. Wajah Anna memerah bak kepiting rebus setelah mendengar pertanyaan yang mengejutkan dari mulut Kevin. Bagaimana Kevin bisa mengetahuinya? Apa dia seorang cenayang? Berbagai macam pertanyaan muncul di kepala Anna.
"T-terkadang dia seperti itu ... ehemm."
Akibat terlalu malu, Anna menjawab pertanyaan Kevin dengan sedikit gugup tanpa melakukan kontak mata.
Bodoh! Seharusnya aku tidak perlu menjawab pertanyaannya! rutuk Anna dalam hati.
Lagi pula, mengapa Kevin bertanya seperti itu? Jika pria itu ingin membuat Anna merasa malu maka dia berhasil melakukannya!
"Aku harap kau akan baik-baik saja dengan Edgar dan menerima segala kekurangan serta masa lalunya."
Tanpa diminta pun, Anna pasti akan menerima Edgar apa adanya. Jika Edgar memiliki kekurangan maka Anna akan mencoba melengkapinya. Lagi pula, setiap orang pasti memiliki kekurangan, begitu pula dengan Anna.
Sementara Anna masih diam, Kevin kembali berbicara dengan ekspresi yang lebih serius dibanding sebelumnya.
"Edgar pernah mengalami sesuatu yang buruk di masa lalu sehingga membuatnya trauma dan sakit. Untuk itu aku memohon padamu agar bisa membantu Edgar sembuh dari penyakitnya."
"Apa yang kalian bicarakan?"
Bertepatan dengan selesainya pembicaraan antara Anna dan Kevin, Edgar datang dengan membawa nampan berisi dua gelas coklat panas dan selimut tebal yang dililitkan di lehernya.
"Kau sudah selesai?"
"Untukmu. Minumlah agar tubuhmu terasa lebih hangat."
"Kau tidak membuatkannya untukku?"
Baik Anna maupun Edgar, mereka sama-sama menolehkan kepalanya ke arah Kevin yang menginterupsi kemesraan mereka.
"Tangan dan kakimu baik-baik saja, jadi buatlah sendiri!"
"Cih!Kau hanya baik pada seorang wanita. Kalau begitu aku akan membuatnya sendiri!"
Melihat perseteruan antara Edgar dengan Kevin, sontak membuat Anna menggelengkan kepala. Mereka beradu mulut hanya karena hal sepele. Sungguh kekanak-kanakan!
Setelah Kevin beranjak dari sofa, Anna menarik tangan Edgar agar duduk di sampingnya. Kepalanya sengaja dia sandarkan pada bahu Edgar sambil memejamkan mata.
"Aku tidak melihat Ayah dan Ibu."
"Pfft ... kau benar-benar memanggil mereka dengan sebutan itu?"
Sebenarnya, Anna pun merasa sedikit geli dan belum terbiasa dengan panggilan tiba-tiba itu. Namun, Anna akan mulai membiasakannya karena sebentar lagi dia akan menjadi istri Edgar.
__ADS_1
"Jangan meledekku! Bagaimanapun, mereka akan menjadi mertuaku dan aku harus memanggilnya dengan sebutan Ayah-Ibu."
"Baiklah, aku mengerti. Mereka sedang berada di balkon menikmati wine kesukaan mereka."
Begitu harmonisnya kedua orang tua Edgar. Meskipun umur mereka sudah tidak muda lagi, namun mereka tetap akur dan tak kalah romantis dengan pasangan yang masih muda. Anna bahkan cemburu dengan kemesraan mereka.
Di saat Anna larut dalam pikirannya sendiri, tiba-tiba pikirannya teringat dengan ucapan Kevin yang menyebutkan bahwa Edgar sakit.
"Ed, apa kau punya penyakit kronis?"
Anna bertanya tanpa berbasa-basi sedikit pun.
"Tidak."
Jawaban singkat seperti itu tidak akan membuat Anna puas. Sejujurnya Anna sangat penasaran, mengapa Kevin tiba-tiba membahas Edgar dan masa lalunya? Apa yang sebenarnya terjadi pada Edgar di masa lalu? Banyak sekali pertanyaan yang menumpuk di dalam kepalanya.
"Omong-omong, aku belum tahu mengenai dirimu di masa lalu seperti apa. Apa kau mau menceritakannya?"
Setelah bertanya seperti itu, Anna dapat merasakan tubuh tersentak Edgar. Seperti yang Kevin katakan, tampaknya Edgar memiliki masa lalu yang membuatnya trauma dan belum diceritakan pada Anna.
"Sudah malam, aku akan mengantarmu pulang."
Bukannya menjawab, Edgar malah mengalihkan pembicaraan. Anna jadi semakin penasaran dengan masa lalu yang Edgar sembunyikan. Mengapa pria itu tidak ingin menceritakan masa lalunya?
Namun, jika Edgar tidak ingin menceritakannya maka Anna pun tidak akan memaksa. Anna akan menunggu Edgar menceritakan masa lalunya hingga pria itu siap.
"Baiklah. Bolehkah aku tetap memakai jas milikmu?"
"Pakailah dan jangan dikembalikan. Kau bisa menyimpannya untuk dirimu sendiri."
Syukurlah karena Edgar adalah orang yang tenang dan pandai menyembunyikan perasaan. Anna sempat khawatir karena sudah menyinggung perasaan pria itu dan akan membuatnya marah.
Bangkit dari sofa, Anna mengikuti Edgar dari belakang menuju garasi tempat terparkirnya mobil sport merah. Mobil yang dipakai Edgar untuk menjemput Anna dan sekarang akan mengantarkan Anna pulang.
Selama di perjalanan, mereka hanya diam seribu bahasa sehingga waktu berjalan terasa lebih lambat dari biasanya. Meskipun Edgar bersikap tenang, namun Anna tidak tahu perasaan yang sedang Edgar pendam dalam hatinya. Kesal, marah, atau apa pun itu, Anna sama sekali tidak tahu.
Selang beberapa menit, Anna dan Edgar telah sampai di depan kediaman Florence. Keheningan masih berlangsung sampai saat Anna hendak keluar dari mobil. Namun, sebelum benar-benar pergi dari mobil, Anna mengecup bibir Edgar sekilas dan membuat pria itu menoleh.
"Terima kasih karena telah mengantarku pulang."
Anna menyunggingkan bibirnya membentuk senyuman dan menjauhkan dirinya dengan tubuh Edgar.
"Anna ...."
Mendengar Edgar berbisik pelan memanggil namanya, Anna sontak membalikkan badan menghadap pria yang akan menjadi suaminya itu.
"Hm? Ada ap-"
__ADS_1
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Edgar sudah menarik Anna ke dalam ciuman lembut yang memabukkan.
Ed, aku tidak tahu masa lalumu seperti apa, akan tetapi aku akan tetap mencintaimu sepanjang hidupku.