Titisan Penakluk Jin

Titisan Penakluk Jin
Bab 37


__ADS_3

Wuishhh..wuishhh..


Angin malam berhembus lembut disela-sela jendela yang sedikit terbuka, gemerisik daun di pucuk pohon mangga juga terdengar lirih senada, bulan yang sedari tadi tertutup oleh gumpalan awan mendung sekarang sudah mulai menunjukkan keindahan cahayanya.


Nyanyian jangkrik dikejauhan terdengar sahut-menyahut merdu, seakan mengikuti irama lantunan daun dan rumput yang sedang menari syahdu. Dalam kamar yang redup, Arya terlelap dalam rengkuhan sang kakak yang sedang memeluk sendu.


"Adinda, adinda, bisakah kau ke alam jin sekarang?" panggil Chandranala dari alam jin lewat telepati.


"Ada apa Kakanda? Apa ada masalah sehingga Kakanda memanggilku?" tanya Prameswari yang sedikit terkejut dan penasaran.


"Iya Dinda, ada hal yang harus kita bahas dengan guru dan nenek, segera kemari, ke rumah nenek Pitaloka," sahut Chandranala terburu-buru.


"Baiklah Kakanda, aku akan segera kesana," jawab Prameswari sembari bangkit dari tempat tidur lalu berdiri memandang wajah adiknya yang sedang terlelap pulas.


"Kalau aku ke alam jin sekarang, siapakah yang akan menjaga adikku? Aku takut ketika aku tak ada disisinya, Arya akan mengalami suatu gangguan," batinnya mencari solusi.


"Hmm, haruskah aku meminta bantuan dia? Seharusnya bisa sih, ahh apa salahnya dicoba," Prameswari terlihat bergumam sendiri.


"Asih, Suciasih datanglah atas perintahku!" Prameswari menyebut sebuah nama sambil menutup mata, seakan akan mengundang seseorang untuk datang kepadanya.


   Kriekk..siyuttttt..crasssschhhh


   Hiihiiihiiihiii..


   Tiba-tiba jendela kamar terbuka perlahan seiring terdengarnya suara tawa yang cukup menakutkan, sekelebatan sesuatu seperti kain merah melintas dan menyeruak ke dalam kamar Arya dan mendarat tepat dihadapan Prameswari.


"Hihihihiii, ada apa Nyi Prameswari memanggilku?" sahut sosok itu sambil menyeringai menyeramkan.


Sosok itu menyerupai kuntilanak tetapi tak bergaun putih, melainkan berwarna merah darah dengan rambut panjang yang acak-acakan, kulit pucat pasi, kuku panjang yang berwarna hitam, serta wajah yang sedikit berdarah menambah kesan menakutkan bagi siapa saja yang melihatnya.


"Husshhh! Hentikan tawa konyolmu! Tak menakutkan sama sekali, malah terdengar menjijikkan," seru Prameswari sembari mengacungkan jari telunjuk ke arah kuntilanak merah itu.


"Heee, maaf Nyi udah kebiasaan soalnya heheh, ngemeng-ngemeng ada apa nyi memanggilku? padahal aku tadi lagi kencan ama si Wowo, hufftt" sahut Asih cengengesan.


"Sudah, kau tak perlu banyak alasan, alasanku memanggilmu kemari adalah untuk sementara menjaga Arya, adikku, sampai aku kembali," ucap Prameswari sembari menunjuk ke arah Arya yang sekarang sedang tidur telentang.


"Ohhh ini adiknya, lahhh udah gede bongsor gini napa masih perlu dijagain?" ujar Asih sambil melotot ke arah Arya.


"Jangan banyak komplain, kuntilanak kok banyak omong!" sahut Prameswari judes.


"Hmm tadi ketawa gak boleh, sekarang ngomong juga gak boleh, emang eike harus salto sambil ngangkang baru boleh?" jawab Asih kesal.


"Haduh, kesalahan emang aku udah manggil kau Asih," Prameswari menepuk jidat lalu menggelengkan kepalanya.


"Heheh, becanda atuh nyi, kan Nyi tau sendiri kalo aku suka becanda, ehhh ngiming-ngiming ganteng juga nih adeknya Nyi," wajah Asih terlihat berbinar ketika mamandang wajah Arya.

__ADS_1


"Awas jangan kau apa-apakan adikku," pesan Prameswari sedikit mengandung ancaman.


"Haduhhh iya-iya Nyi, galak banget sih!" sahut Asih sambil mengembungkan pipinya.


"Asih, selama aku di alam jin, tolong jaga adikku dari gangguan apapun, jangan sampai dia terluka atau kenapa-kenapa!" kata Prameswari begitu tegas.


"Ashiyappppp Nyi! Ehh kok Nyi bisa punya adik manusia? Aneh?" tanya Asih sambil meletakkan punggung tangan ke dagunya.


"Udah, jangan banyak tanya! Lakukan apa yang aku suruh! Dan satu lagi, rubah wajahmu menjadi lebih baik ketika Arya bangun dan melihatmu, aku tak mau dia ketakutan melihat wajahmu yang menyeramkan seperti ini!" tandas Prameswari.


"Shiyapppp nyonya besar!" Seketika wajah Asih berubah menjadi cantik namun masih pucat seperti mayat.


"Segini yah Nyi? Klo pucatnya gak bisa ilang, udah dari sononya, hmm pake blush on sabi kali ya?" kata Asih sambil mengelus pipinya sendiri.


"Iya udah segitu aja cukup, terus wajah siapa itu yang kamu pakai?" tuduh Prameswari.


"Yah wajah eike sendiri dong Nyi, wajah sebelum eike modar," jawabnya mengelak.


"Alahhh kamu pasti bohong, jin somplak kayak kamu pasti cuma ngambil wujud manusia yang sudah meninggal," bantah Prameswari.


"Iihhhh seriusan eike Nyi, ini mukaku asli kayak gini sebelum jadi Kunti," Asih ngeyel.


"Hah ya udah suka-suka kau lah, aku pergi dulu, kakang Chandranala sudah menungguku," Prameswari sudah mulai lelah menanggapi kunti yang agak somplak ini.


"Awas kau!" Prameswari kesal dan mengepalkan tangan ke arah Asih.


Seketika itu Prameswari hilang ditelan kesunyian malam menuju kembali ke alamnya, alam jin.


"Hmm, trus aku kudu ngapain ya? Masa cuma bengong doang nungguin bocah bongsor lagi turu?" gumamnya sambil mondar-mandir.


"Hmm youtuban aja deh,"


Asih bergerak mencari ponsel Arya mulai dari atas meja, di sebelah kasur, di balik bantal, tidak ketemu juga.


"Dimana sih nih bocah naroh hapenya?" gumam Asih kesal.


"Tau ahhh bete! Yaa wes mending ikut turu deh!" Asih naik ke kasur lalu membaringkan badannya di sebelah Arya.


______


Sementara itu di alam jin,


Tibalah Prameswari di depan rumah gurunya, Nyai Pitaloka yang juga nenek dari kekasihnya, Chandranala. Rumah sederhana yang terbuat dari plat-plat kayu persegi panjang sebagai dinding, dan juga ada beberapa pilar kayu sebesar pohon kelapa sebagai penyangganya.


Prameswari menghampiri pintu rumah yang sedikit terbuka, seraya mengucapkan salam,

__ADS_1


"Kulo nuwun Guru, Kakanda." seru Prameswari dari depan pintu.


"Monggo Nduk, masuklah," seru Nyai Pitaloka dari dalam.


"Kau sudah datang adinda," sahut Chandranala yang sedang meminum tuak dari buah Siwalan.


"Iya maaf Kakanda aku datang agak lama, aku harus menitipkan Arya pada si Asih ketika aku pergi kesini," jawabnya langsung duduk di sebelah Chandranala.


"Mana guru Argadhanu?" tambah Prameswari.


"Gurumu itu sedang dibelakang, dari tadi dia mengeluh sakit perut gara-gara makan buah yang aneh, hmm ada-ada aja kelakuan aki-aki somplak itu," Nyai Pitaloka mendengus sambil menggelengkan kepalanya.


"Huahhhh leganya, ehh muridku yang cantik sudah datang," kata Argadhanu yang muncul dari pintu belakang.


"Ehh iya guru, baru saja sampai," jawab Prameswari.


"Baru aja diomongin, udah muncul aja nih aki-aki peyot!" ucap Nyai Pitaloka mencela.


"Hmm, belum pernah ditampol pake sendal swallow nih nenek-nenek labil!" balas Argadhanu yang sekarang duduk di sebelah Nyai Pitaloka, mereka berempat sekarang duduk berhadapan.


"Udah-udah, mari kita bahas perihal Arya dan Cincin Rojomolo yang sebelumnya aku ceritakan," potong Chandranala tiba-tiba.


"Ohh Kakanda juga dapat wangsit dari Ki Bandung Bondowoso?" tanya Prameswari penuh antusias.


"Iya aku mendapatkan tugas besar dari beliau, begitupun guru dan nenek, mereka diberi tugas yang berbeda-beda termasuk aku," kata Chandranala menegaskan.


"Aku diberi perintah untuk mengambil cincin Rojomolo di dasar danau Tawangmangu yang terletak di Kerajaan Tirtokencono," ujarnya.


"Hmm, agak susah sih menurutku, secara diplomatis, kita sebagai warga kerajaan Agniamartho tidak bisa sembarangan masuk kedalam wilayah kerajaan Tirtokencono," ucap Argadhanu menimpali.


"Iya, aku juga berpendapat sama, kalian sudah tahu kan, keempat kerajaan besar di alam jin ini semuanya berseteru untuk memperluas wilayah masing-masing," sahut Nyai Pitaloka yang sedang menuang minuman kedalam gelas.


"Ada pula yang mengajukan gencatan senjata, atau membentuk aliansi, tetapi itu tak berlangsung lama, ujung-ujungnya keadaan kembali memanas sampai menimbulkan perang," tambah Nyai Pitaloka menjelaskan seraya memberikan gelas itu kepada Prameswari.


"Terima kasih guru," ucap Prameswari dan Nyai Pitaloka hanya membalas dengan senyum.


"Hmm bagaimana kalau aku menyusup atau merubah wujud menjadi orang lain atau makhluk lain?" ide Chandranala muncul tiba-tiba.


"Hmm, kau belum tahu ya kalau penjagaan di kerajaan Tirtokencono menjadi semakin ketat setelah insiden hilangnya putri Nawangwulan," ucap Argadhanu.


"Siapa itu putri Nawangwulan?" tanya Chandranala penasaran.


"Ia adalah..."


*******

__ADS_1


__ADS_2