
Satu demi satu telur ayam kampung yang berjumlah 3 butir itu dipecahkan pak Trisno atas perintah Nyi Sridewi. Di mulai dari telur yang pertama, nihil, hanya berisi kuning telur dan putihnya seperti telur pada umumnya.
Lalu di teruskan memecahkan telur kedua yang mana ini sedikit berbeda, telur kedua berisi cairan hitam pekat dan kental seperti oli bekas vespa dan menimbulkan bau busuk dan amis. Seketika perut pak Trisno menjadi mual ingin muntah.
"Itu adalah hasil dari manifestasi gangguan yang sedari tadi kau alami saat melakukan ritual ini," kata Nyi Sridewi menegaskan.
"Berarti ini hasil dari energi serangan dan gangguan yang dari tadi saya alami nyi?" pak Trisno bertanya lagi
"Iya semua energi negatif tadi tersedot masuk kedalam telur itu,dan itulah hasilnya bisa kau lihat sendiri," tunjuk Nyi Sridewi.
"Tapi saya sedari tadi tak merasakan sesuatu apapun atau merasa terkena serangan nyi?" Pak Trisno kembali penasaran.
"Itulah berkah dariku atas kesediaanmu melalukan ritual ini kepadaku, semua serangan negatif yang kau alami menjadi netral dan malah tersedot masuk ke dalam telur itu," kata Nyi Sridewi menjelaskan.
"Sekarang coba kau pecahkan telur yang terakhir," kata Nyi Sridewi menambahkan.
Sambil mengangguk, pak Trisno memecahkan telur terakhir dan alangkah terkejutnya ia ketika melihat isi di dalam telur ketiga itu.
Telur itu berisi sebuah batu berwarna coklat muda di hiasi motif garis yang membentuk lekukan-lekukan asimetris. Bentuknya seperti mata akik yang biasa di pakai dukun-dukun. Setalah dilihat dan diamati, batu itu seakan punya kekuatan untuk menarik minat seseorang.
Tak henti-hentinya pak Trisno memandangi dan merasa takjub dengan bentuk dan warna batu itu yang begitu indah seakan sedang dihipnotis.
"Bagus sekali Nyi batu ini, batu apakah sebenarnya ini Nyi?" tanya Pak Trisno semakin dibuat penasaran.
"Itu adalah batu penglaris usaha. Setelah ritual selesai, tanamlah di halaman depan tempat usahamu. Niscaya usahamu akan berkembang dengan pesat," Nyi Sridewi memerintah sembari menunjuk batu itu.
Setelah mendengar penjelasan nyi Sridewi, pak Trisno lantas meletakkan batu itu kedalam kain putih yang sudah di persiapkan seraya membungkusnya lalu mengantonginya.
"Aku berpesan, sebelum ditanam, hendaknya kau puasa mutih sehari-semalam, lalu esoknya, mandikan batu itu dengan air rendaman bunga kantil dan tiga tetes minyak Misik, lalu tanam tepat jam 12 malam, ingat itu," tanda nyi Sridewi mewanti-wanti.
__ADS_1
"Maaf Nyi, apa itu puasa mutih?" tanya Pak Trisno sambil menatap mata Nyi Sridewi.
"Apa dukun itu tak menjelaskannya kepadamu?" Nyi Sridewi menimpalinya dengan pertanyaan.
"Belum Nyi, Ki Dharmo tak membahas apapun tentang puasa mutih ini," kata Pak Trisno jujur.
"Hmm, puasa mutih itu puasa yang dilakukan seseorang ketika melakukan ritual ghaib tertentu, biasanya dilakukan sehari semalam, 3 hari, 7 hari atau bahkan sampai 40 hari penuh."
"Tata cara puasa mutih seperti puasa pada umumnya, yang berbeda adalah makanan yang dimakan ketika berbuka puasa pada saat puasa mutih," tambah Nyi Sridewi.
"Makanan? Apa itu Nyi? Makanan apa yang harus dimakan?" pak Trisno terlihat memutar mata kebingungan.
"Buka puasanya puasa mutih adalah hanya makan sekepal nasi putih serta minum segelas air putih, tanpa makan apapun lagi, hanya itu yang harus dimakan," Nyi Sridewi menegaskan.
"Yah saya coba Nyi, semoga saya bisa,"
"Kamu harus bersedia, sekali ritual dilakukan, pantang untuk berhenti atau menyerah, atau kau yang akan mengalami hal buruk," nada bicara Nyi Sridewi sedikit mulai serius.
Setelah menjelaskan panjang lebar, Nyi Sridewi lantas terbang perlahan mendekati pak Trisno dan mulai meraba-raba tubuh pak Trisno. Sontak pak Trisno kaget dan hanya pasrah saja menerima perlakuan Nyi Sridewi.
Dia mengingat apa saja yang telah di pesankan Ki Dharmo kepadanya, salah satunya adalah apapun yang di lakukan sing mbaurekso kepadanya, dia harus menuruti dan pasrah. Itu adalah ritual ke 2 yang harus di laksanakan.
"Kita akan melakukan ritual ngalap berkahing danyang, yaitu melakukan hubungan int*m bersamaku. Tenang saja, kita melakukan seperti suami istri pada umumnya, tetapi aku butuh sedikit untuk menyerap energi kehidupan yang ada pada dirimu.
Mengingat penyaluran energi hanya bisa di lakukan pada saat berhubungan int*m. Itu adalah syarat yang harus kau lakukan. Apa kau bersedia?" tanya Nyi Sridewi setelah menjelaskan rincian ritualnya.
"Baik Nyi aku bersedia," jawab pak Trisno.
"Sekarang, lepaskanlah semua pakaian yang kau pakai," perintah Nyi Sridewi seraya melepaskan juga satu-persatu pakaian yang ia kenakan.
__ADS_1
Pak Trisno kaget dan kagum melihat wujud Nyi Sridewi yang tanpa mengenakan sehelai benangpun di tubuhnya. Tubuhnya tinggi semampai dengan kedua gunung yang bergelantungan tampak agak besar dan padat. Yang melambai-lambai seakan ingin untuk segera di santap dan di *****.
Nyi Sridewi berkulit putih mulus tanpa adanya noda dan kecacatan sedikitpun. Rambutnya yang panjang terurai terkibas perlahan menambah gairah siapapun yang melihatnya.
Hasr*t dan n*fsu pak Trisno sudah tidak bisa dibendung lagi, Dilaksanakanlah ritual saling tumpang tindih itu.
Setelah lebih dari 30 menit melakukan ritual sengg*ma itu, Nyai Sridevi tersenyum lalu memuji Pak Trisno, "Kau begitu pandai melakukan hubungan int*m, aku menghargainya dan aku terpuaskan." kata Nyi Sridewi seraya bangkit dan hendak memakai kembali pakaiannya.
"Jangan cemas, aku hanya mengambil sedikit energi kehidupan yang ada pada dirimu. Minumlah air degan ijo itu dan beristirahatlah sebentar maka kau akan segera pulih." Tambah Nyi Sridewi.
Pak Trisno yang masih telentang lemas tak bisa bergerak hanya bisa tersenyum dan mengangguk pelan ke arah Nyi Sridewi.
Setelah selesai memakai pakaiannya, Nyi Sridewi seraya berpesan kepada pak Trisno,
"Setelah ini, kau harus menyiapkan diri untuk melakukan ritual terakhir yaitu ritual persembahan tumbal bayi perempuan yang lahir pada weton Selasa Pon, ingat syaratnya harus tepat, jenis kelamin serta wetonnya," ujar Nyi Sridewi menekankan.
Sontak syarat ritual terakhir itu membuat pak Trisno kaget, bingung dan bertanya-tanya, ternyata ritual terakhir begitu susah syaratnya.
"Bagaimana caranya aku menyediakan tumbal bayi itu? Dan dimana pula aku harus mencarinya Nyi?" tanya pak Trisno sedikit cemas.
"Itu terserah bagaimana kau melakukannya, yang jelas kau harus menemukannya dalam kurun waktu 5 hari sampai hari Selasa Pahing berikutnya. Semakin cepat semakin baik. Aku tak butuh jasadnya, aku hanya butuh sari pati kehidupannya," tambah jin wanita itu menjelaskan.
Sebelum beranjak pergi, Nyi Sridewi menyerahkan sebuah benda mirip botol kecil yang terbuat dari emas ke Pak Trisno.
"Itu adalah botol pelahap jiwa, kau hanya perlu meletakkan mulut botol yang terbuka ke arah mulut bayi yang akan kau tumbalkan, maka saripati kehidupan bayi itu akan segera terserap masuk ke dalamnya."
"Setelah botol itu terisi penuh, segeralah kembali kesini, dan panggil aku." Lanjut nyi Sridewi.
"Baik Nyi, saya akan lakukan permintaan Nyai sesegera mungkin." Jawab pak Trisno.
__ADS_1
Setelah mendengar jawaban pak Trisno, dengan hentakan selendangnya, Nyi Sridewi langsung menghilang dari pandangan pak Trisno.
***********