Titisan Penakluk Jin

Titisan Penakluk Jin
Bab 10


__ADS_3

Setelah hampir 3 jam pak Trisno berkendara, sampailah pak Trisno di rumah Ki Dharmo di daerah Gunung Kawi. Setelah memarkirkan mobilnya di depan pagar rumah Ki Dharmo, pak Trisno turun dari mobil dan segera mengambil barang keperluan ritualnya dari dalam bagasi belakang.


Kebetulan Ki Dharmo sedang santuy merokok di teras rumahnya, melihat kedatangan pak Trisno, Ki Dharmo lantas berdiri dan menuju ke depan rumah menghampiri pak Trisno.


"Wahhh, sudah semua nih barangnya mas?" tanya Ki Dharmo.


Pak Trisno yang sedang sibuk mau mengambil barang di bagasi belakang tak sadar kalau Ki Dharmo sudah berada disampingnya.


"Ehh ki, iya sudah siap semua Ki sesuai apa yang tercatat di kertas yang Ki tulis," jawab pak Trisno.


"Baiklah ayo masuk dulu kedalam, barangnya gak usah di turunin, nanti kita langsung saja menuju tempat ritual di atas." kata Ki Dharmo sambil menunjuk sebuah bukit di belakang rumahnya yang letaknya agak jauh.


"Iya ki, Terima kasih." Pak Trisno kembali menutup bagasinya dan menuju kedalaman rumah Ki Dharmo.


Di dalam rumah Ki Dharmo, pak Trisno di beri sedikit gambaran mengenai tata cara pelaksanaan ritual nanti. Waktu yang tepat untuk melaksanan ritual adalah malam hari, sekarang masih pukul 5 sore, jadi mereka menunggu sehabis isya untuk berangkat ke tempat ritual yang di maksud.


Sebelum berangkat ke tempat ritual, Ki Dharmo menyuruh pak Trisno untuk mandi menggunakan air kembang telon yang sudah di bacakan mantra oleh Ki Dharmo. Setelah itu mandi, mereka berdua berangkat menuju bukit di belakang rumah Ki Dharmo.


Setelah hampir 1 jam mereka menyusuri jalan sempit berlumpur, akhirnya mereka sampai di sebuah tanah kosong. Dan pak Trisno pun memberhentikan mobilnya.


"Parkir di sini aja gak papa, kita nanti jalan kaki masuk ke dalam hutan. Gak terlalu jauh kok, mungkin sekitar setengah jam berjalan kaki," kata Ki Dharmo.


"Baik Ki, saya ambil dulu barangnya di belakang," sahut pak Trisno.


"Baik, ayo saya bantu," kata Ki Dharmo.


Mereka memasuki hutan kecil yang "memang" biasa di buat ritual kejawen. Seperti ritual cari jodoh, pesugihan, penglaris, dan lain-lain.


Setelah kira-kira 20 menit berjalan menempuh jalan setapak yang agak basah bekas hujan gerimis tadi sore, mereka berdua sampailah di sebuah pondok kecil yang terbuat dari anyaman bambu yang letaknya agak jauh di sebelah kanan arah mereka datang.


Suara gemericik air dari sungai kecil yang ada di sekitar serta suara jangkrik dan kodok yang bersahut-sahutan menghiasi langit malam kelabu tak berbintang, awan kelam menutupi cahaya bulan yang sedang dalam fase bulan separuh.

__ADS_1


Aku memandang dan memindai keadaan sekitar. Sesekali desir angin berhembus pelan dan sesekali juga bertiup kencang menghempaskan daun-daun kering sampai gugur ke tanah dan ranting pohonpun ikut bergerak tak tentu arah di terpa angin malam itu. Pohon kapas dan sawo yang menjulang tinggi seperti hendak menggapai langit itu pun tak luput dari pandanganku.


"Mari masuk ke pondok itu, pondok itu adalah punya saya, saya dan tamu saya yang lain biasa melakukan ritual apapun di pondok itu." Kata Ki Dharmo tiba-tiba sambil berjalan mendahului pak Trisno.


"Owalah iya Ki, siap." Pak Trisno bejalan mendekati pondok itu menyusul Ki Dharmo yang sudah duluan masuk kedalamnya.


Mereka meletakkan semua barangnya di lantai dan segera menyusun sesajen itu sedemikian rupa dan meletakkan nampan sesajen itu di tengah altar pemujaan.


"Baik, persiapan sudah selesai, sekarang Mas Trisno pahami dan ingat-ingat apa saja yang saya sampaikan tadi di rumah, dan nanti jangan lupa rapal mantra ini terus menerus sampai yang mbaurekso hutan ini menampakkan diri." Kata Ki Dharmo seraya menyerahkan selembar catatan berisi sebuah mantra.


"Selama ritual, saya akan menjauh dan menunggu di dekat air terjun, kalau berhasil, silahkan keluar pondok dan temui saya di air terjun kecil yang kita lewati tadi untuk ritual selanjutnya." Kata Ki Dharmo memberikan penjelasan.


"Ingat, mantabkan dalam hati, tak ada kata ragu, karena sekali ritual ini di mulai, pantang untuk di hentikan di tengah jalan, apabila itu terjadi, semua di luar tanggung jawab saya apabila terjadi sesuatu sama mas Trisno." raut muka Ki Dharmo berubah menjadi sangat serius.


"Iya Ki, saya sudah sangat siap lahir batin . Ini semua saya lakukan demi usaha dan masa depan saya. Jadi saya harus siap Ki." Sahut pak Trisno meyakinkan Ki Dharmo agak percaya padanya.


"Baiklah kalau begitu, saya tinggal dulu mas, ingat semua apa yang telah saya sampaikan." Kata Ki Dharmo sambil menuju pintu keluar.


Setelah ki Dharmo keluar pondok, pak Trisno memulai ritualnya. Di mulai dari menyalakan sebatang lilin kemudian membakar menyan madu di atas pembakaran yang sesekali di taburi garam agar asapnya semakin banyak.


Selanjutnya, pak Trisno meletakkan 3 butir telur ayam kampung di sebuah wadah kecil kemudian di atasnya di taruh 7 buah kelopak bunga kanthil.


Kemudian pak Trisno membuka secarik kertas yang ia dapat dari Ki Dharmo dan mulai merapalkan mantra yang tertulis di dalamnya,


Langit kang langsar gumebyar


  Sun siro bilih weni pangaksami


  Kangsaten gur bathin nepangi


  Nepangi kaluhuran ingkang mbaureksan

__ADS_1


  Jagat lor, kidul,etan, kulon


  Poro Danyang segoro gunung alas


  Katono marang jabang bayiku


  Jur tumindak lelakonku, getih mayit


  Rogo jiwo dawuhi samudro candhi olo


  Setelah membaca mantra itu, seketika di dalam ruangan pondok itu jadi bergetar, tembok dan tanah tempat pak Trisno duduk bersila mulai berguncang. Api lilin tiba-tiba mati, udara jadi semakin aneh, dingin tetapi lembab. Bulu kuduk pak Trisno berdiri ketika samar-samar terdengar sebuah geraman aneh dari udara kosong di hadapannya tetapi tak di hiraukannya.


Pak Trisno hanya fokus dan fokus tak memperdulikan sekitarnya. Karena pesan dari Ki Dharmo jangan pernah takut atau gentar apapun yang terjadi termasuk godaan dari bangsa jin lain yg bukan sosok yang ingin di panggil.


Godaan demi godaan di alami oleh pak Trisno, mulai dari penampakan makhluk seram seperti pocong, kuntilanak, genderuwo, sampai ndas glundhung yang tak henti hentinya mengganggu ritual pak Trisno. setelah lumayan lama bersemedi, sampailah pak Trisno pada titik dimana dia tiba-tiba mmerasakan hembusan angin kencang menerpa dan di ikuti bau kembang kenanga yang menyeruak begitu tajam.


Dari udara kosong akhirnya sosok yang di maksud mulai menampakkan diri. Sosok itu berwujud wanita cantik dengan kebaya merah, berambut panjang hitam terurai sepinggang, dan memakai mahkota kecil di kepalanya. Sosok itu adalah Nyi Sridewi, sosok jin cantik yang di percaya beberapa pelaku spiritual sebagai sosok yang bisa membuat sebuah usaha menjadi lancar.


Sosok itu mengambang di udara seraya berkata, "Lelakonmu telah aku terima, manusia! Apa permintaanmu?"


"Saya meminta kepada Nyi agar usaha hotel dan resort saya menjadi ramai dan saya mendapat banyak uang." Jawab pak Trisno.


"Baiklah, sekarang coba kau sembelih ayam cemani itu, peras darahnya, dan masukkan kedalam cawan itu, kemudian teteskan sedikit darahmu, lalu minum sedikit campuran darah itu dan sisanya tuangkanlah kedalam wadah yang berisi telur dan kembang kanthil itu."perintah Nyi Sridewi.


Pak Trisno segera menyembelih ayam  cemani itu menggunakan sebilah pisau yang telah di siapkan. setelah melakukan semua perintah Nyi Sridewi sampai menuangkan sisa campuran darah ke telur ayam kampung tadi.


Asap tiba-tiba keluar dari salah satu telur yang di guyur campuran darah tadi. Agak kaget, lantas pak Trisno mengarahkan pandangannya ke Nyi Sridewi.


"Ambil dan pecahkan telur itu." Perintah Nyi Sridewi.


"Baik Nyi." Pak Trisno melakukan apa yang di perintahkan.

__ADS_1


Setelah memecahkan telur itu, tiba-tiba...


**********


__ADS_2