
Beberapa saat yang lalu di sisi bagian lain dari dimensi alam manusia...
Hiyattt ..hiyattt.. swinggg..swushhhh
Terlihat seorang pemuda tampan dan gagah sedang berlatih pedang di sebuah tanah lapang. Ia hanya bertelanjang dada dan sedang bermandikan keringat. Pemuda itu melompat ke depan dan ke belakang mengayunkan pedangnya berirama dan indah seperti sedang menarikan sebuah tarian.
Hiyattttt..swingggggg..Duarrrrrrr
Ayunan pedang bermata burung Jatayu yang ia ayunkan tiba-tiba mengeluarkan energi yang berwarna jingga dan melesat menabrak beberapa pohon di depannya dan seketika merobohkan tiga pohon yang berjajar lurus.
"Ahhh lelah sekali aku sedari pagi berlatih." Kata pemuda itu sambil memasukkan bilah pedang nya kedalam sarung pedang berwarna perak.
Kemudian pemuda itu duduk bersandar di bawah pohon besar yang menyerupai pohon beringin. Di letakkannya pedang yang sudah tertutup itu di sampingnya dan ia sesekali mengipas-ngipas badannya menyeka keringatnya yang bercucura.
Dari kejauhan di antara awan-awan yang berjejer di bawah terik sinar matahari terlihat seorang pria paruh baya terbang melesat cepat ke arahnya. Pria itu lalu mendarat tepat di hadapan pemuda itu.
Swishhhhhh..tap!
Pemuda itu buru-buru bangkit seraya menekuk sebelah kakinya dengan satu lutut menempel ke tanah. Di tangkupkanya kedua telapak tangan di depan wajahnya seraya menundukkan kepalanya.
Lelaki paruh baya itu berperawakan seperti bapak-bapak normal pada umumnya. Dengan kumis hitam yang membentang di atas bibirnya serta jenggot tipis berbentuk segitiga yang menjuntai ke bawah. Lelaki itu berpostur sedang dan bertubuh agak kekar. Ia memakai ikat kepala hitam yang di ujungnya terdapat lempengan bros kecil berwarna perak bergambar burung Jatayu persis sama seperti yang dimiliki Chandranala.
Lelaki paruh baya itu mengenakan pakaian terusan panjang seperti jubah yang juga berwarna serasi dengan ikat kepala dan juga celananya. Terdapat sebuah tongkat kecil terbuat dari emas yang terselip di antara lipatan kain motif batik yang di lilitkan di sepanjang pinggangnya.
"Hormat saya guru Batara Argadhanu!" sapa pemuda itu.
"Baik muridku, bangunlah. Aku buru-buru datang kemari menemuimu karena ada suatu hal penting yang akan aku sampaikan kepadamu," kata Arghadanu.
"Kalau boleh saya tahu, apa itu guru?" tanya pemuda itu penasaran.
"Muridku Chandranala, kau kan sudah mempelajari ajian Kalasutra dariku, dan kau tahu bahwa ajian itu tidak akan sempurna tanpa adanya seorang pasangan yang melengkapi gerakan gabungannya. Kalau kau mempunyai pasangan yang tepat, ajian Kalasutra bisa mengeluarkan kekuatan yang sebenarnya," kata Argadhanu.
"Nenek gurumu tadi sudah menerawang keberadaan calon pasanganmu, tetapi dia berasal dari alam manusia. Ada seorang bayi perempuan yang baru saja lahir tiga hari yang lalu, yang berweton Selasa Pon, pas dengan dirimu yang berweton Rabu Wage. Bayi perempuan itu merupakan calon pasanganmu," tambah Argadhanu menjelaskan.
"Baiklah guru, saya mengerti, lantas apa yang harus saya lakukan sekarang?" Tanya Chandranala.
"Nenek gurumu berkata bahwa saat ini ada bahaya yang mengancam nyawa calon pasanganmu itu. Ada seorang manusia laknat yang mengincar bayi perempuan malang itu untuk di jadikan tumbal. Manusia itu telah bekerja sama dengan Danyang ilmu hitam untuk memperoleh kekayaan," jawab Argadhanu.
"Kau harus menyelamatkannya dan membawa bayi itu kemari, manusia itu akan menyerap jiwa bayi perempuan itu, kau harus merebut pusaka botol pelahap jiwa dari tangannya, sehingga jiwa bayi itu bisa di selamatkan," pesan Argadhanu.
__ADS_1
"Ingat, nama bayi perempuan itu adalah Arini, kau tidak harus membunuh manusia laknat itu, kau hanya perlu memberinya pelajaran," tandas Argadhanu menekankan kalimatnya.
"Siap guru, saya akan lakukan sesuai yang guru perintahkan," sahut Chandranala sambil memberi hormat.
"Aku akan membukakan sebuah portal yang langsung menuju ke tempat targetmu. Dengan berbekal aplikasi Google Earth, aku pasti bisa mengirimimu ke titik yang dituju secara akurat," ucap Argadhanu agak serius.
"Ha? Google Earth guru?" tanya Chandranala sambil mengangkat satu alisnya.
"Sudah jangan banyak tanya!" timpal Argadhanu salah tingkah karena keceplosan.
Setelah Batara Argadhanu membaca sebuah mantra, tiba-tiba dari udara kosong muncullah sebuah retakan di susul sebuah sobekan ruang yang berwarna hitam.
Crrrccchhssss..Bzzzzttt..bzzztt
Masuklah sekarang Chandranala, selamatkanlah bayi itu!" Perintah Argadhanu sambil kedua tangannya terangkat ke depan menahan portal ruang itu.
"Baik, saya pamit dulu guru," Chandranala langsung melompat masuk ke dalam celah sobekan ruang yang berwarna hitam itu.
"Semoga dia berhasil menyelamatkannya dan membawanya kesini. Aku juga sudah memberi peringatan kepada ayah bayi itu lewat mimpi. Semoga saja dia bisa menerima nya dengan lapang dada," kata Argadhanu seraya menurunkan kedua tangannya di susul retakan ruang yang di gunakan Chandranala tadi berangsur-angsur mengecil dan menghilang.
"Waduh Gusti! terus bagaimana caranya nanti dia kembali kesini? Hahahaha aku lupa memberi tahunya. Biar nanti nenek gurunya saja yang menariknya dari alam manusia," ucap Argadhanu sambil tertawa lalu terbang kembali melesat di antara awan yang sedang berarak perlahan.
Benar saja, dia adalah manusia yang di maksud gurunya. Terlihat dari balik saku celana hitamnya, terpancar aura jahat yang berasal dari pusaka botol pelahap jiwa.
"Jadi ini manusia yang di maksud guru? Kurang ajar!" batin Chandranala geram.
Tak lama mengikuti pak Trisno, tibalah mereka di depan ruang inkubasi bayi-bayi yang baru lahir. Setelah memperhatikan sekeliling dan di rasa keadaan sudah aman, pak Trisno memasuki ruangan itu sambil memakai masker.
Kotak demi kotak inkubator yang berisi bayi yang sedang tertidur lelap di perhatikan satu persatu oleh pak Trisno, sambil mencari bayi perempuan yang bernama Arini.
Sampailah pak Trisno di depan inkubator yang didalamnya terdapat bayi perempuan yang cantik dan lucu yang sedang tertidur lelap, di lihatnya papan kecil di bawah kotak kaca itu bertuliskan "Arini P., Ny. Mella Anggraini."
Dibukalah tutup bagian atas kotak kaca itu dan seraya pak Trisno mengambil botol emas yang ada di dalam saku celananya. Di bukalah penutup botol itu dan diletakkannya di depan mulut bayi Arini. Dan tiba-tiba botol itu berpendar cahaya kuning keemasan.
Sebuah asap tipis berwarna putih seperti benang menyeruak dari dalam mulut bayi Arini dan masuk perlahan ke dalam botol yang berpendar itu, sedikit demi sedikit. Wajah bayi Arini yang semula merona merah, lambat laun kulitnya berubah menjadi putih pucat.
Sampai pada akhirnya bayi Arini yang malang itu menghembuskan nafas yang terakhir tanpa sedikitpun gerakan atau tangisan. Sungguh malang bayi tanpa dosa itu menjadi sebuah tumbal untuk keegoisan manusia serakah yang menginginkan kekayaan secara instan.
Botol kecil itu berhenti berpendar menandakan botol itu sudah terisi penuh dengan sari pati energi kehidupan atau jiwa dari bayi Arini.
__ADS_1
Melihat itu Chandranala tak kuasa menahan amarah dan segera mengambil tindakan. Belum selesai pak Trisno akan menutup botol berisi jiwa Arini itu, Chandranala langsung menampakkan diri di hadapan pak Trisno.
"Huwaaaa.. setaaannnn..!!" pak Trisno seketika kaget dan hendak berlari tetapi Chandranala langsung merebut botol itu dan seketika memelintir tangan kanan pak Trisno sampai patah.
Krataaaakkkkkk..
"Arrghhhhhhh..siapa kau!! Apa yang kau lakukan padaku Bangs*t!!" pekik pak Trisno sambil berteriak ke sosok Chandranala. Tetapi Chandranala tak menghiraukan teriakannya.
Masih dengan ketakutan sambil menangis menahan sakit di pergelangan tangannya, pak Trisno mencoba berlari, tetapi kakinya di tendang dan di injak oleh Chandranala, menyebabkan pak Trisno kembali tersungkur.
"Arghhhh hentikannnn!" teriak pak Trisno terus memohon.
Tak menghentikan tindakannya menghajar pak Trisno, tiba-tiba pak Trisno pingsan tak kuat menahan sakit di sekujur tubuhnya, di susul suara derap langkah dari kejauhan mendekat ke ruang inkubasi.
Ketika Chandranala akan menginjak kepala pak Trisno yang sudah tersungkur lemas untuk memuaskan rasa amarahnya, tiba-tiba tubuhnya serasa di tarik ke dalam ruang hampa.
Syuuuuttttttt..splassshhhh
Chandranalapun lenyap menghilang dari tempat itu.
Para perawat dan petugas rumah sakit yang sedari tadi mendengar teriakan dari ruang inkubasi, segera berlari menuju ruang tersebut. Ketika mereka tiba di depan pintu ruang itu, mereka kaget karena ruangan itu sudah dalam keadaan porak poranda tak karuan.
Meja yang miring, stand infus yang roboh, berkas dan kertas yang berserakan serta beberapa vas bunga pecah. Yang paling membuat mereka kaget adalah pak Trisno yang sedang terbaring tak sadarkan diri di lantai. Di dekatnya kotak inkubator bayi Arini juga terlihat terbuka.
Dua orang perawat tengah berjuang memeriksa keadaan pak Trisno dan berusaha menyadarkannya. Seorang perawat wanita yang tengah mengecek keadaan bayi Arini begitu kaget serasa berkata kepada kedua perawat.
"Ya Allah gimana ini? Bayi Arini sudah tidak bernafas," Perawat itu menatap bayi Arini yang sudah membiru dengan sangat sedih.
"Jangan becanda kamu Bil!" Kata perawat laki-laki itu tak percaya.
"Ya Allah Yuuuddd, aku serius gak becanda, gimana caranya kita bilang ke orang tuanya?" Sahut Nabila dengan suara yang bergetar seakan mau menangis.
"Udah kamu jangan nangis dulu, biar aku yang menyampaikan ke orang tuanya, kamu tolong urus bapak itu sama si Irfan,"sahut Yudi menenangkan Nabila.
"Iya Yud," jawab Nabila sambil menyeka air matanya yang barusan menetes.
Mereka akhirnya membopong pak Trisno yang sudah mulai siuman ke atas ranjang dorong dan mengantarkan nya ke ruang periksa.
Ketika di tanya perawat yang mengantarkannya, pak Trisno masih tetap bungkam mengenai hal yang sudah menimpanya beberapa saat lalu. Di ruang periksa, Pak Trisno terus merintih kesakitan dan terus mengutuk mahkluk itu di dalam hatinya. Ia juga masih bingung kenapa makhluk itu menyerangnya dan merebut pusaka botol pelahap jiwa miliknya.
__ADS_1
**********