Titisan Penakluk Jin

Titisan Penakluk Jin
Bab 38


__ADS_3

"Ia adalah putri tunggal dari Ratu kerajaan Tirtokencono," sahut Nyai Pitaloka.


"Iya Nyai benar, dugaan sementara ia diculik atau tersesat disuatu tempat dan sampai sekarang belum juga ditemukan," tambah Argadhanu menjelaskan.


"Jadi, setiap ada makhluk asing atau energi asing yang masuk kedalam wilayah mereka, mereka akan dengan mudah menemukannya," Argadhanu lanjut memberi penjelasan.


"Sistem pendeteksian mereka begitu akurat, pemindaian mereka terhadap hal asing juga semakin detail, jadi mustahil kalau kau menyamar atau berubah wujud menjadi sosok lain, karena pasti akan mudah terdeteksi," sahut Argadhanu bergaya seperti seorang ilmuan.


"Kumat! Kalau ngomong tuh bahasanya jangan tinggi-tinggi!! Taakkkk!" Nyai Pitaloka memukul kepala Argadhanu menggunakan sendok dari kayu, disusul Argadhanu yang melotot kesal sambil menggosok kepalanya.


Prameswari hanya bisa menahan ketawa ketika melihat tingkah konyol kedua gurunya itu.


"Aku baru tahu berita ini guru, lantas, apa yang harus aku lakukan untuk bisa memasuki wilayah kerajaan Tirtokencono?" tanya Chandranala memotong.


"Hmm sebentar, kapan kau disuruh Ki Bandung Bondowoso untuk mengambil cincin itu?" tanya Nyai Pitaloka.


"Satu minggu dari sekarang nek, tepat malam Sabtu Legi," jawab Chandranala.


"Aku akan mencoba menghubungi seseorang yang ada di kerajaan Tirtokencono," tandas Nyai Pitoloka.


"Apa kau akan meminta bantuan orang itu?" tanya Argadhanu seakan sudah tahu siapa yang dimaksud Nyai Pitaloka.


"Iya, hanya ini yang bisa kita lakukan untuk sekarang, semoga saja kita memiliki pilihan lain esok hari," sahut Nyai Pitaloka.


"Aku sebenarnya juga malas berurusan dengan orang itu," keluh Nyai Pitaloka sambil melirik Argadhanu.


"Siapa orang itu guru?" tanya Prameswari penasaran.


"Ia adalah mantan kekasihku dulu, namanya adalah Yeksopati," jawab Nyai Pitaloka terlihat tak antusias.


"Yeksopati? Maksud nenek Yeksopati yang dulunya panglima perang kerajaan Tirtokencono pada masa pemerintahan Ratu Chandrika?" nada bicara Chandranala seakan tak percaya.


"Kau mengetahuinya le?" tanya Nyai Pitaloka.


"Iya aku tahu dia nek, sebelum menjadi panglima perang kerajaan Tirtokencono, dia adalah jin kuat penguasa Gunung Arjuno," Chandranala berujar penuh keseriusan.


"Dulu, waktu aku berlatih di lereng gunung Arjuno, aku pernah bertemu dengannya, dan sempat latih tanding juga, dan hasilnya aku kalah telak darinya nek," sahutnya sambil menunjukkan bekas luka bakar di lengannya.


"Apa lukamu itu karena terkena ajian Sawunggeni miliknya?" tanya Pitaloka.


"Iya nek, pukulan apinya sangat kuat, untung dia tidak serius, kalau tidak aku pasti sudah tamat nek, aku dulu terlalu meremehkan lawanku," Chandranala berdecak lesu.


"Iya aku paham le, untung saja kau masih hidup hahaha, memang dia terkenal mempunyai banyak jurus berelemen api, penguasaan jurusnya baik dan juga daya serangannya sangat dahsyat," Nyai Pitaloka terlihat mendongak keatas sambil mengingat kenangan saat bersama Yeksopati dahulu.


"Yahhh dia malah mengingat masa lalu, hmm liat tuh sambil senyum-senyum sendiri," celetuk Argadhanu melirik ke arah Pitaloka sambil menuang tuak ke dalam gelas.

__ADS_1


"Lambemu lamis!" umpat Nyai Pitaloka karena kesal.


"Hahahaha," mereka bertiga tertawa melihat tingkah nyai Pitaloka yang terkesan sedikit salah tingkah.


"Baiklah, besok aku akan coba pergi kesana untuk menemuinya, semoga saja ia berkenan membantumu, Chandra," ucap Nyai Pitaloka.


"Baik nek, apakah nenek sendiri yang akan pergi kesana?" tanya Chandranala.


"Iya le, lebih baik aku sendiri yang pergi kesana karena kalau kita semua pergi, takutnya akan menimbulkan kecurigaan," sahut nyai Pitaloka.


"Bagaimanapun juga kita akan mengambil sesuatu yang ada di wilayah kerajaan mereka, jadi kita harus berhati-hati dan bertindak seaman mungkin," tambahnya seraya menenggak penuh segelas tuak yang ada di genggamannya.


"Baiklah Nek aku mengerti, kalau begitu aku akan berlatih dulu bersama Prameswari," Chandranala berpamitan kepada kedua gurunya dan beranjak dari tempat duduknya.


"Hmm berlatih apa berlatih??" ucap Argadhanu meledek.


"Berlatih guru heheh," jawab Prameswari malu-malu.


"Berlatih bikin anak? Hahaha" celetuk Argadhanu.


"Hahhhh, nih mulut aki-aki minta dijejalin sendal rupanya," sahut Nyai Pitaloka sedikit geram.


"Hhuahaha, santai lah Nyi, kan aku hanya menggoda mereka, kok jadi dirimu yang  sewot sih!" Argadhanu mengelak seraya menjulurkan lidahnya.


"Sakarepmu wes!" sahut Nyai Pitaloka sewot.


"Iya ati-ati di jalan le," timpal Nyai Pitaloka.


"Nyai, seneng yah kalo liat pasangan muda sedang memadu kasih," terlihat mata Argadhanu berbinar.


"Yah namanya juga anak muda, kayak gak pernah muda aja kamu!" kembali Nyai Pitaloka menjawab sewot.


"Hmm, dilihat lama-lama jadi kepingin nyai, hahaha bagaimana kalau kita," belum selesai Argadhanu berbicara, Nyai Pitaloka seketika memotongnya.


"Tidakkkk!! Najis!! Ogah!!" bentak Nyai Pitaloka seraya meninggalkan Argadhanu sendiri menuju ke dalam kamar.


"Jahat banget sih nyai! Owalah nasib," gerutu Argadhanu seraya menenggak kembali gelas tuaknya.


*****


Sementara itu dibagian lain di alam jin, didalam hutan larangan Sabdoprogo, perbatasan antara wilayah kerajaan Wesibuono dan Rudrosengkolo,


"Mereka rupanya sudah mulai bergerak," ucap seseorang bertudung hitam namun masih terlihat sedikit siluet wajahnya yang pucat. Sosok bertudung hitam itu mempunyai sebuah tanduk yang mencuat didahinya.


"Iya aku sudah tahu, untuk saat ini alangkah baiknya kita pantau terus mereka, jangan sampai pengamatan kita tak membuahkan hasil," sahut seorang lali-laki yang mamakai baju terusan seperti pertapa, namun berwarna hitam. Laki-laki itu terlihat seperti manusia normal, namun tangan kirinya berbentuk seperti tangan iblis. Kulitnya pun berwarna kemerahan dari ujung kepala sampai ujung kaki.

__ADS_1


"Iya kakang, aku juga sudah lama mendapat penglihatan tentang pusaka itu, tetapi aku masih belum tahu dimana aku bisa menemukannya," suara wanita dewasa terdengar jelas namun wajahnya masih samar tertutup bayangan pohon besar.


"Semoga pusaka yang kita cari sama dengan yang mereka cari, jadi kita tak perlu susah-susah mencarinya, kita tinggal merebutnya dari tangan mereka," ucap laki-laki bertudung hitam yang bertanduk.


"Hahaha, semoga saja Rayi," sahut lelaki bertangan iblis sambil tertawa menggelegar.


"Hmm, tapi kakang, Argadhanu dan Pitaloka itu bukan musuh yang bisa dengan sembarangan kita hadapi, mereka cukup kuat, aku takut kalau kita kalah dari mereka kakang," rengek wanita itu keluar dari bayangan seraya mendekati si lelaki bertangan iblis, dan membuat wajah wanita itu terlihat jelas.


Wanita itu mengenakan pakaian sedikit aneh, seperti gaun khas kerajaan timur yang berwarna merah cerah dan bermotif bunga. Gaun terusan itu menjuntai sampai ke tanah, dengan belahan dada yang terbuka sehingga menonjolkan dua buah bulatan kenyal yang terlihat indah.


Wanita yang cukup cantik itu bertubuh ramping semampai, berkulit putih bersih dan mulus, serta berambut hitam yang di sanggul ke atas dan di tusuk menggunakan hiasan rambut berbentuk bulan sabit berwarna keemasan.


Sekilas wanita itu terlihat seperti wanita dewasa pada umumnya, namun yang membuat berbeda adalah, dia memiliki sebuah mata tambahan yang berada tepat di dahinya.


"Kau tak usah khawatir adikku, aku punya pusaka itu, dan kau juga punya mata terkutuk itu, dengan kekuatan matamu, kita bisa dengan mudah mengetahui letak kelemahan lawan-lawan kita, hahaha," lelaki bertangan besi kembali tertawa keras sampai menggema di penjuru hutan.


"Satu lagi, dengan kekuatan mata adikmu, kita bisa mengetahui dimana keberadaan musuh kita, meskipun mereka sembunyi di liang tikus sekalipun, mereka tak akan bisa lepas dari jangkauan mata terkutuk itu!" timpal sosok bertudung hitam bertanduk sambil memainkan sebuah bola api ditelapak tangannya.


Dari kejauhan terdengar suara aneh yang berasal dari semak belukar, suara yang terdengar semakin lama semakin keras dan berisik. Lalu tiba-tiba muncullah sesosok siluman yang bentuknya terlihat seperti gabungan beberapa hewan.


Sosok itu berwajah seperti gabungan singa dan naga, berbadan kuda, bersayap kelelawar, berkaki elang, dan berekor kalajengking. Sosok yang terlihat sangat aneh dan menyeramkan.


"Sendiko dawuh Tuan," ucap mereka bertiga hampir bersamaan, mereka menunduk hormat sambil menekuk salah satu lututnya kepada sosok makhluk aneh yang baru saja muncul itu.


********


Sementara itu di alam manusia, didalam kamar Arya,


Tak terasa waktu malam pun berlalu begitu cepat, meninggalkan keheningan dan sekarang tergantikan oleh seruan dari ayam jago yang berkokok dari kejauhan sebagai pertanda kehadiran sang fajar yang mulai menyingsing diujung hamparan langit tak berawan.


Di kamar yang sedikit berantakan, terdapat dua makhluk berbeda alam dan juga berbeda jenis kelamin yang saling berbagi tempat tidur yang terbuat dari busa dan beberapa pegas didalamnya.


Terlihat seorang wanita cantik bergaun merah tengah terlelap mendekap erat selimut tebal yang tengah tergulung menyerupai guling. Di sampingnya, tentu saja si pemilik kamar, yaitu Arya sedang menggeliat tak karuan lalu menyipitkan mata seraya menggosoknya,


"Hoaahhhmmm, jam berapa ini?" Arya menguap seraya meraba-raba sesuatu di sebelahnya, mungkin dia sedang mencari dimana ponselnya.


Seketika, Arya terkejut karena tangannya tak sengaja memegang sesuatu yang tak seharusnya ia pegang. Ia memegang sebuah gumpalan kenyal yang tak tau apa itu sebenarnya.


Tuing, Tuing (Arya *******-***** penuh rasa penasaran gumpalan kenyal itu tanpa menoleh sedikitpun)


"Lohh? Ini apa ya? Kok kayaknya aku pernah megang yang model kayak ginian?" gumam Arya seraya memalingkan wajahnya kesamping,


Tiba-tiba,


"Arrrrrghhhhhh!"

__ADS_1


*******


__ADS_2