Titisan Penakluk Jin

Titisan Penakluk Jin
Bab 33


__ADS_3

Brummm..brummmm..tinnnnnn


Terdengar suara mesin mobil berikut klaksonnya dari depan rumah dan seketika itu berhenti di samping pagar. Sosok lelaki paruh baya turun dari mobil Avanza perak itu, lelaki itu Pak Edi dan ia adalah Ayah kandung Denny.


"Assalamualaikum," terdengar suara pak Edi mengucap salam dari luar ruangan.


"Wa'alaikum salam," sahut mereka bertiga hampir berbarengan.


"Wahhh ada Arya, dari tadi le?" tanya om Edi ke Arya yang sedang mencium tangannya.


"Iya om, uda numpang mandi juga heheh, di suruh Tante bantu-bantu nanti malam om," sahut Arya nyengir.


"Owalah iya makasi ya sebelumnya, ya udah om ganti baju dulu yah, nanti om juga beres-beres depan," kata om Edi seraya melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah.


Denny yang sedang membantu mamanya di dapur segera menghampiri papanya, dan mencium tangannya di ikuti oleh sang istri, Tante Ratih. Melihat itu Arya merasa sangat berdosa mengingat apa yang sudah ia lakukan tadi siang, pasalnya Arya melihat sekilas bahwa keluarga ini sangat harmonis.


"Den, tolong kamu ambil karpet yah di rumah Haji Samsul," om Edi menyuruh Denny sambil menuju kamar mandi.


"Siap pa, karpet doang pa?"


"Iya karpet aja, nanti speaker sama mic nya pakai punya kita aja, jadi kita gak usah pinjem haji Samsul," ujar om Edi sambil menutup pintu kamar mandi.


"Owalah oke de pa, aku ke rumah haji Samsul dulu," sahut Denny lalu hendak berjalan keluar rumah untuk menuju rumah haji Samsul.


"Ikut yuk bro, bantuin bawa karpetnya," Denny menepuk bahu Arya.


"Halahhh badan doang gede, masa iya bawa karpet aja minta bantuan," celetuk Arya sedikit mengejek.


"Lambemu lamis!" jawab Denny kesal.


"Iya Arya biar disini aja Den bantuin angkat sofa, nunggu papamu lama kalo udah di dalam kamar mandi," sahut Tante Ratih.


"Hmmm iya deh iya, ya udah aku kesana dulu," Denny berlalu seraya membuka pagar depan.


"Hehehe, biarin aja biar gak manja," Tante Ratih melirik ke arah Arya.


"Heheh iya te masak badan aja di gedein, tapi lemah huuuuu," Arya menggunjing sahabatnya di depan mamanya.

__ADS_1


"Tapi kalau punya kamu pasti gede dan gak lemah kaaaaannn," goda Tante Ratih seraya mencolek batang roket Arya.


"Ihhh apaan sih Tante," Arya kaget lalu reflek meremas salah satu gumpalan kenyal milik Tante Ratih.


"Ahhhhh, nakal kamu ya," Tante Ratih mencubit Arya.


"Sssttt udah-udah ntar bahaya kalo om tiba-tiba keluar," Arya beranjak pergi menuju ruang tamu untuk segera menggeser sofa.


"Heheh iya deh iya say, ehh Arya," Tante Ratih tertawa kecil lalu menutup mulutnya karena hampir keceplosan memanggil Arya dengan sebutan sayang.


Tak lama Om Edi, Tante Ratih, Denny dan juga Arya mempersiapkan semuanya, ibu-ibuĀ  tetangga juga sudah datang membantu, pesanan nasi kotak 50 bungkus juga sudah datang dan siap, Haji Kusnan yang selaku pak RT sekaligus pemandu acara syukuran juga telah hadir ditengah mereka.


Setelah semua siap, mereka melakukan syukuran dimana acara itu adalah syukuran untuk memperingati kenaikan pangkat Om Edi menjadi General Manager di tempat ia bekerja.


Setelah membagikan nasi kotak kepada para undangan, tepat setelah pukul 8 malam, acara sudah selesai dan semua undangan telah pergi meninggalkan kediaman Om Edi.


Tapi ada satu bapak-bapak datang dan menyalami Om Edi seraya mengatakan,


"Pak Edi, rumahnya sekarang udah ada penjaganya yah, serasa adem banget gak kayak kemarin waktu saya kesini,"


"Lohh maksud sampean apa pak?" tanya Om Edi bingung sekaligus penasaran.


"Ahh iya terima kasih banyak pak udah sempet hadir di syukuran saya pak," ucap Om Edi sambil menyalami tangan bapak itu.


"Iya pak, ya udah saya pamit dulu, assalamualaikum," bapak itu berjalan keluar sambil sedikit melirik ke arah wanita tak kasat mata itu.


"Wa'alaikum salam, ati-ati dijalan pak," sahut Om Edi.


"Hmm, apa yah maksud pak Rudi tadi? Ahhh sudahlah," batin Om Edi.


Di dalam rumah, Tante Ratih, Arya dan Denny membersihkan sisa-sisa gelas plastik dan juga piring kotor bekas makanan ringan. Di luar, pak Edi sedang menggulung karpet lalu mengembalikannya ke haji Samsul.


Setelah hampir 1 jam membersihkan semuanya, mereka pun duduk bersama di ruang tamu, termasuk Arya yang sedang menggeliat melemaskan otot-ototnya.


"Akhirnya selesai juga yah bro, huahhh capeknya," Denny ikut menggeliat di atas sofa.


"Hilih, gini aja Uda capek? Perut aja di gedein, beresin gini aja udah ngeluh," sahut Arya sambil menyeruput kopi susu panas yang baru saja di buatkan oleh Tante Ratih.

__ADS_1


"Hmmm kumat kumat lambene mulai minta di tampol!" jawab Denny sambil berpose estetik khas ban*i stasiun.


"Ehh Arya gak nginep aja nih? Udah malam juga," kata Om Edi sambil menyalakan rokok Dji Sam Soe Refill.


"Iya say, ehhh 'ARYA', nginep aja disini nemenin Denny, coba ijin mamamu dulu Arya boleh apa gak nginep disini," buru-buru Tante mengalihkan pembicaraan. Arya yang tadi sempat kaget dan sedikit melotot ke arah tante Ratih sekarang juga buru-buru menyalakan rokoknya, berharap tak ada yang mempermasalahkan kata "say" yang barusan di ucapkan oleh Tante Ratih.


"Heheh, pengennya sih om, te tapi kayaknya gak bisa soalnya mama di rumah sendirian," jawab Arya.


Telolet..telolet..telolet..(terdengar suara dering telepon masuk dari ponsel Om Edi)


"Owalah ya udah kalau gitu, istirahat disini aja dulu bentar gakpapa," kata Om Edi sambil meletakkan ponsel di telinganya, lalu bangkit berdiri menuju depan pintu rumah menjawab panggilan telepon dari seseorang.


"Say? Say apa mah? Kok say?" Denny tiba-tiba nyeletuk sambil mengangkat alisnya.


Om Edi sepertinya tak begitu mendengar omongan Tante Ratih barusan, buktinya beliau masih sibuk dengan ponselnya di luar rumah.


"Ohhh ini, anu, barusan mama fokus balesin chat wa di grup alumni mama, ibu-ibu di grup pada manggil say say gitu, jadi pas manggil Arya tadi jadi gak sengaja ikutan manggil say juga," jawab Tante Ratih berusaha menutupi.


"Owalahh kirain apaan ma," jawab Denny cuek dan sekarang mengambil rokok Arya.


"Ehh ehh ehh, main comot aja gak bilang-bilang!" ucap Arya.


"Halah bagi satu napa, kita kan brooo," kata Denny sambil menyalakan rokok hasil rampokan.


"Giliran gak ada rokok aja ente bra bro bra bro!" sahut Arya sedikit kesal.


"Ya uda Den, Tante, Arya pamit dulu yah takut kemalaman, kasian mama sendirian di rumah," Arya bangkit dari duduknya seraya menepuk bahu Denny di lanjut "yang kali ini" mencium tangan Tante Ratih, bukan bibirnya.


"Iya bro ati-ati di jalan yah, makasi ya udah bantuin," Denny ikut beranjak dari sofa hendak mengantar Arya sampai ke depan.


"Iya Arya, hati-hati, salam buat mamamu, makasi banget, masakannya uenak pwol, next time pasti pesen lagi di mamamu," kata Tante Ratih sambil tersenyum penuh arti.


"Iya siap Tante, assalamualaikum,"


"Wa'alaikum salam," Tante Ratih melambaikan tangannya ke arah Arya.


Di depan rumah tak lupa Arya juga berpamitan dan mencium tangan Om Edi yang masih ngobrol di telepon.

__ADS_1


"Ati-ati ya, Le," sahut pak Edi agak berteriak sembari masih memegang ponselnya.


*******


__ADS_2