Titisan Penakluk Jin

Titisan Penakluk Jin
Bab 42


__ADS_3

"Wahhhhh tubuhku kembali seperti semula mbak, aku udah gak kesakitan lagi, terima kasih mbak!" sahut Asih girang dan dengan polosnya Asih memeluk Prameswari yang duduk disampingnya.


"Panggil saja Nyi Prameswari," jawabnya sambil mengelus kepala Asih yang sedang memeluknya.


"Iya mbak, ehh Nyi Prameswari, sekali lagi aku ucapkan banyak terima kasih Nyi," kata Asih sambil menunduk hormat.


"Iya jangan terlalu dipikirkan, syukurlah kalau kau sudah baikan, ngomong-ngomong, siapa dia? Kenapa kamu di siksa seperti itu?" tanya Prameswari penasaran.


Dengan agak berat hati karena masih menyimpan dendam kepada Mbah Tejo, Asih akhirnya menceritakan secara detail mulai dari awal ia menerima perintah dari Mbah Tejo sampai ia disiksa oleh Brajapati kepada Prameswari.


"Dukun kurang ajar!! baru jadi dukun lemah saja sudah semena-mena! tenang Asih, akan aku balasan dendammu, aku paling benci sama orang sok berkuasa seperti itu!" ujar Prameswari sambil memasang wajah penuh amarah.


"Gakpapa gak usah Nyi, yang penting aku sekarang aku sudah baikan Nyi," sahut Asih sambil menggenggam lengan Prameswari.


"Apa kau tak mau membalaskan dendammu Asih?" tanya Prameswari sambil menatap mata Asih dengan tajam.


"Kalau menuruti hawa nafsu, iya aku ingin sekali membalas dukun itu, tetapi dalam hati kecilku menolaknya Nyi, aku merasa kalau rasa dendam itu tak akan pernah berakhir meskipun salah satunya mati," ujar Asih sambil tertunduk.


"Baiklah kalau itu maumu, aku menghargai keputusanmu, lalu apa yang akan kau lakukan setelah ini Asih?" tanya Prameswari sambil mengelus punggung Asih.


"Aku sudah tak punya tempat untuk kembali Nyi, aku tak mau bertemu dukun itu lagi, tolong Nyi lepas ikatanku dengan dukun itu," pinta Asih dengan wajah memelas.


"Sudah dari tadi Asih, waktu kamu masih terbaring lemah, aku sudah melepas ikatan serta belenggumu, jadi sekarang kau benar-benar sudah bebas dari jeratan dukun laknat itu," sahut Prameswari dengan senyuman.


"Ahhh yang bener Nyi? Seriusan? Waahhhh terima kasih banyak yah nyiiiiii," Asih berteriak sambil lompat-lompat kegirangan, raut wajah ceria dan rasa bahagia tersirat dibenak Asih saat ini.


"Hahahaha sudah, terus apa yang akan kamu lakukan?" tanya Prameswari kembali.


"Nyi, maaf sebelumnya, apa aku boleh ikut sampean Nyi? Aku sudah tak punya tempat tinggal," raut wajah ceria tadi kini berubah jadi mimik kesedihan.


"Hmm baiklah, aku akan membawamu ke tempatku," Prameswari menyetujui permintaan Asih tanpa berpikir lagi.


"Wahhhh senangnyaaaaa, terima kasih nyiiiii," pelukan hangat kembali dilayangkan ke tubuh Prameswari.


"Hahahaha sudah sudah, ayo ikut aku," Nyi Prameswari menggenggam tangan Asih.


"Baik Nyi," Asih mengangguk pelan.


Sedetik kemudian Prameswari menghilang bersama Asih di tengah kegelapan menuju ke alam jin.


***


"Ohhhh jadi begitu ceritanya, hmmm cerita yang bagus, keren tuh kalau diangkat jadi cerita novel, hahaha," kata Arya sambil tertawa.


"Gitu doang tanggepannya? Uda minta di ceritain panjang-panjang cuma gitu aja responnya? Huh?" Asih merasa kesal dengan tanggapan Arya.

__ADS_1


"Haahahah, lha terus aku kudu ngapain? jungkir balik terus bilang eeee shugoiiii neee gitu?" Arya meracau tak jelas.


"Hmphhhh! Ngeselin!" Asih memukul-mukul pundak Arya.


"Ehhh ehhh, aduhh iya-iya maaf Asih, gitu aja ngambek," rayu Arya kepada Asih.


"Hmmmphh abisnya sih, nyebelin banget kamu!" ucap Asih sambil mengembungkan pipinya yang pucat.


"Hehehe ya udah aku mau mandi dulu, kamu mau ngapain?" tanya Arya sambil beranjak dari duduknya.


"Hmmm bete sendirian ntar aku," Asih merengek sambil menggoyangkan kakinya.


"Yeee aku cuma bentar kok mandinya, kalau mau pergi, pergi aja," Arya sewot sambil mengambil handuk dari hanger dibalik pintu.


"Ngusir nih? Aku aduin ke Nyi Prameswari loh," ancam Asih menggoda.


"Hmm dasar yah Kunti kang Cepu! Terus kamu maunya gimana? Masak ikut aku mandi? mueheheh," Arya tersenyum mesum sambil memandangi tubuh Asih yang lumayan bagus.


"Dasar otak mesum! Ngapain juga nungguin orang mandi!" Asih melempar bantal ke arah Arya.


"Aduh, iya iya terus gimana? Maumu apa?" Arya mulai kehabisan kesabaran.


"Sini hapemu," sahut Asih singkat.


"Buat apa? Masa Kunti maen hape?" Arya bertanya-tanya agak bingung.


"Ada yah Kunti k-popers? ckckck mau kiamat beneran nih dunia, hmmmphh," celetuk Arya sambil menggelengkan kepalanya keheranan.


"Manaaaa?! ihhhh!" Asih merengek seperti bocah yang minta es krim tapi tak dibelikan.


"Nih nih, jangan bawel, pake WiFi rumah aja, jangan pake kuota!" sahut Arya sambil melemparkan ponsel Oddonya ke atas kasur di sebelah Asih yang sedang duduk.


"Yeeee, makasih yah Arya ganteng," Asih mengambil ponsel Arya dan memegangnya.


"Ehhh kok di kunci? kuncinya apa nih?" tanya Asih sedikit beteriak.


"260690, jangan buka-buka foto atau sosmedku ya! Awas!" Arya mewanti-wanti Asih.


"Siapp bosss!" Asih melakukan gerakan hormat kepada Arya. Arya hanya menghela nafas panjang lalu keluar kamar menuju ke kamar mandi.


Setengah jam berlalu, dan Arya pun keluar dari kamar mandi, bau wangi dari sabun Lux yang dipakai Arya menyeruak keseluruh ruangan. Arya segera menuju dapur dan mengambil panci kecil untuk memasak air dan membuat secangkir kopi.


"Ma, gulanya habis kah?" Arya berteriak sambil mencari-cari toples gula.


"Ada kok, belum mama tuang di dalam toples, coba kamu lihat di atas rak kitchen set paling kiri, ada gak?" sahut mama Mella yang sedang menyapu dari depan teras.

__ADS_1


"Ohhh iya ma ada," jawab Arya sambil membuka bungkus Gulamu dan menuangnya kedalam toples kosong.


Setelah menuang semuanya kedalam toples, Arya mengambil dua sendok makan gula dan satu sendok kopi hitam dan mencampurnya kedalam mug besar, kemudian menyeduhnya.


Bau kopi hitam giling murni khas Kediri tercium nikmat. Diaduknya perlahan setelah itu dibawanya kedalam kamar.


"Ehhh mau ngopi di kamar? Biasanya di teras nak?" ucap Mama Mella yang tiba-tiba muncul.


"Ehh iya ma, sekalian mau bikin tugas ma, enak kalau sambil ngopi," sahut Arya seraya mendekatkan cangkir kopi ke dekat lubang hidungnya.


"Kamu gak ada kelas kah hari ini?" tanya Mama Mella sambil mengembalikan sapu dan pengki di ujung dapur.


"Kayaknya nanti sorean ma aku ada kelas, abis Ashar," sahut Arya.


"Owalah ya udah kalau gitu, ehh kalau ngerokok, jendela ama pintu di buka aja nak, biar asepnya gak muleg," pesan mama Mella.


"Okee ma siap," sahut Arya berlalu menuju kamarnya.


Ceklekkk krieeekkkk


   (Sfx : NCT127 - Kick It)


   Ketika Arya membuka pintu, terdengar dari ponselnya si Asih sedang memutar lagu K-Pop. Terlihat mata Asih fokus melihat layar ponsel dan sesekali kepalanya ikut mengangguk-angguk mengikuti irama lagu yang ia putar.


"Hmmm, betah yah yutuban terooss," celetuk Arya sambil meletakkan secangkir kopi dimeja belajarnya.


"Hihihihi, abisnya liat yang ganteng-ganteng sih, makanya betah," sahut Asih masih tetap fokus melihat layar ponsel.


"Hmm, dasar Kunti ganjen!" ucap Arya seraya duduk di bangku depan laptopnya dan mulai menyalakannya.


"Bodo amattt weeee," Asih menyahut dengan menjulurkan lidahnya ke arah Arya.


Telolet, telolet, telolet


   "Ehhh Arya, ada telepon nih, dari Dilla, hmm siapa Dilla? Ciyeeeeee ihiyyy, aku angkat yah, hihihihi," celetuk Asih menggoda Arya.


"Ehh sembarangan, sini hapeku" Arya mulai geram.


"Iya-iya nih, gitu aja ngamuk," sahut Asih sewot sambil menyerahkan ponsel Arya.


Tittttt,


   "Halo, assalamualaikum Dil, ada apa?" tanya Arya kepada Dilla yang sedang menelepon.


"Apaaaaa?" tiba-tiba Arya berteriak.

__ADS_1


******


__ADS_2