Titisan Penakluk Jin

Titisan Penakluk Jin
Bab 23


__ADS_3

Sementara itu di dalam aula tempat ritual


Tak jadi bersemedi, Argadhanu yang sedang bosan malah menghampiri Nyai Pitaloka yang sedang sibuk dengan barang-barang sihirnya. Di meja persegi seukuran liang lahat orang dewasa, berserak bahan-bahan aneh milik Nyai Pitaloka.


Ada boneka jerami, ada tengkorak hewan, ada sayap kelelawar, kuku macan, botol-botol berisi cairan aneh, beberapa dedaunan dan akar-akaran, serta beberapa bungkusan berupa kantong kecil seukuran teh celup wangisari.


Penasaran dengan kantong itu, Argadhanu mengambilnya seraya melihatnya dari dekat, diputar-putarnya lalu di bolak-balik. Tak tau apa isinya, akhirnya ia memutuskan untuk sekedar iseng bertanya kepada Nyai Pitaloka.


"Apa isinya kantong ini Nyai?"


Nyai Pitaloka menoleh,


"Jangan kau tekan kantong itu terlalu keras, nanti bisa meledak! Itu adalah bubuk dari jantung siluman buaya putih yang di keringkan lalu di tumbuk halus dan dicampur dengan bu...,"


Duaaarrrrrrr!


Belum selesai Nyai Pitaloka memberi penjelasan, kantong itu sudah meledak tepat di depan wajahnya. Argadhanu terkejut dan menjingkat sedikit melompat mundur. Membuat mukanya menjadi hitam legam dan rambutnya mengembang menjadi kribo.


Asap tebal terlihat mengepul diatas kepalanya. Melihat hal itu Nyai Pitaloka hanya tertawa terpingkal-pingkal sambil memukul-mukul meja.


"Aduhhh aku sungguh sial!" umpat Argadhanu seraya mencoba membersihkan mukanya dengan kain dilengan bajunya.


"Haahah salah sendiri sudah tua banyak tingkah, kan aku sudah memberi tahumu, tuh liat wajahmu sudah seperti pantat panci yang sudah bertahun-tahun tidak dicuci, hahahah," Nyai Pitaloka masih tertawa dan menunjuk muka Argadhanu.


"Bercandamu gak lucu Nyai," timpal Argadhanu sewot.


"Hahahah siapa juga yang mengajakmu becanda? Salahkan tanganmu tuh yang tidak bisa diam! dari tadi kantong itu diam disitu, ehh malah kau buat mainan," jawab Nyai Pitaloka sambil berusaha untuk menghentikan tawanya yang sedari tadi tak bisa berhenti.


   Tring!


   Rakuti tiba-tiba muncul di hadapan Argadhanu sambil membawa bungkusan berisi makanan serta sebuah kotak persegi panjang seukuran lengan orang dewasa.


"Permisi grabfood, atas nama bapak Argad....pffffttt, huahahahahha," tawa Rakuti seketika meledak saat melihat penampilan Argadhanu sambil membungkuk menahan perutnya yang tiba-tiba menjadi kaku.


"Ndoro kenapa? Abis benerin knalpot truk? Mogok dimana truknya? Huahahaha," celetuk Rakuti mengejek.


"Mogok dengkulmu iku! punya rewang gak ada sopan-sopannya! Kok bisa-bisanya ndoro-nya diledekin?! Sini makanannya! Keburu mati kelaparan ndoromu ini! Kerisnya kau taruh aja di meja sana. Ehh bytheway pake cash aja ya? saldo ovo ku sekarat nih," kelakar Argadhanu sambil membuka bungkusan dan langsung melahap makanan yg ada didalam salah satu rantang bermotif loreng hijau itu.

__ADS_1


"Selamat menikmati, jangan lupa review bintang lima nya ya kakak, hahahah," Rakuti tak kuasa menahan tawa saat kembali menatap wajah Argadhanu.


"Udah sana pergi main! Ehhh Nyai, mau gak? Masih anget, tuh ada serantang lagi," seru Argadhanu kepada Nyai Pitaloka yang sedang menyalakan api ditempat pembakaran.


"Iya sebentar, makan saja duluan," tak menoleh, Nyai Pitaloka meletakkan kuali besar di atas nyala api yang perlahan mulai membesar.


"Nyuruh jauh-jauh ambil makanan, sekarang malah disuruh pergi. Abis manis sepah dibuang, durjana kau kakang ndoro! hmphh," Rakuti mengembungkan kedua pipinya kesal lalu menghilang lenyap ditengah udara kosong.


   Siuttttttttttt..claaaappppp


Sekelebat pikiran Nyai Pitaloka tiba-tiba tertuju pada Chandranala yang sedari tadi belum kembali. Hatinya tiba-tiba merasa tak tenang dan merasa was-was takut terjadi apa-apa pada cucu kesayangannya itu.


Benar saja hal yang ia khawatirkan terjadi juga, lalu sekejap kemudian,


"Pitaloka, cucumu dalam bahaya, ia dijebak oleh Sudrapala, sekarang dia sedang terkurung dipenjara yang diselubungi energi pelindung yang kuat," suara Arthasena menggema dikepala Nyai Pitaloka.


   Klothakkkk


   potongan ranting pohon rimang terlepas dari genggaman Nyai Pitaloka dan terjatuh menghantam tanah. Argadhanu yang sedang mengunyah makanannya kaget dengan suara itu dan menengok kearah Nyai Pitaloka.


"Addwa appwbah Nyai?" tanya Argadhanu saat mulutnya penuh dengan makanan yang belum di telannya. Tak ada sahutan jawaban, karena Nyai Pitaloka sedang berkomunikasi dengan Arthasena lewat telepati.


"Tenang kau tak perlu khawatir dan kau tak perlu kemari untuk menyelamatkannya. Serahkan kepadaku, biar aku yang menangani smuanya, kau juga tak perlu khawatir tak bisa mendapatkan batu mustika Brajamusti itu! Aku akan merebutnya untukmu, kau tunggu saja kabar baik dariku," kata Arthasena meyakinkan.


"Baik kakang Arthasena, aku berhutang Budi padamu, aku serahkan urusan cucuku dan mustika Brajamusti, terima kasih banyak kakang Arthasena," ucap Nyai Pitaloka.


"Hahaha kau adalah kenalan baikku, sudah sewajarnya aku membantu," kata terakhir Arthasena sebelum koneksi telepati itu terputus.


"Oi Argadhanu!" teriak Nyai Pitaloka memanggil Argadhanu yang sedang memegang paha ayam.


"Hmm?" sahut Argadhanu.


Nyai Pitaloka menjelaskan semuanya kepada Argadhanu secara rinci mengenai keadaan dikerajaan Rudrosengkolo. Awalnya Argadhanupun merasa geram dan akan menyusul kesana, tetapi Nyai Pitaloka berkata kepadanya bahwa Arthasena sedang menangani semuanya dan tak perlu khawatir tentang murid mereka.


***


Keadaan didalam istana Rudrosengkolo

__ADS_1


"Hahahah, tau rasa kau anak muda bodoh! Siapa suruh kau dan gurumu dengan seenaknya menginginkan mustika Brajamusti yang telah susah payah aku dapatkan," Sudrapala tertawa congkak dan berbicara sendiri sembari menaiki anak tangga menuju keluar ruang bawah tanah itu.


Setelah sampai diatas, Nagini terkejut karena Sudrapala hanya datang seorang diri. Naginipun menanyakan dimana Chandranala.


"Maaf Baginda, dimana Chandranala? Aku tak melihatnya datang bersama anda,"


"Ia sudah aku jebloskan kedalam penjara, salah sendiri ia sudah lancang menginginkan mustikaku yang sangat berharga, hahahah," ujar Sudrapala penuh kepuasan sambil berlalu pergi diikuti oleh semua orang yang tadi mendampinginya kecuali Nagini yang masih terdiam karena terkejut.


Sontak saja pernyataan itu membuat Nagini kaget dan kesal. Sudrapala sudah berbuat semena-mena hanya karena hal yang sepele. Nagini berpikir kalau memang tak diperbolehkan meminjam mustika itu,               Sudrapala hanya tinggal menolak permintaan itu tak perlu sampai memenjarakannya. Tetapi untuk saat ini Nagini tak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan Chandranala.


"Nagini, aku tahu kau mengkhawatirkan Chandranala, aku juga tahu kau siluman yang baik, aku pun begitu paham akan perasaanmu yang sangat tertekan dan ingin lepas dari cengkraman raja busuk itu," tiba-tiba suara Arthasena masuk kedalam kepala Nagini.


"Aku akan menyelamatkan dan mengeluarkannya dari kurungan Sudrapala, ini bisa mengakibatkan Sudrapala murka dan mungkin kau juga akan kena imbasnya, alangkah baiknya kau mengikuti saranku," suara Arthasena terdengar menggema didalam kepala Nagini.


"Maaf apakah ini suara resi Arthasena?" batin Nagini.


"Iya ini aku, kau tak perlu khawatir,"


"Maaf resi, apakah tidak berbahaya jika anda menyelamatkannya nanti? Aku takut nanti berdampak kepada hubungan kedua kerajaan jika Sudrapala mengetahui ulah anda." tanya Nagini dalam hati.


"Hahah kau tak perlu khawatir, semua sudah aku prediksi dengan baik, Sudrapala tak mungkin mengtahui kalau aku yang menyelamatkannya, kau kan sudah tahu kalau aku punya ajian malihrogo," Arthasena mengingatkan jikalau ia bisa memisahkan beberapa tubuh dari tubuh aslinya.


"Baiklah Resi, hamba setuju saja apa yang menurut resi baik, mengenai tadi tentang saran yang anda katakan, apakah itu resi?" sahut Nagini.


"Kau keluarlah dari istana secara diam-diam, pulangnya kerumah dan tunggu aku disana, selanjutnya aku akan membawamu bersama Chandranala ke kerajaan Agniamartho agar kau aman,"


"Baiklah Resi," Nagini menyahut dalam hati lalu segera berlari berlawanan arah perginya Sudrapala beserta yang pendampingnya.


Setelah berada dibelakang istana, Nagini menengok dan memutarkan pandangannya memindai sekeliling untuk memastikan situasi aman.


Nagini tak sadar jika dari kejauhan nampak seseorang yang misterius memerhatikan gerak-geriknya. Tak jelas siapa sosok itu, sosok itu mengenakan jubah hitam panjang dan bertudung menutupi sebagian besar wajahnya.


Dirasa sudah cukup aman, Nagini melompat keatas menara pemantau benteng istana bagian belakang dan ia langsung membuka portal biru indah yang menuju rumahnya di Alas Jalibar. Sosok berjubah hitam tadi juga telah berlalu pergi entah kemana.


Sementara itu di dalam penjara Chandranala sedang duduk bersila berusaha memulihkan tenaga dalamnya dan mengobati sendiri luka dalam yang ia derita akibat serangan dadakan dari Sudrapala beberapa saat yang lalu. Ketika dia sedang berkonsentrasi memusatkan pikirannya, tiba-tiba munculah sesosok jin tua dihadapannya.


"Guru?"

__ADS_1


********


__ADS_2