
Langit sore yang berwarna jingga keperakan terhampar luas begitu indah bak permadani beludru khas timur tengah yang terbentang, terdengar suara serak parau segerombolan burung gagak di tengah-tengah hembusan angin yang menyeruak menampar pucuk-pucuk pohon yang menjulang tinggi.
Setelah lumayan lama terbang di udara, sampailah Chandranala di wilayah yang di maksud nenek gurunya, yakni kerajaan Sudrapala. Ada beberapa hal yang menarik perhatian Chandranala ketika memasuki wilayah kerajaan ini. Beberapa makhluk disini terlihat agak berbeda dengan yang ada di wilayah kerajaan tempatnya berasal.
"Mungkin kerajaan Sudrapala ini termasuk golongan kerajaan siluman seperti yang pernah guru ceritakan," gumam Chandranala sambil mengawasi sekitar.
Sekawanan rusa menjangan berlarian tak tentu arah tak sadar jika beberapa ekor harimau putih yang kelaparan sedang mengawasinya. Kepakan sayap beberapa ekor burung Garuda yang berbadan kuda terdengar begitu memekakkan telinga. Ular bertanduk sebesar pohon kelapa sedang mendesis dan merayap pelan tepat di bawah Chandranala yang sedang terbang rendah dan akan mendarat"
"Ahhh mungkin aku bisa coba bertanya ke siluman ular itu," batin Chandranala saat kakinya baru menapak ke tanah"
"Permisi kisanak, apa benar ini wilayah kerajaan Sudrapala?" tanya Chandranala kepada ular besar bertanduk tadi.
"Sssshh benar, ini memang wilayah kekuasaan Sudrapala, lembah Rimanglor sssshhh," jawab siluman ular itu sambil mendesis.
"Ahhh syukurlah, terima kasih kisanak, kalau boleh tahu, dimana letak istana Raja Sudrapala?" tanya Chandranala.
Siluman ular bertanduk itu kini menjelma menjadi seorang wanita dewasa yang cantik. Wanita itu terlihat anggun memakai kebaya berwarna hijau janur, rambut hitam panjang serta mahkota kecil yang melingkar di kepalanya membuat siluman itu terlihat mempesona.
"Ada perlu apa kau menanyakan letak istana Sudrapala ?" tanya siluman itu penasaran dan terkesan curiga dengan kedatangan Chandranala.
"Ahh tidak, saya hanya utusan untuk menyampaikan pesan kepada Raja Sudrapala, saya diperintahkan nenek guru saya untuk menemui beliau," jawab Chandranala.
"Siapa nama nenek gurumu?," timpal siluman itu.
"Nama beliau adalah Nyai Pitaloka, beliau nenek sekaligus guru saya," jawab Chandranala meyakinkan.
"Apa yang kau maksud Nyai Pitaloka dari kerajaan Agniamartho di selatan?" seketika siluman itu memelankan suaranya ketika menyebut wilayah kerajaan Chandranala.
"Tebakan nyimas benar adanya," Chandranala menyahut seraya meletakkan tangan kanannya ke depan dada menandakan hormat.
"Dengar, mulai sekarang jangan sekali-kali menyebut kerajaan Agniamartho ketika kau berada di wilayah kerajaan ini, kebetulan aku kenal dengan nenek gurumu," kata siluman itu mengangkat jari telunjuk seraya mendekatkan wajah anggunnya.
__ADS_1
"Baik aku mengerti Nyi..." Chandranala memajukan mukanya.
"Nagini, panggil saja Nagini," jawab Nagini seraya menyunggingkan senyum di bawah lesung pipinya.
"Perkenalkan saya Chandranala," sahutnya sambil melayangkan senyumnya kepada Nagini.
"Lebih baik kita mencari tempat lain untuk berbincang, takutnya ada yang mendengar, mari ikut aku," ajak Nagini untuk mengikutinya.
"Mau kemana kita Nagini?" tanya Chandranala sambil mengikutinya dari belakang.
"Ke tempatku, disana lebih aman dan tenang untuk berbincang," sahut Nagini seraya membaca sebuah mantra untuk membuka portal menuju tempat lain.
Poro betara betari
Poro Danyang poro demit
Sun siro lelakon pawerto ngaksami
Ajrikolo ingkang sambadani
Dawuhi lelakon sajroning lathi
Seketika dari udara kosong muncullah pusaran cahaya berwarna biru muda yang terang, pusaran itu berbentuk oval dan berputar searah jarum jam. Berbeda dengan retakan ruang yang dibuat gurunya, yang ini lebih indah dan menakjubkan.
"Mari masuklah," ajak Nagini untuk memasuki portal itu.
"Baiklah Nagini," jawab Chandranala mengikuti Nagini dari belakang.
________
Tibalah Chandranala bersama Nagini disebuah lembah hijau yang indah dengan pohon-pohon raksasa yang menjulang ke angkasa, terlihat beberapa ular besar sedang meliuk-liuk diantara pohon-pohon raksasa itu.
__ADS_1
Ada juga beberapa makhluk menyerupai manusia melakukan aktifitas layaknya manusia normal, ada yang berkebun, bermain, serta bersenda gurau.
Di ujung belakang dari pohon-pohon besar itu terbentang sebuah lereng gunung yang berbentuk seperti sebuah dinding benteng yang berlubang disana-sini. Lubang itu berdiameter lebih dari tiga meter. Sesekali dari dalam lubang itu muncul seekor ular besar serupa dengan Nagini tetapi berbeda corak sisik. Chandranala begitu dibuat takjub dengan keindahan pemandangan ini.
"Selamat datang di Alas Jalibar, ini adalah desa kami, desa para siluman ular," sambut Nagini.
"Waahhh indah sekali Nagini, apa ini juga termasuk wilayah Rudrosengkolo?" tanya Chandranala sambil tatapan matanya tetap tertuju pada pemandangan disekitarnya.
"Iya benar, tetapi ini agak jauh tersembunyi, beberapa bangsa siluman seperti kami memilih untuk tinggal di tempat yang tersembunyi, karena kalau kita tinggal bersama bangsa lain seperti bangsa jin, danyang atau bangsa iblis besar kemungkinan ada perselisihan, jadi lebih baik kita menghindarinya dengan menjaga jarak dengan bangsa lain," Nagini menjelaskan sambil berjalan maju.
"Apakah di perjalanan tadi kau melihat segerombolan macan putih sedang berburu?nah, seperti hal nya kami yang sesekali keluar untuk berburu mangsa, atau ada urusan penting yang mengharuskan kita untuk keluar dari desa," lanjut Nagini.
Setelah beberapa saat berjalan, tibalah mereka di depan sebuah goa yang lumayan besar di bagian dalamnya, mungkin ini tempat untuk menerima tamu penting atau untuk melaksanakan sebuah hajat. Terlihat dari arsitektur dalam gua yang begitu memanjakan mata baik itu bentuk stalakmit dan ornamennya.
"Ini adalah kediamanku, mari silahkan duduk," kata Nagini seraya menunjuk tempat duduk yang terbuat dari kayu lapis tembaga dengan telapak tangannya.
"Baik Nagini," Chandranala pun duduk sambil sesekali pandangannya berputar-putar mengelilingi seisi ruangan itu.
"Laksmi, tolong ambilkan minum," perintah Nagini kepada seseorang yang berada di sisi lain ruangan ini.
"Iya kak, sebentarrrr, ada tamu kah??" sahut seorang gadis dari dalam.
"Iya dik, ada kenalan kakak yang bertamu kemari," sahut Nagini dengan suara yang sedikit keras.
Ketika sahutan Nagini mereda, munculah sosok gadis yang mungkin masih remaja berwajah polos tanpa polesan. Gadis manis itu memakai kemben panjang berwarna putih polos tanpa luaran, dengan rambut panjang yang di kuncir kesamping.
"Ini kak minumannya, nih kebetulan juga ada apel habis metik tadi pagi," gadis bernama Lasmi itupun meletakkan sekendi air tuak berwarna putih berikut beberapa buah apel segar.
"Chandra, ini adikku Laksmi,"
"Laksmi, ini Chandranala kenalan kakak, dia adalah murid dari Nyai Pitaloka orang yang dulu pernah menolong kakak," senyum manis Lasmi merekah ketika menjabat tangan Chandranala. Bak gayung bersambut, Chandranalapun melayangkan senyum terbaiknya kepada Laksmi.
__ADS_1
Setelah berkenalan Laksmi pun masuk kedalam ruangan lain dengan terburu-buru, "Ya ampun, kok bisa sih kakak bertemu dengan lelaki yang sangat tampan itu? Alangkah bahagianya jika aku bisa mendekati Kakang Chandranala," batin Lasmi bergelora merasakan getaran rasa suka kepada Chandranala.
********