
Sementara itu di alam jin,
Suara kicauan burung bersahut-sahutan menyambut pagi hari yang sangat cerah dan hangat, awan tipis berarak pelan mengikuti hembusan angin utara yang lembut. Suara gemericik mata air alami pegunungan menambah nuansa damai pagi hari di hutan Reksabumi ini.
"Hiyatttt, hahhhh!" Prameswari menyabetkan pedang ke arah batu besar yang ada hadapannya.
Jedhuarrrr
Batu itupun meledak dan hancur berkeping-keping karena terkena serangan dari Prameswari.
Prok,prok,prok
"Wahhh bagus sekali Dinda, kau sudah menguasai sabetan guntursaketi, aku kagum Dinda," sahut Chandranala yang sedang melihat latihan Prameswari dari atas pohon.
"Ahh iya Kakanda, cuma perlu penyesuaian saja dengan pedangku, karena guntursaketi biasanya menggunakan golok atau pedang yang besar, sedangkan pedangku ramping dan panjang seperti ini," ucap Prameswari seraya memutar-mutar bilah pedang peraknya.
"Ahhh tidak juga Dinda, kekuatan sejati yang keluar dari sebuah ajian bukan diukur dari barang atau senjata perantaranya, tetapi dari orang yang menggunakannya, aku rasa kekuatanmu sudah cukup mampu untuk menguasai secara penuh ajian guntursaketi," ucap Chandranala memberi pujian.
"Ahh Kakanda selalu saja pintar membuat kepalaku jadi besar," Prameswari menghampiri Chandranala seraya melayangkan sebuah pelukan lembut.
"Aku tidak asal bicara adinda, memang kamu itu kuat, cerdas, serba bisa, dan cantik," ucap Chandranala sambil memegang dagu Prameswari.
"Ahh Kakanda bisa saja,"
Prameswari yang tersipu malu itu menundukkan kepalanya dan menyandarkannya di dada Chandranala. Dengan lembut, Chandranala mengusap kepala Prameswari lalu mengecup keningnya.
"Ehem, sudah selesai latihannya?" Argadhanu muncul tiba-tiba dan mengagetkan mereka berdua.
"Ehh guru, iya guru baru saja selesai," ucap Chandranala seraya melepaskan pelukannya kepada Prameswari.
"Su-sudah guru," sahut Prameswari sedikit salah tingkah.
"Ahahaha, santai saja, maaf mengganggu kalian, aku hanya bosan saja, jadi aku memutuskan untuk berjalan-jalan dan sampailah aku ke tempat ini," ujar Argadhanu sambil mengelus jenggot tipisnya.
"Apa yang di lakukan nenek guru?" tanya Chandranala ingin tahu.
"Hmm, terakhir tadi aku lihat dia sedang meracik sebuah ramuan," jawab Argadhanu.
"Ohh, seperti biasanya," sahut Chandranala.
"Ya sudah silahkan dilanjut, aku mau pergi ke lereng dahulu," ucap Argadhanu sambil menunjuk ke arah selatan.
"Baiklah guru hati-hati,"
Sejurus kemudian Argadhanu terbang melesat menuju ke arah selatan.
"Ayo Dinda, kita pulang," kata Chandranala sambil menoleh ke arah Prameswari yang sedang merapikan rambutnya.
__ADS_1
"Baik Kakanda," sahutnya.
Mereka berduapun terbang melesat ke arah berlawanan dari arah perginya Argadhanu dan menuju ke rumah mereka.
***
Sementara itu di alam manusia
"Aduh aku ketiduran!" Arya bangkit dari tidurnya dan melihat jam di ponselnya.
"Ya Allah uda jam 4!" Arya melompat dari kasur akan menuju kamar mandi untuk cuci muka.
Jedhugggg
Arya terjatuh dan mendarat tepat di atas badan Asih yang tengah tiduran di lantai,
"Aduhhhh! Asih!" Arya terjatuh karena kakinya terlilit selimut.
"Ehmphhh, Awhhh, A-arya, a-apa yang kau lakukan?" Asih kaget setengah mati karena sekarang posisi Arya tepat berada di atas tubuhnya dan menindihnya. Wajah mereka pun berdekatan nyaris hanya berjarak beberapa sentimeter. Dada Aryapun sekarang menempel erat pada dua buah gumpalan kenyal milik Asih.
Jantung Arya berdegup kencang seiring nafas yang semakin lama semakin tak karuan, Arya dan Asih hanya diam membatu sambil saling pandang penuh rasa canggung tanpa bergerak sedikitpun. Begitupun Asih, yang rupanya merasakan hal yang sama dengan yang dirasakan Arya.
"Emmm, kalau dilihat dari dekat, kamu cantik banget Asih," kata mutiara Arya tak sengaja terlontar dari mulutnya.
"A-arya a-apa aku memang se-secantik i-itu?" tanya Asih sambil gugup.
Asih hanya pasrah seraya memejamkan mata, dan gayungpun bersambut, Asih pun menerima ciuman lembut dari Arya yang sudah hampir kehilangan kontrol.
Mereka saling mencium dan memagut bak sepasang kekasih yang sedang di kuasai oleh birahi duniawi. Semakin kesetanan, Arya dan Asih saling beradu lidah dan saling menghisap bibir satu sama lain.
Tak ketinggalan tangan kanan Aryapun sekarang merayap di atas gumpalan kenyal milik Asih yang sudah mulai mengeras. Arya mengelus dan juga meremasnya pelan serta begitu lembut mengikuti irama permainan lidahnya.
"Ahhh Arya, stop, maaf ya, aku takut ketahuan nyi Prameswari," ucap Asih lirih sambil sedikit mendorong badan Arya.
"Ahh i-iya A-asih aku juga minta maaf udah kelewatan, maaf ya Asih, lain kali aku gak akan kayak gini lagi," sahut Arya sambil beranjak dari atas badan Asih.
"Iya gakpapa Arya, aku juga salah gak bisa kontrol nafsuku juga," ucap Asih sambil menurunkan gaun merahnya yang tersibak sampai ke atas.
"Biar kejadian ini jadi rahasia kita berdua Asih, kalau gak ada mbak Prameswari, mungkin sudah beda cerita tadi, hehehe," Arya mencoba mencairkan suasana canggung itu dengan guyonannya.
"Yeee, maunya! tapi makasi yah Arya, gak tahu tadi aku ngerasa kayak terbang gitu, rasanya bahagia banget, gak tahu kenapa,"
"Itu namanya suka, aku juga ngrasain hal yang sama, jantungku deg-degan tadi, hahaha,"
"Berarti kamu suka aku?" kata Asih masih tak percaya.
"Yah bisa dibilang gitu, nyaman aja kalau lagi sama kamu, yah meskipun kamu bukan manusia, aku tak ambil pusing," sahut Arya cengengesan.
__ADS_1
"Aku juga sama Arya, cuma yah gitu, aku masih takut kalau Nyi Prameswari tau," Asih menjawab lesu.
"Kan kalau tau? Kalau gak tau kan gakpapa, hahahah," sahut Arya sambil cekikikan.
"Hahahh dasar mesum!" Asih memukul Arya dengan lembut.
"Ya uda aku cuci muka dulu," Arya melangkah kedepan pintu kamar dan tiba-tiba,
Jedhuaggggg!
"Hahhhh, ternyata cuma mimpi, tapi kok rasanya nyata banget ya? Sampai joniku ikut bangun," gumam Arya sambil mendongak ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan jam 14.33.
"Ahhh aku ketiduran sampe jam segini, untung aja aku gak kebablasan," Arya kembali bergumam sendiri seraya bangkit dari tidurnya hendak turun dari kasur.
Brugghhhhh
"Aduhhh! Asihhhhh!" Arya berteriak karena ia tersandung oleh badan Asih yang sedang tertidur di lantai tanpa alas dan karena itu, Arya pun akhirnya terjungkal kedepan.
"Aduhhhh, sakit Arya!" sahut Asih yang sedang menggosok pinggangnya setelah terbentur kaki Arya beberapa saat yang lalu.
"Sapa suruh tidur dibawah, di atas kan bisa! Gara-gara kamu aku jadi njungkel nih!" ucap Arya kesal.
"Emoh! Kalau tidur diatas kasur sama kamu, ntar tanganmu nakal, ntar aku di raba-raba!" sahut Asih sambil menutupi dada dengan kedua tangannya.
"Hahaha kalau tadi pagi itu kan gak sengaja, hehehe," sahut Arya tanpa merasa berdosa.
"Sama aja itu mah!" Asih mendengus kesal.
"Udah-udah aku mau cuci muka dulu," Arya berlalu keluar menuju kamar mandi.
15 menit kemudian,
"Jadi ikut gak?" tanya Arya yang sedang menyisir rambutnya.
"Jadi donggg! Weee udah wangi aja babang satu nih," puji Asih seraya mendekatkan hidungnya ke badan Arya.
"Hush hushhh, ntar wanginya abis kamu hisap semua," ucap Arya ketus.
"Ngaco! Mana ada yang kek gitu! Ngadi-ngadi aja ente Arya!" jawab Asih sewot.
"Hahaha, yah gak ada, namanya juga becanda, jangan serius-serius lahhhh, ntar cantiknya ilang loh," kembali kata gombal terucap dari bibir Arya.
"Gombal! Ya wes ayo berangkat," sahut Asih seraya merapikan rambutnya.
"Hhmmm Kunti ganjen," batin Arya.
"Yuk gasss," Arya keluar dari kamar bersama Asih yang sedang menggandeng lengannya.
__ADS_1
******