Titisan Penakluk Jin

Titisan Penakluk Jin
Bab 6


__ADS_3

Sontak mereka semua panik memelihat Dilla terkapar pingsan, pasalnya dia pingsan secara tidak normal dengan badan yang menghantam keras di permukaan lantai kayu. Seperti tertabrak sesuatu tak kasat mata dari depan.


"Dilla!" Teriak mereka secara hampir bersamaan.


"Kamu kenapa Dil! Dil..Dilla!"


Fokus mereka serempak teralih ke tubuh Dilla yang sudah terkapar kaku. Tanpa memperdulikan Mbah Seno yang mengatakan omong kosong tentang Arya yang di culik oleh bangsa Jin.


Wajah Dilla mendadak pucat pasi di sertai perubahan suhu tubuhnya yang tadi normal dan hangat sekarang mendadak menjadi sedingin es. Mereka semua nampak khawatir dengan keadaan Dilla. Pasalnya baru kali ini Dilla mengalami kejadian seperti ini.


Belum selesai usaha menyadarkan Dilla dari pingsannya, tiba-tiba mata Dilla terbuka lebar, melotot seram. Bola matanya seperti mau keluar dari kelopaknya, sambil menggeram tidak jelas, Dilla mendadak bangkit dari tempatnya seraya menunjuk kepada Mbah Seno.


Menurut kepercayaan sebagian orang, ketika kita dalam keadaan kalut ataupun pikiran sedang kosong, bangsa tak kasat mata seperti jin dan siluman akan berusaha memasuki raga kita secara paksa yang memunculkan fenomena kerasukan.


Mereka bertujuan untuk menguasai dan mengendalikan raga yang mereka rasuki. Dalam segi logika, mungkin keadaan itu sulit di jelaskan, tapi percayalah, keadaan ini benar-benar sering terjadi.


Mereka yang kesurupan sebagian besar biasanya melakukan hal yang negatif, seperti melukai, mencelakai orang, hingga melakukan bunuh diri terhadap raga orang yang mereka rasuki.


Tetapi ada pula yang melakukan hal positif seperti memberi tahu tempat barang hilang, jasad yang belum di temukan, hingga bencana atau peristiwa penting yang akan terjadi esok hari.)


Wallahua'lam...


________________


30 menit sebelumnya,


Sesosok siluet terlihat berdiri di atas sebuah dahan pohon jati yang menyilang, sosoknya tak begitu jelas di karenakan tertutup oleh bayangan dari sorotan matahari terbenam di ufuk barat.


Sosok itu melihat ke arah sekumpulan remaja yang sedang berjalan beriringan menuju sebuah kebun tebu dari kejauhan. Sosok itu sekilas menyibakkan selendangnya kesamping. Mengeluarkan sebuah cahaya yang memutar didepannya.


"Aku memanggilmu, Sang Pengambil Raga, NIRAH!!" teriak wanita misterius itu.


Tiba-tiba dari putaran cahaya itu, muncul sesosok makhluk wanita yang berwajah seram. Mahluk itu berbadan kurus kering layaknya tulang hidup, dengan rambut panjang acak-acakan dan tangan yang berkuku hitam panjang.


Makhluk wanita itu memakai pakaian seperti kuntilanak, tetapi yang ini berbeda, berwarna hitam. Dia melayang seraya menundukkan kepala di depan sosok yang berdiri di dahan pohon itu.


"Sendiko Gusti, ada apa panjenengan memanggil hamba?" Tanya makhluk hitam itu.


"Nirah, coba kau ganggu mereka, jangan sampai mereka mengganggu usaha Kakanda untuk membimbing pemuda yang bernama Arya itu."


"Jangan sampai dukun itu menggagalkan rencana Kakanda!" ucap tegas sosok berkebaya itu.

__ADS_1


"Baik Nyi, apa yang harus hamba lakukan untuk menggagalkan dukun itu?" tanya Nirah.


"Coba kau masuk ke dalam tubuh salah satu dari mereka dan ganggu dukun itu. Jangan khawatir, dukun itu lebih lemah darimu. Kau pasti bisa mengalahkannya apabila dukun itu mencoba melawanmu," tandas sosok itu.


"Sendiko dawuh Nyi," Jawab Nirah sambil berbalik lalu terbang menuju segerombolan remaja itu. Nirah memantau dari arah belakang mereka, menunggu saat yang tepat untuk rencana menggagalkan dukun itu.


___________


"Rupanya ada tamu tak di undang datang kesini. Hmm...siapa kau wahai makhluk hina! Apa tujuanmu? Siapa juga yang telah memerintahkanmu menggangguku!" bentak Mbah Seno ke arah Dilla.


"Dilla! Kenapa kamu Dil! Sadar Dil! Ya Allah Dilla!" teriak Sarah panik di susul Wahyu dan Denny yang memegangi tubuh Dilla yang sedang berontak.


Dilla menarik-narik tangan dan kakinya yang masih di tahan oleh teman-temannya. Sesekali kepalanya digeleng-gelengkan dan kelopak matanya terbelalak lebar seakan-akan bola matanya akan loncat keluar.


Tak kuasa menahan Dilla yang menggila, tiba-tiba teman-temannya terhempas keberbagai arah karena kekuatan hentakan Dilla. Dengan tubuh mungil itu Dilla mampu melemparkan tubuh teman-temannya seakan Dilla mempunyai kekuatan super.


brughhhh!


Satu persatu mereka tersungkur dan memekik menahan sakitnya benturan badan dan bagian tubuh mereka yang beradu dengan lantai dan barang-barang disekitarnya.


"Awww, aduh!" rintih Sarah.


"Arghhhh sial!" Umpat Denny seraya memegang bagian depan kepalanya.


"Kurang ajar kau dukun laknat! Berani-beraninya kau ikut campur urusan Nyi Prameswari dan suaminya! Tak ku izinkan kau untuk membantu mereka mencari pemuda itu! Kau hanya serangga yang berilmu dangkal!"


"Sii..siiapaaa..kkk..kauuu..! Siiiaaapppa yang mennnnyuuuruhmu!" ucap Mbah Seno gelagapan karena lehernya tertahan oleh cengkraman Dilla.


"Kau tidak perlu tau semua itu!" Cengkraman Dilla semakin menguat di leher Mbah Seno di iringi lemasnya Mbah Seno dan akhirnya pingsan.


Dilla melepas cengkraman nya dan langsung menoleh ke arah teman-temannya. Dan berkata,


"Kalian tidak perlu mencari Arya, tenanglah, dia sudah aman. Jika waktunya sudah tiba, Arya akan kembali ke alam manusia ini lagi," setelah mengucapkan pesan itu, Dilla tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri."


Brughhhh...


Mereka masih agak linglung dan bingung karena melihat kejadian yang begitu aneh dan di luar nalar. Mereka buru-buru mengangkat tubuh Dilla tanpa memperdulikan keadaan Mbah Seno yang juga dalam keadaan pingsan.


Mereka berempat berusaha menyadarkan Dilla dengan segala kemampuan. Tubuh mereka yang terasa sakit tidak begitu di perdulikan, mereka hanya mementingkan keselamatan Dilla.


"Apa-apaan tadi? Kok bisa Dilla jadi kayak gini? Apa emang iya kerasukan ??" Kemal tiba-tiba nyeletuk sambil mengoleskan minyak kayu putih di sekitar bawah hidung Dilla.

__ADS_1


"Lha ente tadi ngeliatnya gimana? Ente suka kadang-kadang ye?" Sahut Denny.


"Ya iyalah kerasukan tuh, mana mungkin Dilla yang terkenal kalem dan mellow bisa jadi garang dan kuat kayak gitu? Mana si Mbah pake pingsan segala," timpal Wahyu.        "Iya juga sih, trus gimana nih next-nya? Tuh liat si Mbah udah tepar, apa iya gakpapa di biarin gitu aja?" Sahut Sarah sambil menggosok perut Dilla pakai minyak.


"Udah ahh biarin bukan urusan kita, dan kita juga gak tau bakal kejadian kayak gini. Yang penting kita sadarin Dilla dulu, terus cabut dari sini." Kata Denny memberi saran.


"Setelah agak lama berusaha menyadarkan Dilla, akhirnya Dilla membuka mata dan merintih kesakitan. Sambil berusaha bangkit dari pangkuan Sarah.


"Kita dimana? Apa yang terjadi? Kok badanku sakit semua? Trus hidungku kok panas ya??" tanya Dilla lirih.


"Uppsssss!" seru Kemal sambil nyengir.


Plaaaakkkkkk!


Sarah memukul kepala Kemal dengan reflek. "Ente sih kebanyakan ngoles minyake hidung Dilla, jadi panas tuh, O'on!"


"Eheheh maaf ya Dilla, kebablasan ane ngolesnya, abisnya ente gak sadar-sadar," sahut Kemal ke arah Dilla sambil menggaruk kepalanya.


"Aku pingsan kenapa?" Tanya Dilla.


Sarah dan yang lainnya menjelaskan ke Dilla semua yang sudah terjadi, Dillapun mengganguk tetapi dengan perasaan bingung dan heran. Serasa masih tidak percaya apa yang terjadi padanya.


"Ayo udah cabut yuk, Dilla udah kuat berdiri and jalan?" Tanya Sarah.


"Dilla mengangguk pelan dan seketika berdiri di bantu oleh yang lainnya.


"Yuk, biarin aja deh si Mbah, ntar kalo dia sadar ntar malah jadi nambah masalah. Mungkin juga nanti ada warga sekitar yang datang dan bantuin si Mbah, sukur-sukur dia bisa bangun sendiri," celetuk Wahyu cuek.


Mereka berlima pun berjalan keluar dari rumah Mbah Seno, tetapi dengan tujuan


yang belum begitu jelas. Tak tentu arah, mereka akhirnya memutuskan untuk menuju ke desa sebelumnya dimana motor mereka semua dititipkan pada warga sekitar.


"Aduh beb, badanku sakit semua..rasanya kayak abis marathon. Badanku juga pegel-pegel nih," kata Dilla menoleh ke Sarah sambil merintih kesakitan.


"Yuk istirahat dulu Dil sampai badan kamu enakan dan bisa jalan lagi." kata Sarah menyuruh Dilla istirahat .


Melihat itu, dengan setia kawan, mereka juga berhenti sejenak untuk melepaskan penat setelah berjalan di jalan setapak yang agak menanjak. Sekaligus menunggu Dilla kembali bugar seperti sebelumnya.


Setelah setengah jam beristirahat, dan sudah merasa agak bertenaga, akhirnya mereka kembali melanjutkan perjalanannya menuju desa yang sebelumnya mereka singgahi.


Dalam perjalanan, batin Sarah serasa ada yang mengganjal, Siapa Nyi Prameswari? Siapa juga suaminya? Apa yang di rencanakan mereka terhadap Arya?

__ADS_1


Semua pertanyaan itu memenuhi pikiran Sarah saat mengingat perkataan Dilla yang kerasukan tadi.


******


__ADS_2