
Setelah melakukan ritual kedua itu, pak Trisno akhirnya bisa bergerak dan bangkit setelah ia cukup beristirahat, ia memakai pakaiannya dan segera meninggalkan pondok itu menuju Ki Dharmo yang sedari tadi menunggunya.
Di perjalanan keluar, tak henti-hentinya pak Trisno di ganggu oleh beberapa makhluk seram yang datang silih berganti menampakkan wujudnya dan berusaha menakut-nakutinya. Hal itu tak digubris oleh pak Trisno mengingat betapa susahnya syarat untuk melakukan ritual terakhir.
Gelapnya suasana malam hari di hiasi dengan suara segerombolan jangkrik dan kodok saling bersaut-sautan. Seperti sedang mengadakan sebuah konser besar. Hembusan angin malam yang menerpa dahan dan ranting pohon menambah kesan mistis hutan itu.
"Hihihihiii...hihihihi..," tiba-tiba terdengar suara ketawa khas kuntilanak bergema di kejauhan. Kata orang, apabila terdengar suara kuntilanak sayup-sayup pelan serasa di kejauhan, berarti kuntilanak tersebut berada di dekat kita, begitu pula sebaliknya apabila terdengar dekat dan sangat keras, berarti kuntilanak itu berada jauh dari kita.
"Hmm, ketawa aja terus, lagian gak ada yang lucu kok," celetuk pak Trisno sambil terus berjalan.
Pak Trisno tak menghiraukannya, sambil terus berjalan menyusuri jalan setapak yang licin dan gelap hanya di temani Flashlight dari ponselnya. Sekelebat bayangan putih menyeruak dari balik pohon dan melesat ke pohon di sebelahnya. Dan itu berlangsung beberapa kali tanpa ia sadari.
"Haishh apa lagi nih??" gerutunya.
Ada pula dua pasang mata menyala merah yang sedang melihat ke arah pak Trisno dari balik semak belukar. Beberapa kali pak Trisno juga mendengar suara dentuman seperti sesuatu yang berat terjatuh dari ketinggian dan menghantam ke permukaan tanah.
"Sumpah klo ndas glundhung itu muncul, pasti tak tendang!" pak Trisno sudah mulai geram oleh gangguan-gangguan itu.
Setelah beberapa menit berjalan, sampailah pak Trisno di Curug kecil yang di maksud Ki Dharmo pada awal tadi. Terlihat Ki Dharmo sedang duduk bersemedi di atas sebuah batu besar. Bak seorang pertapa tua yang sedang menunggu turunnya sebuah wangsit. Ketika pak Trisno datang menghampiri, Ki Dharmo membuka kedua matanya.
"Bagaimana ritual nya? Lancar?" Tanya Ki Dharmo penasaran.
"Lancar Ki, aman sih cuma," sahut pak Trisno agak terjeda.
"Cuma apa mas?" tanya Ki Dharmo lagi.
Pak Trisno menceritakan secara detail semua yang ia alami di dalam pondok itu, mulai dari gangguan makhluk yang aneh-aneh, pertemuan dengan nyi Sridewi, ritual berhubungan badan dengannya, hingga syarat untuk melakukan ritual terakhir yang menurutnya agak berat untuk di laksanakan.
"Sudah ku duga Danyang itu akan memberikanmu sebuah syarat yang agak sulit," terka ki Dharmo.
"Mas Trisno tenang saja, itulah kenapa saya mengajak mas Trisno bertemu di Curug ini, di Curug ini bersemayam Jin tua yang bisa mendeteksi keberadaan sesuatu mau itu makhluk hidup atau benda secara akurat termasuk jenis, ukuran, bentuk sampai ke weton seperti yang mas Trisno katakan."
"Mas Trisno tunggu saja di batu itu sambil duduk bersila. Saya akan mencoba mengundangnya" perintah Ki Dharmo seraya menunjuk sebuah batu besar di depannya.
"Baiklah Ki," jawab pak Trisno seraya melangkah menuju batu besar yang di tunjuk dan duduk di atasnya.
Ki Dharmo mulai menutup mata sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dadanya. Kemudian terlihat mulutnya bergerak-gerak pelan seperti merapalkan sebuah mantra.
Setelah selesai merapal mantra, kemudian Ki Dharmo turun dari batu yang ia duduki tadi dan berjalan menuju tepian aliran air dan menepuk nya tiga kali.
Cepyekkk..cepyekkk..cepyekk..
Setelah tepukan ketiga, tiba-tiba air menjadi bergejolak dahsyat dan membentuk sebuah pusaran air. Semakin lama pusaran itu semakin besar dan berputar semakin cepat. Secepat kilat air itu tiba-tiba menyembur ke atas dan memunculkan sosok berbentuk seperti kakek-kakek bungkuk yang membawa tongkat kecil.
Di punggungnya ada benjolan besar seperti punuk unta. Makhluk itu bermuka agak aneh, mempunyai mata besar dan bertaring serta telinga yang runcing ke atas. Di sekujur tubuhnya terdapat sisik yang menyerupai sisik ikan.
__ADS_1
"Kau lagi Dharmo, kali ini ada apa kau memanggilku?" Tanya makhluk itu.
"Maafkan kelancangan saya Mbah Brajatirto tiba-tiba memanggil panjenengan kesini. Saya ada sebuah permintaan Mbah, saya mencari bayi perempuan berweton Selasa Pon," jawab ki Dharmo sambil menangkupkan kedua telapak tangan di atas kepalanya.
"Hmm..tunggu sebentar," jawab Brajatirto seraya mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi. Dari ujung tongkat itu berpendar sebuah cahaya berwarna ungu.
Tak lama cahaya pada ujung tongkat itu melesat terbang ke atas dan mengarah ke timur.
Swiiiishhhhhh ...
"Cobalah kau pergi menuju ke Gondanglegi, tepatnya di sebuah rumah sakit umum, cari bayi perempuan yang bernama Arini. Dia anak pertama dari pasangan suami istri muda. Hmm, nama ibunya adalah Mella," kata Brajamusti sambil menurunkan tongkatnya.
(Ki Dharmo tidak sadar tentang sebuah nama yang baru disebutkan oleh Mbah Brajamusti, dia tidak sadar kalau istri adik kandungnya juga bernama Mella yang terakhir kali ditemui beberapa bulan lalu sedang mengandung seorang bayi.)
"Baiklah Mbah, saya mengerti, terima kasih sudah memberi tahu dan mohon maaf telah menganggu Mbah Brajatirto," kata Ki Dharmo.
"Jangan lupa letakkan persembahan seperti biasanya di sini setiap malam Kemis Kliwon," perintah Mbah Brajatirto diiringi dengan hilangnya keberadaan makhluk itu.
Ki Dharmo bangkit dan menghampiri pak Trisno, "Mas Trisno sudah dengar sendiri kan? Ada baiknya lebih cepat di lakukan, kalau di undur, takutnya mereka sudah pulang ke rumah dan kemungkinan mas Trisno jadi susah untuk menemukannya," kata Ki Dharmo.
"Siap Ki, kalau begitu saya akan lakukan sekarang," jawab pak Trisno.
"Jangan sekarang, malah nantinya mas Trisno akan di curigai yang bukan-bukan oleh pihak rumah sakit kalau nekat kesana sekarang. Lebih baik mas Trisno istirahat di rumah saya sebentar dan nanti pagi-pagi baru berangkat ke rumah sakit itu," saran Ki Dharmo.
Tiba-tiba seberkas cahaya kemerahan melesat cepat di atas langit menuju kearah mereka tetapi mendarat di dekat pohon tempat mereka berdua berdiri. Cahaya itu seketika menghilang setelah manabrak tanah.
"Apa itu tadi Ki?" tanya pak Trisno penasaran.
"Aku juga kurang begitu tahu mas, bisa saja teluh atau pusaka, sebentar saya cek dulu," sahut Ki Dharmo seraya berjalan menuju arah cahaya yang lenyap tadi.
Setelah ki Dharmo berada tepat di atas tanah tempat cahaya tadi lenyap, Ki Dharmo bersila dan memejamkan mata seraya merapalkan sebuah mantra.
"WUJUD!!" Ki Dharmo berteriak sambil memukul tanah itu.
Bukan pusaka yang muncul, melainkan sosok tinggi besar berwajah seram dengan tanduk runcing yang menghiasi kepalanya. Sosok itu dipenuhi bulu coklat disekujur tubuhnya.
Taringnya yang runcing menyeruak disela bibirnya yang lebar, mata merah menyala sebesar kepalan tangan menatap tajam penuh amarah.
"Grawwrrr..haaahhh.." makhluk itu hanya menggeram tak jelas.
"Siapa kau! Berani-beraninya kau menunjukkan wajah jelekmu kepadaku!" bentak ki Dharmo kepada sosok itu.
"Graaawwrrr! Huahh!" sosok itu tiba-tiba melompat ke arah ki Dharmo seraya mengangkat tangan kanannya seperti hendak mencakar Ki Dharmo dengan kukunya yang besar dan tajam.
Ki Dharmo menghindar lalu melepaskan pukulan berenergi ke perut makhluk itu dan membuat makhluk itu tersungkur ke tanah.
__ADS_1
"Grawrhh..graaahh" teriak sosok itu merasa kesakitan.
"Aku tak tahu apa tujuanmu menyerangku, tapi tak akan kubiarkan kau melukaiku!" geram Ki Dharmo sambil mengambil kuda-kuda seakan akan melepaskan sebuah energi besar dari kedua telapak tangannya.
"Mati kau!!" teriak ki Dharmo sambil melesatkan energi pekat berwarna ungu ke arah makhluk itu. Sontak makhluk itu berteriak sangat keras lalu menghilang menjadi kepulan asap tipis.
Sosok makhluk yang menghilang itu tiba-tiba meninggalkan sebuah keris kecil seukuran telapak tangan orang dewasa. Keris itu berwarna emas dan mempunyai luk 7 dengan hiasan aksara Jawa di sekelilingnya.
Diambillah keris itu oleh Ki Dharmo dan di amatinya dengan seksama keris apakah itu.
"Keris apa itu Ki?" tanya pak Trisno penasaran.
"Aku juga tidak tahu mas keris apa ini dan apa kegunaannya, mungkin nanti sehabis dari sini aku akan semedi sebentar meminta petunjuk sebenarnya apa kegunaan keris ini," kata Ki Dharmo menjelaskan.
"Baiklah kalau begitu ayo kita pulang dulu ke rumah mas," ajak Ki Dharmo sambil melangkah meninggalkan tempat itu, di susul pak Trisno yang berjalan di belakangnya.
_______
Suara ayam jago berkokok terdengar di kejauhan. Cahaya keemasan di langit menyeruak dari balik pegunungan di ufuk timur. Semilir angin pedesaan berhembus lirih mengiringi pergantian hari.
Setelah menumpang mandi dan sarapan pagi, pak Trisno bersiap-siap untuk segera berangkat ke tempat yang di maksudkan Mbah Brajatirto.
"Ki, saya permisi dulu, terima kasih sudah mengijinkan saya membersihkan diri dan menyantap makanan lezat yang Ki Dharmo dan mbak Isma sajikan," kata pak Trisno seraya menunduk hormat dan penuh rasa terima kasih.
"Mas Trisno santai saja jangan terlalu di pikirkan. Sampean hati-hati di jalan, semoga sukses melaksanakan permintaan Danyang itu," jawab ki Dharmo.
"Baik Ki, Terima kasih banyak," ucap pak Trisno.
Pak Trisno menaiki mobilnya dan langsung tancap gas meninggalkan Gunung Kawi menuju ke arah yang di maksud oleh Mbah Brajatirto, yakni rumah sakit umum Gondanglegi, kabupaten Malang.
Setelah berkendara lebih dari 1 jam, dengan berbekal google map yang ia nyalakan, akhirnya pak Trisno sampailah di depan rumah sakit tersebut.
Setelah memarkirkan mobilnya, pak Trisno bergegas untuk menuju ke meja resepsionis menanyakan tentang pasien bersalin yang bernama Mella dan anak yang baru di lahirkannya.
"Baik saya cek dulu pak, bapak silahkan tunggu sebentar," kata resepsionis rumah sakit itu.
"Ibu Mella Anggraini, kamar intensif A-2 ruang As-Syifa di lantai dua pak. Untuk putrinya, Arini berada di ruang inkubator anak pak." kata resepsionis menambahkan.
"Baik mbak terima kasih." Sahut pak Trisno lalu berjalan meninggalkan meja resepsionis dan langsung menuju ke lantai dua.
Ketika pak Trisno berjalan mencari ruang yang di maksud di lantai dua, tak sadar sedari tadi ia di ikuti oleh sesosok makhluk yang tak kasat mata. Sosok itu sedari tadi menatap tajam ke arah pak Trisno. Tatapannya tajam dan dalam selayaknya seseorang yang menyimpan dendam penuh kebencian.
Sosok itu menyerupai seorang lelaki tegap dan gagah memakai baju berwarna kelabu khas bangsawan kerajaan Jawa pada jaman dahulu. Ia juga memakai ikat kepala berwarna kelabu dan di ujungnya terdapat seperti bros perak berlambang burung Jatayu. Dipinggangnya terselip sebuah pedang berwarna perak yang juga berkepala burung Jatayu.
*********
__ADS_1