
"Lalu bagaimana dengan yang kemarin?" Lagi-lagi Edgar bertanya. Dia belum puas dengan jawaban Kevin.
Pertanyaan Edgar membuat Anna dan Grace saling memandang dan memberi kode. Mereka penasaran dengan apa yang sedang dibicarakan para pria. Namun, sepertinya Anna sedikit paham dengan maksud Edgar. Pasti Edgar sedang mempertanyakan soal wanita yang kemarin sempat dibicarakan olehnya.
Anna mengangkat bahunya berpura-pura tidak tahu. Lagi pula, itu bukan urusannya dan tidak ada hubungannya dengan Anna.
Terlihat Kevin tengah kesal karena mendapat pertanyaan dari Edgar. Sudut mata Kevin berkedut dan bibirnya sedikit miring. Karena dari awal sudah berbohong, tampaknya Kevin harus meneruskan kebohongannya.
"Yang kemarin?" Kevin menaikkan sebelah alisnya. "Dia hanya salah satu kenalanku, Ed. Kau pasti tahu kalau aku terkenal, bukan?"
Kevin mengatakan yang sebenarnya, meskipun masih ada sedikit kebohongan. Jika memikirkan kejadian kemarin, Kevin tanpa sadar teringat dengan Venna. Apakah wanita tua itu akan kembali mencari Edgar dan dirinya? Kevin khawatir jika wanita tua itu mengulangi perbuatan kejinya.
Tak ingin terus diinterogasi, Kevin memanfaatkan bianglala yang sudah berhenti untuk mengalihkan pembicaraan.
"Sepertinya giliran kita sudah selesai." Kevin keluar dari bianglala terlebih dahulu. "Ke mana tujuan kita selanjutnya?"
Namun, Edgar bukan orang bodoh yang bisa dengan mudah teralihkan oleh situasi. Edgar menyusul Kevin keluar dari bianglala dan berdiri di samping Kevin.
"Aku tahu, kau sedang menyembunyikan sesuatu," lirih Edgar dan membuat Kevin bergeming.
Memangnya sudah berapa lama Edgar dan Kevin saling mengenal? Mereka sudah bersama sejak masih bayi. Apalagi karena mereka saudara sepupu dan memiliki aliran darah Dominic yang sama. Hanya melihat dari ekspresi wajah dan cara bicara Kevin, Edgar bisa mengetahui kalau ada sesuatu yang salah dan disembunyikan oleh sepupunya.
Di samping itu, Edgar tidak bisa memaksa Kevin untuk berterus terang. Jika Kevin tidak ingin memberitahunya maka Edgar akan menunggu hingga Kevin menceritakan masalahnya sendiri tanpa ada paksaan.
"Ehem!" Anna berdeham untuk mencairkan suasana yang terlihat suram. "Aku dan Grace ingin pergi ke rumah hantu."
Rumah hantu? Mengapa para wanita selalu menginginkan hal-hal yang aneh padahal mereka sebenarnya takut? Edgar tak habis pikir dengan keinginan Anna dan Grace.
Edgar menatap ke arah Kevin. "Kau memikirkan hal yang sama?"
"Hn." Tentu saja Kevin juga berpikir kalau keinginan Anna dan Grace sangat aneh. Namun, dia tidak bisa menolak permintaan mereka karena itu akan merusak citranya.
Ya, sekarang ini Kevin dan Edgar tidak bisa menolak keinginan dua orang wanita yang sedang berkencan dengan mereka. Jika menolak, mungkin dua orang wanita itu akan menganggap mereka penakut! Oh, jangan sampai mereka dicap seperti itu!
__ADS_1
Edgar dengan Anna, Kevin dengan Grace. Mereka berjalan beriringan memasuki rumah hantu secara bersama-sama.
"Jangan lepaskan pegangan tanganmu dariku, lalu kau bisa memelukku jika kau merasa takut," ucap Edgar.
Krak!
Seperti piring yang pecah, hati Kevin berkecamuk ketika dihadapkan oleh kemesraan Anna dan Edgar. Kevin cemburu sekaligus marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa mengontrol perasaannya padahal dia sedang bersama dengan Grace.
Aku tidak boleh seperti ini! pikir Kevin. Tanpa sadar tangannya menggenggam tangan Grace erat dan perlakukannya itu membuat Grace salah paham.
Grace tidak bisa menahan rasa senangnya. Dia tersenyum malu-malu dan wajahnya merona ketika Kevin menggenggam tangannya.
"Kyaaa!"
Teriakan kencang Anna tiba-tiba terdengar dan membuat semua orang yang ada di rumah hantu terkejut. Anna bahkan memukuli hantu yang tiba-tiba muncul di hadapannya dengan tas jinjingnya.
Panik karena perlakuan Anna yang memukul para hantu, Edgar kemudian mendekap tubuh Anna dan menyuruh staf yang berdandan menjadi hantu untuk segera pergi.
"Anna, mereka hanya staf yang berpakaian seperti hantu! Bukan hantu sungguhan!"
Agar Anna tidak lagi bertemu dengan staf yang menjadi hantu, Edgar menyuruh Anna u untuk menutup mata rapat-rapat, sedangkan dia menuntun Anna berjalan. Edgar melakukan itu karena dia merasa kasihan dengan para staf yang berkostum hantu. Mereka pasti kesakitan setelah dipukuli oleh tas Anna.
"Ed, apa jalan ke luarnya masih jauh?"
Ketakutannya sudah mencapai batas. Anna merasa kalau seluruh badannya merinding hingga membuat jantungnya berdebar sangat kencang. Rumah hantu memang sesuatu yang efektif untuk memacu adrenalin.
Grep!
Langkahnya tertahan, Anna bisa merasakan sebuah tangan yang memegang pergelangan kakinya. Anna sangat takut, padahal dia sudah menutup matanya rapat-rapat seperti yang Edgar perintahkan.
"Ed, kakiku ... ada sesuatu di kakiku!" ucap Anna dengan bibir bergetar. Dia menarik pakaian Edgar agar membantunya terlepas dari tangan yang menahan kakinya.
Melihat ekspresi ketakutan Anna, Edgar nyaris tertawa lepas karenanya. Bagaimana bisa Anna jadi terlihat menggemaskan bahkan ketika wanita itu ketakutan? Seharusnya Edgar mengabadikan momen itu. Jarang-jarang dia melihat Anna mengeluarkan ekspresi ketakutan, namun menggemaskan.
__ADS_1
Edgar menahan tawanya, lalu beralih memelototi staf hantu yang menahan pergelangan kaki Anna hingga melepaskan tangannya. Ya, jika staf itu tahu kalau teman-temannya sudah menjadi korban timpukan tas Anna, mungkin staf tersebut tidak akan berani mendekati bahkan menyentuh Anna sedikit pun.
Setelah lama berputar-putar mencari jalan keluar, akhirnya mereka sampai di pintu ke luar yang penuh dengan cahaya. Karena baru saja keluar dari ruangan yang gelap, cahaya matahari yang menerpa wajah mereka membuat mereka kesulitan untuk melihat.
"Aduh, mataku!" pekik Grace.
"Sepertinya kita berhasil menaklukkan rumah hantu!" ucap Anna sumringah. Dia tidak tahu kalau tiga orang lainnya menatapnya malas sambil menggelengkan kepala. Siapa lagi kalau bukan Edgar, Kevin, dan Grace.
Grace menghela napas panjang. "Lain kali, aku tidak akan mengajakmu ke rumah hantu lagi."
"Kenapa? Tadi itu seru sekali!"
Memang seru, namun bukan rumah hantunya yang seru dan menyenangkan, melainkan karena kehebohan Anna selama berada di sana.
Kevin menepuk pundak Edgar. "Ed, istrimu sungguh luar biasa!" sindir Kevin secara halus. Menurutnya Anna memang luar biasa, apalagi soal memukul orang.
"Diamlah!" sungut Edgar, "Anna, kau harus meminta maaf kepada staf yang sudah kau pukuli dengan tas."
"Tapi, aku 'kan tidak sengaja ...."
Mengapa Anna harus meminta maaf? Lagi pula, Anna memukul mereka karena ketakutan dan itu terjadi begitu saja. Anna sama sekali tidak berniat menyakiti mereka.
"Aku tahu kau tidak sengaja, tapi kau harus tetap meminta maaf kepada mereka. Mereka pasti babak belur karena dipukul oleh tasmu itu."
"Baiklah."
Pada akhirnya Anna menurut pada Edgar. Dia meminta para staf rumah hantu untuk berkumpul dan langsung meminta maaf kepada mereka secara tulus. Anna dapat melihat wajah para staf itu memiliki beberapa luka lebam akibat pukulan. Akibatnya, mereka tidak bisa bekerja lagi dan harus digantikan sementara oleh orang lain.
"Aku tidak tahu jika mereka akan lebam-lebam seperti itu," celetuk Anna.
"Kau memukul mereka dengan sekuat tenaga, Anna. Wajar saja jika wajah mereka seperti itu!" jawab Grace. Grace berpikir bahwa Anna sudah seperti sosiopat. Menakutkan sekali!
"Cih! Aku hanya takut. Lagi pula, kalian juga pasti ketakutan 'kan? Bersyukurlah karena aku mewakili ketakutan kalian untuk memukul mereka."
__ADS_1
"Tidak!" ucap Grace, Kevin, dan Edgar serempak. Mereka sungguh sangat tidak setuju dengan pernyataan Anna yang tidak berdasar.
Takut? Sepertinya hanya Anna yang merasa ketakutan saat berada di rumah hantu. Grace pun sebenarnya takut, namun rasa takutnya tidak berlebihan seperti Anna.