Tiba-Tiba Menikah!

Tiba-Tiba Menikah!
Kedatangan Nyonya Besar Dominic


__ADS_3

"Aku maafkan karena kau suamiku."


Karena pria lebih kuat daripada wanita, Edgar lebih cepat pulih dari demamnya setelah meminum obat dan dikompres beberapa kali.


"Demamnya sudah turun. Kurasa kau sudah bisa bergerak bebas, Ed."


"Kau salah, aku masih sedikit lemas. Jika saja aku mendapat sebuah ciuman, mungkin tenagaku akan kembali."


Bisa-bisanya Edgar bercanda setelah sembuh dari demam, namun Anna bersyukur karena suaminya sudah sehat kembali, bahkan sudah bisa membuat lelucon konyol.


Cup!


Sebuah kecupan ringan mendarat di bibir Edgar, membuat pria itu tak bisa menahan seringainya. Entah mengapa dia rindu dengan suasana seperti ini, suasana yang penuh cinta dan kemesraan. Hatinya merasa bersalah karena tidak berkata jujur pada Anna mengenai kelainan yang berasal dari trauma masa lalunya.


"Sepertinya aku tidak mengatakan kecupan, tapi ciuman. Jadi, yang barusan tidak dihitung karena tidak sah," ucap Edgar masih dengan seringainya.


Meskipun perkataan Edgar sedikit menyebalkan, namun itu lebih baik daripada Edgar yang selalu menghindarinya. Anna senang karena sifat Edgar yang lama menghilang telah kembali. Sifat menyebalkan, suka memerintah, dan agresif!


"Jangan main-main denganku! Tanpa aku cium pun, energimu sudah kembali pulih seperti tidak pernah mengalami demam!"


Ting tong!


Mendengar suara bel berbunyi, sontak Anna berlari kecil untuk melihat siapa yang datang melalui interkom. Dia terkejut ketika mendapati Lucia - ibu mertuanya berdiri di depan pintu.


"Ibu? Silahkan masuk. Apa Ibu datang sendirian?"


Anna bertanya setelah sebelumnya membukakan pintu apartemen untuk Lucia. Ibu mertuanya datang dengan membawa tas besar di tangannya. Entah apa isi tas tersebut, namun Anna tidak berniat untuk bertanya.


"Menantuku, bagaimana kabarmu? Dimana Edgar?"


"Baik, Bu. Edgar ada di dalam kamar, Ibu tunggu saja di sofa, Anna akan memanggilnya ke luar."


Jika orang lain bertanya kabar, tentu saja jawabannya baik. Tidak mungkin Anna berkata bahwa dia dan Edgar baru saja mengalami demam tinggi. Entah bagaimana reaksi ibu mertuanya nanti jika mengetahui kebenarannya!


Anna masuk kembali ke dalam kamar dan menyuruh Edgar menemui Lucia yang tengah menunggu di sofa. Tentu saja Edgar terkejut dengan perkataan Anna. Sebab, baik orang tua Anna maupun orang tua Edgar, mereka tidak pernah berkunjung setelah acara pernikahan mereka.


"Apa tujuan Ibu datang ke sini?" ucap Edgar tanpa basa-basi.


Pertanyaan Edgar sangat mewakilkan Anna. Sebenarnya Anna juga penasaran dengan tujuan kedatangan Lucia ke apartemen mereka, namun dia tidak berani bertanya secara langsung.


"Kau dan ayahmu sama saja!" Lucia mendengus kesal. "Ibu ingin menginap di sini."


"Apa Ibu bertengkar dengan Ayah?"


Lucia tidak menjawab, dia hanya mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Karena Edgar bukan orang bodoh, dia mengetahui jawabannya sendiri setelah melihat respon Lucia. Tampaknya kedua orang tua Edgar memang sedang bertengkar.


"Ibu boleh menginap di sini," celetuk Anna tiba-tiba.


Anna berusaha mencairkan suasana yang sedikit mencengkam di antara suami dan ibu mertuanya. Padahal mereka baru saja bertemu, namun sudah terjadi keributan kecil.


"Oh menantuku sayang, terima kasih karena telah mengizinkan Ibu menginap di sini."


"Tidak! Lebih baik Ibu menginap saja di hotel. Aku tidak ingin waktu kami terganggu!"


Edgar tidak setuju dengan pendapat Anna. Lagi pula, mengapa ibunya ingin menginap di apartemen mereka sementara dia bisa menyewa, bahkan membeli hotel.


"Ibu ingin sekalian melihat kegiatan kalian saat di rumah."


"Maksudnya Ibu berniat memata-matai kami?" Edgar menaikkan sebelah alisnya.

__ADS_1


"Ed, jangan begitu!" Anna mencoba menenangkan Edgar agar tidak berbicara yang aneh-aneh pada ibunya sendiri.


"Ibu tidak mengerti kenapa kau jadi sensitif seperti ini. Memangnya salah jika Ibu ingin tahu kegiatan kalian saat di apartemen?"


Sebenarnya Anna sedikit bingung dengan kegiatan yang dimaksud Lucia, mertuanya. Padahal semua yang mereka lakukan tidak jauh berbeda saat sebelum mereka menikah, terkecuali tidur bersama.


"Baiklah! Aku mengizinkan Ibu menginap di sini, tapi jangan menganggu Anna. Anna perlu banyak istirahat dan waktu luang untuk belajar, dia masih kuliah."


Lucia tersenyum lembut. Dia bangga pada Edgar karena memperlakukan istrinya dengan baik. Sepertinya Anna sangat berharga untuk putra sulungnya itu.


"Ah! Apa kalian sudah makan makan? Ibu memasak banyak hari ini."


Anna sempat mengira kalau tas yang dibawa mertuanya adalah pakaian ganti, namun ternyata isinya makanan!


Karena Anna dan Edgar mengalami demam di hari yang sama, mereka tidak sempat memasak dan hanya memakan bubur instan yang dibeli di supermarket. Anna bersyukur karena ibu mertuanya datang dengan membawa masakan rumah.


"Apa Ibu yang memasak semuanya?" tanya Anna penasaran dengan dua kotak makan yang dikeluarkan Lucia dari tas.


"Tentu saja! Ibu bahkan memasak chicken cordon bleu kesukaan Edgar."


Chicken cordon bleu dibuat dari gulungan daging ayam tipis yang diisi dengan ham dan keju, dilapisi tepung roti, kemudian digoreng. Anna baru tahu kalau Edgar menyukai makanan itu.


"Kalau begitu Ibu dan Edgar duduk saja di meja makan, Anna yang akan menyiapkan makanan ini."


Anna mencoba memberikan mereka berdua waktu untuk saling mengobrol. Meskipun mereka adalah ibu dan anak, namun sifat mereka bertolak belakang. Edgar mewarisi wajahnya dari Lucia Dominic, namun sifatnya persis seperti sang ayah, William Dominic.


"Selesai!" Anna berhasil menata piring-piring berisi makanan dengan rapi di atas meja makan.


Duduk di samping Edgar, Anna kemudian memuji masakan Lucia ketika suapan pertama masuk ke dalam mulutnya.


"Mmm, enak sekali!" Anna melanjutkan suapan kedua. "Apa Ibu yang memasak makan malam ketika kita membahas pernikahan?"


Anna tersenyum saat tebakannya dibenarkan.


"Anna hanya menebaknya karena rasa masakan ini sama persis dengan yang waktu itu."


"Wah, ternyata menantuku sangat pandai mengecap rasa!"


Lucia senang karena ada yang memuji masakannya. Sebab, baik anak maupun suaminya tidak pernah mengatakan apa pun saat menyantap masakannya.


"Itu karena masakan Ibu sangat enak. Benarkan, Ed?" Anna menyenggol lengan Edgar.


Sementara itu, Edgar hanya berdeham kecil menyetujui perkataan Anna. Dia bukan orang yang dengan mudah memuji orang.


"Apa Anna sudah hamil? Ibu tidak sabar ingin menimang cucu."


Hamil? Mereka saja baru melakukannya semalam, mana mungkin langsung hamil. Namun, mereka tidak mungkin mengatakan itu pada Lucia.


"Ibu ... kami bahkan belum lama menikah dan Ibu sudah menanyakan cucu?"


Edgar tampak kesal dengan pertanyaan Lucia. Bagaimana tidak? Ibunya terlalu ikut campur dengan kehidupan pernikahannya dan Anna.


"Ssssttttt, Ed!" Anna menggenggam tangan Edgar yang ada di bawah meja. "Ibu tenang saja, kami akan memberikan cucu secepatnya."


"Ibu akan senang jika benar begitu. Sering-seringlah berhubungan badan di waktu suburmu dan jangan lupa minum vitamin."


Meskipun Lucia berniat baik dengan berbagi tips untuk Anna, namun hati Anna merasa tidak nyaman saat mendengarkan tips dari ibu mertuanya. Seolah-olah Anna dan Edgar tidak benar-benar berusaha untuk memiliki bayi, padahal kenyataannya tidak begitu.


Apa orang tua Edgar tidak mengetahui tentang kelainan Edgar? Tapi Profesor Kevin mengetahuinya! pikir Anna.


Anna masih mengingat ucapan Kevin saat acara makan malam di kediaman Dominic. Saat itu Kevin mengatakan bahwa Edgar memiliki penyakit akibat trauma masa lalunya dan meminta Anna untuk membantu menyembuhkannya.

__ADS_1


Sebelumnya Anna berpikir kalau Edgar memiliki penyakit kronis, namun ternyata penyakit yang di maksud Kevin adalah sebuah kelainan seksual.


"Anna, apa yang kau pikirkan?"Edgar menepuk pelan bahu Anna hingga lamunannya buyar.


"A-apa? Aku hanya sedang berpikir bagaimana caranya agar hamil anak kembar," ujar Anna berbohong.


"Anak kembar?" Ucap Edgar dan Lucia serempak.


Untuk mengalihkan pembicaraan, Anna sontak berdiri dan membereskan piring-piring kotor di atas meja.


"Kalian sudah selesai makan? Kalau begitu aku akan membereskannya."


Anna kemudian membawa piring-piring kotor itu ke dalam wastafel dan mencucinya hingga bersih. Dia sengaja membuat dirinya sibuk agar terhindar dari pembicaraan seputar kehamilan.


Ketika Anna tengah membersihkan satu piring kotor yang tersisa, tiba-tiba Edgar memeluknya dari belakang sehingga membuat Anna terkejut dan hampir memecahkan piring yang dipegangnya.


"Ed? Kau membuatku terkejut!"


Sungguh perbedaan yang nyata ketika rahasia Edgar masih tertutup rapat dengan ketika sudah terbongkar.


Edgar yang selalu menghindari Anna selama dua bulan penuh, kini kembali manja dan agresif, sama seperti saat masih menjadi sepasang kekasih.


"Anna ... jika aku bukan sadisme, mungkin aku akan mengurungmu di atas ranjang setiap hari."


Namun, Edgar tidak bisa melakukan seperti yang diinginkannya. Sebab, walaupun Anna berkata bahwa dirinya rela menjadi korban dari kelainan seksualnya, nyatanya Edgar tidak bisa membiarkan belahan jiwanya kesakitan.


"Memangnya yang seperti itu tidak bisa diobati?"


Segala penyakit dan kelainan pasti ada obatnya, itulah yang ada di pikiran Anna.


"Aku tidak yakin, tapi dokter pribadi keluarga Dominic menawarkan pengobatan untuk kelainanku. Dia adalah dokter yang merawatku saat setelah aku diculik."


"Siapa saja yang mengetahui tentang kelainan seksualmu? Apa orang tuamu mengetahuinya?"


Karena semua piring kotor sudah bersih kembali, Anna kemudian melepas sarung tangan yang dia pakai dan berbalik menghadap Edgar.


"Kevin dan Dokter. Hanya mereka berdua."


Anna paham jika sang dokter mengetahui kelainan seksual Edgar karena dokter itulah yang merawat Edgar. Namun, mengapa Kevin juga mengetahuinya?


"Bagaimana Profesor Kevin bisa mengetahuinya, sedangkan orang tuamu tidak?"


"Karena Kevin diculik bersamaku, tapi dia tidak dilecehkan oleh wanita gila itu."


Raut wajah Edgar terlihat sedih sekaligus kesal. Wajar saja karena Anna secara tidak langsung menanyakan kejadian yang ingin dilupakan Edgar. Kejadian yang membuat Edgar menjadi seorang sadisme. Kelainan seksual yang merasa puas ketika menyakiti seseorang secara fisik maupun psikis.


"Itu ... sebaiknya kita segera tidur, aku ada kuliah besok pagi." Anna sengaja mengalihkan pembicaraan. "Ke mana Ibu?"


"Ibu sudah masuk ke kamar tamu. Katanya dia lelah dan ingin segera beristirahat."


Anna bersyukur karena dia selalu membersihkan seluruh apartemen tanpa melewatkan satu ruangan pun. Jadi, kamar tamu yang dipakai ibu mertuanya sudah dalam keadaan bersih.


"Kalau begitu kita juga harus segera masuk kamar. Lagi pula, aku mulai kedinginan karena pakaianku tipis."


Seringai jahil muncul di wajah Edgar. "Tenang saja, aku akan memelukmu erat agar kau tidak kedinginan lagi."


"Kyaaaaa!" teriak Anna saat Edgar membopongnya di depan dada.


Sementara Anna dan Edgar sibuk bercanda satu sama lain, Lucia tersenyum saat mengintip putra dan menantunya begitu harmonis melalui pintu yang sedikit dibuka.


"Sia-sia saja aku mengkhawatirkan mereka. Sepertinya Grace salah memberi info."

__ADS_1


__ADS_2