Tiba-Tiba Menikah!

Tiba-Tiba Menikah!
Apa Apa dengan Keluargaku


__ADS_3

Memang benar apa yang dikatakan Edgar, mereka bahkan baru melakukan hubungan intim dua minggu yang lalu, tidak mungkin jika langsung mengandung. Namun, tentu saja pendapat orang lain berbeda! Sebab, yang mereka tahu adalah fakta bahwa Anna dan Edgar telah menikah lebih dari dua bulan! 


Menghela napas, Anna menyenderkan kepalanya di jendela mobil dan tiba-tiba teringat sesuatu. 


"Ah benar!" Anna menoleh pada Edgar. "Ed, aku tadi melihat wanita tua yang waktu itu aku bicarakan padamu. Dia berdiri di jendela dengan tatapan aneh, tapi dia langsung lari ketika aku datang."


Wanita tua? Ketika Anna menceritakan itu, Edgar mulai berpikir bahwa bayangan hitam yang sempat dia lihat mungkin saja adalah wanita tua itu. Namun, siapa sebenarnya wanita tua itu? 


Ckiiiit!


Sreett! 


Larut dalam pikirannya, Edgar hingga tak fokus mengemudi dan nyaris menabrak seseorang yang lewat. Untungnya, dia sempat menginjak rem dan membanting setirnya ke arah lain. 


"Akh!" pekik Anna ketika badannya condong ke depan karena rem mendadak, "Ed, berhati-hatilah! Kau hampir saja membuat kita kecelakaan!"


"Maaf, aku tidak fokus pada jalanan."


Khawatir dengan orang yang nyaris tertabrak, Edgar sontak bergegas keluar dari mobil untuk memastikan orang tersebut. Namun, dia terkejut ketika mendapati bahwa orang yang nyaris tertabrak tersebut adalah adik laki-laki Anna, Andy. 


"Andy?" Edgar membantu Andy berdiri.


Andy? batin Anna ketika dia mendengar Edgar menyebut nama adiknya. 


Anna keluar dari mobil, menyusul Edgar. "Apa yang kau lakukan di sini? Kau tidak sekolah?" 


Andy bergeming, tidak menjawab pertanyaan Anna. Biasanya, Andy selalu membalas perkataan sang kakak, namun kali ini dia diam saja seolah-olah ada sesuatu yang disembunyikan.


"Aku tanya! Kenapa kau tidak sekolah?!"


Lagi. Anna bertanya dengan nada tinggi, dia penasaran dengan sang adik yang berkeliaran di jalanan pada jam sekolah. Sekarang baru jam 11.15 pagi, namun adiknya berada di luar dengan berpakaian bebas.


"Sayang, tenanglah ... biarkan Andy masuk mobil, dia pasti syok karena kejadian barusan."


Edgar paham jika Anna marah pada Andy yang tidak masuk sekolah, namun mereka tengah berada di jalan, banyak orang-orang yang melihat dan lewat jalan tersebut! Tidak baik jika Anna dan Andy bertengkar di sana. 


Anna menghela napas. "Baiklah! Sekarang masuk mobil, kita akan pulang bersama ke kediaman Florence."


Anna berpikir jika dia sudah lama tidak bertemu keluarganya. Oleh sebab itu, dia berniat untuk mampir ke rumah keluarganya sekaligus meminta penjelasan Andy yang berkeliaran di jalanan yang bahkan jauh dari rumah dan sekolahnya. 

__ADS_1


"Aku akan meminta penjelasan darimu setelah sampai di rumah!" ucap Anna lagi. 


Masuk mobil, mereka bertiga hanya diam tanpa ada yang berniat membuka pembicaraan. Edgar fokus menyetir, Anna kesal dengan kejadian yang menimpanya, dan Andy melamun seraya melihat ke luar jendela mobil. Mereka terus seperti itu hingga tiba di kediaman Florence. 


"Ayah ... Ibu ...," panggil Anna. 


Karena Anna bagian dari keluarga Florence, Anna langsung masuk rumah tanpa membunyikan bel pintu. Dia bersyukur karena kode pintunya masih sama seperti sebelumnya, jadi dia bisa masuk kapan saja ke rumahnya yang dulu.


Memasuki dapur, Anna sontak membuka kulkas dan meneguk sebotol air mineral hingga habis. Dia merasa haus karena terlalu banyak bicara dan marah-marah. 


"Kau ini! Sudah menikah dengan Edgar, tapi tetap saja masih seenaknya begitu!" ucap Olivia. 


"Ibu?!"


Membelalakkan mata, Anna refleks memeluk Olivia dengan erat untuk mengobati rasa rindunya.


"Ibu rindu sekali padamu. Kau datang sendiri, Nak?"


Anna menggeleng. "Aku datang bersama suamiku, lalu bertemu Andy di jalan. Ayah di mana?"


"Ayah sedang bekerja. Dia menjadi seorang sopir taksi sekarang."


"Lalu ... bagaimana dengan Andy? Kenapa dia tidak masuk sekolah? Padahal keliatannya baik-baik saja!"


Olivia tertegun ketika mendapat pertanyaan dari Anna mengenai Andy. Dia menggigit bibir bawahnya, ragu untuk menjawab. 


"Adikmu ...."


"Aku di-skors karena memukul seseorang di sekolah," potong Andy yang tiba-tiba datang. 


"Apa? Kau di-skors karena memukul seseorang?!"


Anna berbicara dengan meninggikan suaranya, dia tak habis pikir dengan jawaban menohok yang dikatakan sang adik. Bagaimana bisa adiknya di-skors karena melakukan kekerasan? Andy bukan tipe orang yang suka mencari masalah, namun dia berkata bahwa dirinya memukul seseorang di sekolah dan membuatnya di-skors?! 


Menggertakkan giginya, Anna menahan diri untuk tidak menarik kerah kemeja Andy dan memarahinya habis-habisan. 


"Kenapa kau memukulnya?! Tidak ada seorang pun di keluarga ini yang mengajarkanmu menjadi berandalan yang suka mencari masalah di sekolah! Kau hanya membuat Ayah dan Ibu malu! Kau tahu itu?!"


Andy mendengus ketika mendengar omelan Anna. 

__ADS_1


"Kau!" geram Anna, "siapa yang kau pukul?! Lebih baik kau segera minta maaf padanya!"


"Kakak selalu saja menyalahkanku! Tidak bisakah Kakak mendengar alasanku memukulnya?" Andy kesal karena dia disalahkan oleh Anna tanpa tahu kebenarannya. 


"Aku tidak butuh alasan! Jelas-jelas perilakumu salah!"


"Terserahlah! Anggap saja kalau perkataan Kakak selalu benar!" ucap Andy seraya berlalu. 


Andy pergi ke luar rumah dengan perasaan kesal, dia kecewa karena Anna yang merupakan kakaknya tidak memberinya kesempatan untuk menjelaskan situasi yang dialaminya. 


Sementara itu, Edgar yang sejak tadi menyimak pertengkaran antara Anna dan Andy dari kejauhan, sontak menghampiri Anna yang berada di samping ibu mertuanya. 


"Maaf, Ibu, bolehkah aku membawa Anna ke belakang rumah?" tanya Edgar kepada Olivia. 


"Silahkan ... Ibu titip Anna padamu, ya, Nak Edgar."


Edgar membawa Anna ke belakang rumah. Di sana mereka duduk di sebuah kursi panjang yang menghadap ke arah taman bunga milik keluarga Florence. 


"Aku mendengar semuanya mengenai Andy. Menurutku dia memiliki alasan mengapa dia memukul temannya di sekolah," terang Edgar. 


Anna menatap wajah Edgar dengan dahi mengerut. "Kau membelanya?"


"Bukan begitu, namun kau juga pasti tahu kalau Andy bukan orang yang akan sembarangan memukul orang lain tanpa alasan. Dia pasti memiliki alasan kuat hingga membuatnya melakukan kekerasan di sekolah. Lagi pula, kau 'kan kakaknya, seharusnya kau bisa mengajaknya berbicara baik-baik."


Memang, Anna selalu beradu mulut dengan Andy setiap hari. Mereka berdua tak pernah akur walau sedetik pun, namun bukan berarti mereka saling membenci. Pertengkaran antar saudara adalah hal wajar karena semua orang pun melakukannya.


Entah mengapa Anna jadi merasa bersalah setelah mendapatkan nasihat panjang lebar dari Edgar. Dia berpikir bahwa perkataan Edgar ada benarnya. Mungkin karena Anna terlalu banyak pikiran, dia jadi melampiaskan kekesalannya pada Andy. 


"Semua ini membuatku pusing," lirih Anna. 


"Bagaimana kalau kita mencari tahu lebih lanjut mengenai masalah Andy? Kita bisa mendatangi sekolahnya dan meminta keterangan dari mereka?" usul Edgar. 


"Ya, kurasa itu bukan ide yang buruk."


Sudah terlambat untuk meminta penjelasan Andy, dia pasti sangat kecewa karena Anna menuduhnya dan tidak mempercayainya. Jadi, menyelidiki biang masalahnya mungkin akan sangat berguna untuk mengetahui alasan mengapa Andy memukul temannya hingga diskors. 


"Bukankah Andy sekolah di Gwinnett School? Aku punya kenalan di sana!" Edgar memegang tangan Anna. "Mari kita berangkat!"


"Tunggu, Ed. Bagaimana dengan Andy? Aku takut jika dia pergi jauh dan tidak pulang ke rumah."

__ADS_1


__ADS_2