Titisan Penakluk Jin

Titisan Penakluk Jin
Bab 25


__ADS_3

Kembali ke flashback Arya


Langit kebiruan cerah tanpa awan menghiasi dunia pada pagi hari ini. Matahari yang mulai berangsur keluar dari persembunyiannya di ufuk timur beberapa jam yang lalu, mulai menyorotkan sinarnya yang terang menyilaukan.


Diikuti hawa panas yang menerpa tubuh, membuat peluh sesekali menetes di pelipis dan meresap ke dalam kemeja flanel bermotif kotak-kotak berwarna biru navy, yang di kenakan Arya untuk menghadiri kelas pagi.


"Padahal masih jam 9 pagi, kenapa hawanya panas banget ya?" gumam Arya sambil menengok jam tangan G-Shock yang di kenakannya. Jam digital itu adalah kado dari Dilla setahun lalu saat dirinya merayakan ultah yang ke 18.


Waktu mundur untuk berhenti di traffic light masih menunjukkan angka 76. Arya membuka helm bogonya dan meletakkannya di kaca spion sebelah kanan, disusul tangannya yang menggaruk-garuk bagian atas kepala karena gatal terkena keringat.


Kemudian ia memakai kembali helm coklat itu dan ketika lampu hijau mulai menyala, Arya menarik tuas gas di tangan kanannya untuk melanjutkan perjalanan pergi menuntut ilmu.


Setelah hampir setengah jam mengendarai si Betty (Betty adalah nama motor maticnya yang menyiratkan warna dan merek motor maticnya, Beat Putih. Tidak lain, orang yang sudah memberi nama motornya adalah Dilla) sampailah Arya di pintu gerbang kampusnya, kampus Universitas Brawijaya. Salah satu kampus terbaik yang ada di kota Malang.


Setelah memarkirkan Betty di parkiran, dengan agak mempercepat langkahnya karena sudah agak terlambat, Arya kemudian menaiki anak tangga menuju lantai dua menuju kelas Sastra Jepang.


*****


Kebetulan Arya ini sangat berminat dan menggemari hal-hal yang berbau Jepang sejak sekolah di SMA negeri 7 Malang. Entah dari budaya, masyarakat, lifestyle, bahkan folklorenya.


Bukannya tak mencintai budaya negeri sendiri, tetapi mempelajari budaya negera lain pun bisa di kategorikan sebagai pembelajaran akademis pada era global saat ini, yang menuntut setiap generasi muda untuk bisa mengetahui tentang segala hal yang ada di dunia.


Pada waktu di SMA pun ia mengambil jurusan bahasa, yaitu bahasa Jepang. Padahal orang tua nya menyarankan untuk masuk IPA atau IPS karena nilainya pada saat kelas sepuluh sudah sangat mencukupi untuk bisa memasuki jurusan IPA atau IPS. Wali kelas dan guru-gurunya dulu juga sependapat dengan kedua orang tuanya.


Namun dengan minat yang begitu besar di imbangi bakat bahasa jepang yang ia memiliki secara otodidak, orang tuanya pun hanya bisa menurutinya.


Memang sejak kecil Arya suka sekali dengan komik dan film kartun yang berasal dari negeri matahari terbit itu atau yang biasa di sebut manga dan anime.


Tetapi kebanyakan orang mencibir dan terkesan agak menjauhi seseorang yang seperti Arya yang menyukai jejepangan. Mereka yang berfikiran sempit pasti menyebut orang yang seperti Arya ini dengan sebutan Wibu. Orang nolep antisosial yang hobinya cuma main game, baca manga dan nonton anime. Banyak juga mereka berpikiran bahwa para wibu ini lebih mengutamakan dunia fantasy-nya daripada dunia nyata.


Berbeda jauh dengan Arya, meskipun dia terkesan seorang otaku (orang yang suka membaca manga), tetapi Arya seseorang yang supel, kocak, dan pandai bergaul serta memiliki wajah yang lumayan menarik sehingga tak sedikit mahasiswa maupun mahasiswi yang mau mengenal dan berteman dengannya.


Arya juga aktif mengikuti kegiatan kemahasiswaan yang melibatkan sebagian besar mahasiswa yang berkuliah di universitas ini. Di tambah juga dia jago memainkan alat musik drum dan sempat bergabung dengan salah satu band ternama di kampusnya. Hal itu membuat Arya semakin dikenal dan disukai banyak gadis di kampusnya. Salah satunya adalah Dilla.


Pertemuannya dengan Dilla di awali saat mereka berdua sedang menjalani masa orientasi siswa di kampusnya, saat itu mereka sedang mengikuti kegiatan Wawasan Wiyata Mandala yaitu tur mengelilingi lingkungan kampus dan mempelajari seluk beluk serta sejarah kampus sambil sesekali menyanyikan Mars Brawijaya.


Arya yang awalnya hanya datang seorang diri dan tak mengenal siapapun pada saat mendaftar masuk di kampus ini hanya bisa terdiam di antara kerumunan mahasiswa baru yang sedang bersenda gurau dengan teman lamanya saat masih di sekolah menengah dahulu.


Saat Arya beristirahat dan hendak memakan Sari Roti selai cokelat yang dibawanya dari rumah, dia di kejutkan dengan seorang gadis manis dan imut yang terjatuh tertelungkup di depannya.


Brughhhh!


"Aawwwww!" pekik gadis itu serasa buru-buru bangkit membersihkan bagian depan kaos MOSnya lalu menepuk-nepuk kedua sikunya.


"Pfffttttt," Arya yang reflek akan tertawa ngakak langsung buru-buru menutup mulutnya dengan tangannya.

__ADS_1


"Kamu gak papa?" tanya Arya pada gadis itu sambil berusaha menahan tawanya.


"Eeeehh, Ahhh iyaa aku gakpapa kok," jawab gadis itu dengan muka yang mendadak merona merah persis seperti sebuah tomat.


Gadis itu berwajah baby face, berpostur tak begitu tinggi serta berperawakan berisi dan agak gemoy. Gadis imut itu berkulit putih bersih dan mulus nyaris tanpa noda, berambut hitam lurus sebahu dan berkilau, pipinya juga agak sedikit chubby. Membuat siapapun yang melihat pasti ingin mencubit pipinya saking imutnya.


"Kok bisa jatuh sih? Lain kali ati-ati kalau jalan. Nih minum dulu," kata Arya sambil menyodorkan sebotol air mineral yang masih tersegel.


"Mau aku bukain sekalian?" kata Arya melanjutkan.


"Ahhh g usah terima kasih," sambil agak menunduk malu, gadis itu menerima sebotol air mineral itu.


"Sini duduk dulu, atur nafas dulu. Ini kan juga waktunya istirahat," saran Arya kepada gadis itu sambil menepuk pelan hamparan rumput disebelahnya.


"I-iya terima kasih mas," sahut gadis itu sambil mengangguk pelan.


"Mas,mas?! panggil saja Arya, kita kan satu angkatan," timpal Arya agak sedikit ketus seraya menyodorkan tangan kanannya.


"Kamu siapa?" tanya Arya melanjutkan.


"Ahh iya maaf, aku Dilla," dengan malu-malu Dilla menjabat tangan Arya seraya menatap wajahnya dan seketika tiba-tiba jantung Dilla berdegup kencang terasa dag dig dug tak karuan.


(Backsound : Careless Whispers by George Michael) :)


"Ahhh,ehhh anu maaf," buru-buru Dilla menarik telapak tangannya .


"Ahh nggak, ma-maaf," jawab Dilla terbata-bata sambil memelintir ujung kaos MOSnya terkesan agak salah tingkah.


"Heheh lucu juga yah kamu, udah cantik, imut pula," celetuk Arya sambil memandangi Dilla yang tertunduk sambil duduk bersimpuh di sebelahnya.


Mendengar pernyataan Arya sontak membuat wajah Dilla semakin merah padam seperti orang yang sudah di jemur beberapa jam di bawah terik sinar matahari. Arya semakin gemas dibuatnya, pasalnya baru pertama kali ini Arya menemui sosok gadis yang seimut ini.


"Ehh by the way, kenapa kamu tiba-tiba jatuh kayak gitu? Oleng kapten?" tanya Arya setelah menggigit dan mengunyah roti selai coklatnya.


"Aku tadi di gangguin kakak tingkat yang rese' jadinya aku lari duluan, sedangkan sahabatku masih ada di sana aku tinggalin sendirian," jawab Dilla sebelum meneguk air mineral yang di berikan Arya.


"Di gangguin gimana maksud kamu?" tanya Arya diliputi rasa penasaran.


"Yah di godain, di pegang-pegang dagu ama pipiku. Di bilang imutlah, cantiklah, mau gak jadi ceweknya, gitu-gitu sih, aku kan jadi risih!" jawab Dilla masih kesal mengingat kelakuan kakak tingkatnya tadi.


"Gak nyalahin kakak tingkat itu juga sih, siapa suruh kamu cantik, imut, n lucu. Mana ada cowok yang gak tergoda ama cewek kayak kamu," celetuk Arya sedikit menggodanya.


"Ihhhh apaan sih Arya," ucap Dilla tersenyum salting di susul beberapa pukulan tangan mungilnya yang mendarat di bahu kiri Arya.


"Aduhhhh, kurang keras," kata Arya sambil menyodorkan lagi bahu kirinya.

__ADS_1


"Mau nih aku timpuk pake sepatu?" sahut Dilla mau melepas sepatunya.


"Yeee emang aku apaan mau di timpuk pake sepatu," jawab Arya sambil pura-pura beranjak dari duduknya.


"By the way, ngambil jurusan apa kamu Dil?" tanya Arya setelah melahap dan menelan semua sisa roti coklatnya. Sambil menepuk-nepuk tangannya, Arya kembali membenarkan posis duduknya yang sekarang berhadapan dengan Dilla sambil bersila.


Dila yang sedari tadi duduk bersimpuh di sebelah Arya juga ikut merubah posisi duduknya jadi menghadap ke Arya. Mereka sekarang berdua duduk bersila berhadapan layaknya dua orang atlit catur yang siap melakukan permainan.


"Yah standart sih, aku emang gak begitu pintar juga, jadi aku mau coba ambil jurusan Hukum," jawab Dilla sambil jari telunjuk dan jempolnya memainkan dan memelintir-melintir ujung rambut lurusnya yang tersingkap ke bagian depan bahunya.


"Kuliah kok coba-coba Dil, Dil! yah paling gak sekali kamu mantap ngambil suatu jurusan, kamu harus ngejalaninya semaksimal mungkin, jangan setengah-setengah biar gak nyesel nantinya. Kuliah itu gak cuma sebentar loh," kata Arya memberi sedikit pengarahan.


"Hmm iya-iya Arya aku paham kok, aku sebenarnya juga bingung mau mantab ambil hukum atau PR(public relationship)," jawab Dilla sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Hmmm jangan de kalo PR, kamu aja ngomongnya masih gelagapan gitu kayak orang gagap, ahahah," sahut Arya sambil tertawa terbahak-bahak.


"Iihhhh jahat banget sih kamu, bukannya nge-iyain aja malah tambah ngeledekin, hufftt!" sahut Dilla seraya melipatkan kedua lengannya kesal sambil mengembungkan kedua pipinya.


"Melihat tingkah lucu dan imut gadis seperti Dilla ini, cowok mana yang gak tertarik?" batin Arya seraya menyunggingkan senyum lembut penuh kagum ke arah Dilla.


Dilla yang tadinya agak kesal berubah sikap 180 derajat melihat Arya yang sedang tersenyum lembut kepadanya. Lagi, jantung Dilla seakan di gedor-gedor oleh puluhan tangan yang tak terlihat. Membuat Dilla kembali salah tingkah dan buru-buru melayangkan sebuah pertanyaan ke Arya berharap bisa mengalihkan perhatiannya.


"Ka-kalau kamu ambil ju-jurusan apa Arya?" kata Dilla agak gagap.


"Hahahah tuhkan gagap," sahut Arya tiba-tiba ngakak sambil memukul-mukul tanah.


"Aaaahhh Arya!" Kembali Dilla memukul paha Arya.


"Hahaha becanda ihhh! hobi banget ya mukul aku, gemes ya? Hahahah," kata Arya kembali menggoda Dilla.


"Gakkkk!" teriak Dilla spontan.


"Hahahah, udah-udah, hmm aku ngambil jurusan Sastra Jepang," jawab Arya seraya mengatur nafasnya setelah puas tertawa melihat tingkah Dilla.


"Hah? Sastra Jepang? Itu jurusan yang lumayan sulit loh," Dilla menyahut terkejut.


"Yahhh gitu deh, tapi emang mulai dari dulu aku suka yang berbau-bau Jepang sih. Mulai dari kebudayaan, masyarakat, lifestyle nya, sampe makanannya," ujar Arya sedikit sombong.


"Wibu dong!? ihhhhh najis wibu bau bawang! Weeekkkk," sahut Dilla seraya menjulurkan lidahnya.


"Ehhh enak aja kamu ya! Gak dong! Beda tau! Gak semua orang yang kayak gitu wibu! Dasar Dilla gaptek! mainmu kurang jauh!" ucap Arya sedikit kesal di katain wibu.


"Yeee emang gitu kan!" Dilla sambil nyengir.


"Gak gitu juga konsepnya Markonaahhhh!" jawab Arya seraya mengacak-ngacak rambut Dilla secara spontan.

__ADS_1


Sebaliknya, Dilla yang seharusnya marah saat rambutnya yang tertata rapi di acak-acak oleh Arya, malah justru terlihat senang dari senyum yang mengembang di bibirnya. Tak lama keceriaan itu berlangsung, terdengar dari kejauhan suara seorang gadis yang memanggil-manggil nama Dilla.


*********


__ADS_2