Titisan Penakluk Jin

Titisan Penakluk Jin
Bab 46


__ADS_3

Kembali ke meja Arya,


"Ada apa yah? Tadi kok ada suara cewek teriak?" ucap Denny kepo.


"Ya gak tau, kok tanya saya," jawab Arya sambil memainkan ponselnya.


"Mas permisi, ini pesenannya americano dan frenchfries," tanpa di sadari, Winda sudah tiba di meja Arya mengantarkan pesanannya.


"Iya mbak Winda, terima kasih," sahut Arya sambil meraih cangkir kopinya.


"Ehh mbak maaf tanya, tadi ada cewek yang teriak dari dalam tuh kenapa mbak?" Denny penasaran.


"Ohh itu mas, tadi temen saya itu ngeliat gelas shaker melayang sendiri, dia ketakutan jadi teriak kayak gitu," jawab Winda sambil menenteng nampan yang sudah kosong.


Deggg,


Arya kaget mendengar penjelasan Winda, karena Arya tau dengan pasti kalau itu adalah ulah dari si Asih. Mata Arya sekarang memindai ke segala arah untuk mencari keberadaan Asih, tetapi tak berhasil ia temukan.


"Aku ke toilet bentar ya bro," Arya berbohong kepada Denny.


"Yuhuuuu," Denny menjawab singkat.


"Kalau begitu saya permisi dulu mas," ucap Winda seraya meninggalkan meja Arya.


Arya sebenarnya khawatir kalau Asih berbuat usil lagi, makanya ia berbohong kepada Denny biar dia bisa dengan leluasa mencari keberadaan Asih saat ini.


Benar saja, sekarang Asih berada di depan toilet cowok, mencondongkan kepalanya masuk menembus pintu toilet cowok. Melihat itu Arya langsung bergerak cepat untuk menarik Asih menjauh.


"Asih! Ayo ikut! Jangan bikin ulah lagi!" bentak Arya dengan nada tinggi.


"Hah? Ulah? Apaan Arya?" Asih plonga-plongo tak tahu maksud Arya sebenarnya.


"Kamu tadi sudah mengganggu karyawan!  sekarang mau gangguin customer yang ada di toilet!" sahut Arya bergaya otoriter sambil menunjuk Asih dengan jari telunjuknya.


"Apaan sih kamu! Datang-datang langsung ngamuk-ngamuk! Aku gak ngapa-ngapain sumpah, aku cuma keliling doang!" sanggah Asih.


"Tadi kamu kan yang udah bikin karyawan sini ketakutan? Kata mereka gelas shaker di dapur melayang sendiri! Itu ulah kamu kan?" Arya kembali menunjuk muka Asih.


"Ehhh tolong ya mas Arya, aku dari tadi tuh gak megang apapun disini ya, please, aku cuma keliling melihat-lihat doang karena penasaran!" Asih juga mulai marah karena merasa di tuduh tanpa bukti.


"Beneran bukan kamu?" Emosi Arya sedikit mereda karena mendengar asumsi Asih yang sepertinya tidak berbohong.


"He'em," Asih hanya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Terus kalau bukan kamu siapa? masa iya shaker bisa terbang sendiri?" Arya jadi bingung sendiri.


"Yo gak tau aku, aku berani sumpah bukan aku Aryaaaa!" bantah Asih sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya.


"Terus ngapain kamu ngintipin toilet cowok? mau liat belut gelantungan ya? Ngaku!" Arya suudzon kepada Asih.


"Hilih ngapain juga sampai aku bela-belain masuk toilet cowok kalau cuma pengen lihat belut? Lihat kamu mandi juga sama aja, bentuknya juga gitu-gitu doang!" sahut Asih polos.


"Ehhh, ngawur aja, gak boleh! awas ya kalo di rumah ngintipin aku mandi! Aku sentil kamu!" sahut Arya sambil menutupi bagian depan celananya.


Ketika Arya dan Asih sedang asik ngobrol, tiba-tiba muncul sekelebat bayangan hitam pendek keluar dari dalam toilet wanita di seberang toilet laki-laki.


Asih yang menyadari hal itu langsung terbang melesat dan menangkap sosok yang baru muncul itu.


"Nahhh ini mungkin pelakunya Arya!" teriak Asih sambil mencengkeram leher makhluk itu. Makhluk kecil itu berontak namun tak bisa lepas dari genggaman Asih.


"Hihihi, mau kemana kau makhluk cebol!" Asih semakin memperkuat cengkeramannya.


Sosok itu mempunyai kepala yang botak dan berukuran lebih besar daripada badannya. Tinggi makhluk itu hanya setinggi anak usia 5 tahun dengan kaki yang pendek. Dengan perut yang membuncit dan kulit kecoklatan yang sudah keriput. Mata dan hidungnya pun besar, serta mempunyai mulut yang lebar pula. Kedua telinganya runcing ke atas dan memanjang.


"Makhluk apa itu Asih!" Arya bertanya sambil bergidik melihat makhluk aneh tersebut.


"Ini namanya tong bajil, mereka jin kotor yang suka sekali mendiami tempat-tempat kotor seperti toilet, tempat sampah, dan reruntuhan bangunan," Asih memberi penjelasan kepada Arya.


"Arggghh ampun mbak Kunti, ampunnn!" teriak makhluk itu kesakitan karena lehernya dicengkeram Asih dengan kekuatan penuh.


"Kamu kan yang sudah jahil di dapur tadi?" Arya menyahut memberanikan diri.


"I-iya aku tadi yang sudah membuat gadis itu ketakutan, ma-maaf aku hanya iseng tadi," jawaban tong bajil malah membuat Asih semakin geram.


"Apa? Iseng!? enak aja kamu bilang iseng! gara-gara kamu, aku jadi dituduh yang enggak-enggak sama Arya!" sekarang Asih mencekik leher tong bajil itu dengan kedua tangannya.


"Arghhhh! A-ampuni aku, a-aku tak akan mengulanginya lagi!" Tong bajil itu memohon kepada Asih.


"Awas kalau kau ulangi lagi! Aku musnahkan kau!" Asih mengancam dengan serius seraya melepaskan cengkeramannya.


"Ahhh, i-iya aku minta maaf, aku akan pergi dari sini dan tidak akan mengganggu lagi," tongbajil itu langsung berlari dan menghilang seketika.


"Sekarang sudah tau kan? Bukan aku pelakunya," ucap Asih penuh penekanan.


"Hehehe iya Asih, maafin aku yah, aku sudah salah nuduh kamu," ucap Arya seraya menghampiri Asih.


"Hmphhh," Asih membuang muka seraya mengembungkan pipinya pertanda lagi ngambek.

__ADS_1


"Jiahhh, malah ngambek, maafin aku dong Asih, yah yah yah," Arya sedikit memaksa.


"Ada syaratnya tapi," Asih menoleh menatap Arya.


"Apaan syaratnya? Masa iya orang minta maaf harus pake syarat?" ujar Arya heran.


"Mau di maafin gak? Kalo gak mau ya udah, aku aduin ke Nyi Prameswari loh!" ancam Asih.


"Iya deh iyaaaa, apa syaratnya Asihku yang cantikkkkk," Arya berpura-pura menggodanya.


Degggg


Jantung Asih tiba-tiba berdegup kencang, Asih merasa bahagia sekali saat Arya memuji kecantikannya, bukan hanya itu, Asih juga merasa senang dan nyaman kalau berada di dekat Arya.


"Yeee malah diem, helooooo," Arya melambaikan telapakk tangannya di depan wajah Asih yang sedang merona merah.


"Ahhh iya anu, ehmmm," Asih jadi salah tingkah karenanya.


"Loh? Mukamu kok merah? Kamu kenapa?" tanyanya heran.


"Anu, nggak kok Arya, hehehe," jantung Asih semakin berdegup kencang.


"Jadi apa syaratnya nih?" Arya mengulangi pertanyaannya.


"Ohh iya, emmm beliin Mixue," sahut Asih polos.


"Mixue? emang Kunti bisa makan es krim?" Arya semakin di buat heran dengan tingkah Kunti satu ini, ada-ada aja permintaaannya.


"Bisa dong! emang cuma manusia aja yang bisa makan eskrim?"


"Hmm, ya udah nanti pulang dari sini kita beli yah, tapi makannya di rumah aja, jangan di jalan, nanti bahaya kalau ada yang lihat cone eskrim melayang sendiri," pesan Arya mengingatkan.


"Yeeee, makasi yah Arya," Asih melompat ke arah Arya dan langsung mendaratkan pelukan erat.


"Iya-iya santai," jawab Arya sambil mengelus kepala Asih.


Disini, jantung Asih semakin berdegup encang tak karuan ketika kepalanya diusap pelan oleh Arya di dalam pelukannya. Mungkin di dalam benak Asih, rasanya seperti melayang, begitu membahagiakan saat-saat seperti ini bersama dengannya.


"Ya udah, yok keluar," Arya mengajak Asih untuk kembali ke meja depan sambil menggandeng tangannya.


"Yuk," wajah Asih terlihat berbinar penuh kebahagiaan, dengan senyum manis yang merekah di bibirnya.


*******

__ADS_1


__ADS_2