Titisan Penakluk Jin

Titisan Penakluk Jin
Bab 15


__ADS_3

Syiuttttttt! Brughhhh!


"Adohhh adohhhh, siapa sih yang narik aku, gak pakai salam langsung main sedot aja! Pasti nenek nih yang melakukannya," kata Chandranala mengumpat.


Chandranala terjatuh terjengkang disebuah altar berbentuk bulat di tengah-tengah aula yang cukup luas. Disisi lingkaran altar terdapat delapan obor yang menyalakan api berwarna biru cerah.


Aula itu terbuat dari batu kasar yang timbul tenggelam tak beraturan di sepanjang dindingnya.


"Dimana ya ini?? Halooo, apa ada orang?" Chandranala berteriak.


Chandranala berfikir mungkin tempat ini berada di dalam gunung atau mungkin juga aula ini terletak di bawah tanah, ia masih mencoba mencari tahu kenapa ia tiba-tiba terseret ke tempat ini.


Ia bangkit dari posisinya serasa memicingkan mata memindai ke sekeliling tempat itu.


"Lahh itu kayaknya guru sama nenek?" Chandranala mencoba menebak siapa mereka.


Didapatinya dua sosok yang tak asing sedang berdiri di ujung depan altar itu. Dengan siluet tubuh yang sudah sangat ia hafal, Chandranala yakin mereka adalah orang yang ia kenal.


Benar saja mereka adalah guru Chandranala dan nenek Gurunya, Batara Argadhanu dan Nyai Pitaloka.


Nyai Pitaloka adalah wanita yang merawatnya sedari kecil sekaligus guru Chandranala. Banyak ilmu sihir dan Kanuragan yang telah diwariskan Pitaloka kepada Chandranala.


Nyai Pitaloka sudah berumur ratusan tahun, tetapi masih terlihat awet muda tanpa kerutan sedikitpun di wajahnya. Mungkin ini juga pengaruh dari betapa tingginya ilmunya dan juga ramuan-ramuan ajaib buatan sendiri yang sering ia konsumsi.


Berbeda dengan Argadhanu yang ilmunya lebih menjurus ke ilmu Kanuragan dan gerakan silat, Nyai Pitaloka lebih berfokus ke ilmu sihir dan membuat ramuan. Mungkin kalau orang barat menyebutnya lebih condong ke sosok "nenek sihir".


Nyai Pitaloka berperawakan seperti wanita dewasa normal pada umumnya dengan badan yang tidak begitu gemuk namun berisi. Tingginya kurang lebih sejajar dengan telinga Argadhanu ketika mereka berdiri sejajar.

__ADS_1


Nyai Pitaloka memakai pakaian berupa kemben batik terusan sampai lutut, digabung dengan kebaya berwarna serasi dan juga selendang yang berwarna biru muda. Rambutnya yang masih hitam berkilau digulung dan di satukan keatas menggunakan tusuk konde.


"Kau menariknya terlalu kuat Nyai," bisik Argadhanu kepada Nyai Pitaloka seraya menyikut pinggangnya.


"Ahahah, salah sendiri ia tak siap, makanya sampai terjengkang seperti itu saat aku tarik," sahut nyai Pitaloka sambil tertawa.


Setelah menepuk pantatnya dan mengibas-ngibaskan pakaian yang ia kenakan, Chandranala bergegas menghampiri dua sosok itu. Setelah sampai di hadapan mereka berdua, Chandranala melakukan hormat sambil menekuk salah satu kakinya dengan lutut yang menempel ke tanah.


"Hormat saya kepada guru dan nenek,"


"Apakah kau sudah berhasil mendapatkan botol itu Le?" Nyai Pitaloka bertanya dengan tetap berusaha menahan tawanya mengingat kejadian waktu Chandranala jatuh terjengkang beberapa saat lalu.


Memang mereka berdua adalah orang yang gemar sekali mengerjai murid-muridnya. Tak seperti guru atau pertapa lain yang memiliki sifat kaku dan otoriter, Argadhanu dan Nyai Pitaloka ini justru memiliki sifat yang fleksibel dan terkesan agak kurang serius.


Meskipun mempunyai sifat yang slengek-an, mereka berdua adalah ahli tingkat tinggi. Tak sedikit penantang ataupun musuhnya yang sudah mereka kalahkan dan juga dihancurkan sampai tak tersisa.


Sedangkan Batara Argadhanu sendiri adalah mantan perwira sebuah kerajaan di barat, beliau memutuskan untuk menjadi pertapa dan memfokuskan diri untuk mengabdikan seluruh hidupnya pada seni beladiri dan kanuragan. Karena menurutnya urusan politik hanyalah perkara sia-sia dan banyak membuang-buang waktu.


Pertemuan Batara Argadhanu dengan Nyai Pitaloka bisa dikatakan tidak disengaja. Mereka bertemu di sebuah pasar malam ketika Argadhanu berjalan tak sengaja menabrak Nyai Pitaloka yang sedang memakan ice cream Mixue, alhasil ice cream yang dipegangnya tumpah di jumper hoodie Argadhanu sampai menetes ke celana chinosnya. Akhirnya mereka berbincang, bertukar nomer WhatsApp dan hidup bahagia selamanya.


(Priiiittttt! Pelanggaran! Authornya lagi oleng, kerjaan menumpuk, otak jadi buntu, wkwkwkw) kita ralat ya pemirsahhhh, capcusss cyinnnn!


***


Flashback


Pertemuan Argadhanu dan Nyai Pitaloka terjadi saat Argadhanu bertapa di gunung Arjuna. Malam itu ia bersemedi didalam sebuah gua yang langit-langit bagian tengahnya berlubang sehingga cahaya bulan purnama pada malam itu bisa menembus masuk menerangi seisi dalam gua.

__ADS_1


Sayup-sayup suara bising terdengar dari kejauhan dan itu cukup mengganggu konsentrasi Argadhanu yang sedang memusatkan pikirannya bersemedi mempelajari ajian baru yang ia dapatkan beberapa hari lalu di gunung ini.


   Tringg..tringg..crshhh..syiutttt..duarrrrr


   Suara-suara itu terus menggema di dinding gua dan sesekali membuat seisi gunung dan sekitarnya bergetar.


"Hmmm, kurang ajar! Siapa yang sudah berani mengganggu semediku!" rasa marah dan kesal serta rasa penasaran bercampur jadi satu dalam benak Argadhanu.


Sejurus kemudian Argadhanu melompat tinggi ke arah lubang di atas gua dengan bertumpu pada batu yang ia duduki tadi. Lompatan Argadhanu ini bukan lompatan biasa melainkan lompatan sakilan jagat dari ajian Seifi Angin. Ajian yang bisa meringankan tubuh seperti angin, melakukan lompatan berpuluh-puluh meter dan juga bisa terbang sesuka hati.


Di pinggiran lubang gua bagian atas, Argadhanu melihat 3 orang sedang mengadu kekuatan dan kesaktian tetapi disana ada satu orang wanita yang sedang terdesak dan terluka lumayan parah dilihat dari ujung bibirnya yang mengeluarkan cairan merah kental yang mulai mengering.


Wanita itu dikeroyok oleh dua orang lelaki yang menggunakan golok, sesekali mereka beradu pedang diteruskan dengan pelepasan energi spiritual menimbulkan suara ledakan dahsyat diiringi tumbangnya beberapa pohon.


Wanita itu terlihat mulai melemah karena kelelahan menahan gempuran dari dua lelaki itu. Akhirnya si wanitapun tersungkur karena terkena serangan telak salah satu dari mereka. Wanita itu hanya bisa merintih menahan sakit akibat serangan itu.


Tak berselang lama, Argadhanu kemudian terbang melesat kearah mereka seraya membuyarkan perhatian mereka yang sebelumnya fokus untuk mengalahkan lawannya.


"Siapa kau tua Bangka! Berani-beraninya mengganggu pertarunganku!" umpat lelaki yang bertubuh hitam kekar serta bertanduk seperti kerbau seraya menunjuk Argadhanu menggunakan goloknya yang berkilauan bermandikan cahaya bulan.


Tak banyak kata, Argadhanu melesatkan kilatan cahaya kuning keemasan dari telapak tangan kanannya dan langsung menerjang dada lelaki itu, cahaya itu menembus dadanya dan menabrak dinding batu di belakangnya menyebabkan retakan yang begitu besar.


Laki-laki bertanduk itupun seketika tumbang membentur atap gua dengan lubang sebesar buah kelapa di dadanya.


"Kalian lah yang telah mengganggu semediku!" sahut Argadhanu sambil menoleh ke arah lelaki yang satunya seraya mengambil ancang-ancang untuk melepaskan ajiannya lagi.


"Tttt-tunggu dulu kisanak, tak pantas membunuh tanpa alasan yang jelas, maaf kan saya," kata lelaki bertubuh agak kurus yang juga memiliki sepasang tanduk di kepalanya. Berbeda dengan lelaki yang tumbang tadi, lelaki ini tanduknya lebih mirip seekor domba. Entah dari ras dan bangsa apa mereka Argadhanu tak begitu memperdulikannya.

__ADS_1


__ADS_2