
"Ahh guru!" Candranala yang sedikit terkejut lalu menyapa Arthasena.
"Sssttt! jangan bersuara terlalu keras, nanti penjaga bisa mendengarnya! Sekarang ulurkan tanganmu," Chandranala yang masih kebingungan hanya bisa menuruti perkataan Arthasena serta menjulurkan tangannya.
Segera Arthasena meraih tangan Chandranala dan dengan secepat kilat, Wusshhhh mereka berdua telah sampai di depan rumah Nagini di Alas Jalibar.
Mereka berteleportasi menembus selubung pelindung yang katanya tak bisa ditembus oleh siapapun. Nyatanya Arthasena dengan mudahnya berpindah tempat. Ini membuktikan betapa tinggi ilmu yang dimiliki Resi Arthasena ini.
Mereka berdua masuk kedalam dan menjumpai Nagini yang telah sampai terlebih dahulu. Nagini sedang memberi nasihat dan pengertian kepada adiknya, dan akan pamit sementara untuk pergi ke wilayah kerajaan Agniamartho menemani Chandranala. Laksmi hanya terdiam terpaksa menuruti permintaan Nagini karena itu semua demi kebaikannya.
"Ahh Resi, Chandra, kalian sudah tiba," Nagini bangkit menghampiri mereka.
"Ayo kita bergegas pergi, lebih cepat lebih baik sebelum Sudrapala menyadarinya," tandas Arthasena sambil berdiri membukakan sebuah portal menuju ke kerajaan Agniamartho.
"Laksmi, jaga diri ya sementara kakak tak ada di dekatmu, kakak yakin kamu pasti bisa," ujar Nagini menghibur adik kesayangannya itu sambil mengelus kepalanya.
"Iya kak, kakak hati-hati disana ya, jaga diri kakak, kak Chandra, tolong jaga kakakku!" Laksmi menyahut dengan suara bergetar diikuti matanya yang sedang berkaca-kaca melepas kepergian kakaknya dengan hati yang begitu berat. Chandranala hanya mengangguk dan tersenyum kearah Laksmi.
Mereka bertiga pun masuk kedalam portal dan dalam sekejap mata, mereka telah sampai di pintu masuk gua tempat Nyai Pitaloka berada. Segera mereka melangkah masuk kedalam goa itu.
Nyai Pitaloka berlari kedepan menyambut mereka bertiga dan tanpa basa-basi nyai Pitaloka langsung memeluk cucunya itu. Argadhanu yang mengikutinya dari belakang juga hendak menyambut mereka.
"Kau tidak apa-apa le?" tanya Nyai Pitaloka seraya melepaskan pelukannya.
"Iya nek aku tak apa-apa, nenek tak perlu khawatir, karena Resi Arthasena telah menyelamatkanku," jawab Chandranala meyakinkan.
"Syukurlah kalau begitu, terima kasih banyak kakang kau telah menyelamatkan cucuku," sahut Nyai Pitaloka penuh rasa syukur.
"Sebagai kenalan baik, sudah kewajiban ku membantumu dan orang yang ada di sekelilingmu," sahut Arthasena sambil mengelus-elus jenggotnya.
"Ehemmmm, rasanya aku disini hanya sebagai figuran dalam scene ini," ujar Argadhanu agak kesal karena sedari tadi tak dianggap kehadirannya.
"Ahahaha saudaraku, bagaimana kabarmu?" Arthasena bertanya diiringi tawa.
"Telaaaatttt," sahut Argadhanu.
"Ahahah kau tak berubah saudaraku, kau masih sama seperti Argadhanu yang dulu," Arthasena memukul pundak Argadhanu.
"Ehhh siapa gadis cantik ini?" mata Nyai Pitaloka tertuju kearah Nagini yang sedang berdiri di belakang Arthasena.
"Maaf Nyai, saya terlambat memperkenalkan diri, nama saya Nagini, siluman ular dari Alas Jalibar," jawab Nagini seraya membungkuk hormat.
"Sebentar, apa kau Nagini kecil anak dari Nyai Anjani?" tanya Nyai Pitaloka memastikan.
"Ahh, nyai ternyata masih ingat, hahaha," senyum puas tersungging di bibir indah Nagini karena nyai Pitaloka sudah bisa mengingatnya.
"Owalah Gusti, kamu sudah besar sekarang Nduk, dulu kamu masih kecil sekali, sekarang kamu sudah jadi wanita cantik," puji Nyai Pitaloka seraya mengelus kepala Nagini.
"Hehehe, yah begitulah Nyai, terima kasih nyai," sahut Nagini tersipu malu.
__ADS_1
"Bagaimana kabar ibumu Nduk? Sudah lama sekali aku tak berjumpa dengan Nyai Anjani," tanya Nyai Pitaloka.
"Beliau sudah lama pergi ke alam jin muslim Nyai, dan sampai sekarang belum kembali," jawab Nagini sedikit lesu.
"Ohhh begitu, yah kamu sabar aja, dia pasti kembali, dia adalah ratu siluman ular terkuat yang pernah aku temui, kamu tenang saja yah, dia pasti bisa mengatasi semua rintangan yang ia hadapi," kata Nyai Pitaloka menenenangkan Nagini dengan mengelus bahunya.
"Baik nyai, terima kasih," jawab Nagini.
"Kakang Arthasena, apa kau yang mengajak Nagini kemari? atau kau le?" tanya Nyai Pitaloka kepada Arthasena dilanjutkan kepada Chandranala.
"Sudah, jangan nyerocos terus Nyai, masa tamu disuruh berdiri terus? Ayo mari silahkan duduk dulu," celetuk Argadhanu memotong pembicaraan Nyai Pitaloka seraya menyuruh mereka semua untuk duduk diatas tempat duduk yang terbuat dari batu yang di pahat sedemikian rupa membentuk sebuah bangku.
Arthasena dan Chandranala menceritakan semua secara terperinci apa saja yang sudah terjadi kepada Nyai Pitaloka dan Argadhanu mulai dari pertemuannya dengan Nagini sampai saat Chandranala di penjara dan di selamatkan Arthasena.
"Apa kau tak khawatir dengan hubungan kerajaan Wesibuwono dengan Rudrosengkolo jika seandainya Sudrapala mengetahui semua ini adalah ulahmu kakang?" tanya Nyai Pitaloka.
"Aku sudah mempersiapkan semua jika terjadi hal yang diluar dugaan, besar kemungkinan juga ia tak akan bisa berbuat apa-apa karena Sudrapala masih membutuhkan kerajaanku, haahaha," tanda Arthasena santai.
"Ahh iya aku baru ingat, sebentar," Arthasena menutup mata sejenak dan membuka telapak tangannya, tiba-tiba di atas telapak tangannya muncul sebuah batu kristal sebesar buah salak berwarna biru laut yang memancarkan Kilauan cahaya berwarna pelangi.
"Aaaahhh itu!" Nyai Pitaloka memekik terkejut sambil menunjuk benda yang ada di tangan Arthasena.
"Iya ini yang kau butuhkan, batu mustika Brajamusti, sebelum aku membebaskan Chandranala, aku sempat mampir kedalam ruang pusaka milik Sudrapala dan mengambilnya, ahahaha," kata Arthasena santai sambil menyerahkan batu mustika itu kepada Nyai Pitaloka.
"Ahhh terima kasih banyak kakang kau telah banyak membantuku, aku tak tahu harus bagaimana membalas kebaikanmu," Nyai Pitaloka terharu.
"Tak usah kau pikirkan Pitaloka, kita ini kan saudara, aku cuma minta satu hal, tolong ijinkan Nagini tinggal bersamamu untuk sementara sampai situasinya kembali aman," sahut Arthasena sambil mengelus jenggotnya lagi.
"Hahahaha Sudrapala mempunyai puluhan selir, jadi tidak mungkin ia ingat dengan pasti satu persatu selirnya, hilang satupun tak akan merugikan dirinya, hahah," Arthasena kembali tertawa.
"Baiklah kalau begitu kakang, Nagini, silahkan tinggal bersama kami, anggap kami sebagai orang tuamu, kami akan memperlakukanmu layaknya seorang anak kandung sendiri," kata Nyai Pitaloka sembari melayangkan senyum kepada Pitaloka.
"Terima kasih banyak Nyai, saya sangat menghargainya," mata Nagini seketika berkaca-kaca mendengar perkataan Nyai Pitaloka.
"Hah? orang tua? Kamu aja Nyai, aku kan masih tak terlalu tua-tua amat! Nagini, panggil saja aku dengan sebutan kangmas," senyum jahil tersungging dari bibir Argadhanu.
Plakkkkkk
Nyai Pitaloka memukul kepala Argadhanu. Candranala dan Nagini hanya bisa tersenyum melihat tingkah mereka berdua.
"Dasar orang tua tak tau diri! Muka uda banyak keriput juga!" celetuk Nyai Pitaloka.
"Iya-iya haduhhh! gak pake ngeplak juga kaleee!" jawab Argadhanu sambil mengelus kepalanya.
Hahahahah
Tawa renyah penuh rasa kekeluargaan terlontar dari mulut merka. Rasa kebersamaan yang jarang sekali Nagini alami semasa hidupnya. Tanpa mereka sadari, Nagini mengeluarkan air mata penuh keharuan.
"Baiklah, mari kita segera laksanakan ritualnya, aku akan membantumu," kata Arthasena kepada Nyai Pitaloka.
__ADS_1
"Tau dari mana kakang kalau aku akan melakukan sebuah ritual?" tanya Pitaloka sedikit terkejut.
"Kau kan membutuhkan mustika Brajamusti! Lantas buat apa lagi kalau bukan buat mengadakan ritual besar? Hahaha,"
"Heeee iya juga sih," nyai Pitaloka tersenyum malu.
"Maaf ritual apa ya kalau boleh tahu?" tanya Nagini seraya menyeka air mata yah sudah mulai kering di pipinya.
"Kau akan segera mengetahuinya Nagini," sahut nyai Pitaloka.
Mereka pun berjalan bersama menuju altar besar ditengah ruangan yang akan digunakan untuk ritual pembangkitan Arini.
Setelah semua bahan dan perlengkapan selesai di persiapkan, dimulailah ritual itu. Arthasena dan Argadhanu juga membantu Nyai Pitaloka untuk menyalurkan energinya.
Dimulai dari Nyai Pitaloka yang mencampur semua bahan yang telah disiapkan ke dalam kuali besar, mengaduknya perlahan searah jarum jam, Arthasena dan Argadhanu menyalurkan energi murni mereka kedalam kuali besar itu. Chandranala dan Nagini hanya melihat tak bisa membantu apa-apa.
Setelah semua tercampur rata, kemudia di masukkanlah mustika Brajamusti itu kedalam kuali. Nyai Pitaloka memanggil Chandranala,
"Le, kemarilah, teteskan sedikit darahmu kedalam kuali,"
"Baik nek," Chandranala menggigit sedikit ujung jarinya dan meneteskan sedikit darah kedalam kuali itu.
Seketika kuali berubah warna yang semula hijau pekat dan lengket, sekarang berangsur-angsur berubah warna menjadi lebih cerah. Terakhir, Nyai Pitaloka menuangkan jiwa Arini yang tersimpan didalam botol pelahap jiwa kedalam kuali itu.
Crrssshhhh..blubugh..blubugh
Seketika cairan didalam kuali bergejolak tak karuan.
"Sekarang saatnya," mereka bertiga mengambil ancang-ancang dan seketika mengeluarkan energi besar bersama-sama.
Hiyaaaaaattt!
Duarrrrrr!
Setelah suara ledakan itu berhenti, sekonyong-konyong muncullah sesosok bayi mungil dari balik asap yang mengepul. Bayi itu meringkuk melayang di atas kuali yang telah mengering.
"Ahhh akhirnya kita berhasil!" sorak Nyai Pitaloka bahagia.
Diambilnya bayi itu dan segera diletakkan dilengan tangannya. Nyai Pitaloka menangis terharu melihat bayi cantik nan mungil itu. Mereka semua turut senang melihat ritual itu berhasil dengan hasil yang memuaskan.
"Jadi ini calon pasangan Chandranala untuk menyempurnakan ajian Kalasutranya, bayi yang cantik," puji Arthasena seraya menggendongnya.
Arthasena meletakkan ujung jari telunjuknya didahi bayi itu, seketika cahaya keemasan keluar dari ujung jarinya dan masuk kedalam kepala Arini dan menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Ia juga akan mewarisi sedikit ilmuku," kata Arthasena sambil tersenyum mengelus kepala bayi itu.
"Baiklah, siapa nama anak ini?" lanjut Arthasena.
"Dulu waktu ia hidup di alam manusia, ia bernama Arini Prameswari," kata Nyai Pitaloka.
__ADS_1
"Baiklah, mulai sekarang kita buang nama manusianya yaitu Arini, dan mulai sekarang namamu adalah Prameswari," kata Arthasena seraya mengangkat Prameswari tinggi-tinggi.
********