Titisan Penakluk Jin

Titisan Penakluk Jin
Bab 27


__ADS_3

"Ehhh iya lupa hihihi. Nih, scan aja," jawab Dilla sambil menyodorkan ponsel yang di layarnya sudah terpampang sebuah barcode. Di susul Arya yang mengeluarkan ponsel dari saku celananya lalu memindai barcode di atas layar ponsel Dilla.


"Makasih ya Dil, ntar kalo lagi santai, aku wa kamu ya, boleh kah?" kata Arya penuh harap.


"Iya Arya boleh kok, aku tunggu ya!" jawab Dilla sambil tersenyum, hatinya serasa berbunga-bunga berharap Arya segera menghubunginya dan mempererat hubungannya.


"Cuma minta nomer Dilla doang nih? Hmmm?" Sarah nyeletuk sambil mengangkat satu alisnya ke arah Arya.


"Ehhh iya de skalian kalau bole, heheh," Arya menanggapi dengan garukan di kepala.


Setelah mereka bertiga saling bertukar nomor whatsapp, akhirnya Dilla dan Sarah memutuskan pergi menuju ke gedung Samantha Krida bersama Arya.


Suasana seketika menjadi kikuk dan sunyi tatkala mereka bertiga berjalan beriringan bersama. Tak satupun dari mereka yang berniat membuka suara berharap memecah keheningan. Entah karena malu atau memang tak ada sesuatu yang perlu di bicarakan.


Meskipun suasana begitu hening di antara mereka, Dilla ternyata mencuri-curi pandang kepada Arya, dan hal itu di sadari oleh Sarah. Sarah pun hanya tersenyum melihat tingkah Dilla. Meskipun dalam benak Sarah, dia juga memiliki sedikit perasaan pada cowok yang baru saja ia kenal.


Tak lama mereka bertiga berjalan menuju gedung yang beberapa puluh meter lagi akan segera sampai, dari samping kanan arah mereka berjalan, ada tiga orang mahasiswa baru yang tengah berlari menuju ke gedung itu, salah satunya tak sengaja menabrak lengan kanan Arya,


"Aduh! Heiii lihat-lihat dong bro klo lari," seru Arya kepada mahasiswa itu.


"Maaf masbro, buru-buru nih," sahut mahasiswa yang bertubuh agak gemuk itu.


"Lohhh heh! ente Denny?" tanya Arya memastikan siapa sebenarnya orang yang ada di hadapannya.


"Lahhhh Arya bukan?" mahasiswa gemuk itu menunjuk Arya serasa melayangkan senyuman yang lebar.


"Wakakakak ente disini juga Den?" tanya Arya seraya merangkul pundak Denny.


"Lha iya nih kayak yang ente liat," jawab Denny yang sekarang juga sedang merangkul Arya.


"Ehhh Arya, kita duluan yaaa, dahhh," Dilla menepuk lengan Arya lalu berjalan bergandengan dengan Sarah. Sarah yang menoleh ke arah Arya mengangkat jari kelingking dan jempolnya bersamaan lalu di goyangkan di sebelah telinganya sambil tersenyum genit. Mengisyaratkan bahwa ia berharap segera menghubunginya nanti.

__ADS_1


"Siapa? Pacar? Gebetan?" tanya Denny sambil memajukan dagunya ke arah mereka berdua yang sedang berjalan menjauh.


"Bukaaaannn, wong baru kenal tadi di sini, ehhh gimana kabar ente? Kok bisa keterima disini juga?" tanya Arya penasaran.


"Gak di SMP gak di kuliahan, kelakuanmu tetep gak barubah, sekali sat set sat set langsung dapet kenalan cewek baru, untung kita pas SMA dulu gak satu sekolahan, bisa-bisa aku gak kebagian, keburu ente embat semua," sahut Denny sambil mencibir kecut.


"Ahahah wong ya bukan aku yang ngebet, mereka sendiri yang deket-deket. Yo wes hajar ae, kesempatan tak datang dua kali brader," kata Arya seraya menepuk-nepuk punggung Denny.


"Hmmmphh lambemu lamis, ohh iyo nih kenalin temenku Kemal, dia temenku pas di SMA 10 dulu, yang ini Wahyu baru nemu tadi disini, kasian sendirian di pojokan kayak orang ilang," Denny mengenalkan temannya kepada Arya sambil tertawa.


"Lambemu Den," umpat Wahyu kesal.


"Kemal," sapa pemuda yang berpostur agak pendek tetapi berbadan gempal itu, rambutnya ikal dan agak gondrong serta berkulit agak gelap. Kesan pertama apabila orang melihat Kemal adalah seorang pemuda cuek yang jarang merawat tubuhnya.


"Wahyu," pemuda kurus ini memperkenalkan dirinya. Ia berbadan tinggi kurus serta berambut cepak dan jabrik. Kulitnya sawo matang serta terlihat sedikit potongan gambar sebuah tatto tribal di balik lengan kaosnya.


"Arya, sahabatnya Denny waktu di SMP 18," sambung Arya seraya menjabat tangan mereka berdua bergantian.


"Waduh, panjang critanya, wes sekarang gak usah ngomongin badanku. Meskipun gendut sing penting sehat walafiat, gak penyakitan," ujar Denny agak sedikit sewot.


"Aahaha, oke oke btw ngambil jurusan apa ente Den?" tanya Arya mengalihkan pembicaraan.


"Aku ambil Ilmu Peternakan, mau nerusin usaha bapakku di kabupaten, kalo ente?" tanya Denny balik.


"Owalahh ya ya paham aku, aku tetep sih, ngambil jurusan Sastra Jepang, hohoho," jawab Arya seraya membusungkan dadanya.


"Alahhhh pancet ae wibuuuu wibu," Denny menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Meskipun wibu yang penting gak nolep kayak ente, huahahah," sangkal Arya sembari menepuk pundak Denny.


"Mbuh sakarepmu lah," kata Denny menyerah menanggapi sahabat lamanya yang menurutnya agak kurang waras ini.

__ADS_1


"Ehh Kemal ama Wahyu ngambil fakultas apa?" Arya menoleh kearah mereka berdua yang sedari tadi berjalan di belakangnya.


"Aku ambil Sastra Indonesia, lebih murah soalnya timbang fakultas laen, heheheh," jawab Wahyu sambil terkekeh.


"Ohhh sastra juga, gak juga sih kalau lebih murah, malah lebih murah fakultas Hukum, selisih dua jeti uang gedungnya. Hmm, kalo ente Mal ngambil apa?" pandangan Arya beralih ke arah Kemal.


"Aku ambil Seni, yahh dari dulu suka sih yang berbau seni, kayak nggambar, bikin vas, mahat-mahat gitu deh," jawab Kemal santai.


"Wihhh keren tuh seni, gak semua orang berjiwa seni loh." Arya menyahut sambil sedikit bertepuk tangan.


"Trus ente ngambil sastra Jepang tuh kedepannya mau jadi apa? Naruto??" Denny nimbrung tiba-tiba.


"Yeee, ente kadang-kadang yah!? ya kali jadi Naruto, mau jadi Baja Hitam ane, puas ente?" jawab Arya sambil menyilang kan kedua tangannya keatas lalu menangkupkannya ke depan dadanya menirukan pose Kotaro Minami saat akan berubah menjadi Satria Baja Hitam.


"Ahahah loh kan kumat wibune! seriusan ane tanya, tujuan ente ngambil jurusan sastra Jepang tuh apa?" Denny menimpali.


"Yahhh kali aja aku bisa kerja di Jepang, hidup disana, kali aja aku bisa dapet cewek Jepang yang kawaii," Arya menjawab penuh gairah.


"Hmmm, tuh kan wibu akut yang sudah sangat susah untuk diselamatkan, ckckckc, yok ahh masuk, keburu dimulai acaranya," sahut Denny menggeleng-gelengkan kepalanya lalu mengajak mereka bertiga untuk segera masuk ke gedung itu.


Tak terasa waktu berlalu begitu cepat saat mereka asik berbincang. Setelah mereka puas berbincang dan bercanda, mereka berempat pun segera masuk ke gedung Samantha Krida untuk mengikuti kegiatan orientasi selanjutnya. Tetapi alangkah terkejutnya mereka karena hanya mereka berempat sajalah yang tiba terakhir ke dalam gedung.


Semua tatapan mata tertuju pada mereka berempat, Arya yang tadi sempat menyikut-nyikut Denny pun cuma bisa nyengir dan pasrah ketika para anggota BEM memanggil mereka berempat maju ke depan untuk menerima hukuman karena terlambat menghadiri acara kegiatan.


Mereka dihukum berdiri didepan ratusan mahasiswa baru sambil membawa bendera lambang Universitas Brawijaya yang lumayan berat dan hal itu sontak membuat seluruh mahasiswa baru bersorak sorai di susul gelak tawa yang membahana disetiap sudut gedung.


Dilla dan Sarah yang melihat tingkah Arya dan ketiga temannya pun tak kuasa menahan tawa. Mereka berdua cekikikan seraya menunjuk-nunjuk ke arah Arya. Arya yang menyadari dirinya di tertawakan oleh Dilla dan Sarah, hanya bisa tersenyum pahit.


Disini dimulailah kisah persahabatan mereka berenam, meskipun mereka berbeda fakultas di kampus, setiap hari mereka selalu menyempatkan diri untuk berkumpul bersama dan menikmati masa-masa kuliah di kampus favorit ini sebagai mahasiswa baru di  semester satu.


********

__ADS_1


__ADS_2