Titisan Penakluk Jin

Titisan Penakluk Jin
Bab 26


__ADS_3

Di pagi hari menjelang siang, jelas terlihat di hamparan langit nan luas awan melayang berarak pelan namun sedikit berwarna kelabu, terdapat beberapa gerombolan pemuda dan pemudi duduk bersantai di atas rumput taman, ada yang berlalu lalang tak jelas, ada yang rebahan sambil memainkan ponselnya, ada juga beberapa pasang sejoli yang sedang bersenda gurau memadu kasih di antara hiruk pikuk keramaian kampus pagi itu.


Mereka semua nampak serempak memakai kaos putih polos bertuliskan MABA Univ.Brawijaya dan memakai pernak-pernik serta hiasan aneh khas masa orientasi siswa. Semua memancarkan aura positif dan menyiratkan raut muka yang senang serta bahagia karena telah diijinkan untuk menuntut ilmu di salah satu perguruan tinggi favorit di kota ini.


Di suatu sudut taman kampus di depan gedung fakultas MIPA,


Tappp ..tappp.. tapppp..


"Dil, Dillaaaa, hhahh,hhhah," terdengar suara gadis memanggil di kejauhan sambil terengah-engah karena berlari.


Gadis itu berwajah cantik dan berkulit putih mulus seperti Dilla. Ia berperawakan tinggi semampai serta mempunyai postur tubuh yang ideal, berambut panjang kecoklatan yang di curly di bagian ujungnya.


Gadis itu memakai legging hitam ketat serta memakai kaos yang sama seperti semua mahasiswa baru di kampus itu. Kaosnya yang pressbody menyebabkan gumpalan gunungnya semakin terlihat jelas bentuknya.


Membuat setiap lelaki yang memandangnya tak bisa sedetikpun mengedipkan matanya saat gumpalan itu terombang ambing naik turun mengiringi derap langkahnya yang sedang berlari.


Dilla yang sedari tadi bersenda gurau bersama kenalan barunya, Arya di kejutkan dengan suara teriakan yang memanggil-mangil namanya dan secara spontan menoleh ke arah gadis itu. Dilla pun bangkit berdiri di iringi lambaian tangannya ke arah gadis itu seakan memanggilnya untuk mendekat.


"Saraaaahh, sini!" panggil Dilla kepada gadis yang sedang berlari itu.


Seketika Sarah mengehentikan langkah tepat di depan sahabatnya itu, "Ampunnnn dahhh tega banget kamu ninggalin aku, Dil! Hhahh, hhhahh," kata Sarah dalam posisi membungkuk sambil kedua tangannya di tumpukan pada kedua lututnya. Nafasnya terdengar tersengal dan terengah-engah.


"Aduhhh maaf, Sar, aku tadi udah keburu risih dan agak takut kalau di apa-apain ama kakak-kakak tadi," sahut Dilla sambil mendekati Sarah.


"Kamu gak kenapa-kenapa kan, Sar?" tanya Dilla ikut membungkuk sambil melihat wajah Sarah.


"Gak kenapa-kenapa dengkulmu!" Hampir aja aku di seret masuk ruang serbaguna ama mereka bertiga. Untung aja ada bapak-bapak yang memergoki mereka lagi gangguin aku, pas mereka meleng aku langsung ngibrit lari deh," tandas Sarah sambil berusaha menstabilkan nafasnya.

__ADS_1


"Siapa bapak-bapak itu? Dosen?" tanya Dilla ingin tahu. Matanya menatap penuh rasa penasaran.


"Bukannya khawatir ama sahabatnya malah bapak-bapaknya yang di tanyain, ya mana aku tau bapak-bapak tadi siapa," kata Sarah sewot sembari duduk di atas rumput sambil meluruskan kedua kakinya yang ramping.


"Eheheh, maaf Sar, ya udah yang penting kamu gak kenapa-napa, nih minum dulu," Dilla menyodorkan sisa air mineral yang berikan Arya. Tak menunggu lama, Sarah mengambilnya dan langsung meneguk isinya sampai tak tersisa.


Arya tak menyadari kalau sedari tadi dirinya memandang Sarah dengan tatapan kagum tanpa berkedip sedikitpun. Di lihatnya gadis itu begitu sempurna, dengan wajah cantik dan body idealnya. "Widih cantik banget, kapan lagi ketemu yang model ginian?" batin Arya sambil tersenyum mesum tanpa sadar. Pikirannya langsung menerawang jauh tanpa ia sadari. Fantasy liar seorang perjaka mulai memenuhi otaknya.


Dilla yang menyadari kelakuan Arya segera membuyarkan lamunannya.


"Ehemm ehemmm," Dilla berdeham tiba-tiba sambil melirik ke arah Arya dengan tatapan agak curiga.


Arya yang sempat berpikir tak di anggap keberadaannya tiba-tiba saja dikejutkan dengan suara Dilla. Arya menjadi salah tingkah karena sedari tadi ia memandangi Sarah dengan tatapan yang begitu aneh menurutnya. Mungkin yang di maksud Dilla adalah tatapan tajam penuh nafsu yang baru saja ia lakukan.


"Arya, kenalin nih Sarah sahabatku, Sar ini Arya, baru ketemu tadi disini," Dilla memperkenalkan mereka berdua dengan sikap agak malas.


Mereka berdua pun berjabat tangan atas suruhan si Dilla,


"Arya," Arya memperkenalkan dirinya dengan gaya yang sok cool.


"Sarah," senyum tipis tersungging di bibir merahnya ketika bersalaman dengan Arya.


Sarah memang seorang gadis selengekan yang sedari dulu paling tidak bisa diam kalau melihat cowok ganteng berdiri dihadapannya, hal itu membuat hasrat kewanitaannya selalu bergejolak ketika menghadapi seseorang yang berwajah tampan seperti Arya ini.


Terbukti ketika ia berjabat dengan Arya, tak henti-hentinya ia tersenyum menggoda dan sesekali mengedipkan salah satu matanya. Memang terkesan genit, tapi yah mungkin itu sudah menjadi tabiat Sarah sejak dahulu.


Berbanding terbalik dengan Dilla, sahabatnya yang berperangai santun dan agak pemalu, serta sikap seorang wanita yang "mungkin" tidak murahan yang berusaha melindungi kehormatannya di depan seorang lelaki. Hal ini yang memberi kesan positif dan nilai plus di mata Arya.

__ADS_1


Arya cuma bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berusaha tidak begitu menanggapi tingkah Sarah. Padahal dalam lubuk hati yang paling dalam, Arya sedang melompat-lompat kegirangan. "Kapan lagi ya kan di godain ama cewek model beginian." batin Arya.


"Ihhh lama banget salamannya!" celetuk Dilla seraya melepaskan secara paksa jabatan kedua tangan mereka dengan perasaan agak kesal.


"Yeee apaan sih Dil, orang lagi kenalan juga," Sarah menyahut sewot.


"Yahhh gak pake lama juga kelessss meganginnya," jawab Dilla.


Arya hanya bisa tersenyum melihat tingkah Dilla. Mungkinkah Dilla menyukainya? mungkin juga cuma perasaannya saja yang kepedean. Mana mungkin baru ketemu sudah punya rasa suka? Hanya waktu dan author yang bisa menjawabnya.


***


"Pemberitahuan kepada semua mahasiswa baru diharap segera berkumpul di gedung Samantha Krida. Sekali lagi di beritahukan kepada seluruh mahasiswa baru harap segera berkumpul di Gedung Samantha Krida untuk mengikuti kegiatan selanjutnya."


Terdengar suara pemberitahuan bergaung diseluruh penjuru kampus, membuat semua mahasiswa baru yang telah selesai melepas penat beranjak dari tempatnya dan buru-buru melangkah untuk menuju ke tempat yang telah ditentukan.


"Ehhh Arya, kita duluan yahh, bye," Dilla melambaikan tangan seraya menggandeng lengan Sarah.


"Ehhh Dil, tunggu sebentar," seru Arya.


"Ya?" sahut Dilla sambil kembali menoleh ke arah Arya.


"Emm, kita belum tukeran nomer WA," kata Arya agak malu-malu.


"Ehemmmmm," Sarah berdehem sambil melirik Dilla.


******

__ADS_1


__ADS_2