
Masih di flashback Arya sebelum menghilang dari alam manusia,
Drappp-drappp-drappp (suara derap langkah sepatu kets bergema di lorong yang sunyi. Sesekali hentakan dari sepatu itu berdecit karena bergesekan dengan lantai yang kesat membuat siapapun yang mendengarnya mengernyit geli).
Ceklek..kriekkkkk
"Sumimasen sensei," (permisi guru) Arya membuka pintu seraya menyapa dosennya yang tengah berjalan berkeliling membagikan sebuah kertas berisi essay.
"Haii', dozo yoroshiku," (iya, silahkan) dosen Arya menjawab diikuti anggukan kepala seraya mempersilahkan Arya untuk duduk.
(Pada saat Arya berada di kelas sastra Jepang, semua percakapan yang ada di kelas ini sebenarnya menggunakan bahasa Jepang, tetapi tetap saya tulis menggunakan bahasa Indonesia, biar lebih gampang dan gak ribet bacanya, heheheh :D).
Bu Dosen kelas sastra Jepang ini tergolong dosen yang fun dan tidak terlalu kaku seperti dosen-dosen pada umumnya. Mungkin juga pengaruh dari usia, karena dijajaran dosen yang mengajar di kampus ini, Bu Dosen sastra Jepang ini tergolong yang paling muda yakni masih 33 tahun.
Dosen muda ini bernama Bu Agustina, salah satu guru cantik yang ada di kampus ini. Beliau lulusan S2 di Universitas Shimatsu di Kyoto, Jepang dengan bergelar master. Dan pekerjaan pertamanya yakni mengajar Sastra Jepang di universitas ini.
Dengan wajah rupawan serta tubuh yang sintal membuat siapa saja yang berada di kelasnya menjadi betah berlama-lama memandanginya. Tak jarang beberapa mahasiswa jones sering menjadikan Bu Agustina sebagai fantasy-nya ketika sedang mengocok membayangkan dosen ini sebagai salah satu artis JAV.
Hari ini Bu Agustina terlihat begitu anggun dengan kemeja ketat biru muda serta blazer warna navy. Di padukan dengan rok span berwarna hitam di atas lutut dengan sobekan kecil di ujung paha kirinya menambah pekat aura sensual yang ia pancarkan.
Sedangkan dua buah kancing bagian atas kemeja nya sengaja tak ia kaitkan, mungkin karena gerah atau memang dia gemar mengumbar belahan gunungnya yang sesekali terlihat mencuat ketika ia sedang menunduk.
"Arya, kemari sebentar, ambil kertas essaymu, kau kan belum ibu kasih," perintah Bu Agustina ketika ia sedang mencolokkan kabel USB di proyektornya.
"Baik sensei," Arya menyahut seraya melangkahkan kakinya menuju ke depan meja Bu Agustina yang sedang nungging di depan Arya berusaha membenarkan kabel yang sedang kusut. Membuat mata Arya sesekali melirik nakal kearah bulatan kenyal itu.
Setelah mengambil kertas essaynya, Arya kembali ke bangkunya dan mengeluarkan alat tulisnya. Bu Agustina yang sudah siap untuk mengajar ini tiba-tiba dikagetkan dengan suara ponselnya yang bergetar kencang dimeja.
Drrrrtttt-drrrrtttt-drrrrtttt
"Sebentar ya, ibu mau mengangkat telepon dulu, silahkan dicicil mengerjakan essaynya." pamit Bu Agustina seraya melangkahkan kaki keluar kelas.
"Ehh, uda liat pemandangan indah ente lempeng-lempeng aja," kata mahasiswa yang duduk di belakang Arya serasa menepuk belakang punggungnya.
__ADS_1
Arya pun menoleh dan nyengir, "Lempeng dengkulmu mlochot? Nih si Joni dari tadi udah tegang gara-gara liat ****** Bu Agustina tadi," kata Arya sembari menunjuk depan celananya yang sudah mengembung.
"Haahah, cenggur dong!" sahut teman Arya sambil tertawa.
"Ssstttt! lambemu lamis!" seru Arya ambil mengatupkan telunjuk didepan bibirnya.
Tiba-tiba segenggam kertas yang sudah diremas terbang kearah meja Arya dan jatuh tepat dihadapannya, Arya mengambil gumpalan kertas itu dan menoleh kearah datangnya kertas yang dilempar itu.
Di kursi paling sudut didekat pintu belakang kelas, terlihat gadis imut berambut sebahu yang sedang melambaikan tangannya kearah Arya.
Gadis itu adalah gadis yang terkenal paling asik, energik, serta gampang bergaul dengan mahasiswa lain. Badannya yang tergolong kecil diusianya dan wajahnya yang babyface, menambah kesan imut dan lucu. Sekilas tak ada yang menyangka kalau ia adalah seorang mahasiswi, karena perawakannya yang kecil seperti anak SMP.
Memang sejak lama gadis ini mempunyai rasa suka terhadap Arya, namun Arya menganggapnya hanya sebatas teman mengerjakan tugas karena tak hanya imut, ia tergolong anak yang pandai.
Tak jarang gadis ini selalu menggoda dan menunjukkan rasa sukanya kepada Arya secara terang-terangan didepan banyak orang. Terkesan agresif, namun banyak yang menganggapnya masih kekanak-kanakan.
Gadis itu menunjuk dengan dagunya kearah kertas yang disedang dipegang Arya, mengisyaratkan Arya untuk segera membukanya. Lalu dengan muka datar, Arya membukanya.
Arya membalik kertas itu dan menggambil penanya lalu menuliskan sesuatu diatasnya. Kemudian ia meremas kertas itu, lalu melemparkannya kepemilik sebelumnya. Dan ternyata meleset, kertas itu jatuh di dekat gadis berhijab putih, lalu diambilnya kertas itu seraya menengok kearah Arya.
Arya menunjuk kearah belakang gadis berkerudung itu, dan iapun menoleh kepada gadis imut berambut sebahu tadi. Gadis berhijab putih itu hanya mengangkat kedua bahunya dan memberikan kertas itu kepada gadis imut dibelakangnya. Gadis itupun buru-buru mengambil dan membukanya.
"Maaf Ciara, nanti sehabis kelas aku harus pulang bantuin mama nganterin pesanan, maybe next time ya, gomen!"
Arya memberi tanda dengan mengatupkan kedua telapak tangan didepan mukanya. Ciara hanya bisa cemberut sambil mengembungkan kedua pipinya yang chubby.
Arya hanya mengangguk tanda meminta maaf.
"Ehh Bambang, uda jaman teknologi ente masih aja pake lempar-lemparan surat, kan bisa tuh tinggal wa aja," kembali teman Arya yang duduk dibelakangnya nyeletuk.
"Gimana mau WA, kita aja gak punya nomer WA masing-masing, Din!" Arya menyahut cuek. Adin hanya menimpali dengan tepukan jidat.
Ceklekkk..krieekkk
__ADS_1
Pintu kelas terbuka, dan Bu Agustina kembali memasuki kelas.
"Gomenasai minasan, ibu harus ijin pulang hari ini, karena ada urusan mendadak, kita lanjut besok siang kalau tidak ada halangan," kata Bu Agustina buru-buru merapikan mejanya dan bersiap-siap akan meninggalkan kelas.
Sorak-sorai kegembiraan pecah diseluruh sudut kelas yang sebelumnya hening dan senyap. Semua mahasiswa berlarian keluar kelas termasuk Ciara dan Adin yang tak memperdulikan Bu Agustina yang sedang kesusahan membereskan peralatannya. Dengan penuh simpati Aryapun datang mendekati Bu Agustina seraya menawarkan sedikit bantuan.
"Ada yang bisa saya bantu, sensei?" tanya Arya dari belakang Bu Agustina yang sedang berjongkok melepas stop kontak kabel speakernya. Membuat Bu Agustina menoleh membalikkan badan dan tersenyum penuh kehangatan.
Deg..deg..deg..
Jantung Arya berdegup kencang melihat senyum manis Bu Agustina dan juga belahan gunung kembarnya yang putih mulus mengundang hasrat untuk menyantapnya. Si Joni pun kembali bangun dari tidurnya meronta-ronta seperti akan terlepas dari sarangnya.
"Terima kasih Arya, ibu minta tolong kamu ambil OHP dan tolong geser speaker aktifnya keujung," kata Bu Agustina seraya mengacungkan jari telunjuknya kedepan mengarah kesudut depan ruang kelas.
"Kamu kenapa Arya, kamu sakit perut?" tanya Bu Agustina yang sedang melihat Arya terbungkuk sambil menggeser speaker besar itu.
"Ah ti-tidak sensei, aku tidak apa-apa," Arya menyahut agak malu karena ia terpaksa agak sedikit membungkuk agar Bu Agustina tidak mengetahui kalau Joni-nya lagi mengacung keras kedepan.
Bu Agustina sebenarnya sudah paham akan gelagat Arya yang aneh itu. Ia mengetahui bahwa Arya sedang ere**i karena melihatnya. Bu Agustina hanya tersenyum dan tak begitu memperdulikannya.
Setelah selesai membereskan semuanya, Arya pun pamit kepada dosennya itu.
"Sensei, aku pamit pulang dulu,"
"Iya Arya terima kasih ya sudah membantu, ati-ati dijalan," Bu Agustina melambai pelan disusul Arya yang segera keluar dari kelas itu.
"Gilaaaa, segininya aku gak kuat liat Bu Agustina, sampe si Joni berontak kayak gini, parah emang Bu Agustina," batin Arya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Arya sedikit berlari menuruni tangga lantai dua menuju ke lantai satu dan,
Bruaghhhhh!
********
__ADS_1