
Sesampainya di rumah, pak Ridwan segera mencuci bersih ari-ari putrinya dan memasukkannya ke dalam gendok yang sudah di belinya tadi di toko gerabah.
Setelah itu dia menggambil sekop kecil dan mulai menggali tanah di pekarangan rumahnya. Setelah kedalamannya di rasa cukup yaitu sedalam satu lengan orang dewasa, gendok itu di masukkan dan ditimbun dengan tanah. Di atasnya di taburi bunga layaknya orang yang sedang nyekar ke kuburan orang yang sudah meninggal.
Memang aneh, tapi itulah adat budaya khususnya pulau Jawa yang sudah ada turun-temurun. Setelah berdoa, pak Ridwan menutupnya dengan tong sampah dari plastik yang di letakkan terbalik serta sudah di beri penerangan berupa lampu bohlam berwarna kuning di atasnya.
Setelah mengubur ari-ari Arini, pak Ridwan lalu mandi dan berganti baju, setelah itu pak Ridwan menuju meja makan untuk menyantap sebungkus Nasi Padang yang di belinya di perjalanan pulang tadi.
Setelah perut terisi penuh, pak Ridwan bermaksud mengistirahatkan punggungnya di atas sofa di ruang tengah sambil menyalakan televisi layar datarnya. Tak kuasa menahan kantuk karena lelah dan kekenyangan, pak Ridwan pun ketiduran.
________
Di suatu hutan rimba yang sepi dan gelap pak Ridwan melangkah tak tentu arah berharap menemukan jalan keluar. Dia tidak tahu kenapa dia bisa tiba-tiba berada didalam hutan ini.
Langkah demi langkah pak Ridwan menyusuri jalan setapak yang di penuhi rumput dan agak berlumpur.
"Di mana aku? Kok bisa aku tiba-tiba ada di hutan rimba kayak gini?" Kata pak Ridwan dalam hati.
"Perasaan tadi aku ada di jalan menuju rumah, sekarang malah tersesat di hutan ini." Batin pak Ridwan penuh kecemasan dan kebingungan.
Tak terasa jauh melangkah, pak Ridwan akhirnya sampai di tepi sebuah danau yang tenang dan indah. Danau itu memantulkan cahaya bulan kebiruan, menambah keindahan danau tersebut.
Terlintas di pikiran pak Ridwan wajah manis putrinya yang tertidur di gendongan tangannya. Tetapi bayangan itu tiba-tiba terbuyarkan oleh suara seseorang laki-laki yang berasal dari sisi lain danau, berdiri di atas sebuah batu besar.
"Ridwan Sarjono," panggil sosok itu.
Sambil memicingkan mata, Ridwan mengarahkan pandangannya ke sekeliling dan mencari dari mana asal sumber suara yang memanggilnya itu, sampai pandangan Ridwan berhenti ke sebuah siluet manusia yang berdiri di atas batu besar.
Ketika Ridwan mulai penasaran dan berjalan mendekati sosok itu, sosok itu tiba-tiba berbicara kepada Ridwan dari balik bayangan bulan yang tertutup awan yang menerangi sekitar danau. Sosok itu masih belum terlihat jelas di mata Ridwan yang sedang berjalan mendekat.
"Ridwan, kau tak perlu mengetahui siapa aku, aku hanya akan berpesan satu hal kepadamu perihal putrimu yang baru lahir." ucap sosok itu tiba-tiba.
"Ketika terjadi sesuatu dengan putrimu, kau jangan khawatir, aku akan mengatasinya, dan pasrahkan semuanya kepadaku, aku mempunyai rencana besar kedepannya. Bersabarlah, dan pasrahkan semuanya." Sahut sosok itu menambahkan.
__ADS_1
Setelah itu tiba-tiba sosok itu menghilang bersama dengan kabut yang datang perlahan-lahan menutupi pinggiran danau.
"Apa maksudmu! Aku tak mengerti! Heiiii..tolong jelaskan apa maksudmu?" Teriak Ridwan sambil berlari ke arah batu besar tadi.
Tiba-tiba ruang di sekitar Ridwan berputar perlahan berikut dirinya yang ikut tersedot kedalam pusaran ruang yang semakin lama semakin mengecil, dan Ridwanpun berteriak sekencang-kencangnya karena ketakutan,
"Aaarrgghhhhh tidaaakkkkkk..!!!!" teriak Ridwan sambil menggapai udara kosong menggunakan tangan kanannya.
Brrugghhh...!!
Serta merta tubuh Ridwan terjatuh dari sofa dan menyadarkannya bahwa dia telah mengalami mimpi buruk. Peluh begitu deras mengucur dari pelipis, serta hampir seluruh badannya. Nafasnya tersengal-sengal berusaha untuk menstabilkan oksigen yang masuk ke dalam paru-parunya.
"Hhhahh. Hhahhh. Ternyata cuma mimpi, tapi kok rasanya begitu nyata. Apa juga maksud perkataan orang itu? Putriku kenapa? Apa yang akan terjadi dengan putriku?" Ridwan berbicara sendiri.
Sambil tergopoh-gopoh karena masih shock, Ridwan berusaha bangkit dan bermaksud mengambil segelas air dingin di kulkas untuk menghilangkan dahaganya.
__________
Dua hari kemudian tibalah saat yang telah di janjikan. Hari itu adalah hari Kamis malam Jumat Legi. Yakni hari yang di percaya sebagian orang atau kelompok tertentu sebagai hari yang sangat baik untuk melakukan sebuah ritual ghaib.
"Pak bagaimana ini, laporan dari staff keuangan kita menunjukkan bahwa 3 bulan ini, pemasukan hotel dan resort kita mengalami penurunan yang drastis." kata salah satu Duty Manager di Hotel itu.
"Iya pak, semakin hari semakin sedikit orang yang mau menginap dan menggunakan fasilitas hotel pak. Jadi banyak kamar yang kosong" timpal salah satu Manager Operasional.
"Dengan penurunan minat customer untuk bermalam di hotel kita ini, inflasi terlihat nyata di depan mata Pak. Banyak tagihan yang harus tetap kita bayarkan setiap bulannya, mulai dari gaji karyawan sampai pembayaran PLN dan PDAM. Belum lagi biaya untuk perawatan interior indoor dan outdoor hotel." Sahut seorang wanita cantik berkacamata yang berprofesi sebagai Financial Auditor.
Pak Trisno sedari tadi mengepalkan tangan di bawah dagu sambil berjalan mondar mandir di depan layar proyektor. Berkas yang menumpuk di atas meja kerjanya sudah tak di hiraukannya lagi. Yang ada di pikirannya hanya cara bagaimana agar hotel dan resort nya kembali ramai seperti saat Grand Opening dua tahun lalu.
"Saya sudah terima laporan dari kalian semua, saya yakin akan segera menemukan jalan keluar dari krisis ini." Sahut pak Trisno di balik meja kerjanya yang sedang membereskan laptop nya.
"Baiklah,, rapat kali ini selesai. Semuanya, mohon kembali ke tempat masing-masing. Serempak mereka semua berdiri beranjak dari kursi rapatnya dan kembali ke ruang dan tempat kerja masing-masing.
"Aku harus segera pergi ke rumah Ki Dharmo. Semakin cepat semakin baik." Pak Trisno berbicara sendiri.
__ADS_1
Pak Trisno mengambil iPhone dari atas meja kerjanya, dan menelpon bawahannya,
"Halo Her, apa barang-barang yang kemarin saya minta sudah kamu siapkan semua?" tanya pak Trisno.
"Siap pak, sudah saya siapkan semuanya pak, apa perlu saya bawa keatas pak?" Sahut Heri.
"Gak usah Her, ntar saya kebawah aja ke basement sekalian mau balik dulu, ada perlu ke Malang," jawab Pak Trisno.
"Siap pak." Sahut Heri.
Pak Trisno mengemasi tas kerjanya dan segera keluar ruangan menuju lift.
Setelah sampai di basement, pak Trisno segera menghampiri Heri yang sedang berada di ruang OB. Heri terlihat sedang santuy menghisap rokok Sampoerna Mildnya ditemani segelas kopi susu.
"Her, minta tolong kamu masukin barangnya ke mobil saya."perintah pak Trisno.
"Siap Pak.." Buru-buru Heri menyeruput kopinya dan segera mematikan rokoknya ke dalam asbak dan langsung mengambil senampan penuh barang-barang titipan pak Trisno yang sedari tadi sudah di siapkan di meja.
Setelah Heri meletakkan semua barang di dalam bagasi belakang, pak Trisno memberikan sejumlah uang pecahan seratus ribuan kepada Heri.
"Terima kasih pak, kok banyak banget pak?." kata Heri sambil senyum.
"Iya bawa aja, Trima kasih sudah membantu, ini rahasia, cuma kamu yang tau loh ya, jangan sampe orang lain tau kalau saya yang pesen barang ginian." Tambah pak Trisno menekankan.
"Oohh siapp pak bossss tenang aja, rahasia aman di tangan saya." Jawab Heri sambil menghormat laksana prajurit yang hormat kepada jenderalnya.
"Ya udah saya berangkat dulu ke Malang, kamu kerja yang bener, jangan ngopi mulu." Pesan pak Trisno.
"Okee pak, pak bos ati-ati di jalan ya."sahut Heri.
Setelah mobil pak Trisno hilang di kejauhan, Heri menghitung uang yang di berikan pak Trisno tadi.
"Satu, dua, tiga, empat, lima. Wihhh mayan 500ribu! Cuma beliin gituan aja upahnya sebanyak ini, beli barang kemaren aja masih ada kembaliannya. emang beda ya kalau udah jadi bos, duid serasa kartu gaple," Heri ngomong sendiri sambil nyengir.
__ADS_1
"Mayan nih buat depo, kali aja ntar malam aku hoki dapat maxwin dari Sambaran petir Kakek Zeus, heheheh," batin Heri sambil menuju ruang OB hendak melanjutkan ngopi santainya.
********